http://www.republika.co.id/ASP/kolom.asp?kat_id=16 Senin, 04 Oktober 2004
Islam dan Pertarungan Rezim Intelektual (Catatan untuk Syamsuddin Arif) Oleh : Pradana Boy ZTF Tulisan Syamsudin Arif yang berjudul Kisah Intelektual Abu Zayd yang dimuat di Republika (30/9/2004), menggelitik untuk ditanggapi lebih lanjut. Tulisan tersebut tampaknya dimaksudkan untuk memberikan pandangan lain tentang respons sebagian besar komunitas pemikir Muslim di Indonesia yang sepertinya memberikan apresiasi yang begitu besar terhadap pemikiran maupun sosok Nasr Hamid Abu Zayd. Di awal tulisannya, Arif menyebut bahwa ia sama sekali tidak tertarik dengan gagasan-gagasan yang diusung oleh Abu Zayd, termasuk hermeneutika, yang disebutnya sebagai gagasan nyeleneh dan merupakan impor dari Barat. Satu ungkapan yang teramat sering kita dengar. Ini menandakan bahwa dalam pikiran sementara kalangan umat Islam, masih sering bercokol penyakit western-phobia yang selalu menilai segala hal yang berbau Barat sebagai salah, termasuk di dalamnya adalah hermeneutika. Lebih jauh, ia juga menyebut bahwa hukuman yang dijatuhkan kepada Abu Zayd oleh pengadilan, sama sekali tidak bermotif politik, tetapi murni karena gagasan-gagasannya yang memang "menyimpang" dari ketentuan Islam. Dalam hal ini, saya cenderung berbeda dengan Arif. Menurut saya, apa yang terjadi pada diri Abu Zayd bukan semata-mata persoalan perbedaan pemikiran, atau lebih jauh karena pemikiran dia menyimpang, tetapi juga karena adanya unsur politik yang teramat kental. Kesimpulan semacam ini lahir karena melihat fakta bahwa sebelum Abu Zayd, telah banyak pemikir-pemikir Islam yang mengalami hal serupa, misalnya apa yang terjadi pada Ali Abd al-Raziq, Thaha Hussain, dan Ahmad Khalafullah. Di mata kalangan Islam ortodoks, al-Quran adalah sabda Tuhan yang abadi. Dia selalu ada sebagai sifat Tuhan, dan tidak pernah diciptakan, karena sifat Tuhan adalah sesuatu yang melekat dalam diri Tuhan dan Tuhan tidak menciptakan sifat-sifat itu. Bahwa teks abadi ini telah diwahyukan kepada Nabi Muhammad pada abad ke-7 masyarakat Arab sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk menampakkan makna al-Quran, yang merupakan sebuah kitab yang harus dibaca secara literal dan selalu benar di sepanjang masa. Akibatnya, tidak ada tradisi kritisisme tekstual terhadap al-Quran yang sama dengan Bibel Hebrew dan Perjanjian Baru (New Testament). Meskipun demikian, para sarjana Islam telah menentang pandangan ortodoks ini selama berabad-abad. Sebuah mazhab rasionalis lahir pada abad ke-9 di bawah kekuasaan Bani Abbasiyyah, yang dikenal sebagai Mu'tazilah, yang doktrin-doktrinnya menggabungkan keadilan sosial dengan monoteisme yang dimurnikan dan dispiritualisasikan. Mereka berargumentasi tentang al-Quran yang diciptakan dengan membedakan antara esensi Tuhan, yang oleh mereka diyakini sebagai abadi dan di luar jangkauan pemahaman manusia, dan sabda-sabda-Nya, yang diciptakan dan bisa dijangkau oleh pemikiran. Ketika aliran Mu'tazilah dipinggirkan setelah dua dekade kemudian, pemikiran mereka tetap berpengaruh bahkan sampai dengan hari ini, sebagimana yang dibuktikan dengan tulisan-tulisan dan pemikiran Abu Zayd sendiri. Di sini dia merancang evolusi kesarjanaannya dari awal kariernya sebagai mahasiswa hingga karya-karya kesarjanaannya yang paling akhir. Abu Zayd menerapkan metode-metode kontemporer pada kritik teks dalam studinya terhadap al-Quran, mengkontekstualisasikan kitab suci dalam setting historisnya. Dia berkeyakinan bahwa tantangan pada ortodoksi telah digunakan sebagai dalih oleh beberapa orang yang barangkali memiliki lebih banyak alasan pribadi untuk mengupayakan kejatuhannya. Dalam konteks modern, perdebatan ini tampaknya tidak juga reda. Penghapusan khilafah oleh pengikut Kemal Attaturk di Turki pada tahun 1924 membuka babak baru perdebatan intelektual Islam. Satu tahun kemudian, Ali Abd al-Raziq (w. 1966), seorang pemikir terkemuka dari Universitas al-Azhar menganjurkan penghapusan khilafah dalam bukunya al-Islam wa Ushul al-Hukm. Dia berargumen tentang pemisahan agama dan negara atas dasar yang telah termaktub dalam wacana Islam dan narasi tradisional al-Quran, kenabian, dan hukum. Argumen inti Abd al-Raziq adalah bahwa khilafah sama sekali tidak memiliki dasar dalam al-Quran, tradisi, maupun konsensus (ijma') (Mahmud Abd al-Rayyah, 1977). Penelitian kritis tentang tiga sumber agama ini membuktikan bahwa tidak ada bukti akan pentingnya mendirikan khilafah. Argumen al-Raziq ini pada akhirnya berujung pada pengusirannya dari Universitas al-Azhar. Bahkan sampai hari ini, kalangan Islam garis keras masih terus melakukan penghinaan terhadap buku ini dan penulisnya (Hamid Enayat, 1990). Sejarah juga mencatat adanya pertikaian intelektual yang dipicu oleh buku Thaha Hussain yang berjudul Fi al-Syi'ir al-Jahiliyyah (Syair-syair Jahiliyah), yang diterbitkan pada tahun 1926. Pada mulanya Thaha Hussain mempertanyakan interpretasi literal terhadap teks al-Quran ketika dia menemukan hikayat dalam al-Quran tentang Ibrahim yang membawa anaknya, Ismail dan istrinya, Hajar ke Makkah. Menurut Thaha Hussain, cerita ini diciptakan untuk meredakan ketegangan antara penduduk asli Arab Yatsrib dan pendatang baru orang Yahudi ke kota tersebut. Dari sini penulis kemudian menyimpulkan bahwa tidak semua cerita dalam al-Quran harus dianggap sebagai kebenaran sejarah. Meskipun isu tentang historisitas narasi al-Quran telah dipertanyakan oleh Muhammad Abduh, teori Thaha Hussain ditolak dan secara resmi dia dituduh melakukan penghinaan terhadap Islam. Meskipun penulisnya sendiri telah melakukan sensor, dengan jalan menghapus teori ini dari edisi kedua buku tersebut yang telah diperluas, dia harus menanggung akibat atas keberaniannya itu (Amara, 1994). Daftar kaum intelektual yang menjadi korban kaum ortodoks Islam semakin panjang dengan penolakan desertasi Ph.D Ahmad Khalafallah dalam bidang Islamic Studies. Pada saat itu, Khalafullah adalah asisten di bawah bimbingan Profesor Amin al-Khuly. Disertasinya al-Fann al-Qashashi fi al-Quran al-Karim menjadikan pendekatan literer pada teks al-Quran sebagai subjek kajiannya, yang telah dikembangkan oleh profesornya. Universitas menolak disertasi itu setelah melalui perdebatan yang memanas tentang validitas pendekatan semacam ini pada kitab suci umat Islam. Mengikuti penolakan disertasi ini, Khalaffalah kemudian dipindahkan pada posisi non-pengajaran pada Kementerian Pendidikan, sementara profesornya dilarang mengajar atau mengawasi dalam bidang Islamic Studies. Tentang hermeneutika Penggunanaan hermeneutika dalam penafsiran al-Quran, memang masih menyisakan perdebatan yang luar biasa. Ini bisa dipahami mengingat banyak kalangan yang menyatakan bahwa hermeneutika yang berasal dari tradisi Kristiani tidak bisa begitu saja diaplikasikan dalam konteks al-Quran. Dalam konteks ini, menjadi menarik menurunkan analisa George McLean yang menyatakan bahwa perkembangan pengetahuan saintifik yang lebih berorientasi pada ilmu-ilmu natural, dalam banyak hal telah menjadikan apresiasi manusia terhadap teks menjadi terbatas. Termasuk di dalamnya adalah teks-teks keagamaan. Karenanya, lebih lanjut McLean memberikan sebuah penegasan bahwa dalam kaitannya dengan pembacaan teks, utamanya adalah teks kitab suci akan selalu terjadi dua kecenderungan. Pertama, pembacaan teks akan mengantar kepada penolakan historisitas kemanusiaan sebagai upaya untuk menjaga kesucian dan keutuhan teks. Kecenderungan semacam ini yang seringkali diistilahkan dengan fundamentalisme. Kedua, di sisi lain terdapat kecenderungan untuk melakukan pengembaraan ke dunia teks dengan mempertimbangkan historitas dan melampaui waktu tertentu tanpa adanya divine guidance. Kecenderungan semacam ini yang sering disebut sebagai sekularisme. Berdasarkan apa yang diteorikan oleh McLean ini, dengan mudah bisa diketahui bahwa kedua kecenderungan di atas sama-sama akan membelenggu teks dalam kungkungan manusia. Meskipun kritik yang seringkali dilemparkan pada hermeneutika adalah bahwa ia bisa saja bias dengan kepentingan sang penafsir, tetapi dalam konteks dua kecenderungan di atas, keduanya sama-sama ekstrem. Sebuah gagasan menarik pernah dilontarkan oleh Sayyed Dabaj (2002) bahwa cara terbaik dalam memperlakukan teks adalah menjalankan apa yang disebutnya sebagai neutral ways, yaitu melindungi teks dari relativisasi oleh pembaca dan penafsir, tetapi pembaca berhak memberikan pemaknaan terhadap teks tersebut berdasarkan konteks zaman di mana ia berada. Penolakan kaum ortodoks Islam terhadap penggunaan perangkat modern untuk menafsirkan teks kitab suci bisa jadi terjadi karena adanya pemahaman yang salah tentang tradisi dan tradisionalisme. Dengan kata lain, tradisi dan tradisionalisme dianggap sebagai sesuatu yang serupa. Mengutip formulasi yang diberikan oleh Jeroslav Pelican, perbedaan antara tradisi dan tradisionalisme adalah: "Tradition as living faith of the dead and traditionalism as the dead faith of the living." Maka dengan menganggap al-Quran sebagai bagian dari tradisi, bermakna bahwa sesuatu yang dinamis, karena kita memiliki keyakinan yang hidup dan bukan sebaliknya bukan keyakinan yang mati dari sesuatu yang hidup. Dengan demikian, hermeneutika tidak lain adalah sebagai interpretasi yang hidup atas teks yang juga hidup dalam sebuah tradisi yang hidup. Presidium Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah dan Dosen UMM ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> $9.95 domain names from Yahoo!. Register anything. http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

