http://www.surya.co.id/16102004/01b.phtml
Jenazah TKW Binti Rosidatun Dipulangkan Hasil Autopsi Mendadak Dicabut Kediri, Surya - Jenazah Binti Rosidatun, 42, tenaga kerja wanita (TKW) yang meninggal di Arab Saudi akhirnya berhasil dipulangkan. Jenazah almarhumah dimakamkan di tempat asalnya di Dusun Kamal, Desa/Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri, Jumat (15/10). Jenazah TKW yang meninggal pada 30 Juni 2004 itu tiba di Kediri, Kamis (14/10) sekitar pukul 22.45 WIB. Begitu tiba, jenazah tidak langsung dibawa ke rumah duka, tetapi terlebih dulu dibawa ke RSUD Pelem di Pare untuk diautopsi sesuai permintaan keluarga. Di antara rombongan yang menjemput jenazah dari Bandara Juanda, Surabaya, kakak kandung korban, Zainal Arifin, 50, dan Agus Prasetyo, staf Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Kediri. Permintaan autopsi itu atas desakan Zainal Arifin. Semula, pihak RSUD Pelem sempat menolak karena keterbatasan peralatan forensik yang mereka miliki. Namun, permintaan itu kemudian dituruti dengan melakukan autopsi luar saja. Kekhawatiran keluarga korban atas kematian Binti Rosidiatun yang dinilai tak wajar, akhirnya memang terbukti. Dari hasil autopsi yang dipimpin dokter jaga dr Dewi Retno dibantu dokter muda Kadek Riyadi dan dua petugas kamar mayat, disebutkan bahwa penyebab kematiannya karena penganiayaan. Dugaan akibat penganiayaan itu setelah ditemukan adanya luka lebam di leher, punggung, dan perut pada jenazah Binti Rosidatun. Selain itu, juga ditemukan adanya beberapa organ tubuh bagian dalam yang hilang, setelah membuka luka jahitan hasil autopsi yang dilakukan di Arab Saudi. "Kita tidak bisa melanjutkan visum, karena adannya beberapa bagian organ tubuh dalam yang hilang," ujar dr Dewi Retno kepada para wartawan seraya menambahkan, visum luar masih akan dibicarakan dengan tim dokter RSUD Pelem untuk kelanjutan pemeriksaan. Mencabut Namun pada Jumat (15/10) siang, RSUD Pelem, rumah sakit milik Pemkab Kediri mendadak mencabut hasil autopsi yang menyatakan Binti Rosidatun meninggal akibat penganiayaan. Kepastian pencabutan pernyataan itu, disampaikan Kepala Bagian (Kabag) Humas Pemkab Kediri, Drs Sigit Raharadjo MSi, saat dikonfirmasi Surya, Jumat (15/10) petang. "Ini berarti pernyataan terdahulu yang menyatakan kematiannya akibat penganiayaan dicabut," ujarnya. Dokter Dewi Retno, dokter tim RSUD Pelem yang melakuka autopsi luar jenazah korban, Jumat (15/10) siang menyatakan, ada bagian luka pada tubuh Binti Rosidatun, tetapi belum bisa dipastikan apakah itu akibat penganiayaan atau bukan. Pernyataan itu berbeda dengan yang dia sampaikan sehari sebelumnya. Saat itu, dr Dewi Retno mendapati luka pada pada bagian leher, punggung dan perut korban. Selanjutnya, ia menyimpulkan, kematian korban disebabkan penganiayaan. Menurut dia, luka yang diderita TKW asal Dusun Kamal, Desa/Kecamatan Banyakan itu disebabkan tusukan pada bagian kanan perut yang diduga akibat tindakan bunuh diri. Dengan pernyataan terbaru penyebab kematian Binti Rosidatun itu, berarti hampir sama dengan hasil visum rumah sakit Riyadh, Arab Saudi. Sementara itu, Zainal Arifin, mewakili keluarga korban berencana mengajukan tuntutan secara hukum kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Riyadh. "Selain itu, kami juga menuntut majikan, dokter, dan kepolisian di sana atas tewasnya adik kami," kata Zainal Arifin. Dikatakan, KBRI harus bertanggungjawab atas misteri penyebab kematian adiknya itu. Apalagi, Zainal mengaku curiga terhadap KBRI yang mengabarkan bahwa Binti meninggal pada 21 Agustus lalu. Padahal, sesuai keterangan lampiran visum yang diterbitkan rumah sakit di Riyadh, ternyata Binti meninggal pada 30 Juni lalu, bukan 21 Agustus. Agus Prasetyo, staf Disnakertrans Kabupaten Kediri, yang ikut mejemput jenazah korban, mengungkapkan keterangan hasil visum rumah sakit Arab Saudi yang dikirim KBRI menyebutkan bahwa Binti pemegang paspor No G 348056 yang sudah habis masa berlakunya 29 September 2004 itu meninggal akibat bunuh diri pada 30 Juni 2004. Binti bekerja di Arab Saudi sejak 1997 dan pada 1999 telah habis masa kontraknya. "Karena itu, wajar jika proses pemulangan jenazah sempat terkatung-katung karena tidak ada PJTKI yang bertanggung jawab," tambah Agus. (gos) |KONTAK REDAKSI | MENCARI BERITA | BERITA ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

