TAIFUN POPULIS
Oleh Tangkisan Letug
Ketika badai taifun menimpa wilayah-wilayah seperti
Filipina, Jepang, Taiwan dan wilayah Lautan Pasifik,
tak ada satu kekuatan manusia pun mampu menghadang dan
mencegahnya. Kedatangan badai yang cenderung
menghempas dan melibas itu hanya bisa diterima dengan
apa adanya. Manusia hanya mampu mengakui bahwa
kekuatan alam itu memang diluar kendalinya. Kalau pun
rumah-rumah penduduk hancur berantakan dan
korban-korban manusia berjatuhan, manusia hanya mampu
mengantisipasi dan mengurangi keparahan bencananya.
Ada yang kemudian meratapi nasib di kuil-kuil para
dewa dan di kapel-kapel. Ada yang bisa meningkatkan
khusuknya doa dan laku kepasrahan-saleh kepada Yang
Maha Kuasa. Badai tiba, manusia siap menanggung segala
derita oleh karenanya.
Itulah gambaran badai taifun sebagai fenomen alam yang
menimpa manusia. Tetapi, bagaimana bila gambaran itu
dibawa ke dalam pemahaman kita terhadap gelombang
populisme dalam politik kita?
Populisme Soekarno
Gelombang populisme pernah pula dialami bangsa
Indonesia di masa kepemimpinan seorang Soekarno.
Soekarno dielu-elukan hampir seluruh rakyat Indonesia
setiap kali berada di mimbar dan menyampaikan
pidato-pidatonya yang menyihir rakyat. Bahasanya yang
lugas dan retorikanya yang berdaya-magis mampu
menggerakkan rakyat untuk bergerak dan mencintai
negeri ini sebagai bagian dari diri mereka. Siapa
berani melawan kehendak Soekarno waktu itu tentu akan
berhadapan dengan massa yang mengelu-elu.
Tetapi gelombang populisme itu kemudian semakin
meredup, seiring meredupnya usia Soekarno. Apalagi
ditambah dengan problem sosial ekonomi masyarakat yang
semakin mendera. Retorika yang pernah menyihir massa
lalu kehilangan daya, malahan menjadi pengundang cibir
di kalangan lawan-lawan politiknya. Lalu,
ketidaksukaan-atau lebih lugasnya: kebencian- telah
mudah sekali dipakai lawan-lawan politiknya untuk
menggerogoti kewibawaannya. Memang lebih gampang
menebar kebencian daripada menabur kemuliaan. Memang
keburukan lebih gampang ditampilkan daripada
kebaikannya. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan
ada peribahasa �Nila setitik, rusak susu sebelanga.�
Yang artinya, keburukan atau kejahatan yang kecil saja
mampu menghapuskan kebaikan yang telah dibangun
sepanjang hidupnya.
Itulah ironi kekuatan populisme. Ia bisa menjadi
penjunjung, tetapi bisa juga menjadi penundung.
Populisme Soeharto
Runtuhnya populisme Soekarno dibarengi dengan
kelahiran populisme Soeharto yang ditandai dengan
kebencian kesumat terhadap PKI dan komunisme-nya. Bila
populisme Soekarno lahir dari kecintaan membangun
kebangsaan Indonesia, tampaknya populisme Soeharto
lebih dilandasi oleh kebangkitan ideologi
anti-komunisme yang kemudian menjadi landasan
terbentuknya Orde Baru. Kedua-duanya cenderung
membutakan masyarakat. Kecintaan terhadap cita-cita
kebangsaan Indonesia yang dimotori Soekarno telah
membuat masyarakat tegar dan berani menghadapi bahaya
kolonialisme dengan harga nyawa sekalipun. Penjajah
berhasil dibuat enyah. Kemerdekaan pun akhirnya bisa
diraih dengan tumpahan darah. Namun demikian, Sutan
Syahrir pernah mengingatkan, bahwa dalam perjuangan
Indonesia, cita-cita kemanusiaan yang lebih beradab
jangan dilupa. Tetapi toh akhirnya, tumpahan darah dan
korban nyawa yang tak terhitung banyaknya terjadi
juga. Darah telah menandai awal kelahiran sebuah
bangsa yang sulit dielakkan datangnya.
Dalam populisme Soeharti yang ditandai semangat
anti-komunisme tak mampu membendung arus-kebencian di
segala lapisan masyarakat. Anti-komunisme telah
menjadi sebuah gerakan amuk buta terhadap setiap orang
yang terkait dengan PKI dan komunisme. Kebencian itu
bahkan dilanggengkan dalam slogan-slogan seperti
�Bahaya Laten PKI� dan dalam aturan perundangan selama
Orde Baru. Dan celakanya, agama telah berhasil
dijadikan sebagai kuda-tunggangan bagi kepentingan
ideologi. Atas nama agama, PKI dan komunisme dianggap
bahaya bagi manusia Indonesia. Indonesia yang dibangun
selama Orde Baru sepertinya dilandaskan pada ketakutan
dan kebencian. Badai taifun anti-komunisme seperti tak
bisa dilawan. Barangsiapa berani melawannya, tentu
akan terlibas.
Namun, populisme Soeharto pun mengalami pelemahan,
hingga akhirnya membangkitkan gelombang populisme baru
reformasi. Soeharto lengser, populisme-nya tergeser.
Spirit reformasi yang menandai gelombang baru telah
meletus dalam gerakan anti-Soeharto dan Orde Baru.
Dasar di balik itu adalah kerinduan pada asas keadilan
dan kemanusiaan.
Sayangnya, populisme reformasi belum menemukan figur
pemersatu. Akibatnya, tiga figur pemimpin
pasca-Soeharto, dari Habibie, Abdurahman Wahid dan
Megawati, seperti terseok-seok. Populisme Soharto
masih belum seluruhnya mati. Akar ideologinya masih
tertanam di lapisan militer. Semangat
anti-komunismenya masih hidup. Bahkan, dengan
terpilihnya SBY-Kalla dalam pemilu 2004 ini, suara
nyaring tentang slogan anti-PKI dan komunisme
terdengar lebih keras lagi, seiring sejalan dengan
populisme SBY yang memikat banyak warga negeri ini.
Populisme SBY
Populisme SBY ditandai oleh santu penampilan diri, dan
sekaligus intelektualitas yang dipoles dengan
gelar-gelar akademi. Gelar-gelar yang dimiliki SBY
bisa dibuat litani. Dan yang terakhir, ia mendapat
gelar doktor di bidang ilmu ekonomi pertanian. Tak
bisa dilupakan pula, yang turut menaikkan popularitas
SBY adalah janji-janji. Kemunculan SBY sepertinya
telah menyerap segala payah dan susah masyarakat di
bawah kepemimpinan Megawati yang terseok-seok
mengatasi berbagai problem negeri.
Peran media massa dalam hal ini sangat kuat
mempengaruhi opini. Kesantunan SBY telah berulang kali
menjadi refrain berita koran dan televisi. Kegantengan
wajah sering diangkat untuk menawan ibu-ibu dan kaum
perempuan yang haus figur pria sejati. Figur jendral
yang ksatria dan bersemangat sipil pun mampu menyerap
aspirasi kaum muda Indonesia, yang bosan oleh berita
kaum politisi korup dan sok pintar sendiri.
Seakan-akan, SBY menjadi figur tumpuan harapan
masyarakat di tengah kebosanan menghadapi kebobrokan
negeri di segala lapisan kini. Populisme SBY
sepertinya semakin menjadi sebuah taifun yang sulit
dibendung lagi. Kemenangan dalam pemilu sudah menjadi
bukti. Segala yang diucapkan SBY seakan sudah pantas
ditepuk-tangani.
Sementara itu, posisi Megawati semakin masuk ke dalam
lubang sampah serapah. Segala apa yang dilakukan
Megawati seakan selalu dianggap salah, tanpa perlu
lagi mengorek mengapa itu terjadi. Ketertutupan
Megawati semakin menambah rapuh posisinya sebagai
pihak yang kalah. Rupa-rupanya kecenderungan
mengagungkan yang menang, dan menyampahkan yang kalah
itu masih selalu saja gampang terjadi dalam kultur
politik di Indonesia. �Sing menang disembah, sing
kalah dadi sampah.� (Yang menang disembah, yang kalah
menjadi sampah).
Akankah populisme SBY mampu membangun kultur sehat di
negeri ini? Ataukah cenderung menjadi sebuah badai
yang menghancurkan diri sendiri, sebagaimana telah
kita alami dalam sejarah Republik ini? Kiranya, hanya
keteguhan memegang dan memenuhi janji-janjilah,
populisme itu mampu membangun bangsa ini dengan lebih
manusiawi, adil dan beradab lagi. Segala puja dan puji
hanyalah angin sepoi-sepoi. Tetapi yang paling dinanti
adalah langkah jitu menjunjung kepentingan seluruh
rakyat negeri.
12 Oktober 2004
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail Address AutoComplete - You start. We finish.
http://promotions.yahoo.com/new_mail
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/