(SBY-JK) TANGGAPAN HASAN ZEIN MAHMUD TENTANG ESBEYENOMICS Kawans, Berikut saya sampaikan tanggapan dari bung Hasan Zein Mahmud (HZM) untuk tulisan bung Revrisond Baswir bertajuk 'Esbeyenomics' di harian Republika (Senin, 18 Oktober 2004). Bung HZM kini menjabat sebagai direktur utama Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) atau JFX (Jakarta Futures Exchange).
Saran dari bung HZM, pertumbuhan dan pemerataan ekonomi akan berjalan sekaligus, apabila pemerintahan SBY-JK menyumbat APBN yang bocor terlebih dulu. Kondisi yang juga harus dipenuhi: Tikus-tikus yang menilep duit rakyat itu, harus dijerat terlebih dahulu. Esbeyenomics? Inilah istilah baru yang harus kita akrabi mulai detik ini. Soehartonomics terbukti gagal mengangkat harkat hidup masyarakat Indonesia: yang kaya bertambah kaya, keluarga cendana dan kerabatnya rajin menumpuk harta, yang miskin kian tergencet saja, dan koruptor tetap saja merajalela. Lengsernya Soeharto lalu memunculkan istilah Habibienomics - namun sayangnya tak sempat teruji ketangguhannya karena Habibie cuma sekejap jadi Presiden. Abdurahmanomics? Megawatinomics? Kedua istilah itu sepertinya tak pernah dimunculkan tanpa alasan yang jelas. Tulisan Esbeyenomics berupaya menilai tim ekonomi dalam kabinet SBY-JK yang berdatangan ke Cikeas. Kita boleh optimis, boleh pesimis. Seorang teman bilang: "Kalau melihat figur-figur yang datang ke Cikeas beberapa hari terakhir ini, tampaknya bukan hanya Mega yg tertipu....." Tapi ia berupaya untuk bijak, "Bukankah tanggal 20 September lalu 60% rakyat Indonesia sudah sepakat memilih kucing dalam karung? Mestinya ya kita tetap sepakat mendukung kabinet kucing dalam karung..." Salam MediaCare! Radityo Djadjoeri PS: Pertanyaan untuk pakar bahasa: yang betul 'pedesaan' atau 'perdesaan'? Tolong bantuannya, agar saya dan juga masyarakat awam lainnya tidak bingung. --------------------------------------------------------------- TANGGAPAN BUNG HZM <[EMAIL PROTECTED]> 1. Menggembirakan bahwa SBY melihat salah satu titik lemah dalam kebijakan ekonomi selama ini. Pertama, ekonomi tidak akan menjadi lebih baik hanya dengan kutak-katik kebijakan fiskal dan moneter. Ia membutuhkan penggarapan sektor riil yang lebih serius. Kedua, industrialisasi harus dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan daya serap teknologi masyarakat, perkembangan sektor ekonomi pendukung serta ketersediaan infrastruktur penunjang. Tapi pemberdayaan ekonomi rakyat tidak harus berarti menepis peluang pemanfaatan potensi investasi global. Keduanya bisa dilakukan secara simultan. 2. Untuk kesekian kalinya: pertumbuhan ekonomi membutuhkan investasi. Sumber investasi itu, tidak tersedia cukup di dalam negeri, jadi harus menarik investasi dari luar. Namun seperti selalu saya tulis: faktor penentu arus investasi ini berada di luar domain ekonomi. Investasi hanya akan masuk bila pemerintah serius memerangi korupsi dan terorisme serta menjamin kepastian hukum. Inilah prioritas tertinggi dalam jangka pendek! 3. Modal asing memang cuma akan tertarik pada sektor tersier dan jasa, yang punya ciri padat modal, padat teknologi, padat pengetahuan. Alasannya sederhana, karena sektor modern ini menjanjikan marjin keuntungan yang tinggi. Cuma harus disadari bahwa investasi di sektor tersier dan jasa ini akan terkonsentrasi di urban area. Mungkin mampu memacu pertumbuhan ekonomi, tapi tidak banyak menyerap tenaga kerja dan tidak memiliki spill over yang besar dalam memeerbaiki nasib kaum miskin, terutama di pedesaan. 4. Maka, seyogianya ke sektor inilah investasi pemerintah harus difokuskan. Ke situlah APBN harus diarahkan. Membangun infrastruktur pertanian, meningkatkan ketrampilan para petani, memperbesar porsi micro financing, memacu perkembangan teknologi pertanian, membangun fasilitas bagi berkembangnya industri down streams kegiatan ekonomi yang berbasis pertanian, dst. 5. Bila betul begitu, kita bisa berharap pertumbuhan dan pemerataan akan berjalan sekaligus. Cuma untuk itu, kondisi pertama tadi harus dipenuhi: Bocor APBN harus disumbat terlebih dahulu. Tikus-tikus yang menilep duit rakyat itu, harus dijerat terlebih dahulu. Salam HZM ===================================== ESBEYENOMICS Oleh : Revrisond Baswir Republika, Senin, 18 Oktober 2004 Saya sangat beruntung memperoleh fotokopi ringkasan disertasi DR. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dari seorang kawan. Sebagai sebuah disertasi yang ditulis oleh seorang calon presiden, ringkasan disertasi tersebut tentu sangat penting dan perlu dibaca. Lebih-lebih bila disertasi yang bersangkutan baru saja dipertahankan beberapa pekan sebelum penulisnya dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia yang keenam. Sesuai dengan judul yang tertera pada sampul ringkasan disertasi itu, "Pembangunan Pertanian dan Perdesaan Sebagai Upaya Mengatasi Kemiskinan dan Pengangguran: Analisis Ekonomi-Politik Kebijakan Fiskal," secara cepat saya dapat menyimpulkan bahwa fokus studi SBY pada dasarnya tertuju pada peranan ekonomi negara. Bukan pada pembangunan pertanian dan perdesaan, dan bukan pula pada penanggulangan kemiskinan dan pengngguran. Artinya, walau pun penulisan disertasi tersebut dilakukan di Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB), dan walau pun gagasan yang ditawarkan SBY dalam disertasi itu secara langsung berkaitan dengan upaya penanggulangan kemiskinan dan pengangguran, namun dengan menambahkan anak judul "Analisis Ekonomi-Politik Kebijakan Fiskal," jelas sekali kelihatan bahwa pusat perhatian SBY pada dasarnya tertuju pada peranan strategis pemerintah dalam penyelenggaraan ekonomi nasional. Setelah membaca isinya, tiga catatan ringkas yang dapat saya buat dari ringkasan disertasi setebal 56 halaman tersebut adalah sebagai berikut: Pertama: SBY jelas sekali memiliki keprihatinan yang sangat mendalam terhadap masalah kemiskinan dan pengangguran yang sedang membelit Indonesia. Lebih-lebih setelah ekonomi Indonesia dilanda krisis moneter dan digiring oleh Dana Moneter Internasional (IMF) untuk melaksanakan kebijakan anggaran ketat yang sangat mementingkan stabilitas ekonomi makro. Krisis moneter dan kebijakan anggaran ketat tidak hanya menjadi pemicu terjadinya PHK di perkotaan, pada saat yang sama ia juga menjadi penyebab semakin terpinggirkannya pembangunan pertanian dan perdesaan. Kedua: SBY secara tepat memetakan bahwa masalah kemiskinan dan pengangguran yang dialami Indonesia terutama harus ditanggulangi dengan memacu pembangunan di sektor pertanian dan perdesaan. Ini tidak hanya karena mayoritas penduduk miskin dan pencari kerja tinggal di perdesaan, tetapi terutama karena ia meyakini bahwa peningkatan pembangunan pertanian dan perdesaan dapat berperan efektif dalam mengatasi masalah kemiskinan dan pengangguran. Bahkan, ia juga meyakini bahwa peningkatan pembangunan pertanian dan perdesaan dapat berperan sebagai poros perputaran roda ekonomi nasional. Ketiga: SBY dengan jelas memahami bahwa pemerintah memikul tanggung jawab yang sangat besar dalam mengatasi masalah kemiskinan dan pengangguran. Artinya, penangulangan masalah kemiskinan dan pengangguran tidak dapat begitu saja diserahkan pada bekerjanya mekanisme pasar. Sesuai dengan rasa keadilan dan amanat konstitusi (Pasal 34 dan Pasal 27 ayat 2), serta diperkuat oleh teori ekonomi makro yang dikemukakan oleh Keynes, melalui kebijakan fiskalnya, pemerintah memiliki kewajiban untuk turun tangan secara langsung dalam mengatasi kemiskinan dan pengangguran. Berdasarkan ketiga catatan ringkas itu, mudah dimengerti bila dalam rencana kerja seratus hari pertamanya, SBY memberi prioritas sangat tinggi pada penanggulangan korupsi dan revisi APBN. Penanggulangan korupsi sangat erat kaitannya dengan upaya memastikan terkumpulnya semua potensi pendapatan negara. Tindakan tersebut juga sangat erat kaitannya dengan upaya memastikan terhindarnya belanja negara dari berbagai bentuk pemborosan dan pembocoran. Sedangkan revisi APBN, sangat erat kaitannya dengan penajaman alokasi anggaran untuk mempercepat penanggulangan kemiskinan dan pengangguran melalui pembangunan pertanian dan perdesaan. Secara keseluruhan, kerangka berpikir ekonomi SBY (Esbeyenomics), sebagaimana terungkap dalam ringkasan disertasi itu, jelas sekali menampilkan watak yang berbeda dari kerangka berpikir ekonomi neoliberal yang beberapa tahun belakangan ini diterapkan IMF di Indonesia. Kerangka berpikir ekonomi neoliberal IMF, sebagai kelanjutan dari kerangka berpikir ekonomi kolonial, cenderung memposisikan ekonomi Indonesia hanya sebagai ujung. Pangkalnya diletakkan jauh-jauh oleh IMF di pusat-pusat perdagangan dan keuangan global. Sedangkan Esbeyenomics, dengan menjadikan kebijakan fiskal sebagai instrumen penting penanggulangan kemiskinan dan pengangguran, secara jelas bermaksud memutar ujung jadi pangkal. Artinya, dengan mengembalikan pangkal ekonomi Indonesia ke dalam negeri, Esbeyenomics secara tegas mengungkapkan hasrat untuk meningkatkan kemandirian ekonomi Indonesia. Bahkan, dengan menjadikan pembangunan pertanian dan perdesaan sebagai upaya untuk mengatasi kemiskinan dan pengangguran, Esbeyenomics secara tegas mengungkapkan hasrat untuk menjadikan sektor pertanian dan perdesaan sebagai poros perputaran roda ekonomi nasional. Pertanyaannya, sejauh manakah Esbeyenomics benar-benar akan tercermin, dimengerti, dan diamalkan oleh tim ekuin SBY-JK? Pertanyaan ini perlu diajukan, sebab sejauh dapat dipantau dari beberapa nama calon anggota tim ekuin SBY-JK, yang tampak agak mencolok adalah mencuatnya tanda-tanda terjadinya pengingkaran dini terhadap semangat dan orientasi Esbeyenomics. Dalam hal ini saya tentu tidak perlu menuding atau menyebut nama. Tetapi dari beberapa nama yang sejauh ini telah hadir di Cikeas, tempat kediaman SBY, kesan bias perkotaan dan bias pasar dari para calon anggota tim ekuin SBY-JK, cenderung tampak sangat kuat. Saya tentu berharap, kesan yang saya tangkap ini hanyalah sebuah kesan yang sangat dini. Atau, jangan-jangan, dari awal saya memang telah keliru dalam memahami Esbeyenomics? <http://www.republika.co.id/ASP/kolom_detail.asp?id=176011&kat_id=15> Mediacare: http://groups.yahoo.com/group/mediacare -- _______________________________________________ Find what you are looking for with the Lycos Yellow Pages http://r.lycos.com/r/yp_emailfooter/http://yellowpages.lycos.com/default.asp?SRC=lycos10 ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> $9.95 domain names from Yahoo!. Register anything. http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

