Dear temans,
berikut ada artikel menarik dari SP (thanks berat buat SP). Kalau 
Anda menonton CNN hari ini, diberitakan bahwa PM Thailand, Thaksin, 
akan menganggarkan "extra money" untuk pemberantasan korupsi, 
tujuannya untuk meningkatkan kepercayaan investor. Pertumubuhan India 
udah 7.4% ya?

Salam manis,
Andi

SUARA PEMBARUAN DAILY 

Diplomasi

Cina, Indonesia dan Presiden Baru
 

Nanang Pamuji M 

ESKIPUN secara resmi belum ditetapkan siapa yang akan menjadi 
presiden Indonesia 2004-2009, namun dari penghitungan sementara 
hampir pasti bahwa untuk lima tahun kedepan, Indonesia akan dipimpin 
oleh presiden baru. 

Salah satu isyarat penting yang disuarakan rakyat dari hasil pilpres 
kedua adalah perlunya Indonesia berubah. Termasuk di dalamnya, tentu 
saja perubahan dalam ranah kebijakan internasional kita. 

Perubahan semacam ini menjadi hal yang sangat penting, karena saat 
ini posisi internasional Indonesia yang cenderung merosot hampir di 
semua bidang. Diperlukan terobosan untuk membawa Indonesia menjadi 
bangsa yang dihormati dalam percaturan Indonesia. Ini merupakan 
prioritas yang sangat penting. 

Agenda apa yang harus kita benahi di dunia internasional? Apa 
tantangan internasional yang dihadapi oleh presiden baru mendatang? 

Jika ditilik dari berbagai indikator, patut rasanya bahwa kita masih 
harus prihatin dengan prestasi internasional kita. Ranking daya saing 
internasional kita tahun lalu berada di urutan ke-67. Sementara itu 
peringkat prestasi kebijakan makro ekonomi kita juga belum 
menggembirakan, yaitu di posisi 53 dengan peringkat country credit 
rating di posisi 74. Sementara itu, indeks kemajuan teknologi kita 
hanya mencapai urutan ke-65. 

Peringkat untuk kinerja perbankan kita juga masih di urutan ke-78. 
Yang menyedihkan, Indonesia juga dianggap sebagai negara yang rawan 
praktik pencucian uang melalui bank (di urutan 77). Indonesia juga 
rawan terhadap praktik insider trading (di posisi 80). 

Bahkan jika dibanding negara-negara lain, Indonesia juga bukan tempat 
yang ideal untuk menjalankan bisnis karena peringkatnya lamanya 
(hari) untuk memulai usaha bisnis masih berada di barisan ke-71. 

Kurang kompetitifnya iklim invetasi di Indonesia juga semakin 
diperparah oleh kualitas pemerintahannya. Tingkat kompetensi birokrat 
hanya berada di ranking 67. Sementara itu, biaya bisnis yang 
berhubungan dengan korupsi (business cost of corruption) menempati 
urutan ke-77. 

Dalam urusan membuat kebijakan ekonomi, pemerintah juga dinilai 
masing kurang fair karena indeks favoritisme dalam kebijakan ekonomi 
masih rendah, dengan peringkat ke-65. 

Faktor-faktor tersebut masih harus ditambah dengan dukungan keamanan 
yang kurang memadai. Ranking organized crime di Indonesia berada di 
posisi 69. Sementara itu, realibilitas jasa kepolisian masih di 
urutan ke 75. Ini artinya, secara umum persoalan keamanan masih 
menghantui keputusan investasi ke Indonesia. 

Prestasi internasional yang dicapai Indonesia tersebut jelas 
memalukan. 

Mari kita bandingkan dengan Malaysia, misalnya. Ranking daya saing 
internasional negeri jiran itu berada di posisi 27. Lingkungan 
ekonomi makro Malaysia jauh di atas Indonesia, yaitu di peringkat 20, 
dengan indeks stabilitas makroekonomi di posisi 7. Di bidang 
teknologi, Malaysia menempati barisan ke 26. 

Peringkat untuk kinerja perbankan Malaysia berada di jajaran ke-44. 
Negara itu juga tidak banyak dicap sebagai tempat pencucian uang. 
Dibanding Indonesia, Malaysia lebih ideal sebagai tempat menjalankan 
bisnis karena peringkatnya lamanya (hari) untuk memulai usaha bisnis 
masih berada di barisan ke-14. Artinya, jumlah hari yang diperlukan 
untuk memulai bisnis jauh lebih singkat, karena birokrasi yang tidak 
bertele-tele. 

Kurang kompetitifnya iklim invetasi di Indonesia juga semakin 
diperparah oleh kualitas pemerintahannya. Malaysia dikenal 
keefektifannya dalam urusan yang berhubungan dengan hukum (peringkat 
9) serta memiliki kebijakan perpajakan yang baik (posisi 7). 

Dalam urusan membuat kebijakan ekonomi, pemerintah Malaysia juga 
lebih baik dari Indonesia karena indeks favoritisme dalam kebijakan 
ekonomi di peringkat ke-38. 

Bahkan dengan Filipina, yang kondisi ekonomi tak jauh berbeda dengan 
Indonesia, kita masih ketinggalan. Peringkat daya saing negara 
tersebut berada di atas kita, yaitu posisi 61. Dalam hal kemajuan 
teknologi, posisi Manila juga lebih baik yaitu di urutan ke-52. 

Peringkat lingkungan makro ekonominya ada di urutan ke-32 dengan 
stabilitas makro ekonomi di peringkat ke-50. Ini artinya, Filipina 
masih lebih kompetitif dari Indonesia. 

Selain urusan peringkat tersebut, ada hal lain yang cukup menantang. 
Dalam beberapa bulan setelah presiden baru menduduki kursinya, 
pemerintah baru akan menghadapi "bom" ekonomi internasional, dengan 
dihapuskannya sistem kuota untuk ekspor TPT pada akhir tahun ini. 

Menurut Departemen Perindustrian dan Perdagangan, sekitar 3.000 
pengusaha yang bergerak di industri TPT Indonesia akan kolaps pada 
tahun 2005, menyusul liberalisasi perdagangan itu. 

Penghapusan kuota itu akan membuat kompetisi yang semakin sengit 
antarnegara produsen TPT di dunia. Meskipun dengan liberalisasi itu 
potensi pasar akan lebih luas, namun diperkirakan produsen TPT di 
Indonesia belum siap menghadapi persaingan dengan negara-negara 
produsen lain, terutama Cina. 


Belajar dari Cina? 

Sementara kita terengah-engah dalam bersaing secara internasional, 
cukup menarik bahwa Cina kini semakin unjuk gigi sebagai pemain kunci 
ekonomi dunia. Minggu ini, misalnya, Cina dirangkul G-7 untuk 
berbicara dalam beberapa forum mereka. Hal ini jelas karena negara-
negara maju tersebut mulai kewalahan menghadapi persaingan dengan 
Cina. 

Cina masuk peringkat keempat dalam raksasa perdagangan dunia, di 
bawah AS, Jerman dan Jepang. Selain karena aliran modal asing dan 
teknologi tinggi, yang justru sangat menarik dari pengalaman Cina 
adalah besarnya peran UKM dan bisnis kecil daerah -yang disebut 
sebagai Township and Village Enterprises (TVEs)- dalam menopang 
kekuatan ekspornya. Usaha kecil ini memegang andil besar dalam 
menggenjot ekspor Cina. 

TVEs merupakan perkembangan dari industri pedesaan yang digalakkan 
pemerintah Cina sebelum reformasi tahun 1978. Pada tahun 1960-an, 
terdapat 117.000 industri pedesaan di Cina. Sejak tahun 1978, jumlah 
industri pedesaan meningkat menjadi 1,52 juta. Setelah reformasi 
ekonomi Cina, pertumbuhan TVEs sangat spektakuler. 

Output dari TVEs meningkat dengan rata-rata 22,9 persen pada periode 
1978-94. Meskipun tingkat pertumbuhannya tidak sama di seluruh 
wilayah namun pertumbuhan rata-ratanya cukup mengesankan. 

Dihitung secara nasional, output TVEs pada tahun 1994 mencapai 42 
persen produksi nasional. Sumbangan TVE terhadap nilai ekspor Cina 
meningkat tajam dari hampir nol sebelum rreformasi, menjadi lebih 
dari sepertiga pada tahun 1994. 

TVEs menciptakan lapangan kerja sampai 95 juta sejak 1978, dan 130 
juta pada tahun 1990-an. Tahun 1998, sumbangan TVEs terhadap GDP Cina 
mencapai 28 persen. Pada tahun 1999, TVEs menghasilkan nilai output 
sampai 240 miliar dolar AS. 

Sumbangan TVEs terhadap penyediaan lapangan kerja secara nasional 
meningkat dari 7 persen pada 1978 menjadi 20,5 persen pada 1993 dan 
menyerap hampir separuh dari tenaga kerja pedesaan pada akhir tahun 
1990-an! 

Mengapa TVEs berhasil menjadi salah satu simbol keajaiban Asia yang 
baru? 

Kata kuncinya adalah peran Pemerintah Cina yang sangat berani dan 
konstruktif. Salah satu kebijakan untuk mendukung TVEs adalah yang 
disebut sebagai The Spark Plan. Rencana ini dimulai tahun 1986 untuk 
memajukan pembangunan sains dan teknologi pedesaan. 

Tujuan rencana ini ada tiga. Pertama, memberikan training jangka 
pendek bagi 200.000 pemuda desa setiap tahun, dengan tujuan 
mengajarkan mereka satu atau dua teknik yang dapat diterapkan di 
daerahnya. 

Kedua, memobilisasi lembaga riset di tingkat pusat dan tingkat 
provinsi guna membangun 100 jenis peralatan teknologi yang siap pakai 
di pedesaan. Ketiga, membantu mendirikan 500 TVEs sebagai model 
percontohan, dengan memberikan mereka teknologi, pengetahuan 
manajemen, teknik processing dan kontrol kualitas. 

Di bawah rencana The Spark Plan, pemerintah mengubah lebih dari 28 
juta petani menjadi wiraswastawan berorientasi ekspor! 

Belajar dari Cina, maka keseriusan, kerja keras dan konsistensi dari 
pemerintah menjadi modal yang penting guna memperbaiki kualitas dan 
prestasi suatu negara di panggung internasional. Apakah kita bisa 
meniru Cina? 

Inilah tantangan yang akan dihadapi oleh pemerintah kita yang akan 
segera dibentuk ini. Potensi Indonesia bukanlah kecil. Dengan 
penduduk lebih dari 212 juta orang, bisa dibayangkan apabila 
pemerintah mampu memotivasi rakyat untuk berubah dan berjaya di dunia 
internasional. 

Dengan perubahan politik ini, sebenarnya rakyat sedang berharap 
Indonesia kembali menjadi bangsa besar. Namun apakah harapan rakyat 
itu bisa dicapai atau hanya jadi angan-angan belaka, akan tergantung 
kepada pemerintah mendatang. Semoga kita segera pulih sebagai bangsa 
yang dihormati oleh dunia internasional. 


Penulis adalah dosen program pascasarja Ilmu Hubungan Internasional 
UGM, Yogyakarta.





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke