Catatan Seorang Klayaban:

TENTANG PEMBUBARAN MANIKEBU

[Kepada Bung Ibrahim Isa]


Ibrahim Isa, dalam  tulisannya  bertarikh 15 Oktober 2004, berjudul ""Suara Indonesia" 
di Paris [1]" tentang "Hari Sastra Indonesia" Pertama di Paris, 9 Oktober 2004,  
antara lain menulis:


"Tentang siapa yang membubarkaan MANIKEBU, di Paris kudengar langsung dari seorang 
sahabat yang mengetahuinya, bahwa Nyoto, wakil Ketua CC PKI dan salah seorang pimpinan 
LEKRA, menyatakan bahwa ia merasa 'kecolongan' ketika pada suatu hari  Manikebu 
dibubarkan oleh Menteri PPK Prof. Priyono.

Nyoto berkeyakinan bahwa sebaiknya antara Lekra dan Manikebu diadakan perdebatan 
terbuka mengenai peranan seni dan budaya dalam kehidupan suatu bangsa, supaya bagi 
rakyat menjadi jelas persisnya bagaimana sikap dan pendirian Manikebu dan bagaimana 
pula sikap dan pendirian Lekra tentang soal penting itu".


Dua alinea Ibrahim Isa yang menyebut nama Nyoto, wakil ketua CC PKI dan salah seorang 
pimpinan pusat Lekra, dalam hubungannya dengan "pembubaran Manikebu" sangat menarik 
dilihat dari konteks yang sekarang umum dikenal dengan "pelurusan sejarah" [sementara 
aku sendiri lebih menyukai istilah "penulisan sejarah ilmiah" atau "obyektif" sebagai 
lawan dari "sejarah politis" yang mengabdi kepentingan kekuasaan, bukan mengetengahkan 
kenyataan sesungguhnya]. Untuk menulis sejarah ilmiah, sejarawan dan Indonesianis 
besar Perancis, alm.Denys Lombard selalu mengingatkan agar kita membebaskan diri dari 
sifat partisan. "Kau perlu mengambil jarak dan keluar dari sifat partisan", nasehat 
almarhum kepadaku berulang-ulang. 


Dalam pendapat umum yang dibentuk oleh Orde Baru, pembubaran Manikebu disangkutkan 
dengan peranan PKI dan Lekra. Lekra, sebagaimana halnya dengan penggunaan istilah 
Dayak oleh kolonialis Belanda, dijadikan lambang dari segala keburukan, tong sampah 
segala caci-maki, kesalahan dan kejahatan. Akibat cekokan Orde Baru, orang-orang 
menjadi enggan bertanya bahkan menyukai serta memandang  rekaan sendiri sebagai 
kenyataan dan kebenaran. Nalar menjadi tumpul. Otak jadi berdaki. Dendam jadi pisau 
tajam mengkilap siap ditikamkan ke Lekra dan anggota-anggotanya, hingga Pramoedya 
A.Toer yang sedianya mendapat  doktor honoris-causa dari sebuah universitas di 
Indonesia, oleh seorang budayawan yang mempunyai pertimbangan desisif [menentukan] 
jadi dibatalkan.Gelar memang bukan tanda keberadaban dan kemanusiawian.


Keterangan Ibrahim Isa menjadi kian menarik karena ia termasuk salah seorang yang 
mengenal baik Bung Nyoto. Informasi Ibrahim Isa menjadi penting makin penting bagiku, 
karena keterangan tersebut bersesuaian dengan apa yang disampaikan oleh alm. Joebaar 
Ajoeb dalam diskusi kami  ketika aku berkunjung ke rumahnya di Jalan Pemuda, Jakarta. 
Joebaar adalah sekretaris jenderal [sekjen]Lekra Pusat. Orang pertama organisasi 
kebudayaan ini.


Dalam diskusi tersebut, Joebaar antara lain mengatakan bahwa Konferensi Nasional 
[konfernas] Lekra di Palembang [biasa disebut Konfernas Palembang, karena ada 
kofernas-konfernas di tempat lain seperti Bali], ditandaskan bahwa Lekra sebagai 
organisasi menolak tuntutan pembubaran Manikebu. Yang diinginkan oleh Konfernas 
Palembang adalah debat terbuka sehingga dengan demikian masalah teoritis dan praktis 
menjadi gamblang. Sikap begini berlandaskan kepada sikap "percaya pada massa", peranan 
kritik-otokritik, serta fungsi edukatif berkesenian. Sikap Konfernas Palembang, 
sebenarnya tidak mengherankan karena dalam intern Lekra sendiri terjadi perdebatan 
sengit tentang berbagai masalah prinsipil seperti "sastra-seni untuk buruh tani dan 
prajurit", "tentang realisme sosialis", "pembaharuan", dan sebagainya... Karena debat 
ini bersifat intern, tentu saja tidak banyak diketahui oleh pihak orang-orang di luar 
Lekra. Tapi pengamat yang jeli, akan gampang mengetahuinya antara lain dengan adanya 
"Harian Kebudayaan" dan Harian Rakjat. Lahirnya "Harian Kebudayaan" kukira  bukanlah 
kebetulan dan terlepas dari pertarungan pendapat di dalam Lekra sendiri.


Dijadikannya  Lekra sebagai "tong sampah" dan kambing hitam, kukira selain merupakan 
produk dari politik Orde Baru selama tiga dasawarsa lebih lebih, tentu tidak bisa 
dilepaskan dari keadaan politik pada masa 1960an sebagai latar. Situasi pada masa itu 
mendorong orang menganut  partisanisme. Dan partisanisme gampang mendorong orang ke 
jurang simplistisisme, menyederhanakan permasalahan sebatas hitam putih. Pola 
pandangan beginilah yang kemudian ditentang oleh antara lain oleh alm. Satyagraha 
Hoerip [Oyik] dalam simposion sastra yang diselenggarakan  oleh Majalah Horison, 
Jakarta. Aku tidak yakin sampai hari ini kita bebas dari simplistisisme demikian, 
bentuk dari subyektivisme dan  berbahaya. 


Mengapa Manikebu kemudian dibubarkan oleh Soekarno? Adakah peranan Lekra dalam 
pembubaran ini?  Kalau tidak ada, siapa gerangan sesungguhnya yang berada di balik 
pembubaran Manikebu ini? Tapi mengapa pembubaran Manikebu oleh pendapat umum dominan 
dianggap sebagai hasil nasehat dan tekanan Lekra, organisasi terbesar dan berpengaruh 
dalam gerakan kebudayaan pada waktu itu?


Pernyataan Nyoto seperti yang diungkapkan oleh Ibrahim Isa yang merasa "kecolongan" 
dan keterangan Joebaar Ajoeb dalam diskusi kami di Jalan Pemuda, nampak sejalan. Lekra 
tidak menasehatkan pembubaran Manikebu karena tindakan administratif bukan cara yang 
bijak dalam bidang kebudayaan. [Aku sungguh menyesalkan bahwa Ajoeb meninggal terlalu 
cepat, sehingga apa yang kukatakan tidak bisa dilakukan pemeriksaan silang, di samping 
kita kehilangan nara sumber penting, aktor sejarah yang berarti, dan ia masih bisa 
berbuat banyak untuk pembangunan sastra-seni di negeri ini.]Demikian juga dibunuhnya 
Nyoto sebagai salah seorang pimpinan pusat Lekra. Andaikan mereka masih hidup, kita 
akan bisa mendengar kesaksian mereka tentang hal-hal sesungguhnya. Pelenyapan saksi 
dan  bukti-bukti bukan kebetulan dilakukan oleh politisi.


Lekra memang menentang konsep kebudayaan Manikebu. Tapi sekali lagi perbedaan pendapat 
di bidang kebudayaan tidak bijak jika diselesaikan dengan tindakan administratif. 
Perbedaan atau pertentangan pendapat dilakukan melalui diskusi atau debat. Hal yang 
sejak lama dilakukan oleh Lekra di kalangan Lekra sendiri atau pun dengan pihak lain 
yang non Lekra. Sebagai contoh bisa kuangkat debat antara Drs.Soenardi dari Lekra 
dengan Jusaac M.R dari Kedaulatan Rakyat di Yogya mengenai filem "Tikus Padang Pasir" 
di tahun 50an.


Kalau demikian siapakah yang berdiri di belakang pembubaran Manikebu? 


Menurut Ajoeb, pembubaran Manikebu bermula dari usul Murba kepada Presiden Soekarno 
melalui Prof.Priyono yang waktu itu adakah Menteri Pendidikan & Kebudayaan. Priyono 
adalah anggota Partai Murba. Suara gencar pada waktu itu adalah menuntut pembubaran 
Murba dan HMI. Untuk membela hak eksistensinya maka Murba berusaha menunjukkan 
sikaprevolusionernya. Salah satu cara adalah dengan menasehati Presiden Soekarno untuk 
membubarkan Manikebu yang dalam situaasi politik pada tahun 1964an sudah terpojok 
secara politik karena termasuk salah satu partai yang menentang Soekarnoisme dengan 
menggunakan Soekarnoisme. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa pembubaran Manikebu 
tidak lain dari suatu intrik politik pada waktu itu. Intrik politik untuk memojokkan 
Lekra dan PKI.  Intrik Murba untuk menyelamatkan eksistensinya. Karena itu Nyoto 
mengatakan bahwa ia "kecolongan" . Kecolongan oleh prakarsa Murba melalui Prof. 
Priyono.


Inti pertanyaanku: Siapa dibalik pembubaran Manikebu? Secara hakiki, mengapa ia 
dibubarkan? Pernahkah masalah ini dipertanyakan dan diteliti dengan sikap ilmiah dan 
dikaji secara tenang sesuai dengan keinginan untuk menulis sejarah ilmiah? 


Hampir setengah abad telah berlalu. Masih bermain-main dengan metode simplistisisme, 
kukira tidak menguntungkan bangsa dan negeri serta mengulur tibanya periode kedewasaan 
menjadi Indonesia dan manusia. 


Paris, Oktober 2004.
-------------------
JJ.KUSNI


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke