jadi kata-kata teoris itu sebenarnya berasal dari kebencian seseorang

terhadap orang lain  contohnya belanda yang menjajah indonesia

menyandangkan kata extremeist kepada pejuang kita karena mereka

tidak menyukai sikap perlawanan terhadap mereka untuk dapat merdeka



dan umumnya sandangan teroris berkonotasi orang yang jahat,

tapi biasanya karena si pemberi sandangan tidak mampu untuk

melawan pada lawannya itu maka diberilah sandang jahat yakni

teroris sehingga mendapat pembenaran untuk dapat di tumpas....



kata teroris itu pada dasarnya seperti orang berteriak maling

kepada seseorang pada saat dia merasa kehilangan dan melihat

orang yang telah memngambil barangnya, sehingga banyak orang

yang akan membantunya untuk mengejar penjahat tersebut.



tapi untuk kasus sandanngan teroris untuk suatu kelompok tertentu

dari pihak us sebenarnya adalah bentuk ketakutan atau ketamakan

dari negara adikuasa tersebut karena ketidak mampuan mereka

menanamkan investasi kenegara-negara yang menjadi incaran mereka.



coba di bayangkan penggunaan kata extremist untuk negara kita

itu kan kata-kata yang sangat tidak pantas untuk negara baru seperti

indoneisa

yang bergeliat untuk memerdekaan diri.



jadi munculnya kata extremist atau terorist adalah bentuk intimidasi

kepada negara-negara yang tidak setuju atau tidak ingin bekerja

sama dengan negara agresor tersebut   ...kalau istilah kita

adalah maling teriak maling  ..... sorry mungkin ungkapan

ini yang lebih baik bagi negara yang menyandangkan

kata teroris pada suatu negara tertentu ....



salam

yustam



























Memang, memaksakan kehendak, seperti dalam hal perceraian, itu juga tidak

baik. Apalagi, kalau isteri tunduk, karena ketakutan..



Kehidupan bernegara adalah sebuah proses perkembangan yang tak henti2nya.

Istilah, ya itu memang hanya sepihak. Para pejuang Permesta dahulu

dinamakan pembrontak, padahal menurut mereka, mereka ingin meraih keadilan

(yang sebenarnya masalah intern AD mula2).



Dari sisi praktis, perlawanan bersenjata itu bagai pisau bermata dua,

disatu fihak, diharapkan dapat menyelesaikan persoalan, dilain fihak, dapat

melukai kita sendiri. Yang patut menjadi perhatian ialah, bagaimana

meminimalkan korban difihak sipil, terutama wanita dan anak2.



Kalau kita lihat dari sejarah Aceh, perlawanan bersenjata, tak mampu

menghalangi penguasaan seluruh Sumatra oleh Belanda. Juga perlawanan sejak

zaman Daud Beureueh. Perlawanan2 ditempat lain di tanah Air juga tak

membawa hasil.



Dalam kausa Timor Timur, bukan senjata yang menentukan, namun jalur

diplomasi, dimana dukungan yang sangat massif dinikmati rakyat Timor Timur

di dunia.



Gelas yang setengah penuh dapat kita sebut hampir penuh, atau hampir

kosong. Tergantung dari sisi mana kita memandang. namun ini tak merubah

fakta.



Salam



RM D Hadinoto





[EMAIL PROTECTED] wrote:



kata lain teroris itu kan extremist,  kalo beranda dulu

kan menggunakan kata ini untuk perjuang-pejuang RI,

cuma RI sekarang  takut menggunakan kata extremis

buat gam  takut disebut menjajah, pernah

di coba untuk menyandangkan kata teroris terhadap gam

tapi ternyata gagal  ...



kalo sudah begini kata apa yang patut buat gam  ..

yang pingin di tunpas habis itu  ...   jadilah kata separatis  ..



cuma kalo kata separatis digunakan tentu tidak pas

soalnya  kalau di analogikan dengan suami istri  ...

masa orang yang pengin berpisah  kok harus di tumpas

di mana-mana kan nggak umum.



cuma yang umum adalah berpisah baik-baik

kemudian tetap bersahabat  ... dalam

arti saling menopang kehidupan bersama ...

bagaimana betul  tak iye .....



namun namanya berpisah itu kan

perbuatan yang legal tapi di benci sang pencipta

so kalo masalahnya keinginnya masing-masing

bisa di penuhi mengapa tidak di selesaikan

bersama  .... hehehe



salam

yustam























Lho mas, hati nurani saya termaktub dalam kalimat romo Magnis dibawah ini:



>>>>Agar kita berhak mengutuk para teroris, kita sendiri harus menjadi

rendah hati dan berhenti membenci......"<<<<<



Saya kira, Yassir tak membenci siapa2, dia adalah politician. Perjanjian

Camp David menunjukkan, kebencian bukanlah suatu hal yang patut diikuti

nurani, namun nalar.



Saya juga condong untuk tak terlalu mudah memakai kata "teroris", sebab

muatan kata ini sudah amburadul. Tak ada kriterium hukum yang jelas. Bagi

A, B adalah teroris, bagi B, A adalah teroris. Mungkin kita lebih baik

mencari kata lain.



Salam



RM D Hadinoto





dicky riyadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Yasser Arafat berhenti mebenci..., tetapi anak-anak Palestine dihujani

mesiu...



Hamas hanya mau tanahnya saja... tanahnya sendiri.... tapi mereka dirudal

dan dibuldozer...



haruskah kita berdiam diri dan menyatakan seakan semuanya hanya ilusi?



mereka betul-betul sdg ditindas dan dianiaya...



lalu dimana nurani Anda, Pak Danardono?



Danardono HADINOTO <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

------>   "Berubah dari apa? Di sini Yesus sangat jelas: Dari kekerasan

hati dan dari kemunafikan yang menganggap diri lebih baik daripada orang

lain. Agar kita berhak mengutuk para teroris, kita sendiri harus menjadi

rendah hati dan berhenti membenci......"





















______________________________________________________________



Disclaimer :

This email and any file transmitted with it are confidential and are

intended solely for the use of the individual or entity whom they are

addressed, if you are not the original recipient, please delete it

from your system. Any views or opinions expressed in this email are

those of the author only.

______________________________________________________________

------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke