mendengar editorial Media Indonesia di METRO TV dan juga membaca di koran, saya rasa agak aneh juga. mengapa tidak aneh, soalnya itu khan sedikit banyak "menyindir" agung l**sono yang terkesan seolah-olah "belum ihklas" untuk melepas kemewahan sebagai ketua dewan (Volvo hanya salah satunya)
Padahal kalau tidak salah, dia khan sempat jadi salah satu Boss di Media Indoensia itu (cmiiw) apakah ini suatu pertanda baik bagi pers indonesia, dimana "redaktur' tak bisa lagi di dikte oleh pemegang saham. saya sendiri melihat bahwa keteladanan itu janganlah kita "layukan sebelum berkembang" -- tapi pupuk dan dukunglah. kebayang kalau ketua MPR kunjungan ke daerah tingkat II, pasti BUpati gak enak body pake Toyota Landcruiser II yang seharga diatas 1 M Adanya "kesederhanaan" ini juga akan membuat orang mulai berpikir bahwa jadi anggota dewan itu gak selamanya enak. soalnya selama ini, jd anggota legislatif itu cuma punya 2 dampak yaitu "enak" dan "paling enak". gak heran kalau orang berlomba-lomba jadi caleg biaya jd caleg ikut membengkak. hal mana niscaya pasti akan menjurus ke korupsi agar balik modal. dengan demikian, tak akan ada lagi anggota dewan yang minta "dana kadeudeuh" atau minta "ganti rugi" kalau diputus di tengah jalan, seolah-plah ada "imaginary profit" yang tak dapat diraih,... Siapa setia dalam perkara yang kecil, dia juga akan setia dalam perkara yang besar. jabat erat jangan hemat, AG ----- Original Message ----- From: "Goose I" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Monday, October 18, 2004 7:57 AM Subject: [Halo-Indonesia] Teladan Moral Pimpinan MPR > > Teladan Moral Pimpinan MPR > > HIDUP sederhana, yang dilontarkan pejabat publik, umumnya lebih bagus > di bibir daripada kenyataannya. Hebat sebagai slogan, tetapi busuk > dalam kenyataan. > > Konsistensi antara omongan dan perbuatan telah menjadi barang langka. > Integritas, sebagai salah satu kualitas pemimpin, telah lama hilang. > Yang menonjol adalah hipokrisi. > > Hasilnya, berbagai paradoks. Ketika negeri ini diterkam krisis, justru > semakin banyak mobil mewah yang berseliweran di jalan raya. Reformasi > datang, tetapi korupsi justru semakin menjadi-jadi. Itulah sebabnya, > pejabat publik, terutama anggota DPR, sangat alergis dengan eksistensi > Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara. Komisi ini lahir di > zaman reformasi, dan mati di zaman reformasi pula. > > Paradoks lain ialah rakyat semakin miskin, pengangguran meningkat, > tetapi nasib pejabat publik tetap elitis, terutama dalam fasilitas. > Mereka tetap mendapat kemudahan dan kenikmatan luxurious, baik sebagai > privilese maupun sebagai prestise jabatan. Di antaranya, mobil jabatan > maupun hotel dan kamarnya. > > Semuanya serbamahal dan berkelas, yang selama ini dipandang sebagai > sebuah 'kewajaran' yang melekat pada jabatan. Kemewahan yang telah > menjadi baku, yang lahir di zaman Orde Baru dan kemudian diteruskan di > masa reformasi. Menteri, pimpinan MPR dan DPR naik mobil merek Volvo, > sebagai contoh, adalah fasilitas standar jabatan yang memang > ditegakkan di masa Orde Baru, yang terus dipertahankan sekalipun > negara dalam krisis dan telah berganti-ganti presiden. > > Dan, tiba-tiba, kemewahan yang sudah 'lazim' itu, prestise dan > privilese yang telah menjadi 'standar' itu, sekarang ditolak oleh > pimpinan MPR yang baru. Mereka menolak mobil dinas merek Volvo dan > kamar hotel berkelas royal suite room. > > Sebuah keputusan yang mendapat dukungan publik, tetapi sebaliknya, > dinilai tidak efektif oleh Ketua DPR Agung Laksono. Katanya, "Itu > tidak efektif karena tidak akan memberikan dampak yang riil bagi > bangsa. Seharusnya dilakukan dalam skala besar, bukan satu dua orang > saja." > > Terobosan, memang mulanya dilakukan oleh satu dua orang saja. Invensi > dan inovasi, biasanya pun dilakukan oleh satu dua orang saja. Yang > memiliki visi, pun biasanya hanya satu dua orang saja, bukan massal. > Yang dilakukan pimpinan MPR adalah sebuah preseden, terobosan moral, > yang biasanya juga diprakarsai oleh satu dua orang saja. Di sinilah > berperan Ketua MPR yang baru, Hidayat Nur Wahid, memberi teladan > sebagai pejabat publik, yaitu menolak kemewahan fasilitas dinas, di > sebuah negeri dengan pengangguran 30 juta orang. > > Tidak banyak pejabat publik seperti Hidayat Nur Wahid, yang memiliki > keteguhan hati untuk tetap sederhana, setelah menjadi pejabat publik. > Umumnya justru memanfaatkan jabatan, demi kekayaan pribadi. > > Jika sikap itu diikuti semua pejabat publik secara nasional, termasuk > pimpinan DPR, maka dampaknya pasti nyata bagi bangsa. Keteladanan, > memang bukan untuk didebat atau dicemburui, tetapi untuk diikuti. > > http://www.mediaindo.co.id/editorial.asp?id=2004101700140205 > > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> $9.95 domain names from Yahoo!. Register anything. http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

