http://www.kompas.com/kompas-cetak/0410/20/opini/1337691.htm
Rabu, 20 Oktober 2004

Peran Sejarah SBY-JK
Oleh Riswandha Imawan

RABU 20 Oktober 2004 bukan sekadar menandai "puncak" perjuangan politik di 
Indonesia. Bukan sekadar melantik Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai 
Presiden dan Jusuf Kalla (JK) sebagai Wakil Presiden. Lebih penting dari 
itu, hari ini menandai "awal" pembuktian keabsahan beberapa inovasi 
(perubahan) politik yang dilakukan menjelang dan selama proses Pemilu 2004.
SBY-JK menanggung beban sejarah yang tidak kepalang tanggung. Mereka harus 
membuktikan, perubahan struktur dan mekanisme ketatanegaraan mengikuti 
amandemen terhadap UUD 1945, cocok untuk kebutuhan bangsa Indonesia. Mereka 
dituntut membuktikan, pemerintahan dengan koalisi minoritas dapat berjalan 
stabil menghadapi koalisi mayoritas di parlemen (DPR). Mereka wajib 
membuktikan, perubahan sistem pemilu menjamin tidak ada lagi masalah 
legitimasi politik, serta tidak terjadinya distorsi antara kehendak rakyat 
dengan kebijakan pemerintah. Paling krusial, mereka harus mewujudkan angin 
pembaharuan yang sudah lama didambakan rakyat.
MEREKA sudah melakukan langkah-langkah proporsional sekaligus memberi nuansa 
baru dalam kepolitikan di Indonesia. Pemilihan calon Menteri dilakukan 
transparan, kabinet kerja (zaken cabinet) dirancang, dan transisi 
pemerintahan dilakukan tanpa mengganggu kualitas pelayanan publik. Sekilas 
langkah-langkah ini tampak menjamin SBY-JK mampu melaksanakan tugas 
kesejarahannya. Namun ada beberapa catatan yang perlu diwaspadai.
Pertama, secara teoritis tetap digunakan format kabinet pelangi yang 
berpotensi mengurangi efektivitas kerja kabinet. Kecilnya perolehan suara 
Partai Demokrat yang mengusulkan SBY-JK, membuat pasangan ini harus 
menggalang koalisi kekuatan minoritas. Dikumpulkannya kekuatan 
"kecil-kecil", berpotensi mengurangi bobot profesionalitas dan mengedepankan 
pertimbangan politik dalam menentukan calon menteri. Ini bisa disimak dari 
pernyataan beberapa calon menteri, mereka mewakili partai politik, atau 
namanya disodorkan oleh partai.
Tidak hanya itu. Banyak tokoh individual yang merasa memiliki andil 
memenangkan SBY-JK meminta jasa setimpal. Bahkan para free riders, para 
pahlawan kesiangan yang awalnya pesaing (setidaknya pendukung pesaing) 
SBY-JK, tiba-tiba masuk lingkaran dalam pasangan ini. Mereka tertarik dengan 
kekuasaan yang ada, dan siap meloncat ke tempat lain bila kelak kekuasaan 
SBY-JK meredup. Hingga tidak berlebihan bila disebut ada bom waktu di kapal 
yang hendak dikemudikan SBY-JK.
Kedua, cara penyaringan calon menteri masih kental aroma cara rezim 
Soeharto. Para calon dipanggil melalui telepon untuk menghadap satu-persatu, 
diajak ngobrol sambil menjajagi loyalitasnya pada SBY-JK. Repotnya, proses 
ngobrol ini tidak melibatkan JK, sehingga patut dipertanyakan apa peran JK 
sebagai Wapres nanti. Ini patut dicermati, sebab jika JK hanya berperan 
seremonial, yang secara eksplisit diutarakan tidak disukai oleh JK, maka 
format politik akan kembali ke masa rezim Soeharto.
Bila ini dikaitkan isi kontrak yang-menurut keterangan beberapa calon 
Menteri-berisi pernyataan loyalitas pada Presiden, pola hubungan yang 
tercipta antara Presiden dan para Menteri boleh jadi kembali ke pola 
hubungan antara Raja dan Hulu Balangnya. Mudah-mudahan loyalitas yang 
dimaksud adalah loyal pada misi pemerintahan demi bangsa dan negara, hingga 
SBY-JK dapat melihat sikap kritis sebagai bentuk dukungan, bukan 
pembangkangan.
KETIGA, ada inkonsistensi logika antara pernyataan kabinet bekerja segera 
setelah dilantik 20 Oktober 2004 dengan kesiapan melakukannya. Berita 
terakhir menyatakan ada pemecahan departemen dan pembentukan departemen 
baru, sehingga jumlah anggota kabinet lebih banyak dibanding kabinet Gotong 
Royong.
Logika saja, untuk departemen yang baru dibentuk, para Menteri akan bekerja 
dengan siapa? Apakah mereka akan membuat konsep, mengetik, dan mengantar 
suratnya sendiri? Lalu untuk Departemen yang dipecah, apakah rincian tugas 
(job description) serta pembagian pegawai (man power) sudah dilakukan? Bila 
tidak, dan tiap menteri langsung tancap gas dengan program yang telah 
dipresentasikan ke SBY-JK, tumpang tindih (over lapping) sulit dihindari 
yang bisa mengorbankan efektivitas kerja kabinet.
Menurut pakar Ilmu Pemerintahan yang juga mantan Menneg PAN, Prof Ryaas 
Rasyid, untuk membentuk struktur satu departemen dibutuhkan waktu empat-enam 
bulan. Itu artinya kabinet akan kesulitan memenuhi janji 100 hari 
pemerintahan SBY-JK. Ini berbahaya, sebab tuntutan dan harapan rakyat 
demikian tinggi kepada pasangan ini, dan mereka meng-iya-kan harapan itu.
Keempat, ada inkonsistensi antara tekad SBY-JK membangun good and democratic 
government yang fokus utamanya efisiensi dan pemberatasan korupsi, dengan 
kenyataan meluasnya struktur kelembagaan kabinet. Good and democratic 
government menganut prinsip "miskin struktur, kaya fungsi." Maksudnya, 
fungsi-fungsi yang ada (dan berkembang) sedapat mungkin diserap ke dalam 
struktur yang tersedia, sehingga terciptalah slim and lean government.
Kita saksikan, jumlah Departemen dalam kabinet SBY-JK lebih banyak dibanding 
kabinet Gotong Royong. Dalam Ilmu Politik dikenal regression development 
concept. Yakni konsep yang menggambarkan, pengembangan Departemen akan 
membuat struktur kabinet tidak bisa bekerja secara efektif akibat terjerat 
jaring hubungan yang mirip benang kusut. Repotnya menghadapi situasi ini 
orang tidak sabar dan lebih suka mengambil jalan pintas. Inilah bibit 
korupsi itu. Karena itu, agak mengherankan bila kita menganggap kabinet 
Gotong Royong gagal memberantas korupsi, sementara kabinet SBY-JK membangun 
struktur yang lebih kompleks lagi.
Kelima, inkonsistensi juga terasa dalam proses penjaringan calon Menteri. 
Bila benar-benar berpegang pada transparansi dan merit system, maka 
seharusnya proses diawali dengan deskripsi mengenai fungsi jabatan, syarat 
yang diperlukan, serta adanya beberapa calon untuk jabatan itu. Kita 
saksikan, untuk satu jabatan ada 4-5 calon, sementara untuk jabatan lain 
hanya tersedia satu atau bahkan "terpaksa" diadakan. "Kehebatan" orang yang 
ditunjuk, dengan demikian bisa sedikit luntur. Bukan mustahil bisa 
menurunkan akuntabilitas publik terhadap seorang Menteri.
Lima catatan ini patut disodorkan pada langkah awal SBY-JK. Masa memuja 
sudah berakhir. Kini SBY-JK membutuhkan partisipasi kritis-analitis dari 
kita, warga negara Republik Indonesia. SBY-JK dipilih secara langsung oleh 
rakyat, maka layak dikatakan, apapun yang terjadi mulai hari ini adalah 
pertaruhan bangsa dan negara Indonesia akan nasibnya sendiri. Bila kita 
gagal dengan eksperimen politik ini, maka kita akan segera berhadapan dengan 
kehancuran total yang boleh jadi mengembalikan perjalanan sejarah kembali ke 
titik nol lagi.
Riswandha Imawan Guru Besar Ilmu Politik FISIP Universitas Gadjah Mada 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke