kata lain teroris itu kan extremist, kalo beranda dulu
kan menggunakan kata ini untuk perjuang-pejuang RI, cuma RI sekarang takut menggunakan kata extremis buat gam takut disebut menjajah, pernah di coba untuk menyandangkan kata teroris terhadap gam tapi ternyata gagal ... kalo sudah begini kata apa yang patut buat gam .. yang pingin di tunpas habis itu ... jadilah kata separatis .. cuma kalo kata separatis digunakan tentu tidak pas soalnya kalau di analogikan dengan suami istri ... masa orang yang pengin berpisah kok harus di tumpas di mana-mana kan nggak umum. cuma yang umum adalah berpisah baik-baik kemudian tetap bersahabat ... dalam arti saling menopang kehidupan bersama ... bagaimana betul tak iye ..... namun namanya berpisah itu kan perbuatan yang legal tapi di benci sang pencipta so kalo masalahnya keinginnya masing-masing bisa di penuhi mengapa tidak di selesaikan bersama .... hehehe salam yustam Lho mas, hati nurani saya termaktub dalam kalimat romo Magnis dibawah ini: >>>>Agar kita berhak mengutuk para teroris, kita sendiri harus menjadi rendah hati dan berhenti membenci......"<<<<< Saya kira, Yassir tak membenci siapa2, dia adalah politician. Perjanjian Camp David menunjukkan, kebencian bukanlah suatu hal yang patut diikuti nurani, namun nalar. Saya juga condong untuk tak terlalu mudah memakai kata "teroris", sebab muatan kata ini sudah amburadul. Tak ada kriterium hukum yang jelas. Bagi A, B adalah teroris, bagi B, A adalah teroris. Mungkin kita lebih baik mencari kata lain. Salam RM D Hadinoto dicky riyadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Yasser Arafat berhenti mebenci..., tetapi anak-anak Palestine dihujani mesiu... Hamas hanya mau tanahnya saja... tanahnya sendiri.... tapi mereka dirudal dan dibuldozer... haruskah kita berdiam diri dan menyatakan seakan semuanya hanya ilusi? mereka betul-betul sdg ditindas dan dianiaya... lalu dimana nurani Anda, Pak Danardono? Danardono HADINOTO <[EMAIL PROTECTED]> wrote: ------> "Berubah dari apa? Di sini Yesus sangat jelas: Dari kekerasan hati dan dari kemunafikan yang menganggap diri lebih baik daripada orang lain. Agar kita berhak mengutuk para teroris, kita sendiri harus menjadi rendah hati dan berhenti membenci......" SUARA PEMBARUAN DAILY --------------------------------- Akar-akar Terorisme Franz Magnis-Suseno SJ DUA minggu sesudah bom bunuh diri di depan Kedutaan Australia rasanya seperti kembali ke mimpi buruk. Betapa kasihan para korban, sembilan saudara-saudara yang mati, lebih dari 150 cedera. Para kurban itu rakyat biasa? Di antara mereka yang mati ada seorang Satpam, ada ibu yang mengurus visa anaknya berumur lima tahun yang luka parah, di Singapura, belum tahu ibunya sudah tidak ada, empat penumpang dari dua sepeda motor yang kebetulan lewat dengan urusan masing-masing. Mengapa orang-orang itu harus mati, harus luka-luka? Yang jelas, mereka orang yang tidak peduli. Orang-orang yang hatinya sudah gelap karena rasa marah, dendam, benci. Ada korban, korban banyak, penderitaan, kehancuran banyak. Mereka tidak peduli. Collateral damage! dalam bahasa perang. Rasa kemanusiaan biasa saja, kesadaran yang dimiliki setiap orang biasa dari suku, golongan dan umat mana pun tentang apa yang baik dan apa yang jahat sudah mati di hati mereka menjadi keras, tidak manusiawi, sombong. Sombong, karena Anda mengangkat diri menjadi hakim atas hidup mati orang lain. Sombong karena Anda mengangkat diri menjadi algojo Tuhan! Ngeri kalau manusia sampai berani begitu! Apakah Tuhan pernah manyatakan perlu algojo? Apakah Tuhan pernah mengangkat Anda? Tidak takutkah Anda terhadap Allah! Dan dua kali Pfuil terhadap para pembina teroris-teroris pembunuh diri itu. Para pembina yang duduk di belakang meja dan menghasut orang lain, sering anak muda yang masih mudah dipengaruhi, bersedia membuang hidup yang hanya Tuhanlah yang boleh merenggutnya-demi melakukan kejahatan. Setan mengindoktrinasi anak muda menjadi setan juga, lalu dikirim ke kematiannya. Tentu kita semua mengharapkan dari presiden terpilih agar ia mempergunakan segala upaya untuk melindungi masyarakat, ya kita, untuk menumpas rawa yang melahirkan terorisme itu. Harus Bertanya Tetapi kita tidak boleh melemparkan tanggung jawab hanya pada pihak lain. Kita juga harus bertanya bagaimana mungkin ada orang-orang bisa sedemikian tersesat, sedemikian teracuni hatinya sehingga melakukan tindakan-tindakan teror yang sekarang sudah menjadi gejala global. Kaum teroris sendiri adalah urusan polisi. Umum-nya mereka sudah tidak bisa dibantu kemungkinannya, wawasan mereka adalah menyempit, kemanusiaan di hati sudah mati dan kesombongan membuat mereka tidak bisa sadar kembali. Tetapi bagaimana lingkungan asal mereka? Para simpatisan? Yang pernah menjadi kawan secita-cita dengan mereka yang kemudian ''menyeberang''? Apa dalam cita -cita bersama itu dulu yang bisa menjadi pijakan orang kehilangan segala naluri kemanusiaan? Adakah lingkungan-lingkunan yang sedemikian diliputi rasa marah, benci, dendam sehingga ada yang akhirnya erossing the line? Tentu saja, alasan untuk menjadi marah, untuk mau balas dendam, barangkali disertai perasaan tidak berdaya, tidak diperhatikan, berlimpah. Tetapi bagaimana kita menangani perasaan-perasaan itu? Apa kita boleh larut di dalamnya? Apalagi kalau kita orang beragama: Kita percaya bahwa Allah, Penguasa sejarah yang dari perhatianNya tak ada kejahatan apa pun, tak ada tangisan orang terhina dan tertindas di mana pun, bisa luput. Justru kalau begitu, kita seharusnya rendah hati, seharusnya tidak menyerahkan hati kita kepada perasaan-perasaan gelap. Bukankah yang menjamin bahwa keadilan dan kebaikan akan menang adalah Allah! Kalau kita sendiri mau memajukan keadilan dan kebaikan dengan melakukan kejahatan, itu sebuah perversi tragis. Orang beragama mesti tahu bahwa rasa dendam tidak pernah dapat dibenarkan melainkan merupakan racun paling berbahaya kalau kita memberi ruang kepadanya. Orang beragama, pun pula dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan dengan gigih, harus tetap rendah hati. Ia tak pernah akan lupa bahwa di hadapan Allah ia belum tentu lebih baik daripada mereka yang dikutuknya. Mulai dari Diri Maka melawan terorisme kita juga harus mulai pada diri kita sendiri. Terorisme mulai di hati kita. Setiap kali kita memberi ruang kepada kebencian dan rasa dendam, atau merasa diri satu-satunya yang benar, benih-benih terorisme sudah timbul. Yang berat, tetapi perlu adalah: Memperjuangkan kebenaran dan keadilan tanpa memakai rasa benci, tanpa merasa diri sendiri lebih baik. Kekerasan dan kesombongan hati akan merusak perjuangan demi keadilan dari dalam. Di sini orang beragama berada dalam bahaya kemunafikan lebih besar daripada orang tidak beragama. Terlalu mudah ia mengatasnamakan Tuhan, lalu mengangkat diri menjadi hakim. Dosa para agamawan adalah eksklusivisme mereka: Mereka begitu gampang ''mengirim orang lain ke dalam neraka''! Dan itu suatu dosa. Sebagai contoh saja saya mau mengacu kepada Yesus: tak pernah Ia mengatakan bahwa ada orang tertentu masuk ke dalam neraka. Yang terus diperingatkan Yesus adalah: Apabila kalian tidak berubah - metanoeite - kalian tidak bisa masuk ke dalam kerajaan Allah! Berubah dari apa? Di sini Yesus sangat jelas: Dari kekerasan hati dan dari kemunafikan yang menganggap diri lebih baik daripada orang lain. Agar kita berhak mengutuk para teroris, kita sendiri harus menjadi rendah hati dan berhenti membenci. Harus Bersatu Berhadapan dengan terorisme kita, --melintas semua golongan dan umat--, harus bersatu dan menarik sebuah garis tegas. Apa pun masalah yang kita hadapi, apa pun perselisihan dan konflik yang memang sudah biasa selalu akan muncul, kita akan memecahkannya bersama, secara beradab, dan tidak pernah memakai kekerasan. Rasanya bahwa masyarakat sangat siap untuk bersatu dalam sikap positif beradab itu. Kami mengharapkan bahwa pemerintah baru sepenuhnya akan mendukung usaha ini. Penulis adalah rohaniawan, guru besar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta ______________________________________________________________ Disclaimer : This email and any file transmitted with it are confidential and are intended solely for the use of the individual or entity whom they are addressed, if you are not the original recipient, please delete it from your system. Any views or opinions expressed in this email are those of the author only. ______________________________________________________________ ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

