Kawans,
Akhirnya ada juga seorang wartawan yang menulis tentang Cikeas - sebuah nama yang kini banyak dibicarakan sejak SBY bakal 'dinobatkan' 20 Oktober 2004 mendatang. Apa hubungannya dengan Cendana? Taman Patra? Ciganjur? Kebagusan? Silakan simak tulisan Putu Setia di Koran Tempo ini. Cukup menggelitik, walau tak ditulis tentang mi ayam Cikeas, mi bakso Cikeas, harga properti di Cikeas yang konon kian membubung tinggi sejak SBY bakal naik tahta, walau ia nantinya akan tinggal di Istana. Ada juga situs www.cikeas.com, tapi begitu diklik ternyata jasa kurir..ooh... Salam, MediaCare! Koran Tempo, 17 Oktober 2004 Dari Cendana ke Cikeas Putu Setia Politik telah melahirkan kosakata baru atau istilah yang bikin kacau. Ketika Soeharto berkuasa, dan lama sekali berkuasa tak turun-turun, orang sering dibingungkan dengan kata-kata "Cendana". Koran dan majalah terbiasa dengan kalimat: "Menurut orang dekat Cendana...." Atau: "Siapa Gubernur yang terpilih tergantung Cendana." Cendana adalah nama jalan di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Sebuah rumah di situ--kemudian menjadi beberapa buah--adalah kediaman Presiden Soeharto. Seperti dimaklumi, "demi penghematan", Soeharto tak mau tinggal di Istana Merdeka, kediaman resmi yang disediakan oleh pendiri bangsa ini. Ia tetap tinggal di rumahnya yang sederhana (1967). Bertahun-tahun tinggal di sana, rumah sederhana yang terus bertambah dan tidak bisa digolongkan sederhana lagi, akhirnya menjadi simbol sebuah lembaga. Cendana bisa berarti Pak Harto itu sendiri, bisa pula berarti lembaga kepresidenan. Ketika Pak Harto turun digantikan B.J. Habibie, Istana Merdeka tetap sepi. Mungkin sadar jadi presiden hanya sebentar, Pak Habibie tetap tinggal di rumahnya yang belum mewah, Taman Patra Kuningan. Pada akhir lengsernya, rumah itu pun makin mewah, cuma karena terlalu singkat dan suasana politik hiruk-pikuk belum terdengar istilah Taman Patra sebagai kata yang menyaingi Cendana. Muncullah tiba-tiba Abdurrahman Wahid yang disapa Gus Dur. Beliau ringan kaki menuju Istana Merdeka, bahkan tak sungkan-sungkan mau difoto pakai celana pendek di Istana, sehingga kadang saya lupa itu presiden atau tukang kebun. Istilah Kiai Ciganjur yang sempat populer jadi redup. Media masa pun tak banyak membuat istilah, misalnya, "Menurut kalangan Ciganjur...." Tidak, istilah itu tak sempat muncul. Rumah Gus Dur di Ciganjur sederhana, berdekatan dengan masjid yang didirikannya. Saya berkali-kali datang ke rumah itu. Setelah Gus Dur lengser dari Istana Merdeka, dan kembali pulang ke Ciganjur, rumah itu tetap sederhana. Megawati menggantikan Gus Dur. Entah karena masa kecilnya sudah di Istana Merdeka, Ibu Mega tak mau tinggal di Istana ketika jabatan presiden itu dipegangnya. Saya lalu menduga, pastilah akan muncul istilah baru yang aneh dalam kosakata Indonesia: Kebagusan. Media massa akan menulis: "Menurut sumber-sumber di Kebagusan....." Ternyata dugaan saya sedikit salah. Meski Kebagusan masih dijadikan "rumah singgah", Ibu Megawati memilih rumah sederhana di Teuku Umar, kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Ini saya jamin sederhana, karena sebelumnya dipakai kantor macam-macam, bahkan kalau tak salah dipakai kantor mesin politiknya Golkar. Sejak itu, kata-kata Teuku Umar membuat orang jadi pusing jika tak melihat konteks berita. "Kalangan Teuku Umar yakin Megawati pasti menang...," begitu bunyi berita. Penjual bakso di Serpong bertanya pada saya: "Teuku Umar itu dari Aceh atau Padang, kok yakin Megawati menang?" Ini bukan soal pahlawan nasional Teuku Umar, ini nama jalan di mana Ibu Presiden tinggal. Dan begitulah, Teuku Umar sebagai sebuah rumah tempat tinggal presiden, berkembang dan beranak-pinak ke sebelah-sebelahnya, tak lagi sederhana, persis Cendana. Beberapa hari lagi, ketika Megawati tidak lagi menjabat presiden, pastilah rumah itu akan tetap menjadi sesuatu yang angker. Angker dalam pengertian masih dijaga. Dan angker dalam pengertian tak akan disentuh secara hukum, siapa sebenarnya yang punya harta itu, negara atau perorangan. Sim sa labim. Kini mencuat nama Cikeas, sebuah kampung di udik, yang sepuluh tahun lalu tempat jin buang anak. Dulu, kalau saya iseng-iseng dari Bogor ke Bekasi, sering lewat Cikeas, mata melirik kiri dan kanan melihat apakah ada tukang tambal ban. Setelah kampung ini berkembang, akses jalan tol dibuka dan permukiman mulai dibangun, saya pun suka melirik kiri kanan, di mana pantasnya membeli rumah. Sekarang, kalau kita ke Cikeas, pasti pula melirik kiri-kanan, di mana bisa parkir mobil agar bisa berjalan kaki menuju sebuah rumah besar dengan pekarangan luas yang bernama Puri Cikeas. Inilah rumah presiden terpilih, tempat bermukimnya keluarga Susilo Bambang Yudhoyono. Ke sinilah orang datang, ke sinilah pusat perhatian. Pengamat politik Andi Mallarangeng tiba-tiba jadi juru bicara dan berkata: "Pihak Cikeas sedang menyusun struktur kabinet, belum memanggil orang..." Siapa yang dimaksudkan pihak Cikeas? Bukan Kang Rahmat yang jualan mi ayam, tetapi pasti Pak Yudhoyono, sang presiden, atau tim Yudhoyono. Cikeas sudah jadi kosakata baru, bisa berarti orang, bisa berarti lembaga. Akankah Cikeas lama jadi kata-kata yang simpang siur artinya? Saya berharap tidak. Pak SBY pun sudah pernah bilang, beliau akan tinggal di Istana Merdeka selama menjadi presiden. Jika itu betul, syukur alhamdulillah. Bukannya saya tak suka dengan kata-kata yang berbau pedesaan ini, tetapi sangat khawatir, kalau Pak SBY tetap tinggal di sana, lima tahun lagi rumah tinggal ini akan melebar terus, menyeruduk rumah-rumah rakyat sekitarnya. Lalu tidak jelas dan akan jadi gunjingan (jika hukum tegak, jadi kasus hukum), kediaman presiden di luar Istana yang terus mekar selama masa jabatan, sebenarnya dibiayai siapa, ya? =============================== Mediacare: http://groups.yahoo.com/group/mediacare -- _______________________________________________ Find what you are looking for with the Lycos Yellow Pages http://r.lycos.com/r/yp_emailfooter/http://yellowpages.lycos.com/default.asp?SRC=lycos10 ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

