> HAKIKAT TOLERANSI
  >
  > Oleh: Didin Hafidhuddin
  >
  > Ada kesalahan yang sangat mendasar dalam memahami dan
  > mengimplementasikan makna toleransi (tasamuh) sekarang ini. Karena
  > pelaksanaannya hanya terbatas pada perayaan hari-hari besar agama secara
  > lintas agama tanpa mempedulikan keabsahannya dari sudut keyakinan dan
  > akidahnya masing-masing. Misalnya, perayaan Natal yang diselenggarakan
  > selama ini, dirayakan ritualnya oleh pejabat Kristen maupun pejabat yang
  > beragama Islam secara bersama-sama.
  >
  > Seolah kalau tidak ikut merayakannya, khususnya bagi pejabat muslim,
  > takut dikatakan tidak toleran, fundamentalis, sektarian, tidak memahami
  > dan menghayati makna pluralisme, dan tidak memiliki semangat persatuan
  > dan kesatuan bangsa. Padahal, secara jujur harus kita akui, meski sudah
  > puluhan tahun Natal dan hari-hari besar agama lainnya dirayakan secara
  > bersama-sama, tetap saja bangsa dan masyarakat kita rawan dengan
  > perpecahan dan pertentangan yang berdimensi SARA.
  >
  > Daerah Ambon misalnya, dulu selalu dijadikan sebagai contoh ideal
  > bagaimana menumbuhkan semangat toleransi beragama, terutama antara umat
  > Islam dan umat Kristen, dengan cara merayakan hari besar kedua agama
  > tersebut secara bersama-sama. Bahkan disertai pula dengan pendirian
  > tempat-tempat ibadah keduanya secara bersama-sama.
  >
  > Namun, nyatanya, kini porak-poranda dengan perpecahan dan pertentangan
  > yang tidak berkesudahan. Bahkan berbagai macam krisis yang menimpa
  > masyarakat dan bangsa kita sekarang ini, salah satunya adalah sebagai
  > akibat mencampuradukkan akidah dan ibadah antar berbagai agama. Apalagi
  > disertai dengan argumentasi yang kadangkala disampaikan oleh sebagian
  > "cendekiawan dan tokoh Islam" yang menafsirkan ayat-ayat Al-Quran secara
  > sembarangan. Tanpa mengaitkan satu ayat dengan ayat yang lainnya dan
  > tanpa diselaraskan dengan prinsip-prinsip ajaran Islam seperti prinsip
  > tauhid, yang merupakan inti utama ajaran Islam.
  >
  > Dalam perspektif ajaran Islam, toleransi itu intinya bukanlah pada
  > peringatan ritual keagamaan secara bersama-sama, karena memang hal itu
  > jelas-jelas diharamkan. Bukan pula toleransi diartikan sebagai upaya
  > mempersamakan semua agama: antara agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu,
  > Budha, dan Konghucu, sama sekali tidak ada perbedaan mendasar. Ibaratnya
  > tujuan yang hendak dicapai adalah sama, meskipun dengan jalan yang
  > berbeda-beda.
  >
  > Di sinilah letak kesalahan yang sangat fatal dan mendasar. Bagaimana
  > mungkin akidah Islamiyah akan disamakan dengan keyakinan agama-agama
  > lain. Bagaimana mungkin pengakuan dan keyakinan monotheisme akan
  > disamakan dengan keyakinan politheisme. Bagaimana mungkin kitab suci
  > Al-Quran akan disamakan dengan kitab-kitab agama lainnya. Bagaimana
  > mungkin ajaran yang komprehensif dan universal akan disamakan dengan
  > ajaran yang hanya mengatur hubungan ritual dengan Tuhan dan hanya
  > mengatur ajaran moral.
  >
  > Umat Islam dikatakan benar keislaman dan keimanannya apabila mempercayai
  > semua nabi dan rasul Allah, tidak membeda-bedakan antara satu dengan
  > yang lainnya, termasuk di dalamnya wajib percaya terhadap Nabi Isa as
  > (QS 2: 285). Tetapi, kepercayaan kaum muslimin terhadap Nabi Isa as,
  > hanyalah sebatas beliau sebagai nabi dan rasul Allah, tidak seperti
  > keyakinan kaum Nasrani yang meyakini Isa al-Masih sebagai bagian dari
  > Tuhan (perhatikan QS 5: 72-75 dan QS 5: 116-117). Dalam perspektif
  > ajaran tauhid, meyakini adanya Tuhan selain Allah, dianggap sebagai
  > perbuatan syirik, yang merupakan dosa terbesar dan jika terbawa mati
  > tidak akan diampuni oleh Allah SWT (QS 4: 48 dan QS 4: 116).
  >
  > Mari kita berpikir secara jernih, toleransi adalah mengakui dan
  > menghayati adanya perbedaan, dan bukan memaksakan persamaan terhadap
  > hal-hal yang sangat jelas berbeda. Islam dan Kristen adalah ajaran yang
  > nyata-nyata berbeda, tetapi walau demikian umat Islam wajib menghargai
  > dan menghormati umat Kristen, demikian pula sebaliknya. Silakan
  > masing-masing melaksanakan ajaran agamanya tanpa saling mencurigai,
  > saling membenci, dan saling menyalahkan.
  >
  > Tidak perlu ada pencampuradukan akidah dan keyakinan masing-masing.
  > Justru yang harus dikembangkan adalah kerjasama antarumat beragama di
  > dalam memecahkan berbagai problematika sosial yang tengah dihadapi
  > bangsa ini. Toleransi dengan mengedepankan semangat saling menghargai
  > perbedaan inilah yang akan melahirkan kekuatan, bukan toleransi semu
  > seperti yang terjadi sekarang ini.
  >
  > Jika masyarakat dan bangsa kita mau melihat sejarah, maka contoh ideal
  > membangun toleransi dengan mengedepankan penghargaan terhadap adanya
  > perbedaan adalah masyarakat Madinah yang dibangun oleh Rasulullah SAW
  > dan para sahabatnya. Inilah yang tertulis dalam Piagam Madinah, sebuah
  > piagam yang berkaitan dengan penghargaan terhadap HAM, yang juga
  > merupakan konstitusi tertulis pertama dalam panggung sejarah peradaban
  > manusia. Pada saat itu, masyarakat muslim dengan tenang melaksanakan
  > ajaran agamanya.
  >
  > Demikian pula dengan orang-orang Nasrani dan Yahudi. Mereka dapat
  > melaksanakan ritualnya masing-masing dengan tenang, tanpa merasa
  > khawatir akan mendapat gangguan dari orang-orang yang berbeda agama. Dan
  > dalam urusan keamanan negara, orang-orang Islam bahu-membahu bekerjasama
  > dengan orang-orang Nasrani dan Yahudi pada saat itu. Hanya saja kaum
  > Yahudi kemudian diusir oleh Rasulullah SAW dan para sahabat, karena
  > mereka selalu berusaha mengkhianati kesepakatan dan perjanjian bersama.
  > Bagi kaum muslimin sendiri, menghormati dan menghargai agama dan
  > keyakinan orang dan kelompok lain yang berbeda merupakan bagian penting
  > dari keyakinannya. Bahkan kaum muslimin pun dilarang mencaci maki
  > Tuhan-tuhan yang disembah oleh penganut agama lain. Perhatikan
  > firman-Nya: "Dan jangan kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah
  > selain Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan." (QS 6: 108).
  > Karena itu, mari kita kembangkan sikap toleransi yang sesungguhnya,
  > yaitu mengakui dan menghargai adanya perbedaan, dan bukan memaksakan
  > persamaan terhadap sesuatu yang jelas-jelas berbeda.
  >
  > Wallahu'alam bi ash shawab.





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke