OPERA DI PANGGUNG TEATER INDONESIA

Oleh Tangkisan Letug

Serupanya teater, hingar bingar dunia politik
Indonesia itu tampak lebih menggetarkan. Penampilan
para senimannya jauh lebih pintar daripada
seniman-seniman negeri seberang. Trick-trick
teatrikalnya jauh lebih natural daripada di panggung
teater betulan. Bagaimana bisa digambarkan semua
tontonan di panggung Indonesia?

Nama groupnya Opera Teater Indonesia. Tema-tema
operanya tak beranjak jauh dari Epik Ramayana dan
Mahabarata, serta serial Babad Tanah Jawa. Ada yang
menjadi pemeran di panggung, ada yang menjadi kru
panggung, dan ada pula yang menjadi pemain musiknya. 

Barangkali sekarang sedang ditunggu pemain panggung
yang baru, yakni gerombolan kabinet yang ingin
memainkan lakon Babat Korupsi Semalam. Pimpinannya
sudah tampil dengan semangatnya. Mayoritas penonton
sudah setuju bahwa lakon Babat Korupsi Semalam akan
dipanggungkan oleh gerombolan baru.  Sang Sutradara
utama sudah terpilih, dan sedang tidak sabar untuk
segera menampilkan kebolehannya memimpin gerombolan
kabinet baru. Banyak anggota gerombolan yang dipilih
dari orang-orang profesional. Kru di balik panggung
pun sudah disiapkan dari kalangan profesional. Para
pemusiknya apalagi. 

Tak kalah pentingnya adalah peran Dewan Teater yang
memberikan rambu-rambu yang harus dipatuhi oleh para
pemain. Dewan Teater tidak akan hanya menempati posisi
penonton, tetapi juga mengawasi gerombolan teater itu
dari segi undang-undang dan etika. Mengapa mesti
diawasi? Yang namanya gerombolan, bila tidak ada yang
mengawasi dan mengatur pasti akan menjadi liar.
Keliaran gerombolan di panggung teater Indonesia tidak
hanya akan mengundang teriak dan anarki dari penonton,
tetapi bisa mengundang bara api yang akan
menghangus-leburkan seluruh gedung teater. Oleh karena
itu, Dewan Teater sangat diperlukan. Istilah
menterengnya untuk menjaga keseimbangan.

Seperti yang sudah-sudah, panggung teater Indonesia
telah mengundang berbagai stradara. Hanya ada satu
sutradara yang berhasil mempertahankan diri di
panggung selama lebih daru 30 tahun.  Tetapi hal itu
terjadi karena yang namanya penonton dan Dewan Teater,
semuanya ditaklukan di bawah selera sang sutradara.
Lakon yang ditampilkan pun tidak pernah beranjak dari
lakon horor ala kethoprak Jawa yang mengagung-agungkan
Raja di atas segalanya. Bahasa yang digunakan pun
diatur sedemikian rupa sehingga hanya sutradaralah
yang mampu menyetirnya. Tata krama diterapkan secara
ketat, bahkan dalam tawa dan senyum pun ada tata
kramanya. Penonton yang terbahak-bahak bisa diusir. 
Pemusik dan kru panggung pun tidak berani mengubah apa
yang telah diskenariokan sang sutradara. Berbeda itu
membawa celaka.  Lalu apa rahasianya bisa begitu lama
menguasai panggung teater Indonesia? Rahasinya ada di
buku Macchiaveli, �Sang Pangeran� (Il Principe). 
Hanya dengan menciptakan ketakutan, kekuasaan mampu
dipertahankan. Maka, lakon-lakon yang ditampilkan
selalu saja berbau horor, meskipun diselingi
humor-humor peluru.

Setelah sekian lama penonton disuguhi horor, ternyata
sang sutradara dibuat lengser dengan cara nista. Namun
demikian, horor yang selalu dicekok-kan pada penonton
telah meletuskan dalam arena yang lebih luas, hingga
ke luar gedung teater. Horor penjagalan dan perkosaan
lalu menjadi pertunjukan jalanan.  Anak buah sang
sutradara yang didukung dengan jiwa horor pun semakin
membabi buta karena kehilangan patron-nya. Mereka
saling menebar teror dan horor.  Dan penonton pun
seperti terjepit di antara teror-teror. 

Dalam suasana horor dan teror,  tampillah
sutradara-sutradara baru yang hanya bertahan tak lebih
dari normalnya waktu. Sang sutradara pintar dari
Jerman yang ahli pesawat hanya sekedar mampu menjadi
ban serep. Ganjal ruang kosong saja.  Teror dan horor
masih terus saja terjadi di panggung teater. Pengaruh
sutradara lama masih belum musnah. Begitu pula
tampilnya sutradara kyai yang ahli kitab suci juga
belum memadai. Bahkan penjagalan dan teror semakin
tampak ditampilkan ke panggung oleh pemain-pemain
lama.  Sang sutradara dibuat kalang kabut oleh
skenario di luar panggung. Kedua sutradara ini belum
mampu menampilkan kebolehan mereka sesungguhnya.
Mereka terpaksa turun panggung dengan menggigit jari.
Lalu, ditampilkanlah sutradara wanita, yang masih
sekedar menjadi ganjal sementara. Namun demikian,
teror dan horor tampaknya berubah warnanya.  Tod
demikian, sang sutradara teror dan horor masih belum
dianggap sirna pengaruhnya. 

Sutradara wanita terseok-seok juga, dan tak mampu
menghadapi siluman-siluman di panggung teater
Indoenesia. Secara halus, sang sutradara yang sudah
terseok-seok tidak hanya oleh ulah lawan-lawan
mainnya, tetapi juga oleh keterbatasannya serta oleh
kekurang-pengalaman gerombolannya, bahkan telah
digerogoti oleh pemain pilihannya sendiri. 
Lakon-lakon  suksesi kerajaan Singosari sepertinya
sedang terjadi.  Tunggul Ametung ditikam oleh Ken
Arok. Ken Arok oleh Anusapati, dan Anusapati oleh
Tohjaya.  Lakon-lakon itu toh masih belum jauh dari
lakon-lakon teror dan horor yang memuntahkan darah.
Tetapi �darah� yang ditumpahkan di teater Indonesia
modern sekarang ini lebih subtil.  Keris yang
ditikamkan pun bukan lagi semacam keris Empu Gandrung
yang  berdaya-bunuh luar biasa. Bukan lagi keris
semacam itu yang dijadikan senjata.  Keris pembunuh
karakter itu ada di mana-mana sekarang ini. Keris Empu
Gandring itu bernama media.  Sebagaimana rakyat
Singosari percaya pada keampuhan keris Empu Gandring,
demikian pula penonton di teater Indonesia begitu
terpikat oleh keampuhan keris media.  Daya pengaruhnya
pun lebih �nggegirisi� daripada keris Empu Gandring. 
Di balik itu, bukan Empu Gandring lagi yang
menciptakan keris, tetapi Empu Dollar lah yang
menciptakan keris media.  Korban keris Empu Dollar
bisa tak terhitung jumlahnya. 

Begitulah panggung opera teater Indonesia. Akankah
tragedi demi tragedi masih akan ditampilkan di
panggung Indonesia? Akankah lakon serial teror dan
horor Singosari masih akan berlanjut?  Dalam panggung
opera modern Indonesia, serunya teater akan melibatkan
penontonnya. Dan, semakin penonton terlibat lewat
lakon-lakon yang bernama Serial Demokrasi, maka
semakin gedung teater akan dipenuhi pengunjungnya.
Pemilik gedung teater akan bersorak gembira, karena
keuntungan semakin dikeruk dari penjualan tiketnya.
Calo-calo pun akan bersorak gembira di luar sana.
Sebab,  keuntungan seperti jatuh ke tangan tanpa perlu
berkeringat di wajahnya.

Dalam lakon serial Demokrasi,  sementara pemain,
pemusik dan penonton dibuat sibuk di arena opera
teater,  siapa yang akan peduli bila sebenarnya di
luar gedung sedang terjadi ajang judi di antara
calo-calo luar negeri?  Apalagi bila sang sutradara
pun sebenarnya telah dibeli oleh calo-calo luar
negeri, apalah artinya seluruh pertunjukkan teater
demokrasi kalau bukan hanya sekedar bius pemabukan
lupa diri sehingga para calo bebas berjudi dan
mengeruk keuntungan bumi saban hari? Ingat, calo-calo
pun beruntung dengan teror dan horor yang semakin jadi
lakon populer di seluruh negeri. 

Penonton puas bisa jadi, tetapi rumah dan tanah sudah
musnah barangkali esok pagi hari. 

14 Oktober 2004









                
__________________________________
Do you Yahoo!?
Take Yahoo! Mail with you! Get it on your mobile phone.
http://mobile.yahoo.com/maildemo 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke