Republika
Senin, 18 Oktober 2004

Kemisikinan Umat (Islam) dan Pemerintah baru
Oleh : Dr. KH. Tarmizi Taher


Sudah ratusan tahun dunia Islam telah "dijajah" oleh kolonialis Barat. 
Kemerdekaan negara yang berkembang tidak akan berarti apa-apa kalau tidak 
bisa melakukan navigasi diantara batu karang globalisasi. Suatu fakta yang 
sulit kita ingkari saat ini, umat Islam yang tertinggal dalam kompetisi 
global, baik politik, ekonomi, maupun militer. Akan tetapi, kita tidak perlu 
takut menghadapi globalisasi dengan bertindak emosi atau isolasi, tetapi 
kita harus berbenah diri menghadapi kompetisi di era global ini.
Maka, dalam era globalisasi ini, pemerataan ekonomi umat harus menjadi 
sasaran utama, supaya tidak terjadinya dualisme antara konglomerat dan umat 
yang sudah lama melarat. Pembangunan ekonomi yang tidak diarahkan untuk 
umat, hanya akan menghasilkan reaksi politik dalam konflik yang melelahkan, 
seperti yang kita alami selama beberapa tahun belakangan ini.
Kemiskinan bukan ketentuan Allah yang telah ditujukan kepada seseorang atau 
uma tertentu, sebagaimana pandangan determinisme-retrospektif yang memandang 
kemiskinan sebagai tragedi yang tak terhindarkan. Pandangan semacam ini 
menimbulkan sikap fatalis, yang menerima kemiskinan sebagai ketentuan dan 
garis hidup manusia.
Legitimasi terhadap sikap fatalis ini sering dicarikan pembenarannya melalui 
dukungan ayat al-Qur'an yang berbicara mengenai keimanan kepada takdir. 
Dalam konteks fatalisme, kemiskinan bukanlah sebuah persoalan yang harus 
dicarikan jalan keluarnya. Sebab dalam keyakinan fatalis, Allah tengah 
menguji keimanannya. Kesabaran dalam menjalani kemiskinan dipahami sebagai 
tanda ketinggian dan kemantapan iman.
Pendidikan dan Kemiskinan

Persoalan kemiskinan menjadi suatu bahasan yang menarik untuk disampaikan 
saat ini. Kemiskinan itu bukanlah sebuah kehinaan dan kejahatan. Namun 
kemiskinan dapat mengurangi kualitas hidup. Pendidikan yang berkualitas 
memerlukan dukungan finansial yang memadai. Maka, kemiskinan adalah masalah 
sosial yang harus diatasi.
Kemalasan dan kebodohan adalah dua faktor di antara beberapa faktor penyebab 
kemiskinan. Budaya tidak mau bekerja keras, ingin segera menikmati hasil, 
dan tidak punya hasrat intelektual, menjadi penyumbang terhadap munculnya 
kemiskinan. Kemampuan untuk mengatasi dan keluar dari sikap dan kondisi 
tersebut, menjadi penting dilakukan oleh setiap orang yang ingin keluar dari 
kemiskinan.
Namun, generalisasi terhadap penyebab kemiskinan bukanlah sikap yang 
bijaksana. Kemalasan seseorang tidak selalu menjadi faktor penyebab 
kemiskinan. Ada banyak orang yang rajin bekerja, tetapi penghasilannya tidak 
memadai. Pemulung dan pedagang asongan adalah diantaranya. Keuletan mereka 
dalam bekerja tidak diikuti dengan perolehan hasil yang setara. Begitu pula 
dengan kebodohan yang sering dituding sebagai penyebab kemiskinan. Di 
Indonesia sendiri, kemiskinan tidak "pandang bulu". Penduduk miskin terdiri 
dari penduduk yang terdidik dan tidak terdidik.
Bung Hatta dan sejumlah tokoh pergerakan lainnya begitu percaya, bahwa 
pendidikan adalah jalan untuk memetakan hari depan. Mereka, para Founding 
Fathers, begitu menyakini keterkaitan antara pendidikan dan kebangkitan. 
Melalui pendidikan, perubahan kultural dan struktural, evolutif maupun 
revolutif menjadi dimungkinkan. Inilah kebajikan utama dari dunia 
pendidikan. Kebajikan yang berlaku trans-individual dan bersifat 
historis-emansipatoris. Karena itulah, para elit dan pemimpin politik, 
mengutip Bung Hatta, seharusnya berdiri dalam posisi sebagai pendidik (guru) 
bagi bangsanya.
Karena kebajikan itu juga, pendidikan, sebagaimana dinyatakan oleh UUD, 
dimaknai sebagai instrumen mencerdaskan kehidupan bangsa. Ia memiliki tujuan 
yang saling berkaitan. Tujuan mikro yang berhubungan dengan pembebasan 
individu dari lilitan kebodohan dan keterbelakangan kognitif, dan tujuan 
makro yang berkaitan dengan miniatur masyarakat masa depan.
Koperasi
Koperasi salah satu jawaban yang dapat menggerakkan ekonomi umat. UKM 
merupakan pelengkap dari gerakan ekonomi umat. Kejujuran adalah syarat utama 
untuk memilih pengurus koperasi, pengawasan yang terbuka harus menjadi 
budaya koperasi. Kita tidak ingin lagi mengulangi penyakit lama, koperasi 
bangkrut tetapi pengurusnya hidup mewah. Sejak awal harus ditimbulkan budaya 
malu untuk melakukan korupsi.
Jaringan masjid adalah tempat awal yang baik mengembangkan koperasi dan UKM. 
Tidak perlu jaringan yang terlampau luas, seperti jaringan yang langsung 
berskala nasional. Sebagai langkah awal cukup 10-25 masjid dalam satu 
kampung atau kelurahan. Secara bertahap dan sistematis kita perluas. Makin 
luas jaringan koperasi, pengawasan harus makin ketat dan terbuka.
Menggunakan Bank dan mencari pasar atau komoditi yang sesuai dengan daerah 
masing-masing amat penting. Keamanan finansial jelas lebih terjamin pada 
Bank. Pasar tentunya makin luas kalau gerakan ekonomi koperasi dan UKM makin 
berhasil. Level nasional atau propinsi, cukup menjadi advisor atau 
consultant pada keadaan-keadaan sulit.
Penyusunan konsep ini juga harus melibatkan para intelektual dan ulama serta 
yang lebih penting adalah peran kreatif umat. Setelah konsep itu menjadi 
jelas, harus dapat disosialisasikan secara massal supaya dapat dimengerti 
oleh umat. Pengurus pada tingkat nasional cukup melahirkan konsep atau 
sebagai konsultan tingkat propinsi.
Pengurus tingkat propinsi bertindak sebagai konsultan bagi tingkat kabupaten 
dan kewalikotaan. Demikian juga dengan pengurus tingkat kabupaten atau 
kewalikotaan, menjadi konsultan tingkat kecamatan, dan seterusnya, hingga 
mencapai pada tingkat yang paling penting, yakni pada tingkat akar rumput 
(grass root).
Dari aksioma era modern kita dapat belajar, bahwa masyarakat modern atau 
masyarakat maju harus lebih terorganisir. Tanpa organisasi yang baik, maka 
umat Islam di Indonesia akan terus tertinggal. Suatu konsep membangun 
ekonomi umat dan rakyat dari masjid, harus melepaskan kepentingan pribadi 
dan politik. Oleh karena itu, interest yang perlu di bangkitkan adalah 
ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah kebangsaan.
Pekerjaan dan ide besar ini harus dapat digulirkan secara bertahap dan 
sistematis. Tanpa pengorganisasian yang baik dan strategi yang jelas, 
gerakan ekonomi umat dari masjid sulit aka tercapai. Bung Karno pernah 
berkata, "Tanpa kesungguhan untuk membenahi diri, kita akan menjadi bangsa 
kuli."
Pengusaha kecil harus menjadi perhatian pertama dan utama bagi pemerintahan 
baru. Mayoritas masyarakat kecil berharap perbaikan ekonomi akan berjalan 
dengan mulus pada masa pemerintah baru ini. Oleh karena itu, sikap mental 
para pejabat harus segera berubah, melayani rakyat bukan minta untuk 
dilayani rakyat.
Rektor Universitas Azzahra dan Ketua Dewan Direktur Center for Moderate 
Muslim (CMM) 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke