Dalam Soliloqui Malam:
INTELEKTUAL METROSEKSUAL
Oleh Tangkisan Letug
Jogja beberapa tahun lalu masih memberikan aroma
kesederhanaan, juga di kalangan intelektualnya. Tetapi
akhir tahun lalu, ketika bersama kawan-kawan bertemu,
ada kesan baru. Kaum intelektual Jogja sepertinya
sudah terjangkit trend baru: Metroseksual!
Gejala metroseksual ditandai dengan penampilan yang
serba trendy dan selalu menjaga imej ("Jaim" istilah
kaum muda yang sudah populer pula di kalangan
intelektual kota). Bahkan ada seorang kawan mengatakan
demikian, "Untuk menjaga jiwa profesional, kita perlu
menjaga imej. Salah satunya ada penampilan di kantor
yang selalu berdasi."
Benarkah demi profesionalisme intelektual seseorang
perlu sampai mengurbankan penampilan sederhana?
Mungkin orang akan berargumentasi, bahwa kesederhanaan
bisa juga tampil dalam cara berpenampilan rapih. Dasi
yang telah menjadi simbol profesionalitas seakan
sedang naik daun.
Tetapi suatu ketika, dalam sebuah layatan di desa,
berbondong-bondonglah orang-orang berdasi menyampaikan
belasungkawa. Namun apa yang terjadi? Justru
orang-orang di desa menjadi enggan untuk menyambut
dengan ramah. Ada jarak yang amat terasa antara
kondisi kesederhanaan riil orang-orang desa dengan
penampilan dosen-dosen kota (teman-teman dari salah
seorang anak dari keluarga yang sedang berduka).
Seakan-akan semakin dikontraskan antara kultur
metroseksual dan "ruralseksual".
***
Presiden kita terpilih amat dikenal sebagai orang yang
berpenampilan necis. Persis gaya pria metroseksual.
Tidaklah mengherankan bila media berhasil mengangkat
kepopuleran dari sekedar penampilan lahiriah. Tidak
heran pula banyak rakyat pemilih terutama ibu-ibu yang
dikatakan terpikat oleh sekedar penampilan lahiriah.
Seandainya kita mau menempatkan deretan presiden
Republik Indonesia nanti, dari ukuran metroseksual,
barangkali hanya presiden kita terpilih kinilah yang
memenuhi persyaratan. Sudah ganteng, kata pengagumnya,
pinter, jendral, bertitel doktor pula. Lengkaplah
sudah atribut yang bisa dikenakan padanya.
Dari seorang presiden terpilih yang berpenampilan
metroseksual itu, kita bisa juga mengherani munculnya
intelektual-intelektual sekulturnya. Maksudnya,
intelektual metroseksual yang sejak kampanye yang lalu
giat sekali mempromosikan dan membela mati-matian.
Ciri intelektual metroseksual adalah ketenarannya
karena pengaruh media lebih daripada prestasi
intelektualnya. Prestasi intelektual di sini maksudnya
adalah semangat penemuan barunya yang tidak terjebak
pada kilauan kekuasaan dan kepopulerannya. Boleh jadi
kepopuleran dicari demi pemasaran ide-idenya.
Ada lagi ciri yang amat mencolok dari golongan
intelektual metroseksual ini, yakni penampilan diri
yang serba trendy. Dasi dan necis seakan-akan sebagai
gawang profesionalisme.
Tentu saja seorang intelektual tetaplah seorang yang
bebas memasarkan ide-idenya. Termasuk ide-ide
metroseksual itu juga. Bila seorang yang pemikirannya
cetek tetapi berperilaku metroseksual dan seakan-akan
merekalah yang memiliki otoritas representasi
keintelektualan jamannya, tentulah hal itu sejarah
sendiri yang akan membuktikannya. Akankah pemikirannya
yang dikenang orang ataukah sekedar penampilan
metroseksual yang ditinggalkan.
Dalam kalangan seni lukis kita mengenal seorang besar
seperti Basuki Abdullah. Ia dikenal karena karya-karya
besarnya yang mencerminkan jati dirinya. Ia dikenal
seorang seniman yang berpenampilan necis, tetapi
"necis" pula karya-karya lukisnya. Orang mengenang
Basuki Abdullah tidak hanya lewat keseriusan
lukisannya yang elegan, tetapi juga bagaimana dia
sendiri menampilkan dirinya elegan.
Namun demikian, dalam sejarah Romawi kita juga bisa
menemukan tokoh seperti Caligula yang senang
berpenampilan "metroseksual", dan hidup dalam serba
dalam "pesta dunia". Penampilan "metroseksual" ala
Romawi-nya telah dipakai sebagai kedok hatinya yang
berciri vampire, yang haus darah dan haus kepuasan
nafsu rendahnya. Rakyat-nya yang sudah menderita tidak
jarang dikorbankan demi pesta poranya di istana. Gaya
metroseksual-nya telah mencerminkan "basic instinct"
yang sebenarnya sedang menguasai dirinya.
Kalau seorang pemimpin metroseksual bersekutu dengan
kaum intelektual metroseksual, tentu hal itu tidak ada
yang aneh. Bahkan memang sudah menjadi kecenderungan
kodratnya: Yang sama memilih yang sama. Tetapi yang
perlu dicermati adalah bahwa kecenderungan kultur
metroseksual yang hanya sekedar menutupi keburukan dan
kejahatan yang sebenarnya sedang menjadi kuat dalam
"basic instinct" mereka.
Kawan saya masih belum yakin oleh kekuatan deseptif
(menipu) kultur seksual. Apalagi bila itu dikenakan
oleh seorang pemimpin yang telah dinyatakan populis
karena kebanyakan rakyat telah mengidolakannya.
Yang amat memprihatinkan lagi, bila kultur
metroseksual yang sebenarnya sekedar menjadi kultur
advertisment telah dianggap sebagai suatu simbol
profesionalisme seorang intelektual. Nah, di sini
tampak kontradiksinya. Semangat menipu dipakai untuk
menjamin semangat meng-ilmu. Lalu, kalau demikian,
intelektual metroseksual itu tak lebih daripada
sekedar intelektual yang memiliki ilmu-menipu.
Tidaklah mengherankan sekarang ini banyak orang-orang
yang ingin menjadi intelektual metroseksual lewat
membeli ijasah dan gelar-gelar doktoral. Sebab,
bukankah gelar-gelar itu dianggap tak lebih sebagai
bagian dari advertisement (baca: kampanye) kepopuleran
saja untuk meraih dorongan "basic instinct"-nya?
19 Oktober 2004
_______________________________
Do you Yahoo!?
Express yourself with Y! Messenger! Free. Download now.
http://messenger.yahoo.com
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/