ngawur.

mBah Soeloyo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:menjelang cuti panjang (libur sebentaran nih...)
aku kok jadi ingat cerita Turki sebelum Attaturk,
ya Mas?

Dulu negeri ini bersekutu dengan Prusia eh... Jerman
dalam PD-I. Alasan Jerman selain sebagai strategi
menghadang Inggris dan Amrik dari sebelah Arab,
juga mengharapkan semangat "jihad" dari tentara-
tentara Turki. 

Kok ya kalah ya... juga ketika masuk sebentaran
dalam sekutu Jerman-Itali-Jepang, Turki ini katanya
yang diharapkan dari pihak Nazi, sekali lagi selain
menghalau Inggris dan Amerika dari sebelah Arab
(wong dulu Turki ini penjajah jazirah to ya...)
juga karena semangat "jihad"-tentara-tentaranya.
Eee, kok ya kalah.

Malah ngawus wis, sebagian besar kekuasaannya
lenyap dari jazirah. Karena keluarga Sa'ud dan
para syech-2 itu minta tolong ke penguasa tentara
Inggris dan Amerika untuk memerdekannya dari
kekuasaan Othoman. Lho, jadi negeri-negeri Arab
itu merasa terjajah Othoman? 

Nah sebagai imbalannya, Amerika dan Inggris boleh
mengelola ladang-ladang minyak di situ.... sampai
sekarang kan perusahaan-perusahaan Inggris dan Amrik
yang "nawu" minyak situ ya. Sebentaran brenti pada
masa embargo minyak... eeee, malah pada ngembangin
energi-2 lain... termasuk Nuklir...

Lha iya, kok tibaknya orang-orang situ itu (bekas
jajahan Othoman) hidup diatas ladang minyak
ribuan tahun kok ya nggak sempat mikir kalau minyak
itu sangat ekonomis, bukan hanya "air penyihir" ya?
Malah penguasanya dulu memonopoli produk Timur,
berupa rempah-rempah.... Padahal mereka kulakannya
dari India dan Nusantara.... India makmur, bisa bikin
Taj-Mahal.... Othoman makmur bisa bikin istana
harem.. hm-hm-hm.... orang Eropa pusing, akhirnya
nekat berlayar nyari "India" yang katanya gudang
rempah-rempah itu.

Nah-nah, muncul kolonialisme dan imperialisme...
ihik-ihik-ihik - untung Indonesia baru lahir 17-8-1945,
jadi praktis belum pernah dijajah, yak?

--pareng... mau cuti

--soel--

--- In [EMAIL PROTECTED], Danardono HADINOTO 
wrote:
> Mas Tampubolon tulis:
> 
> "Kasus di Turki ini menarik untuk disimak, bagaimana masalah moral 
yang menjadi urusan internal dalam negeri satu negeri muslim ternyata 
mendapat perhatian besar dari tokoh-tokoh Barat. Bahkan, dapat 
berdampak pada masalah politik yang serius. Mengapa orang-orang Barat 
(Eropa) itu begitu khawatir jika rakyat Turki, melalui parlemen 
mereka, memutuskan bahwa perzinahan adalah salah satu bentuk 
kejahatan? Ada apa dibalik semua ini?"
> 
> 
> 
> Mas, saya dan kawan2 ikuti perkembangan perluasan Uni Europa ini 
dari awalnya. Banyak sekali partai2 yang cukup toleran mulai resah, 
dan menolak Turki masuk ke Uni Europa. Masuknya Turki ini dipaksakan 
oleh AS dan Inggris karena alasan2 strategis.
> 
> Tetapi beban bagi Uni Europa sangat berat (terutama finansial, juga 
potensi kerusuhan sosial karena benturan budaya) , namanya saja sudah 
Uni Europa, jadi Uni-nya orang Europa, yang mempunyai jatidiri budaya 
sejak ribuan tahun. Kristiani bukan trade mark Europa, namun budaya 
humanisme yang timbul bersamanya, terutama setelah pencerahan 
Protestantisme diabad ke XVI.
> 
> Komisaris untuk perluasan Europa, G�nther Verheugen ngotot ingin 
menawarkan keanggautaan pada Turki. Pada pertemuan di Kopenhagen 
sudah diputuskan kriteria2 yang harus dipenuhi Turki untuk masuk ke 
perkumpulan yang namanya Uni Europa ini (semua negara yang masuk dan 
mau masuk harus penuhi kriteria).
> 
> Nah, undang2 itu dirasakan tak pas untuk iklim politik sosial di 
Europa, juga hukuman mati, hukuman rajam, dan barang2 macam itu. 
> 
> Yang penting anda fahami disini, tanpa menjadi emosional, adalah, 
bahwa YANG MAU MASUK ke sebuah perkumpulan harus memenuhi AD/ART 
perkumpulan. Ya kan?
> 
> Jadi Uni Eruropa TAK INGIN mencampuri urusan dalam negeri Turki, 
seperti yang anda khotbahkan, hanya mengatakan pada Turki, apa yang 
Turki harus penuhi untuk menjadi anggauta. Salahkah?
> 
> Kalau Turki tak sudi, dan merasa urusan dalam negerinya diatur, YA 
jangan masuk Uni Europa. Gitu saja kok repot?
> 
> Jangankan Turki, Rusia pun tak merasa dapat memenuhi kriteria Uni 
Europa, karena itu yang tetap diluar.
> 
> Kalau misalnya ada negara kecil mau menggabung ke Indonesia, apakah 
Indonesia yang minta agar negeri itu mematuhi UU dan UUD Indonesia, 
atau sebaliknya, Indonesia yang harus mengubah UU dan UUD agar negeri 
ini dapat masuk? Pikir sendiri yauu?
> 
> RM D Hadinoto
> 
> 
> 
> 
> Mohammad-Riyadi Tampubolon wrote:
> "Ramalan Fukuyama dan Perzinahan di Turki"
> 
> Barat khawatir Turki memutuskan zinah sebagai kejahatan. Jika 
mereka yakin
> ideologi sekuler-liberal dan kebebasan, mengapa umat Islam tidak 
boleh
> yakin akan hukum agamanya? Baca CAP Adian Husaini ke-69
> 
> Harian New Straits Times edisi 15 September 2004, memuat berita 
berjudul
> "Turkish women denounce plans to criminalise adultary". Wanita-
wanita
> Turki mengecam rencana untuk mengkriminalkan perbuatan zina. 
> 
> Diceritakan, bahwa parlemen Turki sedang mendiskusikan satu 
Rancangan
> Undang-undang yang diajukan pemerintah yang isinya menetapkan 
perzinahan
> sebagai satu bentuk kejahatan kriminal. Menurut PM Turki, Recep 
Tayyip
> Erdogan, Undang-undang itu dimaksudkan untuk melindungi keluarga dan
> istri-istri dari perselingkuhan/perzinahan suaminya. 
> 
> RUU itu kemudian menimbulkan kontroversi hebat. Yang menarik, bukan
> kalangan dalam Turki saja yang ribut, tetapi juga pejabat-pejabat 
Uni
> Eropa. Pejabat perluasan Uni Eropa, Guenter Verheugen, menyatakan, 
