Fakta dan Dusta di Media Center TNI
Reporter: Tim acehkita.com � Lhokseumawe, 2004-10-02
17:43:39
Media Center TNI di Lhokseumawe diawaki oleh Letnan
Kolonel Corps Ajudan Jenderal (CAJ) Asep Sapari.
Orangnya ramah dan selalu siap mengangkat telepon dari
wartawan mana saja yang membutuhkan informasi.
Bangunan yang terletak persis di areal Kesatuan
Pelaksana Pengamanan Pelabuhan (KP3) di Kota
Lhokseumawe ini, setiap harinya memproduksi informasi
untuk sejumlah kalangan, terutama pers. Pertempuran
sengit yang tak pernah dilihat wartawan, bisa
direkonstruksi di Media Center untuk selanjutnya
ditulis wartawan dan dipublikasikan di media
masing-masing.
Bagi wartawan yang kerap nongkrong di Media Center,
rata-rata hafal di luar kepala, bahwa setiap harinya,
sedikitnya ada 5-10 orang telah ditewaskan Tentara
Nasional Indonesia (TNI) di seluruh pelosok Aceh dan
sejumlah lainnya berhasil ditangkap dan luka. Semua
korban tewas, luka atau ditangkap, diklaim sebagai
anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Informasi itu �didukung� data lengkap dari nama, umur,
hingga jabatan di dalam organisasi GAM, plus kronologi
kejadian. Kalau bukan karena penyergapan, maka pasti
pengintaian. Kalau bukan keduanya, berarti
pertempuran. Itu sudah jadi semacam pakem bagi pekerja
media yang sudah menyediakan kolom khusus untuk berita
seperti itu. Tinggal ganti nama, umur, tempat kejadian
dan sedikit kronologi. Selebihnya, sama.
Bagian yang menarik dari Media Center adalah bila ada
personel TNI yang tewas, setiap kali itu pula
dikesankan bahwa pertempuran berlangsung tidak
berimbang. Jumlah kelompok lawan biasanya lebih
banyak, kadang-kadang bisa 1:5, seperti yang baru saja
terjadi.
Rabu (29/9), seorang prajurit Marinir Serda Yulian
Efendi tewas, dan dua lainnya, Pratu Dweniar dan Prada
Syahrir Sitompul, terluka saat terjadi pertempuran
dengan GAM di Desa Blang Kubu, Kecamatan Sawang, Aceh
Utara. Kedua personel TNI yang luka itu kini dirawat
di Rumah Sakit TNI AD.
Media Center menyebutkan, saat itu TNI hanya berjumlah
belasan orang sementara GAM berjumlah 50-an.
Demikian halnya saat terjadi kasus pemberondongan
warga sipil di warung kopi di Pante Bidari, 4 Agustus
2004 lalu. Dikatakan Media Center bahwa pasukan Raider
700 digempur habis-habisan oleh 30-an anggota GAM
dengan 15 pucuk senjata. Entah siapa yang benar, sebab
warga di lokasi kejadian yang dirawat di rumah sakit
menyatakan jumlah GAM yang masuk di Desa Alue Mirah
saat itu tak lebih dari tiga orang saja
(Pemberondongan di Warung Kopi: Satu Peristiwa, Dua
Versi)
Masih ada kasus lain yang serupa. Beberapa waktu lalu,
menjelang berakhirnya Darurat Militer, dua anak SLTP
terkena peluru TNI di Desa Lapehan, Kecamatan Makmur,
Bireuen. Media Center menyebutkan, keduanya adalah
anggota GAM yang berumur 18 dan 19 tahun. Padahal
warga di sana mengenal mereka sebagai bocah berumur 15
dan 16 tahun. Bantahan ini juga diberikan oleh seorang
guru Madrasah Tsanawiyah Ule Gle tempat ia bersekolah
yang menyayangkan klaim keduanya sebagai anggota GAM
dan telah berumur di atas 17 tahun.
Contoh yang lain adalah peristiwa tanggal 3 Juni 2004.
Seorang perempuan bernama Ummi (40) warga Desa
Tringgadeng, Kecamatan Makmur, Bireuen tewas terkena
peluru pasukan pemerintah. Perempuan miskin yang
melakoni hidup sebagai buruh tani itu tak tewas dengan
lima luka tembakan di antaranya diduga dilepaskan dari
jarak dekat. Berita ini tak pernah disampaikan Media
Center. Apalagi, kasus itu berakhir dengan
penadatanganan permintaan maaf dan perjanjian bahwa
sang suami tak akan menuntut dengan �ganti rugi� Rp
150.000.(Azuddin dan Ummi Tewas di Tangan Tentara)
Demikian juga ketika seorang warga bernama Anwar asal
Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen yang juga tewas
ditembak pasukan pemerintah di Desa Cot Teube, Jumat,
14 Mei 2004. Warga setempat mengenal korban bukan
sebagai anggota gerilyawan tapi sebagai warga biasa
yang ketika itu sedang bekerja sebagai tenaga upahan
di sebuah kebun kelapa.
Dua hari kemudian, Minggu 16 Mei 2004, berita
penembakan Anwar dimuat di koran lokal. Dalam berita
itu, Dansatgas Koopslihkam Letkol CAJ Asep Sapari
menegaskan bahwa pasukan pemerintah kembali
melumpuhkan hingga tewas seorang anggota GAM.
Ada lagi yang terjadi pada Kamis (19/8), saat Ismail
Sulaiman (35), menghembuskan nafas terakhirnya di RSU
Cut Meutia, Lhokseumawe. Warga salah satu desa di
Kecamatan Pante Bidari Aceh Timur ini tewas setelah
sebutir timah panas pasukan pemerintah, melukai
perutnya hingga tembus ketika sedang memungut durian
yang jatuh di belakang rumahnya. Ia meninggal setelah
sempat dirawat sejak Sabtu (14/8) silam.
Tidak ada laporan di Media Center tentang insiden ini.
Baru setelah sebuah stasiun televisi swasta
menayangkan beritanya, keluarganya diminta
menandatangani pernyataan bahwa si penembak bukan TNI.
(Giliran Pengumpul Durian Ditembak)
Jadi kalau bukan TNI, untuk apa repot-repot
menyodorkan surat pernyataan?
***
Bisa jadi Letkol Asep Sapari juga hanya dikirimi
laporan-laporan belaka. Dus, artinya, fakta atau dusta
yang disajikan Media Center tak selalu berarti
kesengajaan. Bila itu jenis informasi dusta, tentu
sudah datang sejak dari sononya, yakni dari para
komandan atau prajurit di lapangan.
Buktinya, prajurit TNI Yonif 320/Siliwangi yang berpos
di Desa Maheng, Kecamatan Kuta Cot Glee, Aceh Besar,
telak-telak membohongi wartawan situs ini yang
mendapati kasus penembakan seorang bocah usia 14 tahun
bernama Naswardi, Kamis, 16 September 2004. Mereka
yang semula mengaku sudah satu bulan menempati pos
itu, setelah dikonfirmasi tentang kasus penembakan
itu, malah mengaku baru beberapa hari saja di sana.
Padahal, kesaksian warga, keterangan keluarga dan
bahkan kuburannya pun sudah diketahui dan difoto atau
difilmkan. �Orang kampung itu kan bodoh-bodoh. Bisa
saja mereka ngomong sesuka hatinya. Kami di sini tidak
tahu apa-apa,� ujar seorang prajurit Yonif 320 kepada
acehkita. (Siapa Berbohong di Maheng? [1] & Siapa
Berbohong di Maheng? [2]).
Serdadu itu boleh saja berdusta, bahkan
membodoh-bodohkan orang kampung, tapi yang jelas,
Dandim 0101 Aceh Besar Letkol Joko Warsito mengakui
telah terjadi penembakan terhadap seorang bocah
berusia 14 tahun di Maheng. Menurut Joko, pasukan TNI
dari Yonif 320 Siliwangi menduga anak kecil itu adalah
anggota GAM yang dicari.
Nah, menduga GAM dengan membantah tidak ada
penembakan, jelas dua hal yang jauh berbeda. �Usut
itu. Panggil Komandan Batalyonnya. Itu kesalahan
prosedur,� kata Pangdam Iskandar Muda, Mayjen Endang
Suwarya pada akhirnya. (TNI Akui Penembakan di Maheng)
Nukilan kasus-kasus di atas, hanya secuil catatan dari
perjalanan panjang pelaksanaan status darurat di Aceh
yang telah berlangsung 1 tahun 4 bulan ini. Dan Media
Center menjadi salah satu mesin yang memproduksi fakta
sekaligus dusta.
Dusta ala GAM
Tapi urusan dusta tak hanya monopoli TNI. Pihak GAM
pun tak jarang memproduksi informasi yang kadar
kebenarannya mendekati nol persen atau sesuatu yang
dilebih-lebihkan. Saat darurat militer, sejumlah
publikasi tentang jumlah warga sipil yang tewas
cenderung dibesar-besarkan. Seperti halnya Media
Center, pihak GAM melalui para jurubicara wilayahnya,
mencantumkan nama, umur, lokasi kejadian hingga
kronologi. Tapi tak jarang informasi itu bodong.
Mereka pun berkali-kali mengklaim telah menewaskan
puluhan prajurit TNI dalam pertempuran di sini dan di
situ. Hampir setiap hari, saat darurat militer, GAM
rata-rata mengklaim telah menewaskan 10-an TNI.
Informasi itu diproduksi oleh Jubir GAM Batee Iliek,
Pase, hingga Peureulak yang biasanya dikirim melalui
email.
Namun dalam enam bulan terakhir, intensitas kiriman
informasi praktis berhenti.
Suatu saat redaksi situs ini menerima informasi
tentang seorang gadis yang diperkosa anggota TNI
hingga hamil di Desa Meureu, Indrapuri, Aceh Besar.
Setelah dicek ke lapangan, ternyata itu kasus suka
sama suka [A]. (Hamil, Diperkosa atau Suka Sama Suka?)
_______________________________
Do you Yahoo!?
Declare Yourself - Register online to vote today!
http://vote.yahoo.com
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/