Salam!

KKN memang juga selama ini dijadikan kambing hitam kenapa 
Suhartonomics itu dikatakan gagal. Hal ini dikaitkan dengan adanya 
gap yang luar biasa antara yang-diperkaya dan yang-dipermiskin. 
Logikanya adalah, jika tidak ada KKN maka Suhartonomics itu bisa 
digolongkan "sukses."

Tapi, ada atau tidaknya KKN, yang namanya gap itu akan tetap ada. Di 
AS yang menjadi sumber teori dan bahkan braintrust-nya dan sumber 
dana bantuannya Suhartonomics, AS yang boleh dikatakan tidak ada KKN 
jika dibandingkan dengan negeri kita, toh gap itu juga tetap ada. 
Suhartonomics itulah juga yang dijalankan oleh Habibinomics, bahkan 
sudah dijalankan sebelum Suhartio lengser, yaitu ekonomi dengan 
biaya tinggi dan tekhnologi tinggi itu dengan menggusur Widjojo cs. 
Habibinomics ini malah melahirkan lebih banyak lagi penganggur 
karena pekerja digantikan dengan tekhnologi atas nama effisiensi dan 
demi "tinggal-landas," sehingga ketika Habibinomics diperaktikkan di 
masa menjelang jatuhnya Suharto, melahirkan lebih banyak lagi 
penganggur, dan rusaknya sistem perbankan kita yang puncaknya adalah 
krismon (krisis moneter) itu sehingga Suharto pun terjungkel -- 
Habibirnomics telah mempercepat jatuhnya Suharto!

Pemerintahan selanjutnya, di bawah Gus Dur dan Megawati berusaha 
keras untuk menjalankan roda ekonomi mereka, tetapi sistemnya masih 
tetap yang dipakai oleh Suharto yang diterima dari AS, hanya saja 
dengan tanpa adanya dana bantuan dari AS lagi, dengan keyakinan 
kalau secara makro bidang ekonomi bisa disehatkan maka ekonomi 
Indonesia akan kembali normal, artinya akan kembali ke 
jalan "kejayaan" Suharto. Apakah zaman "kejayaan" itu? Itu tak lebih 
dari keberhasilan meningkatkan pertumbuhan ekonomi, antara lain 
dengan naiknya GNP dan ekspor, dan lahirnya pengusaha-pengusaha 
besar nasional. Tapi bagaimana dengan gap antara kaya dan miskin? 
Sistem ekonomi Kapitalisme Liberal tidak memiliki perangkat dalam 
hal ini, kecuali meneyerahkannya kepada kebijakan politik dan 
sumbangan (charity, grant, hibah, dsb) dari yang kaya kepada yang 
miskin, sebagaimana terlibat praktiknya di AS. Tepat sekali Noam 
Chomsky mengungkapan hal ini dalam bukunya "Profit over people" itu. 
Di AS sekarang ada "Green Party" (bukan Green Peace) yang capresnya 
adalah Ralph Nader (orang Amerika keturunan Libanon yang kesohor 
karena gerakannya melindungi konsumen) punya pandangan berbeda dari 
Kerry/Demokrat maupun Bush/Republik. Nader sejalan dengan Chomsky. 
Jadi, menurut Nqade, musuh "the people" (baca: yang-dipermiskin) 
adalah Corporqations (terutama Multinational Corporations) yang 
tentulah kalangan kayaraya ini tergolong yang-diperkaya oleh sistem 
Kapitalisme Liberal itu.

Bagaimana halnya dengan SBYnomics? Saya belum membaca ringkasan 
disertasinya itu, jadi saya belum bisa berkomentar. (Ada yang punya? 
Tolong dikirimi saya - thanks!). Tapi dari apa yang diungkapkan oleh 
Baswir, maka sistem yang hendak diterapkan tak lain dari apa yang 
sudah pernah dipakai oleh Suharto, tetapi dengan tanpa KKN ditambah 
dengan membangun ekonomi pedesaan/kerakyatan. Jangan lupa, ekonomi 
pedesaan pun sudah pernah dibangun oleh Suharto, dan sukses. Tapi, 
ya selalu ada "tapi"-nya, yaitu tetap adanya gap tadi ditambah 
dengan KKN, serta monopoli. Jadi, seperti diungkapkan oleh judul 
buku Chomsky itu, maka sistem ini nanti akan selalu 
mengutamakan "profit" yang masuk kekocek yang-diperkaya saja, 
karenanya akan tetap melahirkan gap antara mereka yang-diperkaya dan 
mereka yang-dipermiskin. Karena konglomeratisasi tidak bisa 
dihindari dalam kancah dunia Kapitalisme Liberal, dan akibatnya 
adalah lahirnya "WMD" (Weapons of Mass Destrauction) a la Presiden 
Brazil "Mr. Lula" yaitu... kemiskinan struktural yang melahirkan 
adanya gap itu.

Silahkan baca buku Jerry Mander dkk "The Case Against Global 
Economy" dan "Alternatives to Economic Globalization"; David C. 
Korten "When the Corporations Rule the World" dan "The Post-
Corporate World"; Walden Bello "Dark Victory" dan "The Future in the 
Ballance"; Dan khusus tentang apa yang terjadi di Negara Ke-Tiga 
silahkan baca "Views from the South". Kalau mau lebih luas lagi 
referensinya tentang pemikiran altrernatif "beyond Kapitalisme, 
beyond Komunisme," silahkan buka www.ifg.or dan www.zmag.org dan 
situs kampanye Ralph Nader juga menarik.

Jauh sebelum munculnya pemikiran alternatif di luar pemikiran 
ekonomi Keynes dan Marx, silahkan baca buku Hernando de Soto. 

Jadi, kalau Margareth Tatcher mengatakan, bahwa setelah rezim 
Komunis tumbang dan Marxisme sudah mati, maka "There Is No Other 
Alternatives" (TINA) kecuali Kapitalisme Liberal, sekarang sudah 
muncul para pemikir sejak de Soto sampai kemudian munculnya kelompok 
pemikir berbagai kebanbgsaan di IFG (International Forum on 
Globalization), lalu menangnya "Mr. Lula" di Brazil, maka masalah 
dalam menghadapi masalah gap ini telah banyak alternatif di bidang 
politik ekonomi yang dimunculkan dalam bentuk teori maupun praktik. 
Jadi, alih-alih setuju kepada TINA-nya Tatcher, maka saya memilih 
TAMAL (There Are Many Alternatives) di luar Keynes dan Marx.

Nah, kembali soal SBYnonics itu, maka kalau kesimpulan Baswir benar, 
itu berarti politik ekonomi SBY bukanlah yang sejalan dengan 
Bush/Republik, tapi hanya sekedar sejalan dengan Kerry/Demokrat 
saja, dan kedua-duanya adalah penganut Keynes/Kapitalisme belaka. 
Padahal menurut saya, setelah kita keluar dari IMF, maka 
konskewensinya adalah kita harus meningghalkan TINA dan memasuki 
TAMAL dalam kancah percaturan politik ekonomi dunia sekarang ini.


Salam,
Ikra.-


--- In [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] wrote:
> (SBY-JK) TANGGAPAN HASAN ZEIN MAHMUD TENTANG ESBEYENOMICS
> 
> Kawans,
> Berikut saya sampaikan tanggapan dari bung Hasan Zein Mahmud (HZM) 
> untuk tulisan bung Revrisond Baswir bertajuk 'Esbeyenomics' di 
harian 
> Republika (Senin, 18 Oktober 2004). Bung HZM kini menjabat sebagai 
> direktur utama Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) atau JFX (Jakarta 
Futures 
> Exchange). 
> 
> Saran dari bung HZM, pertumbuhan dan pemerataan ekonomi akan
> berjalan sekaligus, apabila pemerintahan SBY-JK menyumbat APBN 
yang bocor
> terlebih dulu. Kondisi yang juga harus dipenuhi: Tikus-tikus yang 
> menilep duit rakyat itu, harus dijerat terlebih dahulu. 
> 
> Esbeyenomics? Inilah istilah baru yang harus kita akrabi mulai 
detik 
> ini. Soehartonomics terbukti gagal mengangkat harkat hidup 
masyarakat 
> Indonesia: yang kaya bertambah kaya, keluarga cendana dan 
kerabatnya
> rajin menumpuk harta, yang miskin kian tergencet saja, dan 
koruptor 
> tetap saja merajalela. 
> 
> Lengsernya Soeharto lalu memunculkan istilah Habibienomics - namun 
sayangnya tak sempat teruji ketangguhannya karena Habibie cuma 
sekejap jadi Presiden. 
> 
> Abdurahmanomics? Megawatinomics? Kedua istilah itu sepertinya tak 
> pernah dimunculkan tanpa alasan yang jelas.
> 
> Tulisan Esbeyenomics berupaya menilai tim ekonomi dalam kabinet 
SBY-JK
> yang berdatangan ke Cikeas. Kita boleh optimis, boleh pesimis. 
Seorang
> teman bilang: "Kalau melihat figur-figur yang datang ke Cikeas
> beberapa hari terakhir ini, tampaknya bukan hanya Mega yg 
tertipu....."
> Tapi ia berupaya untuk bijak, "Bukankah tanggal 20 September lalu 
> 60% rakyat Indonesia sudah sepakat memilih kucing dalam karung? 
> Mestinya ya kita tetap sepakat mendukung kabinet kucing dalam 
> karung..."
> 
> Salam MediaCare!
> 
> 
> Radityo Djadjoeri
> 
> PS: Pertanyaan untuk pakar bahasa: yang betul 'pedesaan' 
atau 'perdesaan'?
> Tolong bantuannya, agar saya dan juga masyarakat awam lainnya 
tidak 
> bingung. 
> 
> ---------------------------------------------------------------
> 
> TANGGAPAN BUNG HZM <[EMAIL PROTECTED]>
> 
> 1.
> Menggembirakan bahwa SBY melihat salah satu titik lemah dalam 
kebijakan
> ekonomi selama ini. Pertama, ekonomi tidak akan menjadi lebih baik 
> hanya dengan kutak-katik kebijakan fiskal dan moneter. Ia 
membutuhkan 
> penggarapan sektor riil yang lebih serius. Kedua, industrialisasi
> harus dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan daya serap 
> teknologi masyarakat, perkembangan sektor ekonomi pendukung serta 
> ketersediaan infrastruktur penunjang. Tapi pemberdayaan ekonomi 
rakyat
> tidak harus berarti menepis peluang pemanfaatan potensi investasi 
> global. Keduanya bisa dilakukan secara simultan.
> 
> 2.
> Untuk kesekian kalinya: pertumbuhan ekonomi membutuhkan investasi. 
> Sumber investasi itu, tidak tersedia cukup di dalam negeri, jadi 
harus 
> menarik investasi dari luar. Namun seperti selalu saya tulis: 
faktor 
> penentu arus investasi ini berada di luar domain ekonomi. 
Investasi 
> hanya akan masuk bila pemerintah serius memerangi korupsi dan 
terorisme
> serta menjamin kepastian hukum. Inilah prioritas tertinggi dalam 
> jangka pendek!
> 
> 3.
> Modal asing memang cuma akan tertarik pada sektor tersier dan jasa,
> yang punya ciri padat modal, padat teknologi, padat pengetahuan.
> Alasannya sederhana, karena sektor modern ini menjanjikan 
> marjin keuntungan yang tinggi. Cuma harus disadari bahwa investasi
> di sektor tersier dan jasa ini akan terkonsentrasi di urban area.
> Mungkin mampu memacu pertumbuhan ekonomi, tapi tidak banyak 
menyerap
> tenaga kerja dan tidak memiliki spill over yang besar dalam 
memeerbaiki
> nasib kaum miskin, terutama di pedesaan.
> 
> 4.
> Maka, seyogianya ke sektor inilah investasi pemerintah harus 
difokuskan.
> Ke situlah APBN harus diarahkan. Membangun infrastruktur 
pertanian, 
> meningkatkan ketrampilan para petani, memperbesar porsi micro 
financing,
> memacu perkembangan teknologi pertanian, membangun fasilitas bagi 
> berkembangnya industri down streams kegiatan ekonomi yang berbasis 
> pertanian, dst.
> 
> 5.
> Bila betul begitu, kita bisa berharap pertumbuhan dan pemerataan 
akan
> berjalan sekaligus. Cuma untuk itu, kondisi pertama tadi harus 
dipenuhi:
> Bocor APBN harus disumbat terlebih dahulu. Tikus-tikus yang menilep
> duit rakyat itu, harus dijerat terlebih dahulu.
> 
> Salam HZM   
> 
> =====================================
> ESBEYENOMICS 
> 
> Oleh : Revrisond Baswir
> Republika, Senin, 18 Oktober 2004
> 
> Saya sangat beruntung memperoleh fotokopi ringkasan disertasi DR. 
Susilo 
> Bambang Yudhoyono (SBY) dari seorang kawan. Sebagai sebuah 
disertasi 
> yang ditulis oleh seorang calon presiden, ringkasan disertasi 
tersebut 
> tentu sangat penting dan perlu dibaca. Lebih-lebih bila disertasi 
yang 
> bersangkutan baru saja dipertahankan beberapa pekan sebelum 
penulisnya 
> dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia yang keenam.
> 
> Sesuai dengan judul yang tertera pada sampul ringkasan disertasi 
itu, 
> "Pembangunan Pertanian dan Perdesaan Sebagai Upaya Mengatasi 
Kemiskinan 
> dan Pengangguran: Analisis Ekonomi-Politik Kebijakan Fiskal," 
secara 
> cepat saya dapat menyimpulkan bahwa fokus studi SBY pada dasarnya 
> tertuju pada peranan ekonomi negara. Bukan pada pembangunan 
pertanian 
> dan perdesaan, dan bukan pula pada penanggulangan kemiskinan dan 
> pengngguran.
> 
> Artinya, walau pun penulisan disertasi tersebut dilakukan di 
Sekolah 
> Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB), dan walau pun gagasan 
> yang ditawarkan SBY dalam disertasi itu secara langsung berkaitan 
dengan 
> upaya penanggulangan kemiskinan dan pengangguran, namun dengan 
> menambahkan anak judul "Analisis Ekonomi-Politik Kebijakan 
Fiskal," 
> jelas sekali kelihatan bahwa pusat perhatian SBY pada dasarnya 
tertuju 
> pada peranan strategis pemerintah dalam penyelenggaraan ekonomi 
> nasional. Setelah membaca isinya, tiga catatan ringkas yang dapat 
saya 
> buat dari ringkasan disertasi setebal 56 halaman tersebut adalah 
sebagai 
> berikut:
> 
> Pertama: SBY jelas sekali memiliki keprihatinan yang sangat 
mendalam 
> terhadap masalah kemiskinan dan pengangguran yang sedang membelit 
> Indonesia. Lebih-lebih setelah ekonomi Indonesia dilanda krisis 
moneter 
> dan digiring oleh Dana Moneter Internasional (IMF) untuk 
melaksanakan 
> kebijakan anggaran ketat yang sangat mementingkan stabilitas 
ekonomi 
> makro. Krisis moneter dan kebijakan anggaran ketat tidak hanya 
menjadi 
> pemicu terjadinya PHK di perkotaan, pada saat yang sama ia juga 
menjadi 
> penyebab semakin terpinggirkannya pembangunan pertanian dan 
perdesaan.
> 
> Kedua: SBY secara tepat memetakan bahwa masalah kemiskinan dan 
> pengangguran yang dialami Indonesia terutama harus ditanggulangi 
dengan 
> memacu pembangunan di sektor pertanian dan perdesaan. Ini tidak 
hanya 
> karena mayoritas penduduk miskin dan pencari kerja tinggal di 
perdesaan, 
> tetapi terutama karena ia meyakini bahwa peningkatan pembangunan 
> pertanian dan perdesaan dapat berperan efektif dalam mengatasi 
masalah 
> kemiskinan dan pengangguran. Bahkan, ia juga meyakini bahwa 
peningkatan 
> pembangunan pertanian dan perdesaan dapat berperan sebagai poros 
> perputaran roda ekonomi nasional.
> 
> Ketiga: SBY dengan jelas memahami bahwa pemerintah memikul 
tanggung 
> jawab yang sangat besar dalam mengatasi masalah kemiskinan dan 
> pengangguran. Artinya, penangulangan masalah kemiskinan dan 
pengangguran 
> tidak dapat begitu saja diserahkan pada bekerjanya mekanisme 
pasar. 
> Sesuai dengan rasa keadilan dan amanat konstitusi (Pasal 34 dan 
Pasal 27 
> ayat 2), serta diperkuat oleh teori ekonomi makro yang dikemukakan 
oleh 
> Keynes, melalui kebijakan fiskalnya, pemerintah memiliki kewajiban 
untuk 
> turun tangan secara langsung dalam mengatasi kemiskinan dan 
pengangguran.
> 
> Berdasarkan ketiga catatan ringkas itu, mudah dimengerti bila 
dalam 
> rencana kerja seratus hari pertamanya, SBY memberi prioritas 
sangat 
> tinggi pada penanggulangan korupsi dan revisi APBN. Penanggulangan 
> korupsi sangat erat kaitannya dengan upaya memastikan terkumpulnya 
semua 
> potensi pendapatan negara. Tindakan tersebut juga sangat erat 
kaitannya 
> dengan upaya memastikan terhindarnya belanja negara dari berbagai 
bentuk 
> pemborosan dan pembocoran. Sedangkan revisi APBN, sangat erat 
kaitannya 
> dengan penajaman alokasi anggaran untuk mempercepat penanggulangan 
> kemiskinan dan pengangguran melalui pembangunan pertanian dan 
perdesaan.
> 
> Secara keseluruhan, kerangka berpikir ekonomi SBY (Esbeyenomics), 
> sebagaimana terungkap dalam ringkasan disertasi itu, jelas sekali 
> menampilkan watak yang berbeda dari kerangka berpikir ekonomi 
neoliberal 
> yang beberapa tahun belakangan ini diterapkan IMF di Indonesia. 
Kerangka 
> berpikir ekonomi neoliberal IMF, sebagai kelanjutan dari kerangka 
> berpikir ekonomi kolonial, cenderung memposisikan ekonomi 
Indonesia 
> hanya sebagai ujung. Pangkalnya diletakkan jauh-jauh oleh IMF di 
> pusat-pusat perdagangan dan keuangan global.
> 
> Sedangkan Esbeyenomics, dengan menjadikan kebijakan fiskal sebagai 
> instrumen penting penanggulangan kemiskinan dan pengangguran, 
secara 
> jelas bermaksud memutar ujung jadi pangkal. Artinya, dengan 
> mengembalikan pangkal ekonomi Indonesia ke dalam negeri, 
Esbeyenomics 
> secara tegas mengungkapkan hasrat untuk meningkatkan kemandirian 
ekonomi 
> Indonesia. Bahkan, dengan menjadikan pembangunan pertanian dan 
perdesaan 
> sebagai upaya untuk mengatasi kemiskinan dan pengangguran, 
Esbeyenomics 
> secara tegas mengungkapkan hasrat untuk menjadikan sektor 
pertanian dan
> perdesaan sebagai poros perputaran roda ekonomi nasional.
> 
> Pertanyaannya, sejauh manakah Esbeyenomics benar-benar akan 
tercermin, 
> dimengerti, dan diamalkan oleh tim ekuin SBY-JK? Pertanyaan ini 
perlu 
> diajukan, sebab sejauh dapat dipantau dari beberapa nama calon 
anggota 
> tim ekuin SBY-JK, yang tampak agak mencolok adalah mencuatnya 
> tanda-tanda terjadinya pengingkaran dini terhadap semangat dan 
orientasi 
> Esbeyenomics.
> 
> Dalam hal ini saya tentu tidak perlu menuding atau menyebut nama. 
Tetapi 
> dari beberapa nama yang sejauh ini telah hadir di Cikeas, tempat 
> kediaman SBY, kesan bias perkotaan dan bias pasar dari para calon 
> anggota tim ekuin SBY-JK, cenderung tampak sangat kuat. Saya tentu 
> berharap, kesan yang saya tangkap ini hanyalah sebuah kesan yang 
sangat 
> dini. Atau, jangan-jangan, dari awal saya memang telah keliru 
dalam 
> memahami Esbeyenomics?
> 
> <http://www.republika.co.id/ASP/kolom_detail.asp?
id=176011&kat_id=15>
> 
> 
> Mediacare: http://groups.yahoo.com/group/mediacare
> 
> 
> 
> -- 
> _______________________________________________
> Find what you are looking for with the Lycos Yellow Pages
> 
http://r.lycos.com/r/yp_emailfooter/http://yellowpages.lycos.com/defa
ult.asp?SRC=lycos10





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke