INDONESIA AKAN MENJADI NEGARA KULI?
(Tanggapan Untuk Artikel Jeffrey Winters di Media
Indonesia 5 Oktober 2004)
Oleh Tangkisan Letug ([EMAIL PROTECTED])
Membaca artikel Jeffrey Winters hari ini di Media
Indonesia, saya cukup terkesan oleh besarnya perhatian
Winters terhadap persoalan Indonesia. Bila tidak ada
kerja keras, menurut Winters, Indonesia akan menjadi
negara kuli di dunia. Ia juga dengan tegas menyatakan
bahwa Indonesia itu negara miskin, bukan negara kaya.
Penulis menangkap, dengan begitu ia ingin mengajak
mengubah paradigma dalam membangun negeri. Bukan
beranjak dari mimpi, tetapi dari kenyataan kemiskinan,
kebodohan, dan keter-"budak"(baca:kuli)-an kita
sebagai bangsa.
Sebagai seorang yang dikenal ahli tentang Indonesia,
penulis melihat bahwa keprihatinan Winters memang
memiliki alasan-alasannya. Namun demikian,
perkenankanlah di sini penulis menyampaikan tanggapan
pribadi terhadap artikel Jeffrey Winters tersebut.
Penulis tidak berpretensi menguasai banyak masalah di
Indonesia, tetapi sebagai seorang warga biasa saja.
Tampaknya artikel Winters adalah sebuah peringatan
bagi Bambang Yudhoyono untuk berhati-hati dalam
kepopulerannya. Megawati yang dahulu populer, akhirnya
dengan kekalahan sekarang, tampak ditinggalkan karena
dianggap telah mengkhianati rakyat. Dalam bahasanya,
Winters menuliskan:
�Pada puncak kepopulerannya, mungkin pandangan ini
dapat dimengerti. Tetapi "cinta" dan "kesetiaan" dalam
dunia politik tidak dapat berlanjut jika orang yang
memberikan semua harapannya, menyadari bahwa mereka
sekali lagi telah dikhianati dan dicurangi.�
Tidaklah berlebihan apa yang dikatakan oleh Winters
tersebut di atas. Memanglah ada kekecewaan masyarakat
yang menentukan dalam pemilihan yang baru lalu. Hasil
akhir yang diumumkan KPU (4 Oktober 2004) adalah �Dari
total 114.257.054 suara sah, hasil akhir penghitungan
secara manual, SBY-Kalla meraih 69.266.350 suara
(60,62 persen). Sedangkan Mega-Hasyim memperoleh
44.990.704 suara.� (Jawa Pos, 5 Oktober 2004)
Sementara itu, jumlah seluruh pemilih yang terdaftar
adalah 150.583.483 orang. Lalu suara golongan putih
masih mencapai 35.583.483 suara, serta suara yang
dianggap tidak sah mencapai 2.402.881. SBY-Kalla
telah meraih kemenangan yang cukup berarti terhadap
pasangan Mega-Hasyim. Namun, perlulah dicatat bahwa
suara pro Mega-Hasyim ditambah suara golput masih jauh
lebih besar daripada jumlah suara untuk kemenangan
SBY-Kalla (82.977.068). Meskipun suara golput masih
bisa belum dikatakan anti SBY-Kalla, tetapi paling
tidak suara itu tidak untuk mereka. Meskipun hasil itu
sudah dianggap legitim untuk penentuan kemenangan,
tetapi melupakan jumlah riil suara yang tidak memilih
pasangan yang menang adalah sebuah sikap naif. Dalam
konteks inilah penulis melihat peringatan Jeffrey
Winters tampak lebih kena. Kepopuleran dan kemenangan
itu tetaplah relatif.
Masyarakat Indonesia: �Tidak Bodoh� dan �Bodoh�
Jeffrey Winters telah memuji masyarakat Indonesia
meskipun kurang berpendidikan tetapi tidak bodoh. Dari
alur pemikirannya, alasan dari itu adalah bahwa pada
kenyataannya mayoritas masyarakat pemilih telah
memilih pasangan SBY-JK. Jadi, ukuran �tidak bodoh�
yang disampaikan oleh Jeffrey Winters dapat dikatakan
adalah �tidak memilih Mega yang dianggap mengkhianati
masyarakat.� Apakah masyarat pemilih SBY-Kalla memilih
karena kepopuleran atau tidak itu tidak menjadi soal.
Mereka dinilai �tidak bodoh� dari kacamata �tidak
memilih Mega-Hasyim.�
Kalau mau dibalik, dengan demikian, bisa ditarik
interpretasi bahwa Jeffrey Winters melihat bahwa
mereka yang telah memilih Mega-Hasyim adalah �bodoh�.
Ukuran �bodoh� itu adalah �memilih orang yang dianggap
pengkhianat� atau mereka yang golput. Jadi, mayoritas
masyarakat dalam kaitan dengan pemilu adalah �bodoh�.
Sebab, bukankah jumlah 82 juta lebih melebihi mereka
yang dianggap �tidak bodoh�?
Kalau memang begitu yang menjadi pandangan seorang
Jeffrey Winters, amatlah disayangkan artikelnya
tersebut dimuat disebuah koran nasional. Belum lagi,
kalau diamati dan dibaca betul artikelnya tersebut,
Jeffrey Winters seolah-olah memang sedang menempatkan
dirinya sebagai seorang Guru bagi seluruh orang
Indonesia, juga termasuk bagi �muridnya� yang bernama
Susilo Bambang Yudhoyono. Pelajaran yang diambil dari
pemilu yang lalu telah disampaikan sebagai sebuah
wejangan istimewa bagi Yudhoyono dan masyarakat
Indonesia pada umumnya. Untuk ini, barangkali, para
murid dan seluruh bangsa Indonesia lalu bisa
mengungkapkan rasa terimakasihnya yang sangat
mendalam. Bukankah pantas disyukuri ada seorang Guru
yang rela memberikan wejangannya kepada seluruh rakyat
Indonesia?
Indonesia Negara Kuli
Betapa benarnya peringatan Winters tentang kemungkinan
bangsa Indonesia menjadi bangsa kuli. Kata Jeffrey
Winters, �Jika orang Indonesia tidak mulai untuk
serius dari sekarang, mulai presiden yang baru ini,
nanti 100 tahun ke depan dari sekarang, Indonesia akan
tetap berada di kategori paling bawah, sama dengan
negara-negara kuli di dunia.� Sungguhpun sebagai
sebuah pernyataan konditional, peringatan ini sangat
bernilai. Bayangkanlah, sekarang elit Indonesia tidak
serius dan tidak bekerja keras untuk kepentingan
publik, dan masih bersarang di dalam mentalitas
korupsinya, maka menurut peringatan Winters, seratus
tahun kedepan pun Indonesia akan tetap jadi kuli di
dunia.
Namun demikian, kita patut bertanya sungguh-sungguh,
saiapakah sebenarnya sedang menikmati ke=�kuli�-an
kita? Benarkah seandainya kita terus menerus sebagai
kuli dunia, hal itu disebabkan melulu oleh
ketidakseriusan kita? Benarkah tidak ada negara lain
yang senang melihat kita bisa diperlakukan sebagai
�antek� dan bonekanya? Benarkah negara adidaya dunia
akan sungguh senang melihat Indonesia sebagai bangsa
yang mandiri dan bukan kuli?
Barangkali masih perlu dijelaskan pula apa yang
dimaksudkan �kuli dunia� oleh Jeffrey Winters.
Seorang kuli pun adalah seorang pekerja keras. Bahkan
seringkali lebih keras daripada tuannya, atau mereka
yang duduk di balik meja menghitung bunga-bunga
investasinya. Barangkali kerja keras yang dimaksudkan
adalah dalam arti bukan melulu �tidak bodoh� tetapi
�serius memberantas korupsi� sehingga kepentingan
publik sungguh dijadikan batu penjuru. Tetapi apa
ukuran �bukan kuli�? Demokrasi yang bisa dikendalikan
dari jauh? GNP yang meningkat? Investasi yang mengalir
deras?
Kritik Jeffrey Winters adalah peringatan bagi kita.
Kita pantas menghargai sumbangan wejangan Jeffrey
Winters, yang telah lebih dahulu barangkali bekerja
keras untuk tidak menjadi �kuli� dunia. Kita ucapkan
terimakasih atas pujian �tidak bodoh�-nya bagi pemilih
Presiden terpilih. Kita acungkan jempol untuk
peringatannya terhadap kemungkinan Indonesia menjadi
negara �kuli�.
Selamat atas ketidakbodohan orang Indonesia. Semoga
kerja keras tidak melanggengkan negara kuli dunia di
bumi Indonesia.
5 Oktober 2004
_______________________________
Do you Yahoo!?
Declare Yourself - Register online to vote today!
http://vote.yahoo.com
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/