Artikel yang bagus,mas Zamhasari. Ini saya post sebuah artikel yang 
dikirim Dr. Bimo Ario Tejo disebuah milis.

Salam RM D Hadinoto




http://bimo7.blogspot.com/2004/10/sejarah-panjang-mencari-tuhan.html

Saturday, October 16, 2004

Sejarah Panjang Mencari Tuhan: Pengalaman Islam (4)

Teman saya berkata, muslim pertama peraih Hadiah Nobel adalah Ahmed
Zewail, bukan Abdus Salam seperti anggapan banyak orang. Alasannya,
Abdus Salam adalah penganut Ahmadiyyah. Teman saya yang lain pula
mengatakan bahwa Ibnu Sina, yang banyak dipuja-puja sebagai Bapak
Kedokteran Islam, sebenarnya adalah kafir karena beliau
mencampuradukkan filsafat dengan syariat.

Karena Tuhan tak berwujud, kadang-kadang manusia bisa dengan
seenaknya mengambil alih wewenang-Nya untuk menghukumi seseorang
beriman atau kafir. Sekelompok manusia merasa lebih nyaman dengan
Tuhan yang "personal", Tuhan yang tekstual, Tuhan yang
dipersonifikasikan dalam diri kyainya, syeikhnya, pimpinan
harakahnya, atau mentor pengajiannya. Tuhan "personal" ini lebih
mudah dipahami, lebih mudah diikuti tanpa harus berpikir njelimet.
Kata-kata kyai adalah titah Tuhan; jika kyai mengatakan langit
adalah kuning, maka santri harus manut. Jika sang syeikh mengatakan
majelis pengajiannya adalah fardhu (wajib), maka si santri menyakini
bahwa bolos mengaji bisa menjebloskannya ke neraka.

Bagi orang-orang seperti ini, Tuhan mencintai, mengadili, menghukum,
melihat, mendengar, mencipta, dan menghancurkan sebagaimana halnya
manusia melakukannya. Mereka mengasumsikan bahwa Tuhan mencintai apa
yang mereka cintai dan membenci apa yang mereka benci. Jika mereka
membenci perempuan, di saat yang sama mereka juga meyakini bahwa
Tuhan telah menempatkan wanita sebagai manusia kelas dua ketimbang
lelaki. Secara tidak sadar, mereka telah memberhalakan Tuhan ke
dalam citra diri mereka sendiri.

Tuhan sebenarnya Satu, tetapi manusialah yang membuat-Nya menjadi
banyak. Tuhannya Ikhwanul Muslimin dan Tuhannya Hizbut Tahrir adalah
sama, tetapi mengapa mereka tidak henti-hentinya bertikai sejak
puluhan tahun lalu sampai sekarang? Tuhannya Muhammadiyah dan NU
adalah satu, tetapi mengapa soal baca-tidak baca qunut masih saja
menjadi masalah?

Bulan lalu saya makan siang semeja dengan seorang kawan Yahudi dari
Tel Aviv. Seorang Kristen di antara kami bertanya: kenapa kalian,
Muslim dan Yahudi, tidak bisa rukun? Saya menjawab: Tuhan kami
adalah satu dan sama; ambisi kemanusiaanlah yang menyebabkan kami
berperang tiada henti..."

(Selesai)



