Terpilihnya Nur Wahid Ujian bagi PKS
JAKARTA - Terpilihnya Presiden Partai Keadilan
Sejahtera (PKS) Hidayat Nur Wahid menjadi ketua MPR
periode 2004-2009 akan menjadi ujian bagi PKS.
Seberapa jauh karakter politisi partai yang dikenal
masyarakat mempunyai ciri khas sebagai partai bersih,
jujur, bertanggung jawab dan amanah ini bakal teruji
di semua lapangan.politik, kata pengamat politik Eep
Saefulloh Fatah kepada wartawan, di Jakarta, Rabu
(6/10).

Menurut dia, ketika lapangan politiknya semakin besar
maka tekanan, godaan, dan bebannya juga semakin besar
mengiringi kewenangan dan kekuasaannya yang bertambah
besar. Jika politisi PKS tidak bisa mengelolanya
sebagai modal maka PKS akan dinilai sebagai partai
yang sama saja dengan partai lainnya yang tidak
membawa angin perubahan. 

Dijelaskannya, PKS bukan partai yang selalu bergantung
pada figur. Tanpa Hidayat Nur Wahid sistem dan
mekanisme partai tetap berjalan. Partai ini menjadi
proyek percontohan dalam sistem kepartaian demokratis.
Pertanyaan besarnya, kata Eep, adalah ketika mereka
berpartai mereka bergantung pada individu politis yang
mereka miliki dan membangun karekter partainya yang
bersih, bertanggung jawab dan amanah.

Tapi ketika mereka bergabung menjadi pemenang dan
memperoleh kekuasaan tertentu bahkan menjadi menjadi
Ketua MPR kini mereka bukan hanya menjadi proyek
percontohan di partainya saja tapi di sistim politik
nasional. 

Disinggung apakah dengan kemenangan koalisi kerakyatan
ini maka posisi SBY akan aman, Eep mengatakan MPR kini
mempunyai fungsi terbatas. Titik tekan pengawasan ada
di DPR. 

Juga harus digarisbawahi, sambungnya, bahwa dengan
berjalannya pemilihan langsung maka terdapat perubahan
mendasar dari karakter pimpinan DPR dan DPRD termasuk
MPR yakni dari pemimpin lembaga yang berkuasa yang
punya kewenangan besar, sekarang hanya menjadi juru
bicara sebuah lembaga legislatif. 

"Jadi pimpinan MPR sekarang tidak punya kewenangan
yang terlampau besar untuk mengarahkan lembaganya.
Mereka hanya bisa menjalankan fungsi mediasi,
fasilitasi dan koordinasi. Apabila tiga fungsi ini
berjalan maka pada saat itu mereka telah berubah
menjadi juru bicara saja, " ujarnya.

Mengenai PDI-P yang tidak mendapatkan apa-apa, Eep
mengatakan, pemilu 2004 telah memberikan memberikan
pelajaran berharga untuk partai-partai. "Kalau mau
memakai istilah kasar adalah 'rakyat menampar
partai-partai'. Mereka seharusnya mau melakukan
interopeksi diri. Rakyat tidak mau ikut mereka. Rakyat
sudah punya pilihan sendiri. partai yang kemarin
memperoleh banyak kini mendapat sedikit, "paparnya..

Dia menambahkan, cobaan terbesar lima tahun ke depan
bakal dihadapi Partai Demokrat dan PKS. Pasalnya, PD
yang menjadi kendaraan politik presiden terpilih
Susilo Bambang Yudhoyono saat dibangun tidak memiliki
akar yang cukup kuat dengan pola rekrutmen yang tidak
terpola. Dengan waktu singkat mereka mendapat
kekuasaan yang cukup besar baik di pusat maupun di
daerah."Partai ini bisa terlena dengan kenikmatan
kekuasaan tetapi tidak memiliki kesempatan untuk
membangun kekuasaan. Ini ancaman terbesar bagi PD,"
tuturnya. 


Menang Tipis

Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nur
Wahid terpilih sebagai Ketua MPR periode 2004-2009
setelah menang tipis dalam pemilihan pimpinan MPR
dalam rapat paripurna MPR di Jakarta, Rabu (6/10).
Bersama Nur Wahid yang masuk dalam paket B, terpilih
juga AM Fatwa, Aksa Mahmud, Mooryati Sudibyo sebagai
wakil ketua. Pimpinan MPR terpilih yang dicalonkan
koalisi kerakyatan meraih angka 326 suara. 

Sedangkan calon dari koalisi kebangsaan yaitu Sutjipto
sebagai calon ketua MPR yang masuk paket A bersama
Theo L Sambuaga, Sarwono Kusumaatmadja, dan Aida
Ismeth Nasution kalah dua suara karena hanya meraih
324 suara. Sementara suara yang abstain sejumlah 13
suara dan suara tidak sah sebanyak 10. Dengan
demikian, jumlah anggota MPR yang menggunakan hak
pilihnya 673 dari 677 anggota MPR seluruhnya.

Semestinya perolehan suara calon pimpinan MPR dari
koalisi kebangsaan sama dengan perolehan suara dari
calon pimpinan MPR dari koalisi kerakyatan kalau saja
dua anggota MPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan (PDI-P) yaitu Tumbu Saraswati dan Philip
Wijaya hadir dalam rapat paripurna tersebut. Tetapi
karena keduanya tidak hadir, terpaksa pimpinan MPR
jatuh ke tangan koalisi kerakyatan.

Setelah penghitungan suara, pimpinan MPR terpilih Nur
Wahid, AM Fatwa, Aksa Mahmud, dan Mooryati Sudibyo
diambil sumpah oleh Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan.
Kemudian dilanjutkan dengan penyerahan palu dari ketua
sidang sementara HR Agung Laksono ke Hidayat Nur
Wahid.

Sebelum anggota MPR terpilih disahkan oleh pimpinan
sidang sementara, anggota MPR dari Fraksi Partai
Golkar Nusron Wahid menginterupsi. Dia meminta
pimpinan MPR terpilih untuk tidak mengamandemen
Pembukaan dan pasal 29 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.


Hal senada ditegaskan oleh anggota MPR dari Fraksi
PDI-P, Aria Bima yang melakukan interupsi setelah
pimpinan MPR terpilih diambil sumpah. Aria Bima
mengatakan, anggota MPR dan rakyat Indonesia sudah
mendengar sumpah dan janji pimpinan untuk
mempertahankan Pancasila dan UUD 1945. Seperti Nusron
Wahid, dia meminta pimpinan dewan untuk tidak
mengamandemen UUD 1945. Karena itu dia mengingatkan
bahwa rakyat Indonesia dan anggota MPR akan mengamati
dan mengawasi sepak terjang pimpinan MPR terpilih. 

Menanggapi hal itu, Nur Wahid menegaskan kekhawatiran
tentang pasal 29 tentang kebebasan memeluk agama
tersebut berlebihan, karena pasal tersebut harus
diamalkan. Saat ini, kehidupan beragama belum
dilaksanakan sepenuhnya, sehingga muncul korupsi,
perilaku tidak bermoral, penjualan perempuan, dan
hal-hal lain yang mengkhianati amanat rakyat.
Kehidupan beragama yang baik akan menghadirkan
perilaku bermartabat serta membawa masyarakat menjadi
berdaulat dan itu menjadi ajaran seluruh agama. 

Pada kesempatan itu, Nur Wahid juga menyampaikan
terpilihnya pimpinan MPR yang baru merupakan
kepercayaan anggota MPR sekaligus amanat rakyat
Indonesia yang berharap perubahan sungguh-sungguh bisa
dihadirkan, antara lain tercermin dari perilaku
demokrasi di MPR.

(M-17/A-21/A-16)

http://www.suarapembaruan.com/News/2004/10/07/index.html

=====
Mario Gagho
Political Science,
Agra University, India


                
__________________________________
Do you Yahoo!?
Read only the mail you want - Yahoo! Mail SpamGuard.
http://promotions.yahoo.com/new_mail 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke