biasanya yangmasih berpikir etnisiti itu karena belum terbuka wawasannya, mungkin belum pernah tinggal di lingkungan multikultural, dari kecil sampai besar tinggal di lingkungan homogen.
eropa saja sudah membongkar batas-batas negara menjadi satu eropa, kenapa kita masih terkotak-kotak etnis????? On Wed, 29 Sep 2004, antonhartomo wrote: > Salam kepada semua. > Benar, jangan dibawa ke soal "politisasi-etnis". > Saya bertanya dalam hati : apakah 'pendatang' selalu 'virus'? Saya > (peduli amat disebut Jawa , Batak, Arab, Bugis dll) datang ke suatu > daerah mesti AL-SANTUN. Itu ajaran moral Nusantara Indonesia. Ke > Jatim saya hidupkan aneka industri sepuh emas, dengan sobat orang > Jepang. Saya ke Banten juga sharing dengan warga 'asli' jangan jual > tanah beli ojek tapi saya gerakkan home industries mandiri. Dsb dsb > dan itu saya yakin bukan saya sendiri. Sejak zaman baheula sudah > niscaya begitu, dan faktanya pula. > Maka kita mesti lurus bicara fakta. Sekali lagi, milis ini niscaya > makin jeli agar tak terjebak hal "sara".... > Salam, dan mohon kritik bila ada lebih-kurang. > Yang penting (juga) PRAXIS - what have we been doing ?? > > > > > --- In [EMAIL PROTECTED], Suhiro <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > sebenarnya nggak ada itu orang jawa anti suku lain, coba aja anda > tinggal > > di jawa, mereka malah menganggap orang orang dari sumatra atau > daerah lain > > itu lebih tinggi, karena biasanya anak-anak kos yang sekolah dari > golongan > > kaya, sedang penduduk di situ menengah kebawah...they are wellcome, > > biasanya malah orang luar jawa yang "anti" jawa, sebenernya > transmigran > > itu juga korban, > > masalah sebenernya adalah Jakarta/pusat dan daerah, pusat dulu > dikuasai > > militer, dan pemimpinnya kebetulan Suharto yang jawa, sedang militer > > sendiri sih nampaknya adalah suku tersendiri, tidak peduli asalnya > suku > > apa kalo sudah masuk militer maka akan punya pola pikir yang mirip. > > karena mayoritas penduduk adalah jawa, maka dimiliterpun jadi > banyak orang > > jawa, termasuk di kabinet, walaupun tinggal nama, karena yang sudah > > tinggal dijakarta, secara budaya sudah tidak jawa lagi, bisa > dikatakan > > menjadi suku jakarta. > > nah di aceh jadi disamaratakan, semua tentara di sebut jawa, walau > itu > > dari sulawesi, NTT dll. > > > > kalau anda tinggal di jawa sendiri, terutama di perkotaan, > identitas itu > > makin kabur karena banyaknya kawin campur antar suku. > > > > jadi masalah pusat daerah, janganlah dibawa ke masalah suku. > > konflik vertikal jangan dijadikan horisontal :-) > > > > > > On Wed, 29 Sep 2004, RG Nur Rahmat wrote: > > > > > Saya hanya lihat realitas, saya peduli amat dengan budaya daerah > anda atau siapa pun juga. Tapi, kalau sampai mematikan budaya lain di > Indonesia ini dan mengerdilkannya menjadi wayang dan tempe, tentu > saya sebagai orang Indonesia akan marah besar. > > > > > > Lihat saja GAM, kenapa mereka bisa sangat anti-jawa, atau daerah- > daerah lain yang pribuminya tertekan dan terdesak oleh pribumi import > ( dari pulau lain). Sebagian tiada kuasa untuk memberontak seperti > orang Aceh ini jadi hanya bisa menangis dan marah. > > > > > > Majapahit, itu dia. Para pemimpin keturunan Jawa berpikir > Indoensia ini Majapahit yang daerah-daerah lain adalah jajahannya, > dan ini sesat dan menyakitkan. > > > > > > Contoh: di Lampung, bahasa Lampung sudah punah kini orang Jawa > bermudik tidak hanya ke Jawa juga ke Lampung. > > > > > > Ini sudah seperti kanker. > > > > > > Mungkin pemerintahan yang baru harus memperhatikan hal ini, bahwa > setiap suku bangsa di Indoensia tidak mau bernasib seperti orang > betawi. Mereka mau jadi tuan di tanahnya sendiri. > > > > > > Kalau ini tidak diperhatikan akan ada terus yang namanya pilih > kasih pd pengambilan pegawai negeri oleh etnis tertentu karena merasa > etnisnya kurang diperhatikan. Akhirnya, profesionalisme tidak lagi > berjalan. Indonesia krisis lagi. > > > > > > Danardono HADINOTO <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Ini bung Rakhmat belum faham dalamnya falsafah Jawa, nilai > gamelan, sendra tari, dan lain2nya yang memperkaya khazanah budaya > Nusantara ini. Juga Borobudur dipandang sebagai khazanah dunia, > khazanah kemanusiaan. > > > > > > Mungkin bung Rakhmat dapat menyumbangkan budaya daerahnya? > > > > > > Jalesveva Bhumimca Jayamahe! > > > > > > Majapahit, arungi perairan Nusantara! > > > > > > salam > > > > > > RM D Hadinoto > > > > > > > > > > > > antonhartomo wrote: > > > Saya tak serujuk! > > > Justru spirit kita niscaya semua KEARIFAN LOKAWI diangkat dalam > > > tamansarinya budaya Indonesia. > > > Bukan warteg, rm padang, irama dangdut, dsb., walau juga tak > patut > > > antipati. > > > Mari kembangkan nyata, bukan omdo mbleber tanpa juntrung, tak > > > menghargai perbedaan dan pencapaian. > > > Kalau WAYANG diakui UNESCO sebagai salah satu kontributor > PERADABAN > > > DUNIA MANUSIA, mari galang juga untuk yang lain. TIDAK BENAR > > > Indonesia mesti "Jawa-centris". Coba baca lagi artikel dengan > baik > > > dan sadar..... > > > In Harmonia Progressio. Bhinneka Tunggal Ika ! > > > Salam! > > > > > > > > > --- In [EMAIL PROTECTED], RG Nur Rahmat > > > wrote: > > > > Betul ini. > > > > Sadarkah saudara-saudari bahwa kekayaan kebudayaan bangsa > Indonesia > > > ini sudah dikerdilkan menjadi wayang dan warteg? > > > > > > > > Semuanya serba Jawa-sentris. > > > > > > > > SEDIH. > > > > > > > > Danardono HADINOTO wrote: > > > > Izinkan saya menggelar tulisan mengenai ke-multi-budayaan. > > > > > > > > Salam > > > > > > > > RM D Hadinoto > > > > > > > > Kerangka Multikulturalisme > > > > > > > > Oleh B Hari Juliawan > > > > > > > > SAMBIL menunggu terbentuknya pemerintahan baru, ada baiknya > kita > > > menghidupkan kembali beberapa perdebatan mengenai dasar-dasar > hidup > > > bersama. Salah satu hal penting yang kerap dibicarakan secara > publik > > > adalah perihal multikulturalisme sebagai prinsip hidup bersama. > > > > > > > > Sayang, banyak pembicaraan berputar-putar sekitar "menghargai > > > perbedaan", suatu penjelasan bernilai retorik yang pada hemat > saya > > > kurang menyentuh persoalan nyata. Karena itu, tulisan ini hendak > > > mengajukan beberapa kerangka nyata yang bisa dipakai sebagai > titik > > > berangkat pembicaraan lebih lanjut. > > > > > > > > KERANGKA pertama berkenaan istilah multikulturalisme sendiri. > > > Umumnya diterima, kata sifat "multikultural" menunjuk fakta > > > keragaman, sementara "multikulturalisme" menunjuk sikap normatif > atas > > > fakta keragaman itu. Keragaman di Indonesia sering digambarkan > > > sebagai amat lebar: sekitar 25 rumpun bahasa dan lebih dari 250 > > > rumpun dialek, sekitar 400 kelompok etnis dan suku bangsa, dan > lima > > > agama resmi serta berbagai bentuk kepercayaan. Menyebut fakta > saja > > > dan menganggapnya sebagai multikulturalisme berarti mengacaukan > dua > > > pengertian antara fakta dan sikap normatif itu. > > > > > > > > Multikulturalisme perlu memilah-milah bentuk keragaman "kultur" > > > yang diwadahi dalam negara. Will Kymlicka (1995) membedakan dua > > > kategori keragaman yaitu negara multibangsa dan negara polietnis. > > > Negara multibangsa lahir dari koeksistensi beberapa bangsa yang > > > semula berdiri sendiri-sendiri dalam batas-batas teritorial > masing- > > > masing. Koeksistensi itu mungkin terjadi lewat invasi dan > penjajahan, > > > mungkin terjadi secara sukarela. Dalam negara multibangsa, unit > > > politik yang relevan adalah bangsa atau suku bangsa, dan biasanya > > > menuntut otonomi atau pemerintahan sendiri demi mempertahankan > > > keunikannya berhadapan dengan kultur mayoritas. > > > > > > > > Keragaman dalam negara polietnis muncul dari gelombang migrasi > > > secara individual maupun berkelompok. Mereka bergabung secara > longgar > > > dalam suatu asosiasi atau perkumpulan yang disebut "kelompok > etnis." > > > Kelompok-kelompok etnis itu umumnya menghendaki diterima sebagai > > > bagian masyarakat luas sambil tetap diakui keunikan etnisnya. > Lain > > > dari suku bangsa, kelompok etnis tidak menuntut otonomi politik, > > > tetapi sekadar modifikasi lembaga-lembaga publik dan hukum dalam > > > masyarakat agar dapat mengakomodasi keunikannya. > > > > > > > > Kedua bentuk keragaman kultur ini dapat terjadi di satu negara, > dan > > > Indonesia tampaknya merupakan salah satunya. Otonomi Aceh dan > Papua > > > dapat dikategorikan sebagai tuntutan dalam rangka negara > multibangsa, > > > sedangkan pengakuan terhadap etnis Tionghoa dan penghapusan > > > diskriminasi merupakan tuntutan dalam rangka negara polietnis. > > > Identifikasi seperti ini menghindari tumpang tindih dalam > > > kategorisasi persoalan, dan menyelamatkan istilah > multikulturalisme > > > dari bahaya menjadi slogan. Meski demikian, ada potensi > kebingungan > > > di mana kita hendak menempatkan agama. Apakah komunitas agama > hendak > > > dijadikan unit politik yang berhak mengajukan klaim yang sama > sahnya > > > dengan suku bangsa atau kelompok etnis atau tidak dihitung sama > > > sekali? > > > > > > > > Kerangka kedua merupakan turunan kerangka pertama, akomodasi > > > kepentingan. Bila diperas dalam fakta kerasnya, isu terpenting > > > multikulturalisme sebenarnya terletak pada manajemen kepentingan. > > > Aneka kelompok dalam masyarakat apakah itu suku bangsa atau > kelompok > > > etnis, mengajukan klaim agar unit politik yang lebih besar > seperti > > > negara melakukan sesuatu demi kelangsungan hidup kelompok- > kelompok > > > itu. Klaim-klaim itu membungkus kepentingan yang biasanya lebih > > > dasariah. Masalahnya kini, ada pada definisi arti "kepentingan." > > > > > > > > ADA dua jenis kepentingan yang relevan, kepentingan umum dan > > > kepentingan khusus (Amy Gutman, 1994). Kepentingan umum adalah > aneka > > > kebutuhan yang pemenuhannya sama untuk tiap orang, tanpa peduli > > > identitas kulturalnya. Yang termasuk di dalamnya adalah kebutuhan > > > akan fasilitas kesehatan, perumahan, pendidikan, kebebasan > berbicara, > > > berkumpul dan berserikat. Mengenai kebutuhan umum ini, semua > > > warganegara harus mendapat perlakuan sama. Siapa pun berhak > menuntut > > > bila kepentingan ini tidak terpenuhi. > > > > > > > > Kepentingan khusus, menyangkut aneka kebutuhan yang > pemenuhannya > > > terkait aspek-aspek khusus kehidupan (survival) kelompok > > > bersangkutan. Orang Aceh, misalnya, karena sejarah penjajahan > > > berbeda, ingin tetap mempertahankan kesatuan identitasnya sebagai > > > orang Aceh meski ada dalam kerangka negara Indonesia. Kesatuan > > > identitas itu dipelihara lewat privilese seperti pengadilan adat > dan > > > peran khusus ulama dalam struktur politik lokal. > > > > > > > > Bila dalam hal pemenuhan kepentingan umum yang hendak dicapai > > > adalah kesetaraan, dalam hal pemenuhan kepentingan khusus, yang > > > terjadi justru sebaliknya yaitu keistimewaan, pengecualian, atau > > > privilese. Karena itu, kepentingan khusus berpeluang melahirkan > > > polemik dan konflik. Dalam hal ini, pemerintah dan masyarakat > > > ditantang untuk senantiasa merumuskan kembali paham keadilan dan > > > kesetaraan. Kapankah suatu privilese dianggap sah dan tidak > menyalahi > > > prinsip kesetaraan? Apalagi, dalam kasus Aceh misalnya, selalu > ada > > > kekhawatiran dari pemerintah pusat mengenai pemberontakan. > > > > > > > > Bhikhu Parekh (2000) mengajukan prinsip, kesetaraan seharusnya > > > didasarkan bukan pada uniformitas manusia, tetapi pada kait > mengait > > > antara uniformitas dan perbedaan. Termasuk dalam kesetaraan > adalah > > > kesetaraan dalam hal kebebasan dan kesempatan untuk berbeda. > > > Memperlakukan orang secara setara menuntut kita untuk > memerhatikan > > > baik kesamaan maupun perbedaan antarindividu atau kelompok. > > > > > > > > KERANGKA ketiga menyangkut ideologi politik yang memungkinkan > > > multikulturalisme berfungsi. Saya percaya, tidak ada yang bisa > > > menjamin multikulturalisme selain demokrasi, dan banyak gagasan > yang > > > berkembang menambah kualitas khusus mengenai karakter liberal > dari > > > demokrasi (Rawls [1993], Taylor [1994], Kymlicka [1995], Parekh > > > [2000]). Demokrasi liberal memungkinkan tiap orang untuk > > > mengekspresikan diri secara bebas dan mengejar pemenuhan > identitas > > > tanpa khawatir menjadi sasaran penindasan. > > > > > > > > Amy Chua (2003) khawatir, demokrasi dan pasar bebas niscaya > > > memenangkan mayoritas sambil mengeksploitasi minoritas yang kuat > > > secara ekonomi. Bila ini yang terjadi, yang digagalkan adalah > prinsip > > > kebebasan mengekspresikan diri karena minoritas di bawah dominasi > > > mayoritas tidak lagi punya kebebasan untuk mewujudkan identitas > > > khususnya. Dalam hal ini, demokrasi harus dijaga ketat sebagai > > > mekanisme yang mempertahankan kebebasan berekspresi, sehingga > tidak > > > mengurangi hak tiap individu dan kelompok mewujudkan > kekhususannya. > > > > > > > > Kerangka keempat dan terakhir menyangkut telos atau puncak > tujuan > > > multikulturalisme. Multikulturalisme pantas diperjuangkan karena > di > > > balik itu ada tujuan mewujudkan hidup bersama yang sedekat > mungkin > > > pada kepenuhan "hidup baik." Setiap orang ingin hidup baik, > terpenuhi > > > segala kebutuhan material dan spiritualnya, dan berhak untuk > hidup > > > baik. Cara mencapai hidup baik itu berbeda-beda untuk tiap orang > atau > > > kelompok, bahkan definisi hidup baik itu pun berbeda-beda. Sejauh > > > perbedaan itu tidak saling meniadakan, kita baru bisa mengulang > > > retorika yang disampaikan di awal tulisan: marilah "menghargai > > > perbedaan". > > > > > > > > B Hari Juliawan Alumnus Warwick University, Coventry-England; > > > Mahasiswa Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta > > > > > > > > > > > > --------------------------------- > > > > Gesendet von Yahoo! Mail - Jetzt mit 100MB kostenlosem Speicher > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > ********************************************************************** > > > ***** > > > > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju > > > Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. > > > www.ppiindia.shyper.com > > > > > > > > ********************************************************************** > > > ***** > > > > > > > > ______________________________________________________________________ > > > ____ > > > > Mohon Perhatian: > > > > > > > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg > > > otokritik) > > > > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan > dikomentari. > > > > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; > > > > 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] > > > > 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] > > > > 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] > > > > 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] > > > > > > > > Yahoo! Groups Links > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > --------------------------------- > > > > Do you Yahoo!? > > > > Yahoo! Mail Address AutoComplete - You start. We finish. > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > > > > > > > > ********************************************************************** > ***** > > > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju > Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. > www.ppiindia.shyper.com > > > > ********************************************************************** > ***** > > > > ______________________________________________________________________ > ____ > > > Mohon Perhatian: > > > > > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg > otokritik) > > > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan > dikomentari. > > > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; > > > 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] > > > 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] > > > 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] > > > 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] > > > > > > > > > > > > Yahoo! Groups SponsorADVERTISEMENT > > > > > > > > > --------------------------------- > > > Yahoo! Groups Links > > > > > > To visit your group on the web, go to: > > > http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ > > > > > > To unsubscribe from this group, send an email to: > > > [EMAIL PROTECTED] > > > > > > Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of > Service. > > > > > > > > > > > > --------------------------------- > > > Gesendet von Yahoo! Mail - Jetzt mit 100MB kostenlosem Speicher > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > > > > > > > > > > > ********************************************************************** > ***** > > > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju > Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. > www.ppiindia.shyper.com > > > > ********************************************************************** > ***** > > > > ______________________________________________________________________ > ____ > > > Mohon Perhatian: > > > > > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg > otokritik) > > > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan > dikomentari. > > > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; > > > 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] > > > 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] > > > 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] > > > 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] > > > > > > Yahoo! Groups Links > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > --------------------------------- > > > Do you Yahoo!? > > > vote.yahoo.com - Register online to vote today! > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > > > > > > > > > > > ********************************************************************** > ***** > > > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju > Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. > www.ppiindia.shyper.com > > > > ********************************************************************** > ***** > > > > ______________________________________________________________________ > ____ > > > Mohon Perhatian: > > > > > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg > otokritik) > > > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan > dikomentari. > > > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; > > > 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] > > > 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] > > > 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] > > > 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] > > > > > > Yahoo! Groups Links > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > *************************************************************************** > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih > Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com > *************************************************************************** > __________________________________________________________________________ > Mohon Perhatian: > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; > 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] > 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] > 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] > 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] > > Yahoo! Groups Links > > > > > > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