posted by Dr. Bimo Ario Tejo | 11:23 AM









--- In [EMAIL PROTECTED], Zamhasari Jamil <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Membangun Toleransi Menuju Kebersamaan
> Oleh : Zamhasari Jamil
> 
> Banjarmasin Post, Kamis, 14 Oktober 2004 01:42
> http://www.indomedia.com/bpost/102004/14/opini/opini1.htm
>  
> Sudah tidak perlu disangkal lagi, praktik toleransi dalam 
berhubungan sesama manusia baik secara khusus ataupun umum, 
merupakan sikap positif dan kesadaran. Toleransi senantiasa 
diharapkan tumbuh dalam setiap diri manusia selaku makhluk hidup 
yang bersosial. Jika kita mau mencermati tentang pentingnya sikap 
toleransi serta dampak positif yang muncul darinya, baik untuk diri 
sendiri ataupun masyarakat luas, niscaya umat Islam akan memberikan 
perhatiannya secara serius dalam masalah yang satu ini.
> 
> Sebagai manusia beragama, prinsip dasar dalam membangun toleransi 
dapat penulis simpulkan antara lain: 
> 
> Pertama, sebagai makhluk bernama manusia, kita dituntut memiliki 
kesadaran. Kita sama seperti manusia lainnya, terlepas dari ragam 
suku, bangsa dan agama yang dianut. Sebagai bangsa yang besar, 
Indonesia adalah negara yang terdiri atas berbagai suku, agama dan 
aliran kepercayaan.
> 
> Perbedaan yang terdapat dalam diri manusia baik dari warna kulit, 
bahasa dan bangsa, tidak mengharuskan ia bersikap angkuh yang pada 
akhirnya selalu menganggap remeh dan memandang rendah orang lain.
> 
> Kedua, menyadari perbedaan akidah yang dianut setiap manusia 
merupakan perkara alami dalam kehidupan kita sebagai manusia 
berakal. Allah SWt menciptakan manusia. Setiap manusia memiliki 
kebebasan untuk memilih jalan hidupnya. Berbeda dengan penciptaan 
makhluk Nya yang bernama malaikat, yang senantiasa beribadah dan 
tunduk pada Nya. Begitu pula dengan penciptaan makhluk Nya yang 
bergelar Iblis yang senatiasa membangkang dan mendurhakai 
Rabbal `alamin. Penciptaan manusia juga berbeda dengan penciptaan 
binatang darat atau pun laut. Binatang diciptakan tanpa ada tuntutan 
untuk tunduk dan beribadah kepada Nya. Sedangkan manusia diciptakan 
dengan segala tuntutan untuk selalu beribadah dan mengabdi kepada 
Nya.
> 
> Sebagai manusia, kita dihadapkan pada dua pilihan. Memilih `jalan 
malaikat' atau `jalan iblis'. Yang jelas, Allah SWT memberikan akal 
yang dengan kemampuannya kita memilih jalan hidup terbaik bagi diri 
kita. Kita mungkin pernah bertanya, apakah saya yang menganut agama 
ini sudah merupakan ketentuan dari Allah SWT? Secara umum dapat 
penulis katakan, keberagamaan kita di Indonesia pada umumnya masih 
mengikuti agama asal orangtua kita. Jika sekiranya kita dilahirkan 
dari keluarga yang sama sekali tidak menganut agama tertentu, maka 
kemungkinan besar sampai hari ini kita juga belum memiliki agama.
> 
> Sekarang muncul pertanyaan, mengapa kita harus beragama. Atau apa 
ruginya agama jika kita tidak menganutnya? Di sinilah sifat/naluri 
kemanusian itu muncul. Pengaruh akal sungguh memainkan peranan yang 
sangat signifikan dalam menentukan sikap manusia selanjutnya. Akal 
jua yang membuat sesorang beragama atau tidak. Seseorang yakin 
terhadap suatu agama, manakala ia merasa `takut'. Dalam hal ini, 
takut terhadap siksaan di hari lain selain hari-hari di dunia. 
Kemudian dari perasaan takut ini, muncul perasaan untuk mencari 
tempat berlindung, mengadu dan atau meminta bantuan. Itulah Tuhan, 
Dzat yang Serba Maha atas segala-segalanya.
> 
> Mengapa kita harus mencari dan meminta bantuan Tuhan? Kita akui 
atau tidak, akal kita mengatakan, kita sebenarnya lemah. Masih 
banyak perkara dalam kehidupan kita yang kita sendiri tidak sanggup 
menyelesaikannya. Ini bukti nyata, kita sebagai manusia adalah 
lemah. Oleh karena itu, Allah SWt memberikan agama sebagai jawaban 
atas semua persoalan yang dihadapi umat manusia.
> 
> Allah tetap menciptakan manusia berbeda-beda (dalam agama). 
Karena, kelak dari sini nantinya Allah akan memperlihatkan kasih dan 
sayang Nya pada hari `Pemisahan' dan `Pembalasan'. Saat itu akan 
jelas mana manusia yang menggunakan akalnya untuk memilih `jalan 
malaikat' atau `jalan iblis' sebagai acuan dalam hidupnya yang 
sangat fana dan sementara ini. Allah berfirman: "Sesungguhnya Allah 
akan menghukumi di antara kamu pada hari kiamat nanti, terhadap apa 
(agama) yang padanya kamu berbeda-beda" (QS An-Nahl: 124).
> 
> Ketiga, mengetahui dan meyakini kepercayaan (iman) terhadap agama 
apa pun tidak akan pernah menjadi sempurna dan benar. Kecuali jika 
iman (kepercayaan) itu bersumber dari keyakinan yang sempurna, di 
mana kita merasa puas dengan keyakinan yang kita anut. Keyakinan itu 
juga tidak pernah dimasuki unsur tekanan, desakan atau paksaan pihak 
lain. Bila mana seseorang dipaksa untuk meyakini suatu agama, lantas 
ia kembali kepada keyakinan pertama yang ia anut, maka semuanya itu 
terserah kepadanya tanpa ada sanksi yang menyertainya. Dalam hal 
ini, Islam memberikan contoh toleransi (QS Al-Baqarah: 256, QS 
Yunus: 96, QS Al-Qashash: 56). Dari prinsip ketiga ini diharapkan 
muncul sikap untuk menghindari pemaksaan agama terhadap orang lain 
serta akan membuka peluang untuk selalu menghargai pendapat dan 
pandangan orang lain. Dengan demikian, di mana pun kita hidup, maka 
masyarakat akan selalu menerima kita.
> 
> Keempat, mengetahui manusia itu adalah makhluk Tuhan yang pada 
hakikatnya bisa baik dan bisa pula buruk. Perbedaan aliran 
kepercayaan dan agama, bahasa dan warna kulit, suku bangsa yang 
berbilang-bilang, semuanya merupakan dalil bahwa manusia berasal 
dari jenis yang sama, memiliki tabi'at yang sama, berambisi dan 
memiliki hasrat yang sama. Nah, dari sifat alami manusia yang selalu 
sama ini, mengharuskan manusia untuk saling mengenal dan membantu 
atau bekerja sama secara kuat dan solid.
> 
> Kelima, adanya kesadaran kolektif dari segenap masyarakat bahwa 
kerja sama atau saling menolong dalam kebaikan akan membuahkan 
hasil, semua masyarakat Indonesia akan memetik hasilnya. Semua cita-
cita Indonesia hanya akan mengapung di udara dan tidak akan berhasil 
jika masyarakat belum menyadari arti penting kerja sama ini. Wajar 
jika kita selalu mendengar, untuk menyukseskan Indonesia sebagai 
negara yang aman, misalnya, maka semua masyarakat dituntut berperan 
aktif. Menurut penulis, salah satu bentuk peran aktif bagi 
masyarakat awam yang dimaksud, minimal sikap toleransi.
> 
> Ketika Indonesia mencanangkan programnya itu, hendaknya tidak ada 
lagi di antara kita `membuat ulah' yang akhirnya bisa menghambat 
proses pelaksanaan dalam menjalankan visi dan misi tersebut. 
Artinya, tidak pantas lagi jika masih ada individu atau kelompok 
yang mencari keuntungan dengan mengatasnamakan untuk menjalankan 
program tertentu. Karena hal ini akan dapat mengaburkan kembali 
sikap toleransi masyarakat yang selama ini terbina dengan baik. 
Sedangkan toleransi antara pemimpin dengan rakyatnya, bukan berarti 
pemimpin itu bebas dari segala macam bentuk kontrol dan kritikan 
masyarakat. Kritikan masyarakat hanya lahir berdasarkan pertimbangan 
akal yaitu perasaan cinta, sebab kritikan muncul sebagai tanda 
masyarakat masih mencintai pemimpinnya.
> 
> Prinsip ini juga sangat berkaitan erat antara pemimpin dengan 
masyarakatnya, sebab untuk membentuk sikap toleransi publik, tidak 
akan terlepas dari kebijakan yang dibuat pemimpinnya. Tuhan 
memerintahkan setiap pemimpin untuk selalu bersikap adil. Akan 
tetapi adil saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan berbuat 
baik dan mau berkorban demi rakyat yang dipimpinnya. Di sini dapat 
pula kita katakan, sekiranya seorang pemimpin menggemari silaturahmi 
(baca: memperhatikan, mengunjungi dan membenahi semua daerah 
terpencil di Indonesia), maka minimal masyarakat bisa saling 
memberikan senyuman bila berpapasan. Bukan seperti selama ini, 
ketika seorang anak desa datang ke kota dan berjalan di sekitar 
terminal atau pusat perbelanjaan, seperti ada harimau yang selalu 
mengintai di belakangnya. Inilah prinsip dasar dalam membangun 
toleransi di segala bidang kehidupan manusia. Semua prinsip itu akan 
dapat kita terapkan dalam keseharian kita tanpa harus merasa 
terbebani dan memberatkan, jika kita
>  memang benar-benar mendambakan kehidupan yang aman, tentram, 
damai dan bahagia.
> 
> Di Indonesia, kita bahkan sering bertanya kepada saudara muslim 
kita, apakah ia muslim NU atau muslim Muhammadiyah. Walaupun secara 
lahiriah pertanyaan itu sangat sederhana, tetapi secara psikologis 
dampaknya cukup besar. Sebagai contoh, beberapa tahun belakangan ini 
sering terjadi perbedaan pendapat di kalangan NU dan Muhammadiyah 
dalam menentukan awal Ramadhan dan satu Syawal. Tapi kita tidak 
pernah berbeda pendapat dalam menentukan bulan Hijriyah yang lain. 
Karena itu, jika perbedaan selama ini hanya dikarenakan untuk 
menjaga kegengsian antarorganisasi, maka seyogyanya hal seperti ini 
tidak lagi terjadi dalam menyambut bulan suci Ramadhan tahun ini.
> 
> Orang-orang yang selama ini memiliki dendam dan kecurigaan yang 
tinggi terhadap Islam, melihat Islam tak ubahnya sebagai singa yang 
siap menerkam mereka dalam setiap detik. Satu hal yang sangat kita 
sayangkan adalah tentang aksi peledakan bom yang terjadi di 
Indonesia selama tiga tahun belakangan ini, di mana penegak hukum 
dan keadilan di Indonesia terlalu cepat mengambil keputusan bahwa 
pelaku utamanya dibintangi `aktor Islam'. Yang ingin penulis 
sampaikan adalah, jika benar pelaku peledakan itu kelompok yang 
mengatasnamakan dirinya dengan Islam, maka sewajarnya mereka 
mendapatkan balasan yang seimbang.
> 
> Yang patut kita catat adalah radikalisme dan tindakan terorisme 
tidak hanya ada dalam agama Islam, tapi ia juga bisa saja terjadi di 
dalam semua agama. Karena itu, penulis mengimbau seluruh rakyat 
Indonesia, bila kita ingin menjadi seorang penegak hukum atau 
keadilan yang benar-benar ingin mendapat ridha dari Allah, maka 
jadilah penegak hukum dan keadilan yang beriman kepada Allah. Siapa 
mereka? Mereka itu adalah orang-orang yang cirinya sudah diterangkan 
Allah melalui firman Nya: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman, 
ialah orang-orang yang apabila disebut Allah, maka hatinya 
bergemetar dan apabila dibacakan ayat-ayat Allah kepadanya, maka 
bertambah imannya, sedangkan mereka itu senantiasa bertawakal kepada 
Tuhannya." (QS Al Anfaal: 2)
> 
> Guna menciptakan Indonesia damai yang selama ini kita nantikan, 
marilah kita mempelajari kembali ajaran yang disampaikan agama kita. 
Sebab, tidak satu pun dari agama yang ada menganjurkan pengikutnya 
berbuat kejahatan. Semua agama menganjurkan pengikutnya berbuat 
kebaikan. Akan tetapi, karena kedangkalan pemahaman kita terhadap 
agama yang kita anut, maka hal itu sebenarnya pemicu untuk berbuat 
tindakan yang nyata-nyata dilarang Allah SWT, salah satu di 
antaranya tindakan terorisme.
> 
> Kita berharap dengan adanya pergantian kepemimpinan di bumi 
pertiwi ini, kelak Indonesia mampu memberikan contoh kepada dunia 
internasional bahwa Indonesia adalah negara yang menjunjung tinggi 
toleransi. Akhirnya lahirlah Indonesia sebagai Baldatun wa Rabbun 
Ghofur.
> 
> Mahasiswa Department of Islamic Studies di Jamia Millia Islamia, 
New Delhi, India
> 
> 
> * * * * *
> Zamhasari Jamil
> Pelajar Islamic Studies
> Jamia Millia Islamia - A Central University
> New Delhi - India 110 025
> Email: izamsh@ yahoo.com
> Website Kampus : http://www.jmi.ac.in
>  
>  
> 
>  
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>               
> ---------------------------------
> Do you Yahoo!?
> Yahoo! Mail - Helps protect you from nasty viruses.
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke