http://www.radarbanjarmasin.com/berita/index.asp?Berita=Opini&id=43580 Sabtu, 16 Oktober 2004
Agama dalam Gugatan Oleh: Nur Fitriyah* Suatu hal yang sering kita jumpai dalam realitas kehidupan adalah ketika manusia mulai mempertanyakan peranan agama dalam menjawab tantangan zaman yang menunjukkan kemajuan yang sangat cepat. Masihkah agama mempunyai peranan dalam kehidupan dimana banyak hal mengenai kehidupan manusia yang diatur dan dikembangkan berdasarkan penemuan ilmiah tanpa bersinggungan dengan agama? Ataukah cukup hanya menjadi pelarian dari kepenatan hidup? Atau jangan-jangan kita telah menganggap diri kita sudah dewasa dan sudah saatnya "dilepas" untuk dapat mengurus diri sendiri tanpa perlu lagi bimbingan agama? Sejak pemikiran manusia mencapai tahap positif dan fungsional sekitar abad 19, kehidupan manusia mulai memasuki babak baru yang amat berbeda dengan kehidupan kurun sebelumnya. Lebih-lebih lagi setelah muncul kecenderungan global sebagai akibat revolusi informasi dan teknologi informasi. Di sisi lain berbagai pola kehidupan tradisional di banyak negara, juga di Indonesia mulai mengalami penyusutan fungsi digantikan oleh lembaga modern sekuler, begitu juga dengan lembaga-lembaga keagamaan. Dalam situasi demikian ini agama kemudian menghadapi gugatan sejarah. Dalam suasana kehidupan yang serba modern dan kebudayaan massif serta terpenuhi berbagai mobilitas kehidupan secara teknologis, manusia mulai berhadapan dengan masalah klasik mengenai jati diri dan tujuan hidupnya. Ketika kehidupan manusia berada jauh di luar jangkauan agama dan berada dalam pangkuan teknologi yang sedang dalam puncak kepercayaan diri, muncul pertanyaan yang mendasar dalam dirinya: apa yang kau cari? Apa yang kau cari?, pertanyaan ini mengandaikan manusia mulai terlempar jauh ke dunia yang tidak mereka kenal sebelumnya. Pertanyaan ini juga merupakan refleksi dari kebingungan manusia setelah jawaban ilmiah terhadap keberadaan realitas ternyata tidak seluruhnya dikehendaki, sementara dogma-dogma agama tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan bahkan bisa dikatakan tidak dapat menyelesaikan persoalan-persoalan yang mendesak untuk segera diselesaikan.Tampaknya masih belum jelas, apakah kebingungan tersebut dapat membawa manusia kembali ke pangkuan agama untuk kedua kali, atau sebaliknya. Arah hubungan manusia dan agama seperti sedang mencari sesuatu yang hilang. Penemuan-penemuan ilmiah yang menjanjikan berbagai kemudahan kepada manusia di satu sisi jutru membuat manusia mengalami kesibukan yang luar biasa. Manusia menjadi tidak memiliki kesempatan untuk mengungkap dan merenungi dunia dan juga dirinya sendiri. Di samping itu pemikiran keagamaan berada jauh dibelakang perkembangan pemikiran manusia mngenai realitas duniawi. Agama, kemudia dituduh sebagai penyubur konflik yang tidak memberi kontribusi apa-apa terhadap integritas sosial. Suatu realitas pahit ketika agama pelan-pelan tersingkirkan ke pojok yang paling sempit dan gelap. Agama tidak lagi diberi peranan dalam mengatur peradaban. "Agama adalah tahyul, agama sudah tidak diperlukan lagi, tempatnya sudah digantikan oleh sains!" Teriak A.B Shah, seorang ilmuwan dari India. Atau teriakan Niestzche dan Marx pada abad pertengahan sebagai kritik terhadap agama: "Agama adalah candu! gott is tott! Kehendak dan kekuasaan Tuhan "telah mati". Pada perkembangan selanjutnya pemikiran ini mulai menjalar pelan-pelan dan menyusup dalam paradigma dan budaya kaum muslim dan bahkan terekspresikan dalam praksis tindakan. Ajaran dan nilai-nilai Islam yang semula sakral sedikit demi sedikit mulai dibongkar oleh muslim yang pandangannya telah "terkena virus realitas jaman/saeculum". Islam pada tataran itu akhirnya menjadi profan, karena kehendak ajarannya merupakan bagian dari kehendak umat Islam itu sendiri. Pelan-pelan, agama kemudian mengalami proses privatisasi dan marginalisasi dalam dimensi kehidupan. Privat, karena agama cenderung dipahami secara individual, Marginal, karena agama difungsikan hanya sebagai aksesoris kehidupan yang akan dipakai jika dibutuhkan. Contoh sederhana, ketika agama bersuara tentang kebijakan publik, orang-orang pun berteriak: Bung, ini negara, bukan masjid! Agama tidak punya hak suci untuk menentukan segala bentuk kebijakan publik. Agama berada di ruang privat, dan urusan publik harus diselenggarakan melalui proses konsensus. Sangatlah mungkin, teriakan ini merupakan gaung dari terikan marx dan Niestzche, Sungguh suatu bentuk kelatahan yang dibuat-buat! Masalah ini timbul bukan karena kekolotan jaran agama itu sendiri, akan tetapi merupakan akibat dari kesalah-letakan dan kesalah-maknaan sistem ajaran suatu agama yang diwahyukan dengan sistem ajaran agama sebagai hasil pemikiran para elit suatu agama. Antara agama yang diwahyukan dengan pemikiran mengenai agama bercampur sehingga sulit untuk ditelusuri kembali untuk menemukan batas-batasnya. Sebagian orang kurang menyadari bahwa seluruh pemikiran mengenai Islam bersifat inteletual dan oleh karena itu juga bersifat historis dan sosiologis. Bahkan tidak banyak yang menyadari bahwa intervensi intelektual justru pertama kali melahirkan kodifikasi Al-Qur'an sebagaimana yang kita saksikan sekarang. Hal tersebut perlu di jernihkan agar kegiatan pemikiran ilmiah Muslim dapat dikembangkan secara dinamis dan konstruktif. Melalui penjernihan ini diharapkan munculnya intelektualisme baru sebagai bentuk paling menentukan kebangkitan Islam. Penjernihan ini dapat dilakukan dengan meletakkan Islam sebagai ajaran wahyu dan Islam hasil pemikiran manusia secara proporsional. Dalam hubungan inilah dunia Islam seolah menghadapi kebingungan tanpa ujung pangkal. Batas antara apa yang disebut Islam sebagai ajaran wahyu dan Islam sebagaimana yang dipikirkan dan dijalani serta dipahami pemeluknya amat tipis kalau tidak dapat disebut identik. Agama Islam, dengan pendekatan di atas, dapat dibedakan menjadi dua macam. Pertama, Islam sebagai ajaran wahyu adalah Islam yang memiliki kebenaran mutlak. Kedua, Islam adalah hasil pemikiran manusia khususnya sarjana-sarjana Muslim mengenai Islam. Islam dalam macam yang pertama adalah Islam yang absolut yang datang dari Allah yang termakstub dalam kitab Al-Qur'an. Nilai kebenaran agama ini bersifat universal, a-historis, absolut, dan non-sosiologis. Sementara Islam jenis yang kedua adalah Islam hasil pemikiran sarjana Muslim yang sifatnya kondisional, sosiologis dan historis yang tentu saja nilai kebenarannya sebagaimana ilmu atau pemikiran manusia lainnya bersifat ilmiah yang tingkat berlakunya benar-benar tergantung pada kondisi obyektif kehidupan manusia itu sendiri. Pemisahan ini bukan berarti menolak kehadiran pemikiran ilmiah dalam komunitas agama. Apa yang dapat dilakukan adalah pengembangan suatu tata pikir yang proporsional bagi agama dan pemikiran Ilmiah dengan menempatkan istem ajaran agama sebagai premis mayor dan pemikiran ilmiah sebagai premis minor. Islam tidak harus dipahami secara parsial, tapi harus secara kaffah. Islam tidak boleh dilihat secara menyudut, tetapi harus secara menyeluruh. Mengenal Islam tidaklah seperti orang buta yang mengenal gajah, yang masing-masing ngotot tentang pendapatnya sendiri. Dan gugatan terhadap agama sebenarnya adalah gugatan terhadap agamawan itu sendiri sebagai tantangan apakah mereka mampu membuktikan kesetiaanya yang abadi kepada agama yang dipeluknya selama ini. Dan masa depan agama benar-benar terletak dipundak para agamawan. Sementara Allah melihat, menguji dan menilai siapa diantara mereka yang lebih baik.*** *) Forum Studi Islam (FSI) Al-Furqan FKIP UNLAM ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