bahwa
> sikap anti perzinahan dapat menciptakan imej bahwa UU di Turki mulai
> mendekati hukum Islam. Bahkan, Menteri Luar Negeri Inggris, Jack 
Straw
> menyatakan, bahwa jika proposal itu disahkan sebagai Undang-undang, 
maka
> akan menciptakan kesulitan bagi Turki. If this proposal, which I 
gather is
> only a proposal in respect of adultary, were to become firmly fixed 
into
> law, than that would create difficulties for Turkey). Setelah 
mengalami
> perdebatan dan tekanan dari berbagai pihak, pemerintahan Turki 
akhirnya
> membatalkan RUU tersebut. 
> 
> Kasus di Turki ini menarik untuk disimak, bagaimana masalah moral 
yang
> menjadi urusan internal dalam negeri satu negeri muslim ternyata 
mendapat
> perhatian besar dari tokoh-tokoh Barat. Bahkan, dapat berdampak pada
> masalah politik yang serius. Mengapa orang-orang Barat (Eropa) itu 
begitu
> khawatir jika rakyat Turki, melalui parlemen mereka, memutuskan 
bahwa
> perzinahan adalah salah satu bentuk kejahatan? Ada apa dibalik 
semua ini?
> Apakah karena mereka merupakan pelanggan tetap pelacur-pelacur 
Turki,
> sehingga dengan diundangkannya larangan perzinahan, maka mereka akan
> kehilangan kesempatan untuk melampiaskan syahwat mereka? Mengapa 
mereka
> tidak membiarkan saja, sesuai jargon demokrasi liberal mereka, 
rakyat
> Turki untuk menentukan apa yang baik dan buruk untuk mereka? Mengapa
> langsung saja mereka mengingatkan, bahwa undang-undang itu akan
> mendekatkan Turki kepada Islam? Mengapa? Banyak pertanyaan yang 
bisa kita
> ajukan. 
> 
> Tetapi, menarik untuk mencermati masalah ini dari sudut konflik 
peradaban
> dan menelaah kembali ramalan-ramalan ilmuwan terkenal Francis 
Fukuyama
> yang ditulis dalam bukunya "The End of History and The Last Man." 
Kasus
> Turki ini menunjukkan, bahwa ramalan-ramalan Fukuyama, yang kadang
> dipopulerkan sebagai "teori", tentang "akhir sejarah" umat manusia 
adalah
> tidak tidak benar. Sebagaimana diketahui, Fukuyama merupakan 
ilmuwan yang
> sangat terkenal setelah Era Perang Dingin, bersamaan dengan nama 
Samuel P.
> Huntington. Sebagaimana Huntington yang menulis bukunya setelah 
perdebatan
> panjang tentang artikelnya `The Clash of Civilizations?' di Jurnal 
Foreign
> Affairs (summer 1993), buku Fukuyama itu juga merupakan 
pengembangan dari
> artikelnya `The End of History?' di jurnal The National Interest 
(summer
> 1989). 
> 
> Dalam makalahnya tersebut, Fukuyama, mencatat, bahwa setelah Barat
> menaklukkan rival ideologisnya -- monarkhi herediter, fasisme, dan
> komunisme � dunia telah mencapai satu konsensus yang luar biasa 
terhadap
> demokrasi liberal. Ia berasumsi, bahwa demokrasi liberal adalah 
semacam
> titik akhir dari evolusi ideologi atau bentuk final dari bentuk
> pemerintahan. 
> 
> Dan ini sekaligus sebuah `akhir sejarah' (the end of history). (A
> remarkable consensus concerning the legitimacy of liberal democracy 
as a
> system of government had emerged throughout the world over the past 
few
> years, as it conquered rival ideologies like hereditary monarchy, 
fascism,
> and most recently communism. More than that, however, I argued that
> liberal democracy may constitute the "end point of mankind's 
ideological
> evolution" and the "final form of human government," and as such
> constituted the "end of history.)" 
> 
> Dalam bukunya, Fukuyama memasang sederet negara yang pada tahun 
1990-an
> memilih sistem demokrasi-liberal, sehingga ini seolah-olah menjadi
> indikasi, bahwa - sesuai Ramalan Hegel - maka akhir sejarah umat 
manusia
> adalah kesepakatan mereka untuk menerima Demokrasi Liberal. Tahun 
1790,
> hanya tiga negara, AS, Swiss, dan Perancis, yang memilih demokrasi
> liberal. Tahun 1848, jumlahnya menjadi 5 negara; tahun 1900, 13 
negara;
> tahun 1919, 25 negara, 1940, 13 negara; 1960, 36 negara; 1975, 30 
negara;
> dan 1990, 61 negara. 
> 
> Pada `akhir sejarah', kata Fukuyama, tidak ada lagi tantangan 
ideologis
> yang serius terhadap Demokrasi Liberal. Di masa lalu, manusia 
menolak
> Demokrasi Liberal sebab mereka percaya bahwa Demokrasi Liberal 
adalah
> inferior terhadap berbagai ideologi dan sistem lainnya. Tetapi, 
sekarang,
> katanya, sudah menjadi konsensus umat manusia, kecuali dunia Islam, 
untuk
> menerapkan Demokrasi Liberal. Ia menulis: "At the end of history, 
there
> are no serious ideological competitors left to Liberal Democracy. 
In the
> past, people rejected Liberal Democracy because they believed that 
it was
> inferior to monarchy, aristocracy, theocracy, fascism, communist
> totalitarianism, or whatever ideology they happenned to believed 
in, But
> now, outside the Islamic world, there appears to be a general 
consensus
> that accpets liberal democracy's claims to be the most rational 
form of
> government, that is, the state that realizes most fully either 
rational
> desire or rational recognition." 
> 
> Pendapat Fukuyama bahwa pada masa akhir sejarah tidak ada tantangan 
serius
> terhadap Demokrasi Liberal dan umat manusia - di luar dunia Islam - 
telah
> terjadi konsensus untuk menerapkan Demokrasi Liberal adalah 
merupakan
> statemen yang sangat debatable. Dalam memandang `demokrasi', 
Fukuyama
> mengadopsi pendapat Huntington, tentang perlunya proses sekularisasi
> sebagai prasyarat dari demokratisasi. Karena itu, ketika Islam 
dipandang
> `tidak compatible' dengan demokrasi, maka dunia Islam juga tidak 
kondusif
> bagi penerapan demokrasi yang bersifat sekular sekaligus liberal. 
Dalam
> kajiannya tentang Gelombang ketiga demokratisasi, Huntington 
menyebutkan:
> "Tampaknya masuk akal menghipotesakan bahwa meluasnya agama Kristen
> mendorong perkembangan demokrasi." 
> 
> Fukuyama menyorot dua kelompok agama yang menurutnya sangat sulit 
menerima
> demokrasi, yaitu Yahudi Ortodoks dan Islam fundamentalis. Keduanya 
dia
> sebut sebagai "totalistic religious" yang ingin mengatur semua aspek
> kehidupan manusia, baik yang bersifat publik maupun privat, termasuk
> wilayah politik. Meskipun agama-agama itu bisa menerima demokrasi, 
tetapi
> sangat sulit menerima liberalisme, khususnya tentang kebebasan 
beragama.
> Karena itulah, menurut Fukuyama, tidak mengherankan, jika satu-
satunya
> negara Demokrasi Liberal di dunia Islam adalah Turki, yang secara 
tegas
> menolak warisan tradisi Islam dan memilih bentuk negara sekular di 
awal
> abad ke-20. (Orthodox Judaism and fundamentalist Islam, by 
contrast, are
> totalistic religious which seek to regulate every aspect of human 
life,
> both public and private, including the realm of politics. These 
religions
> may be compatible with democracy - Islam in particular, establishes 
no
> less than Christianity the principle of universal human equality - 
but
> they are very hard to reconcile with liberalism and the recognition 
of
> universal rights, particularly freedom of conscience or religion. 
It is
> perhaps not surprisingly that the only liberal democracy in the
> contemporary Muslim World is Turkry, which was the only contry to 
have
> stuck with an explicit rejection of its Islamic heritage in favor 
of a
> secular society early in the twentieth century). 
> 
> Klaim-klaim Fukuyama tentang "konsensus umat manusia terhadap 
demokrasi
> liberal" dan "tidak adanya tantangan ideologis yang serius terhadap
> demokrasi liberal saat ini" sebenarnya sangatlah lemah dan paradoks 
dengan
> sikap negara-negara Barat sendiri. Itulah yang terlihat dalam kasus 
RUU
> anti-perzinahan di Turki. Tindakan Barat yang mengancam Turki soal 
RUU
> anti-perzinahan itu, membuktikan bahwa Barat memandang Islam secara
> paranoid, sebagai tantangan serius secara ideologis terhadap 
Demokrasi
> Liberal. Mereka masih terbukti sangat khawatir terhadap munculnya 
negara
> yang menerapkan ideologi Islam. 
> 
> Kita bisa mengingat kembali, bagaimana kuatnya dukungan Barat 
terhadap
> pembatalan Pemilu di Aljazair yang dimenangkan oleh FIS, padahal 
sikap itu
> justru bertentangan dengan demokrasi yang mereka kampanyekan. 
> 
> Menurut Christoper Ogden (dalam artikel "View from Washington", 
Times, 3
> Februari 1992), tindakan AS yang mendukung permainan kekuasaan
> antidemokrasi merupakan suatu tindakan yang sangat keliru. Sikap AS 
dan
> Perancis yang menyatakan bahwa kudeta Aljazair "konstitusional", 
tidak
> lain merupakan gejala penyakit gila paranoid (ketakutan tanpa dasar)
> terhadap Muslim Fundamentalis. Ogden menulis bahwa nonsense 
menyatakan AS
> tidak dapat mempengaruhi perubahan di Aljazair. Seperti disebutkan
> terdahulu, pasca runtuhnya Komunisme, justru Barat menerapkan 
pandangan
> yang paranoid dan berlebihan terhadap Islam. Itu bisa disimak dari
> berbagai perlakuan yang diterima kaum Muslim yang memasuki negara-
negara
> Barat setelah peristiwa 11 September 2001. Hanya karena namanya 
berbau
> Islam, atau wajahnya bercorak Arab, maka seseorang yang memasuki
> negara-negara Barat dapat menerima perlakuan yang tidak manusiawi. 
> 
> Koran Utusan Malaysia, edisi 15 September 2004, juga menurunkan 
tulisan
> Kamaruzaman Mohamad, seorang wartawan senior Malaysia yang baru-baru
> mengikuti pertemuan wartawan di AS. Ia menulis artikel berjudul "11 
Sept.
> Ubah polisi AS". (dalam bahasa Indonesia, artinya: 11 September Ubah
> Kebijakan AS). Diceritakan, bahwa kebijakan anti-terorisme memang 
pada
> kenyataannya, ditujukan kepada semua orang Islam. Itu dialami oleh 
semua
> orang Islam yang memasuki AS, yang secara dicurigai sebagai teroris 
atau
> mendukung teroris, sehingga harus diperlakukan khusus saat memasuki 
negara
> itu. Hanya karena namanya Islam, Ia diperiksa ketat, tasnya dibuka 
tanpa
> pengetahuannya, dan prosedur ketat lainnya. Ia bertanya, mengapa 
hanya
> orang Islam saja yang diperlakukan seperti itu? Mengapa orang bukan 
Islam
> mudah-mudah saja memasuki AS? Apakah yang melakukan tindakan 
terorisme
> hanya orang Islam? 
> 
> Mungkin, tindakan ketat semacam itu, sebagaimana diceritakan oleh
> Kamaruzaman, tidak berlaku atas orang-orang dari kalangan Muslim 
yang
> jelas-jelas sudah dikenal sebagai "The Darling of Washington" yang
> mengabdikan hidup dan matinya demi menyebarkan nilai-nilai dan 
pandangan
> hidup yang diridhoi oleh AS. 
> 
> Sebuah buku berjudul "Painting Islam as the New Enemy" (2003), karya
> Abdulhay Y. Zalloum, cukup memberikan gambaran, bagaimana rekayasa
> kelompok-kelompok garis keras di AS, termasuk Wolfowitz, Rumsfeld, 
dan
> Huntington, untuk membuat skenario politik internasional pasca 
Perang
> Dingin. Kelompok inilah yang menskenario tampilnya Presiden George 
W.
> Bush, dan kemudian mempengaruhi jalannya politik internasional 
hingga saat
> ini. Pada akhirnya, pasca Perang Dingin, mereka menskenario, untuk
> menempatkan Islam sebagai musuh utama. Aksi terorisme yang 
dilakukan umat
> Islam akan dicap sebagai terorisme, sementara aksi teror terhadap 
penduduk
> Muslim akan dikspose sebagai tindakan mulia untuk memberantas 
teroris.
> Tajuk Koran Utusan Malaysia juga mengupas tentang isu terorisme
> (keganasan), yang berjudul "Melihat keganasan dari dua sudut". 
Tajuk ini
> mempertanyakan, "Apakah bezanya serangan bom yang dilancarkan oleh
> kumpulan Jemaah Islamiyah (JI) dengan serangan bom yang dilakukan 
oleh
> AS?" 
> 
> Kasus respon Barat terhadap RUU anti-perzinahan di Turki juga 
menunjukkan,
> begitu takutnya Barat terhadap kembalinya Islam ke dalam kehidupan
> masyarakat dan politik di Turki. Barat tidak ribut dengan dominannya
> cengkeraman kristen fundamentalis dalam politik di AS, tetapi 
khawatir
> sekali dengan Islam. Sebab, masa lalu Turki adalah masa lalu yang 
penuh
> kegemilangan, ketika mereka masih di bawah kekuasaan Utsmani. 
Setelah
> kalah dari Barat, Turki diwajibkan sekular, dan tidak 
secara "sukarela"
> untuk menjadi sekular. Adalah salah besar klaim Fukuyama, bahwa 
telah
> terjadi konsensus umat manusia terhadap demokrasi liberal. Jika ia 
memuji
> Turki sebagai satu-satunya negara yang menerapkan demokrasi liberal 
di
> dunia Islam, maka Fukuyama mestinya mengungkap fakta, bahwa 
demokrasi
> liberal dan sekularisme di Turki ditegakkan dengan tangan besi dan
> kekuasaan yang kejam. 
> 
> Kasus yang menimpa PM Erbakan, yang hanya berkuasa selama 18 bulan, 
bisa
> disimak. Karena dianggap mengancam prinsip negara sekular, Rbakan
> dijatuhkan. Penggantinya, Mesut Yilmaz dari Partai Ibu Pertiwi,
> menyatakan: "Negara ini butuh pemerintahan yang kuat yang mampu
> mempertahankan sistem sekular." Babak-babak berikutnya adalah 
kehidupan
> yang penuh represif terhadap kaum muslim Turki. Di bawah jargon
> "mempertahankan sistem sekular", pemerintahan sekuler Yilmaz yang 
disokong
> penuh oleh militer dan Barat bertindak tidak demokratis (otoriter).
> Setelah Erbakan diturunkan, Partai Refah dilarang. Sekularisasi
> diberlakukan dengan ketat. Wanita-wanita muslimah dilarang 
mengenakan
> jilbab di kantor-kantor pemerintah dan di kampus. Sekolah-sekolah 
agama
> ditutup. Jam siaran agama di TV dipangkas. 
> 
> Turunnya Erbakan dapat dikatakan sebagai jalan terbaik untuk 
menghindari
> terjadinya kudeta militer, sebagaimana terjadi pada tahun 1960. 
Kasus
> tahun 1960 itu hampir sama dengan kasus yang menimpa Erbakan. Pada
> pemilihan umum tahun 1950, Partai Demokrasi pimpinan Adnan Mandaris 
unggul
> atas Partai Republik bentukan Musthafa Kemal Attaturk, Bapak 
Sekularis
> Turki. Selama 10 tahun berkuasa, Adnan Mandaris berusaha 
menempatkan Islam
> kembali dalam masyarakat Turki, dengan cara yang sangat halus. Di 
masa
> Mandaris, azan kembali dikumandangkan dalam bahasa Arab (sebelumnya
> dilakukan dalam bahasa Turki; Lafazh Allahu Akbar diganti dengan 
Allahul
> Buyuk), masjid-masjid yang telah dihancurkan direnovasi, fakultas 
teologi
> dibuka kembali, dan sejumlah lembaga tahfidzul Quran muncul 
kembali. 
> 
> Meskipun yang dilakukan oleh Mandaris adalah sangat manusiawi dan 
jauh
> dari sikap radikal, akan tetapi kebijakan-kebijakan Mandaris itu 
dianggap
> sebagai kejahatan oleh kaum Sekular Turki, terutama kelompok 
militer yang
> bertindak sebagai penjaga gawang sekulerisme. Di Turki, salah satu 
fungsi
> militer adalah sebagai National Security Guard (NSC). Mandaris 
dituduh
> menciptakan pemerintahan yang primitif, statis, berkhianat terhadap 
ajaran
> Kemal Attaturk, mengancam demokrasi, merusak struktur hukum, dan 
lain
> sebagainya. Sebagai "hukuman" terhadap Mandaris, pada tahun 1960, 
terjadi
> kudeta militer dan Mandaris bersama Ketua Parlemen Bulatuqan dan 
Menteri
> Luar Negeri Fatin Zaurli dihukum mati. 
> 
> Attaturk sendiri menjalankan pemerintahan sekularnya secara 
diktator. Ia
> tak segan-segan menghukum mati orang-orang yang enggan kepada 
pemerintahan
> Kemalis. Pada tanggal 13 Juli 1926, 15 orang digantung dimuka umum. 
Tahun
> 1930, 800 orang anti-Kemalis ditangkap dan dihukum mati. Tahun 1931,
> keluar peraturan yang melarang media massa mengeluarkan propaganda 
yang
> dianggap membahayakan pemerintahan sekular Kemalis. 
> 
> Selama 80 tahun lebih, Turki telah berkhidmat kepada Barat, 
mengikuti
> prinsip sekularisme, tetapi nasib mereka masih belum berubah. Uni 
Eropa
> masih tetap menolak permohonan Turki untuk bergabung. Turki 
diwajibkan
> menjadi negara sekular. Dia dipuji Fukuyama sebagai satu-satunya 
negara
> demokrasi liberal di dunia Islam. Tetapi pada saat yang sama dia 
tidak
> boleh menjalankan prinsip dan mekanisme demokrasi ketika demokrasi 
itu
> digunakan untuk menyepakati hal-hal yang sesuai dengan Islam, 
seperti
> kriminalisasi perzinahan. 
> 
> Itulah prinsip Barat dalam berdemokrasi liberal: wajib sekular, 
wajib
> anti-Islam! Di kalangan Muslim, kadangkala ada yang tidak peduli 
akan hal
> ini. Mereka berteriak-teriak menuding orang Islam yang mereka 
katakan
> "menghegemoni kebenaran", tetapi pada saat yang sama, mereka 
menutup mata
> terhadap perilaku "tuannya" yang juga melakukan hegemoni kebenaran, 
dengan
> memaksakan sekularisme kepada umat manusia, dan menghalang-halangi 
umat
> Islam untuk menerapkan keyakinannya. 
> 
> Jika Barat dan pengikutnya yang sekular-liberal yakin dengan 
ideologinya,
> yakin dengan sekular dan liberalnya, yakin dengan kebebasan zina dan
> homoseksualnya, yakin dengan kemaslahatan pelacuran dan kebebasan 
ekspresi
> pornografinya, lalu mengapa umat Islam tidak boleh yakin akan 
keagungan
> Tuhan dan hukum-hukum-Nya? Wallahu a'lam.
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 
> 
> 
**********************************************************************
*****
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju 
Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
www.ppiindia.shyper.com
> 
**********************************************************************
*****
> 
______________________________________________________________________
____
> Mohon Perhatian:
> 
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg 
otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
> 4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
> 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> 
> 
> 
> Yahoo! Groups SponsorADVERTISEMENT
> 
> 
> ---------------------------------
> Yahoo! Groups Links
> 
> To visit your group on the web, go to:
> http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
> 
> To unsubscribe from this group, send an email to:
> [EMAIL PROTECTED]
> 
> Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of 
Service. 
> 
> 
> 
> ---------------------------------
> Gesendet von Yahoo! Mail - Jetzt mit 100MB kostenlosem Speicher
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]




***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]

Yahoo! Groups Links







                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - 50x more storage than other providers!

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke