http://www.jurnalperempuan.com/yjp.jpo/?act=berita%7C-185%7CX
Media Massa Memanfaatkan "Mitos Kecantikan" Untuk Merayu Remaja Perempuan
Jurnalis : Eko Bambang S
Jurnalperempuan.com - Jakarta. Media massa, khususnya televisi, untuk menarik konsumen 
remaja perempuan masih memanfaatkan mitos kecantikan, baik dalam tayangan sinetron 
maupun dalam tayangan iklan. Disamping memanfaatkan mitos kecantikan, tayangan media 
juga masih mengukuhkan stereotype gender yang sudah lama berkembang dalam masyarakat. 
Dalam situasi yang seperti inilah, remaja perempuan akhirnya diposisikan sebagai objek 
seksual semata. 

Demikian pandangan AD Kusumaningtyas, aktivis perempuan dari RAHIMA dalam 
presentasinya di acara �Seminar dan Sosialisasi Pendidikan Melek Media Bagi Remaja 
Perempuan� yang diselenggarakan oleh Yayasan Jurnal Perempuan, bekerjasama dengan 
Unicef dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan di SMUN 70 Jakarta Selatan (Kamis, 
07/10/04). Selain AD, Kusumaningtyas, seminar ini juga menghadirkan pembicara Bimo 
Nugroho dari Komisi Penyiaran Indonesia, Sarah Sechan, artis, presenter dan juga 
pengelola media remaja perempuan dan dipandu oleh Mariana Amiruddin dari Yayasan 
Jurnal Perempuan. 

Acara yang berlangsung setengah hari ini diikuti sebanyak 160 peserta yang terdiri 
dari pelajar perempuan, guru dan media massa. Peserta pelajar dan guru sebagian besar 
datang dari 26 perwakilan SMU se Jakarta selatan. Jakarta Selatan dalam kesempatan ini 
mendapat giliran untuk Roadshow Seminar dan Sosialisasi Pendidikan melek media tahap 
kedua. Sosialisasi tahap pertama sudah dilakukan pada tanggal 30 September 2004 lalu 
di SMU Lab School Jakarta Timur. Kedepan masih tersisa tiga SMU lagi di wilayah 
Jakarta Barat, Utara dan Pusat untuk menyelenggarakan roadshow pendidikan melek media 
ini. 

AD.Kusumaningtyas mencontohkan bahwa banyak tayangan sinetron di televisi seperti; 
Bidadari, Cewekku Jutek, Jangan Rebut Suamiku terlihat jelas mengukuhkan perempuan 
dengan sifat lemah lembut, penolong, bawel, pemarah, tukang rebut suami orang dan 
sebagainya. Selain itu dalam sinetron si Dia yang dibintangi oleh Lulu Tobing dan Ari 
wibowo, disana ditampilkan tokoh Dwi, Dia, Vivi, Gita, Susi sebagai sosok perempuan 
yang lemah sakit-sakitan, tergantung, suka memfitnah, iri hati, pesolek dan royal. 
Sementara tokoh laki-lakinya, Ivan adalah pengusaha kaya, Ryan adalah lelaki yang 
santun, baik, murah hati, sedangkan Eka adalah remaja cowok yang berprestasi, jago 
basket, dan menjadi idola gadis-gadis. Pencitraan tokoh perempuan dan laki-laki dalam 
sinetron ini menurut AD. Kusumaningtyas adalah pengukuhan terhadap stereotipe gender 
yang sudah lama berkembang dalam masyarakat. 

Selain sinetron, menurut AD.Kusumaningtyas, dunia periklanan juga berkontribusi dalam 
meneguhkan berbagai mitos kecantikan untuk menjadi alat ukur merayu konsumen berbagai 
produk kecantikan. Iklan pemutih kulit misalkan, terhadap remaja perempuan bukan 
kegunaan sebagai pelembab yang ditampilkan, namun kecantikan ala Bintang yang dijual. 

Berbagai pengukuhan stereotipe dan peneguhan mitos kecantikan ini menurut AD. 
Kusumaningtyas, tentunya berpengaruh pada tahap perkembangan kepribadian remaja. 
Remaja perempuan lebih memperhatikan perkembangan dirinya pada aspek penampilan diri, 
agar lebih diperhatikan oleh remaja laki-laki. Remaja perempuan lebih berkonsentrasi 
pada upaya mempersiapkan penampilan agar lebih berkulit putih, ngak jerawatan, 
ketimbang mengembangkan potensi dirinya yang lebih mendalam. Sementara remaja 
laki-laki lebih berkonsentrasi diri untuk merebut jabatan sebagai ketua OSIS sehingga 
tampak Cool dan disukai oleh remaja perempuan. Remaja laki-laki bekerja keras mengolah 
tubuh dengan berlatih basket untuk mencapai prestasi, sementara remaja perempuan lebih 
berpuas hati menjadi cheer-leaders dengan harapan dilirik pujaan hati, jelas 
Kusumaningtyas. 

Sementara itu, Bimo Nugroho dari Komisi Penyiaran Indonesia mengatakan bahwa selama 
ini tidak ada peran negara yang dilakukan untuk melindungi remaja perempuan dari 
dampak buruk media. Hal ini dikarenakan segala aspek yang ada di dunia, sekolah, 
termasuk juga didalam media segala penataanya masih menggunakan cara pandang 
laki-laki. Penataan sistem sosial seperti ini menjadikan persepsi dan pengalaman 
perempuan disingkirkan dari tatanan masyarakat. 

Terhadap sejumlah media yang banyak menjadikan remaja perempuan hanya sebagai objek, 
Sarah Sechan, artis, presenter dan juga pengelola media remaja ini menhimbau agar 
remaja perempuan harus mempunyai kekuatan untuk menolak bila tampilan media itu 
sebenarnya tidak sesuai dengan diri remaja perempuan sendiri. �Girl Power sebetulnya 
tidak perlu melihat jauh-jauh, bahwa perempuan harus mengalahkan laki-laki. Girl power 
itu setidaknya dilihat pada diri sendiri. Sebagai remaja yang nantinya akan menjadi 
wanita dewasa, seharusnya nanti kita tahu apa yang kita mau, tahu bagaimana cara 
mendapatkannya, kalau kita ngak suka sesuatu kita harus bisa bilang tidak,�ujar Sarah, 
Sarah berharap remaja perempuan setidaknya harus menjadi diri sendiri atau setidaknya 
individu yang bisa menyikapi diri sendiri. Sarah mencontohkan misalnya dengan tawaran 
menjadi model. �Kalau ada tawaran menjadi model untuk remaja perempuan tetapi dipaksa 
untuk memakai baju yang tidak sesuai dengan kepribadian, remaja perempuan jangan takut 
untuk menolak. Jangan takut untuk akhirnya tidak menjadi model, karena denganpenolakan 
itulah kamu menjadi dirimu sendiri,�ujar sarah. 

Selain Sarah, Bimo maupun AD.Kusumaningtyas juga meminta remaja perempuan lebih kritis 
terhadap media. �Kita sebagai perempuan harus kritis pada media. Jangan takut untuk 
protes atas sebuah produk iklan yang menyesatkan,� ujar AD Kusumaningtyas. Sementara 
itu Bimo menegaskan bahwa remaja perempuanm harus lebih berhati-hati dengan tayangan 
media. Remaja perempuan harus berani melakukan seleksi terhadap tayangan media. 
�Cermatilah setiap tayangan media, jangan telan mentah-mentah apa yang disajikan 
media, bila tidak sesuai tinggalkan saja. Itulah salah satu cara agar remaja perempuan 
bisa terhindar dari dampak buruk media,� kata Bimo. 





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke