Membangun Toleransi Menuju Kebersamaan
Oleh : Zamhasari Jamil

Banjarmasin Post, Kamis, 14 Oktober 2004 01:42
http://www.indomedia.com/bpost/102004/14/opini/opini1.htm
 
Sudah tidak perlu disangkal lagi, praktik toleransi dalam berhubungan sesama manusia 
baik secara khusus ataupun umum, merupakan sikap positif dan kesadaran. Toleransi 
senantiasa diharapkan tumbuh dalam setiap diri manusia selaku makhluk hidup yang 
bersosial. Jika kita mau mencermati tentang pentingnya sikap toleransi serta dampak 
positif yang muncul darinya, baik untuk diri sendiri ataupun masyarakat luas, niscaya 
umat Islam akan memberikan perhatiannya secara serius dalam masalah yang satu ini.

Sebagai manusia beragama, prinsip dasar dalam membangun toleransi dapat penulis 
simpulkan antara lain: 

Pertama, sebagai makhluk bernama manusia, kita dituntut memiliki kesadaran. Kita sama 
seperti manusia lainnya, terlepas dari ragam suku, bangsa dan agama yang dianut. 
Sebagai bangsa yang besar, Indonesia adalah negara yang terdiri atas berbagai suku, 
agama dan aliran kepercayaan.

Perbedaan yang terdapat dalam diri manusia baik dari warna kulit, bahasa dan bangsa, 
tidak mengharuskan ia bersikap angkuh yang pada akhirnya selalu menganggap remeh dan 
memandang rendah orang lain.

Kedua, menyadari perbedaan akidah yang dianut setiap manusia merupakan perkara alami 
dalam kehidupan kita sebagai manusia berakal. Allah SWt menciptakan manusia. Setiap 
manusia memiliki kebebasan untuk memilih jalan hidupnya. Berbeda dengan penciptaan 
makhluk Nya yang bernama malaikat, yang senantiasa beribadah dan tunduk pada Nya. 
Begitu pula dengan penciptaan makhluk Nya yang bergelar Iblis yang senatiasa 
membangkang dan mendurhakai Rabbal �alamin. Penciptaan manusia juga berbeda dengan 
penciptaan binatang darat atau pun laut. Binatang diciptakan tanpa ada tuntutan untuk 
tunduk dan beribadah kepada Nya. Sedangkan manusia diciptakan dengan segala tuntutan 
untuk selalu beribadah dan mengabdi kepada Nya.

Sebagai manusia, kita dihadapkan pada dua pilihan. Memilih �jalan malaikat� atau 
�jalan iblis�. Yang jelas, Allah SWT memberikan akal yang dengan kemampuannya kita 
memilih jalan hidup terbaik bagi diri kita. Kita mungkin pernah bertanya, apakah saya 
yang menganut agama ini sudah merupakan ketentuan dari Allah SWT? Secara umum dapat 
penulis katakan, keberagamaan kita di Indonesia pada umumnya masih mengikuti agama 
asal orangtua kita. Jika sekiranya kita dilahirkan dari keluarga yang sama sekali 
tidak menganut agama tertentu, maka kemungkinan besar sampai hari ini kita juga belum 
memiliki agama.

Sekarang muncul pertanyaan, mengapa kita harus beragama. Atau apa ruginya agama jika 
kita tidak menganutnya? Di sinilah sifat/naluri kemanusian itu muncul. Pengaruh akal 
sungguh memainkan peranan yang sangat signifikan dalam menentukan sikap manusia 
selanjutnya. Akal jua yang membuat sesorang beragama atau tidak. Seseorang yakin 
terhadap suatu agama, manakala ia merasa �takut�. Dalam hal ini, takut terhadap 
siksaan di hari lain selain hari-hari di dunia. Kemudian dari perasaan takut ini, 
muncul perasaan untuk mencari tempat berlindung, mengadu dan atau meminta bantuan. 
Itulah Tuhan, Dzat yang Serba Maha atas segala-segalanya.

Mengapa kita harus mencari dan meminta bantuan Tuhan? Kita akui atau tidak, akal kita 
mengatakan, kita sebenarnya lemah. Masih banyak perkara dalam kehidupan kita yang kita 
sendiri tidak sanggup menyelesaikannya. Ini bukti nyata, kita sebagai manusia adalah 
lemah. Oleh karena itu, Allah SWt memberikan agama sebagai jawaban atas semua 
persoalan yang dihadapi umat manusia.

Allah tetap menciptakan manusia berbeda-beda (dalam agama). Karena, kelak dari sini 
nantinya Allah akan memperlihatkan kasih dan sayang Nya pada hari �Pemisahan� dan 
�Pembalasan�. Saat itu akan jelas mana manusia yang menggunakan akalnya untuk memilih 
�jalan malaikat� atau �jalan iblis� sebagai acuan dalam hidupnya yang sangat fana dan 
sementara ini. Allah berfirman: "Sesungguhnya Allah akan menghukumi di antara kamu 
pada hari kiamat nanti, terhadap apa (agama) yang padanya kamu berbeda-beda" (QS 
An-Nahl: 124).

Ketiga, mengetahui dan meyakini kepercayaan (iman) terhadap agama apa pun tidak akan 
pernah menjadi sempurna dan benar. Kecuali jika iman (kepercayaan) itu bersumber dari 
keyakinan yang sempurna, di mana kita merasa puas dengan keyakinan yang kita anut. 
Keyakinan itu juga tidak pernah dimasuki unsur tekanan, desakan atau paksaan pihak 
lain. Bila mana seseorang dipaksa untuk meyakini suatu agama, lantas ia kembali kepada 
keyakinan pertama yang ia anut, maka semuanya itu terserah kepadanya tanpa ada sanksi 
yang menyertainya. Dalam hal ini, Islam memberikan contoh toleransi (QS Al-Baqarah: 
256, QS Yunus: 96, QS Al-Qashash: 56). Dari prinsip ketiga ini diharapkan muncul sikap 
untuk menghindari pemaksaan agama terhadap orang lain serta akan membuka peluang untuk 
selalu menghargai pendapat dan pandangan orang lain. Dengan demikian, di mana pun kita 
hidup, maka masyarakat akan selalu menerima kita.

Keempat, mengetahui manusia itu adalah makhluk Tuhan yang pada hakikatnya bisa baik 
dan bisa pula buruk. Perbedaan aliran kepercayaan dan agama, bahasa dan warna kulit, 
suku bangsa yang berbilang-bilang, semuanya merupakan dalil bahwa manusia berasal dari 
jenis yang sama, memiliki tabi�at yang sama, berambisi dan memiliki hasrat yang sama. 
Nah, dari sifat alami manusia yang selalu sama ini, mengharuskan manusia untuk saling 
mengenal dan membantu atau bekerja sama secara kuat dan solid.

Kelima, adanya kesadaran kolektif dari segenap masyarakat bahwa kerja sama atau saling 
menolong dalam kebaikan akan membuahkan hasil, semua masyarakat Indonesia akan memetik 
hasilnya. Semua cita-cita Indonesia hanya akan mengapung di udara dan tidak akan 
berhasil jika masyarakat belum menyadari arti penting kerja sama ini. Wajar jika kita 
selalu mendengar, untuk menyukseskan Indonesia sebagai negara yang aman, misalnya, 
maka semua masyarakat dituntut berperan aktif. Menurut penulis, salah satu bentuk 
peran aktif bagi masyarakat awam yang dimaksud, minimal sikap toleransi.

Ketika Indonesia mencanangkan programnya itu, hendaknya tidak ada lagi di antara kita 
�membuat ulah� yang akhirnya bisa menghambat proses pelaksanaan dalam menjalankan visi 
dan misi tersebut. Artinya, tidak pantas lagi jika masih ada individu atau kelompok 
yang mencari keuntungan dengan mengatasnamakan untuk menjalankan program tertentu. 
Karena hal ini akan dapat mengaburkan kembali sikap toleransi masyarakat yang selama 
ini terbina dengan baik. Sedangkan toleransi antara pemimpin dengan rakyatnya, bukan 
berarti pemimpin itu bebas dari segala macam bentuk kontrol dan kritikan masyarakat. 
Kritikan masyarakat hanya lahir berdasarkan pertimbangan akal yaitu perasaan cinta, 
sebab kritikan muncul sebagai tanda masyarakat masih mencintai pemimpinnya.

Prinsip ini juga sangat berkaitan erat antara pemimpin dengan masyarakatnya, sebab 
untuk membentuk sikap toleransi publik, tidak akan terlepas dari kebijakan yang dibuat 
pemimpinnya. Tuhan memerintahkan setiap pemimpin untuk selalu bersikap adil. Akan 
tetapi adil saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan berbuat baik dan mau 
berkorban demi rakyat yang dipimpinnya. Di sini dapat pula kita katakan, sekiranya 
seorang pemimpin menggemari silaturahmi (baca: memperhatikan, mengunjungi dan 
membenahi semua daerah terpencil di Indonesia), maka minimal masyarakat bisa saling 
memberikan senyuman bila berpapasan. Bukan seperti selama ini, ketika seorang anak 
desa datang ke kota dan berjalan di sekitar terminal atau pusat perbelanjaan, seperti 
ada harimau yang selalu mengintai di belakangnya. Inilah prinsip dasar dalam membangun 
toleransi di segala bidang kehidupan manusia. Semua prinsip itu akan dapat kita 
terapkan dalam keseharian kita tanpa harus merasa terbebani dan memberatkan, jika kita
 memang benar-benar mendambakan kehidupan yang aman, tentram, damai dan bahagia.

Di Indonesia, kita bahkan sering bertanya kepada saudara muslim kita, apakah ia muslim 
NU atau muslim Muhammadiyah. Walaupun secara lahiriah pertanyaan itu sangat sederhana, 
tetapi secara psikologis dampaknya cukup besar. Sebagai contoh, beberapa tahun 
belakangan ini sering terjadi perbedaan pendapat di kalangan NU dan Muhammadiyah dalam 
menentukan awal Ramadhan dan satu Syawal. Tapi kita tidak pernah berbeda pendapat 
dalam menentukan bulan Hijriyah yang lain. Karena itu, jika perbedaan selama ini hanya 
dikarenakan untuk menjaga kegengsian antarorganisasi, maka seyogyanya hal seperti ini 
tidak lagi terjadi dalam menyambut bulan suci Ramadhan tahun ini.

Orang-orang yang selama ini memiliki dendam dan kecurigaan yang tinggi terhadap Islam, 
melihat Islam tak ubahnya sebagai singa yang siap menerkam mereka dalam setiap detik. 
Satu hal yang sangat kita sayangkan adalah tentang aksi peledakan bom yang terjadi di 
Indonesia selama tiga tahun belakangan ini, di mana penegak hukum dan keadilan di 
Indonesia terlalu cepat mengambil keputusan bahwa pelaku utamanya dibintangi �aktor 
Islam�. Yang ingin penulis sampaikan adalah, jika benar pelaku peledakan itu kelompok 
yang mengatasnamakan dirinya dengan Islam, maka sewajarnya mereka mendapatkan balasan 
yang seimbang.

Yang patut kita catat adalah radikalisme dan tindakan terorisme tidak hanya ada dalam 
agama Islam, tapi ia juga bisa saja terjadi di dalam semua agama. Karena itu, penulis 
mengimbau seluruh rakyat Indonesia, bila kita ingin menjadi seorang penegak hukum atau 
keadilan yang benar-benar ingin mendapat ridha dari Allah, maka jadilah penegak hukum 
dan keadilan yang beriman kepada Allah. Siapa mereka? Mereka itu adalah orang-orang 
yang cirinya sudah diterangkan Allah melalui firman Nya: "Sesungguhnya orang-orang 
yang beriman, ialah orang-orang yang apabila disebut Allah, maka hatinya bergemetar 
dan apabila dibacakan ayat-ayat Allah kepadanya, maka bertambah imannya, sedangkan 
mereka itu senantiasa bertawakal kepada Tuhannya." (QS Al Anfaal: 2)

Guna menciptakan Indonesia damai yang selama ini kita nantikan, marilah kita 
mempelajari kembali ajaran yang disampaikan agama kita. Sebab, tidak satu pun dari 
agama yang ada menganjurkan pengikutnya berbuat kejahatan. Semua agama menganjurkan 
pengikutnya berbuat kebaikan. Akan tetapi, karena kedangkalan pemahaman kita terhadap 
agama yang kita anut, maka hal itu sebenarnya pemicu untuk berbuat tindakan yang 
nyata-nyata dilarang Allah SWT, salah satu di antaranya tindakan terorisme.

Kita berharap dengan adanya pergantian kepemimpinan di bumi pertiwi ini, kelak 
Indonesia mampu memberikan contoh kepada dunia internasional bahwa Indonesia adalah 
negara yang menjunjung tinggi toleransi. Akhirnya lahirlah Indonesia sebagai Baldatun 
wa Rabbun Ghofur.

Mahasiswa Department of Islamic Studies di Jamia Millia Islamia, New Delhi, India


* * * * *
Zamhasari Jamil
Pelajar Islamic Studies
Jamia Millia Islamia - A Central University
New Delhi - India 110 025
Email: izamsh@ yahoo.com
Website Kampus : http://www.jmi.ac.in
 
 

 











                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - Helps protect you from nasty viruses.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke