DARI NOTES BELAJAR SEORANG AWAM:
MEDIA CYBER SEBAGAI "TONG SAMPAH" "Dalam sebuah diskusi di Pertemuan Sastrawan Nusantara (PSN) XIII di Metropolis Room, Graha Pena, Surabaya, sastra cyber sempat pula diperdebatkan. Perdebatan sastra cyber di PSN XIII terjadi ketika Ahmadun Yosi Herfanda (AYH) --redaktur budaya Republika-- tampil sebagai pembicara. Menanggapi Edi Setiawan, AYH mengemukakan bahwa sastra cyber masih mengandung kekurangan, yakni sistem seleksi terhadap karya yang masuk kurang diterapkan dengan baik. Akibatnya, tulisan yang ecek-ecek pun bisa muncul dan ditampilkan setiap hari. Demikian dikemukakan oleh AYH. Penilaian AYH terhadap sastra cyber tidak terlalu berbeda dengan yang dikemukakan dalam esainya di buku Cyber Graffiti Polemik Sastra Cyberpunk (YMS & Penerbit Jendela, 2004). Esai tersebut sebelumnya dimuat di Harian Republika pada 29 April 2001. Dalam esai tersebut, AYH mengemukakan bahwa media cyber cenderung hanya diperlakukan sebagai "tong sampah" karya-karya yang tidak tertampung (untuk tidak mengatakan "ditolak") oleh media sastra cetak. Penilaian terhadap sastra cyber, saya kira, perlu dilakukan secara lebih arif. Pertama, media cyber cenderung hanya diperlakukan sebagai "tong sampah" karya-karya yang tidak tertampung (untuk tidak mengatakan "ditolak") oleh media sastra cetak". Kata-kata di atas adalah beberapa komentar dari sastrawan Jawa Timur, Kuswinarto, redaktur situs sastra www.cybersastra.net, tinggal di Malang, Jawa Timur, terhadap pernyataan AYH. Saya sendiri menyatakan kekaguman atas keberanian AYH berkata demikian. Barangkali keberanian berucap begini merupakan salah satu cara mencari popularitas sekalipun ucapan tersebut tidak sepenuhnya salah, karena dalam hal bahwa media cyber kurang selektif atau sengaja tidak melakukan seleksi terhadap tulisan-tulisan yang dikirimkan. Sengaja tidak melakukan seleksi ini nampaknya kurang menjadi perhatian AYH sehingga pernyataannya yang melecehkan media cyber sebagai "tong sampah" dan para penulis media cyber tidak lain dari dari penulis karya "ecek-ecek" seperti sengaja dilontarkan untuk mencari popularitas individual karena tidak disertai dengan pembuktian seperti yahg dikemukakan oleh Kuswinarto. Apakah beda berucap tanpa pembuktian dari berucap asal ucap , sebagai salah satu taktik untuk popularitas diri tanpa melalui karya? Dengan cara ini namanya disebut-sebut oleh para mereka yang tidak sepakat. Suatu cara murahan untuk melakukan iklan diri tanpa melalui prestasi alias karya. Dari artikel Kuswinarto saya mengetahui bahwa AYH adalah redaktur budaya di Harian Republika dan entah bekerja di mana serta sebagai apalagi sehingga membuatnya merasa lebih dari yang lain. Tapi apakah kedudukan demikian sertamerta menjadi jaminan bahwa karya-karya AYH senantiasa bermutu dan tidak pernah merosot ke taraf ecek-ecek? Apa yang ditulis oleh Kuswinarto dalam artikelnya di Harian Jawa Post berjudul:"Karya Ecek-Ecek di Sastra Cyber" [lihat: http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=133106] membuktikan bahwa takaran obyektif dalam sastra dan seni agaknya sulit diperoleh sekalipun memang ada patokan-patokan minimal. James Joyce, sendiri, untuk menyebut satu nama saja dalam sejarah sastra dunia, karya-karyanya pernah ditolak oleh penerbit. Menyebut bahwa readaktur koran-koran dan majalah sebagai standar sastra bermutu saya kira terlalu gegabah. Dengan menyebut karya orang lain sebagai karya-karya "ecek-ecek" membuat saya ingin tahu, seperti apa gerangan karya yang tidak "ecek-ecek" karya AYH sehingga ia sanggup melecehkan orang lain. Keangkuhan begini, di mata saya tidak lain dari mempertontonkan taraf diri sendiri sebagai penulis dan anak manusia yang tidak mampu menghargai orang lain dan mendorong potensi dalam masyarakat. Yang berani berkata demikian, saya kira tidak lain dari sikap menekan perkembangan dan potensi tanpa memberikan alternatif. Dari segi alternatif yang tidak diberikannya, tapi diberikan oleh media cyber, makin nampak kekonyolan AYH. Lebih konyol lagi jika dilihat dari segi pola pikir, mentalitas dan tanggungjawab terhadap perkembangan sastra hari ini dan masa depan. Tentu saja kehidupan sastra-seni negeri ini tidak tergantung pada seorang AYH. Andaikan saja ia dominan di Harian Republika, tapi Harian Republika pun bukan penentu timbul-tenggelamnya sastra-seni Indonesia. Tanpa Harian Republika bahkan Harian Kompas sekalipun, sastra-seni Indonesia akan terus berkembang sebagaimana halnya dengan sastra rakyat di berbagai daerah/pulau terus berlanjut tanpa memerlukan pengakuan Kompas dan Republika, apalagi seorang AYH yang sebenarnya masih berada di luar hitungan, jika menggunakan metode pendekatan AYH, tapi sudah begitu angkuh. Metode yang digunakan oleh AYH dalam dunia sastra, hanya dengan menjadi redaktur budaya Harian Republika, secara hakiki adalah metode pembinasaan, lebih-lebih ia tidak memberikan suatu alternatif apapun. Apa yang dilakukannya sebenarnya tidak lain dari usaha mengangkat nama diri sendiri dengan berucap asal ucap tanpa pembuktian. Kalimat-kalimat ini saya tulis sebenarnya tertera hanya membantu maksud tersiratnya, tapi saya akui ia telah berhasil membuat provokasi melalui iklan diri murahan.Provokasi dan iklan diri sering digunakan oleh seseorang yang berkapasitas minim untuk memunculkan diri sendiri. Siasat untuk menarik perhatian. Sehingga jika dikatakan "ecek-ecek" maka pertanyaan bisa dikembalikan kepada AYH, siapa gerangan yang "ecek-ecek"? Seseorang yang tidak segan melakukan iklan diri tanpa keengganan atas para penulis yang ingin maju dengan berangkat dari awal melalui kegiatan berkarya? Mengenai "media cyber" sebagai "tong sampah", di sini pun nampaknya nampak bahwa AYH tidak melihat "media cyber" sebagai media masa depan yang menjanjikan dan diefektif-gunakan oleh banyak kalangan, bukan hanya sastra. Media cyber, jika dilihat dari segi ramah tidaknya terhadap lingkungan, maka media cyber tidak memerlukan kertas sehingga untuk produksi media ini tidak perlu dilakukan penebangan hutan. Dari segi kecepatan, media cyber jauh melampaui kecepatan penerbitan buku atau koran dan majalah. Secara nyata sekarang, media cyber telah memberikan sumbangan-sumbangan tertentu tak terabaikan bagi perkembangan sastra negeri ini. Tidak sedikit pula karya-karya yang disiarkan oleh media cyber kemudian dibukukan dan disiar ulang orang media massa cetak.Media massa cetak dan media cyber tidak selayaknya dipertentangkan karena mereka saling melengkapi. Mengabaikan adanya media cyber, saya kira, menutup mata terhadap perkembangan dan masa depan. Bahwa karya-karya yang disiarkan melalui media cyber tidak semuanya mencapai taraf mutu yang diharapkan, tentu saja tidak disanggah. Tapi apakah karya-karya yang disiarkan melalui media cetak serta-merta dijamin taraf mutu sastranya? Keunggulan dari media cyber yang relatif longgar dalam penyeleksian, ia sangat mendorong semua potensi terpendam di kalangan masyarakat pencinta sastra yang barangkali tidak dilakukan oleh media cetak apalagi jika ia berada di bawah pimpinan redaksi budaya tipe AYH. Padahal dari kuantitas lambat-laun akan muncul kwalitas. Media cyber membuat sastra membatasi keterasingannya dari para pencintanya! Sedangkan pelecehanan oleh AYH akan membuat sastra jadi kian terasing di dunianya sendiri, menjadi urusan segelintir kecil para mereka yang menyebut dan mengaku diri secara oto-proklamasi sebagai sastrawan, bertentangan dengan sejarah lahir dan perkembangan sastra itu sendiri. Tapi barangkali saya keliru memahami penyataan AYH karena itu saya menunggu penjelasan dan bukti lebih lanjut dari pernyataan AYH yang penuh kebanggaan diri hingga berani melecehkan orang lain, terutama para penulis di media cyber dan arti media cyber itu sendiri. Saya masih mempercayai AYH termasuk seorang yang bertanggungjawab atas ucapannya. Sambil menunggu keterangan lebih lanjut dari AYH, saya ingin mengajukan pertanyaan: Kepentingan apa gerangan sesungguhnya yang diperjuangkan oleh AYH dengan melecehkan media cyber dan karya-karya yang disiarkan melalui media cyber? Apakah yang merugikan dunia sastra Indonesia dengan munculnya karya-karya di media cyber? Akan lebih terhormat jika AYH melakukan suatu pembahasan menyeluruh terhadap karya-karya itu daripada melakukan "pelecehan" yang bertaraf makian dan yang sesungguhnya tidak perlu diindahkan.Untuk memaki kita tidak perlu bersusaha payah belajar dan meneliti. Paris, Oktober 2004. ------------------- JJ.KUSNI [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> $9.95 domain names from Yahoo!. Register anything. http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

