Memang, memaksakan kehendak, seperti dalam hal perceraian, itu juga tidak baik. 
Apalagi, kalau isteri tunduk, karena ketakutan..

Kehidupan bernegara adalah sebuah proses perkembangan yang tak henti2nya. Istilah, ya 
itu memang hanya sepihak. Para pejuang Permesta dahulu dinamakan pembrontak, padahal 
menurut mereka, mereka ingin meraih keadilan (yang sebenarnya masalah intern AD mula2).
 
Dari sisi praktis, perlawanan bersenjata itu bagai pisau bermata dua, disatu fihak, 
diharapkan dapat menyelesaikan persoalan, dilain fihak, dapat melukai kita sendiri. 
Yang patut menjadi perhatian ialah, bagaimana meminimalkan korban difihak sipil, 
terutama wanita dan anak2.
 
Kalau kita lihat dari sejarah Aceh, perlawanan bersenjata, tak mampu menghalangi 
penguasaan seluruh Sumatra oleh Belanda. Juga perlawanan sejak zaman Daud Beureueh. 
Perlawanan2 ditempat lain di tanah Air juga tak membawa hasil.
 
Dalam kausa Timor Timur, bukan senjata yang menentukan, namun jalur diplomasi, dimana 
dukungan yang sangat massif dinikmati rakyat Timor Timur di dunia.
 
Gelas yang setengah penuh dapat kita sebut hampir penuh, atau hampir kosong. 
Tergantung dari sisi mana kita memandang. namun ini tak merubah fakta.
 
Salam
 
RM D Hadinoto
 

[EMAIL PROTECTED] wrote:

kata lain teroris itu kan extremist,  kalo beranda dulu
kan menggunakan kata ini untuk perjuang-pejuang RI,
cuma RI sekarang  takut menggunakan kata extremis
buat gam  takut disebut menjajah, pernah
di coba untuk menyandangkan kata teroris terhadap gam
tapi ternyata gagal  ...

kalo sudah begini kata apa yang patut buat gam  ..
yang pingin di tunpas habis itu  ...   jadilah kata separatis  ..

cuma kalo kata separatis digunakan tentu tidak pas
soalnya  kalau di analogikan dengan suami istri  ...
masa orang yang pengin berpisah  kok harus di tumpas
di mana-mana kan nggak umum.

cuma yang umum adalah berpisah baik-baik
kemudian tetap bersahabat  ... dalam
arti saling menopang kehidupan bersama ...
bagaimana betul  tak iye .....

namun namanya berpisah itu kan
perbuatan yang legal tapi di benci sang pencipta
so kalo masalahnya keinginnya masing-masing
bisa di penuhi mengapa tidak di selesaikan
bersama  .... hehehe

salam
yustam











Lho mas, hati nurani saya termaktub dalam kalimat romo Magnis dibawah ini:

>>>>Agar kita berhak mengutuk para teroris, kita sendiri harus menjadi
rendah hati dan berhenti membenci......"<<<<<

Saya kira, Yassir tak membenci siapa2, dia adalah politician. Perjanjian
Camp David menunjukkan, kebencian bukanlah suatu hal yang patut diikuti
nurani, namun nalar.

Saya juga condong untuk tak terlalu mudah memakai kata "teroris", sebab
muatan kata ini sudah amburadul. Tak ada kriterium hukum yang jelas. Bagi
A, B adalah teroris, bagi B, A adalah teroris. Mungkin kita lebih baik
mencari kata lain.

Salam

RM D Hadinoto


dicky riyadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Yasser Arafat berhenti mebenci..., tetapi anak-anak Palestine dihujani
mesiu...

Hamas hanya mau tanahnya saja... tanahnya sendiri.... tapi mereka dirudal
dan dibuldozer...

haruskah kita berdiam diri dan menyatakan seakan semuanya hanya ilusi?

mereka betul-betul sdg ditindas dan dianiaya...

lalu dimana nurani Anda, Pak Danardono?

Danardono HADINOTO <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
------>   "Berubah dari apa? Di sini Yesus sangat jelas: Dari kekerasan
hati dan dari kemunafikan yang menganggap diri lebih baik daripada orang
lain. Agar kita berhak mengutuk para teroris, kita sendiri harus menjadi
rendah hati dan berhenti membenci......"


SUARA PEMBARUAN DAILY
---------------------------------
Akar-akar Terorisme

Franz Magnis-Suseno SJ
DUA minggu sesudah bom bunuh diri di depan Kedutaan Australia rasanya
seperti kembali ke mimpi buruk. Betapa kasihan para korban, sembilan
saudara-saudara yang mati, lebih dari 150 cedera.
Para kurban itu rakyat biasa? Di antara mereka yang mati ada seorang
Satpam, ada ibu yang mengurus visa anaknya berumur lima tahun yang luka
parah, di Singapura, belum tahu ibunya sudah tidak ada, empat penumpang
dari dua sepeda motor yang kebetulan lewat dengan urusan masing-masing.
Mengapa orang-orang itu harus mati, harus luka-luka?
Yang jelas, mereka orang yang tidak peduli. Orang-orang yang hatinya sudah
gelap karena rasa marah, dendam, benci. Ada korban, korban banyak,
penderitaan, kehancuran banyak. Mereka tidak peduli. Collateral damage!
dalam bahasa perang. Rasa kemanusiaan biasa saja, kesadaran yang dimiliki
setiap orang biasa dari suku, golongan dan umat mana pun tentang apa yang
baik dan apa yang jahat sudah mati di hati mereka menjadi keras, tidak
manusiawi, sombong.
Sombong, karena Anda mengangkat diri menjadi hakim atas hidup mati orang
lain. Sombong karena Anda mengangkat diri menjadi algojo Tuhan! Ngeri kalau
manusia sampai berani begitu! Apakah Tuhan pernah manyatakan perlu algojo?
Apakah Tuhan pernah mengangkat Anda? Tidak takutkah Anda terhadap Allah!
Dan dua kali Pfuil terhadap para pembina teroris-teroris pembunuh diri itu.
Para pembina yang duduk di belakang meja dan menghasut orang lain, sering
anak muda yang masih mudah dipengaruhi, bersedia membuang hidup yang hanya
Tuhanlah yang boleh merenggutnya-demi melakukan kejahatan. Setan
mengindoktrinasi anak muda menjadi setan juga, lalu dikirim ke kematiannya.

Tentu kita semua mengharapkan dari presiden terpilih agar ia mempergunakan
segala upaya untuk melindungi masyarakat, ya kita, untuk menumpas rawa yang
melahirkan terorisme itu.

Harus Bertanya
Tetapi kita tidak boleh melemparkan tanggung jawab hanya pada pihak lain.
Kita juga harus bertanya bagaimana mungkin ada orang-orang bisa sedemikian
tersesat, sedemikian teracuni hatinya sehingga melakukan tindakan-tindakan
teror yang sekarang sudah menjadi gejala global.
Kaum teroris sendiri adalah urusan polisi. Umum-nya mereka sudah tidak bisa
dibantu kemungkinannya, wawasan mereka adalah menyempit, kemanusiaan di
hati sudah mati dan kesombongan membuat mereka tidak bisa sadar kembali.
Tetapi bagaimana lingkungan asal mereka? Para simpatisan? Yang pernah
menjadi kawan secita-cita dengan mereka yang kemudian ''menyeberang''? Apa
dalam cita -cita bersama itu dulu yang bisa menjadi pijakan orang
kehilangan segala naluri kemanusiaan? Adakah lingkungan-lingkunan yang
sedemikian diliputi rasa marah, benci, dendam sehingga ada yang akhirnya
erossing the line?
Tentu saja, alasan untuk menjadi marah, untuk mau balas dendam, barangkali
disertai perasaan tidak berdaya, tidak diperhatikan, berlimpah. Tetapi
bagaimana kita menangani perasaan-perasaan itu? Apa kita boleh larut di
dalamnya?
Apalagi kalau kita orang beragama: Kita percaya bahwa Allah, Penguasa
sejarah yang dari perhatianNya tak ada kejahatan apa pun, tak ada tangisan
orang terhina dan tertindas di mana pun, bisa luput. Justru kalau begitu,
kita seharusnya rendah hati, seharusnya tidak menyerahkan hati kita kepada
perasaan-perasaan gelap. Bukankah yang menjamin bahwa keadilan dan kebaikan
akan menang adalah Allah! Kalau kita sendiri mau memajukan keadilan dan
kebaikan dengan melakukan kejahatan, itu sebuah perversi tragis.
Orang beragama mesti tahu bahwa rasa dendam tidak pernah dapat dibenarkan
melainkan merupakan racun paling berbahaya kalau kita memberi ruang
kepadanya. Orang beragama, pun pula dalam memperjuangkan kebenaran dan
keadilan dengan gigih, harus tetap rendah hati. Ia tak pernah akan lupa
bahwa di hadapan Allah ia belum tentu lebih baik daripada mereka yang
dikutuknya.

Mulai dari Diri
Maka melawan terorisme kita juga harus mulai pada diri kita sendiri.
Terorisme mulai di hati kita. Setiap kali kita memberi ruang kepada
kebencian dan rasa dendam, atau merasa diri satu-satunya yang benar,
benih-benih terorisme sudah timbul. Yang berat, tetapi perlu adalah:
Memperjuangkan kebenaran dan keadilan tanpa memakai rasa benci, tanpa
merasa diri sendiri lebih baik. Kekerasan dan kesombongan hati akan merusak
perjuangan demi keadilan dari dalam.
Di sini orang beragama berada dalam bahaya kemunafikan lebih besar daripada
orang tidak beragama. Terlalu mudah ia mengatasnamakan Tuhan, lalu
mengangkat diri menjadi hakim. Dosa para agamawan adalah eksklusivisme
mereka: Mereka begitu gampang ''mengirim orang lain ke dalam neraka''!
Dan itu suatu dosa. Sebagai contoh saja saya mau mengacu kepada Yesus: tak
pernah Ia mengatakan bahwa ada orang tertentu masuk ke dalam neraka. Yang
terus diperingatkan Yesus adalah: Apabila kalian tidak berubah - metanoeite
- kalian tidak bisa masuk ke dalam kerajaan Allah! Berubah dari apa? Di
sini Yesus sangat jelas: Dari kekerasan hati dan dari kemunafikan yang
menganggap diri lebih baik daripada orang lain. Agar kita berhak mengutuk
para teroris, kita sendiri harus menjadi rendah hati dan berhenti membenci.


Harus Bersatu
Berhadapan dengan terorisme kita, --melintas semua golongan dan umat--,
harus bersatu dan menarik sebuah garis tegas. Apa pun masalah yang kita
hadapi, apa pun perselisihan dan konflik yang memang sudah biasa selalu
akan muncul, kita akan memecahkannya bersama, secara beradab, dan tidak
pernah memakai kekerasan.
Rasanya bahwa masyarakat sangat siap untuk bersatu dalam sikap positif
beradab itu. Kami mengharapkan bahwa pemerintah baru sepenuhnya akan
mendukung usaha ini.

Penulis adalah rohaniawan, guru besar di Sekolah Tinggi Filsafat
Driyarkara, Jakarta











______________________________________________________________

Disclaimer :
This email and any file transmitted with it are confidential and are
intended solely for the use of the individual or entity whom they are
addressed, if you are not the original recipient, please delete it
from your system. Any views or opinions expressed in this email are
those of the author only.
______________________________________________________________ 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]



Yahoo! Groups SponsorADVERTISEMENT


---------------------------------
Yahoo! Groups Links

   To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
  
   To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
  
   Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 


                
---------------------------------
Gesendet von Yahoo! Mail - Jetzt mit 100MB kostenlosem Speicher

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke