(SBY-JK) GUS DUR SENTIL JUSUF KALLA

Kawans,
Baru saja dilantik pagi tadi, SBY-JK sudah 'disentil' Gus Dur.
Ia meminta SBY untuk memberi peringatan kepada JK agar tidak diskriminatif dalam 
memperlakukan pengusaha pribumi dan Tionghoa. Gus Dur menilai hal tersebut bisa 
melanggar UUD 45.

Saat ditemui wartawan Sinar Harapan di kantornya beberapa waktu lalu, JK menyinggung 
Peristiwa Mei 1998. Menurut Kalla, peristiwa itu dipicu oleh kemarahan masyarakat 
terhadap jurang kaya-miskin yang terjadi di Indonesia. 

(Betulkah begitu kejadiannya? Murnikah peristiwa itu karena dipicu oleh kecemburuan 
sosial saja? Walahualam)

Kalla pernah mengungkapkan pengalamannya berdialog dengan 
pengusaha keturunan Tionghoa. "Jangan disembunyikan masalah republik ini. Harus 
terbuka. Ini kepentingan Anda (pengusaha Tionghoa-red)," ujarnya. 
Yang bikin ketir-ketir para keturunan Tionghoa adalah pernyataannya 
berikut ini: "Kalau banyak orang miskin, banyak pengusaha kaki lima 
yang didorong-dorong kiri kanan, tahun depan siapa yang akan dia bakar?
Anda yang akan dibakar. Suka mana? Suka diskriminasi atau suka kau 
dibakarin, diburu-buru. Anda enak bawa duit keluar negeri kalau terjadi
apa-apa. Saya terbuka begitu. Saya tidak pernah tutup-tutupi." 

Diskriminasi No! Kesetiakawanan Yes! Bagaimana menurut Anda?

Salam MediaCare!


Radityo Djadjoeri

-----------------------------------------------

ARTIKEL DARI DETIK COM:

19/10/2004 22:47 WIB 
Gus Dur Minta SBY Ingatkan Kalla Jangan Diskriminatif
Baru saja dilantik, Jusuf Kalla sudah bikin ulah. 

Reporter: M. Rizal Maslan 

detikcom - Jakarta, Ketua Mutasyar PBNU KH Abdurrahman Wahid meminta 
SBY memperingatkan Jusuf Kalla agar tidak diskriminatif dalam 
memperlakukan pengusaha pribumi dan Tionghoa. Gus Dur menilai hal 
tersebut bisa melanggar UUD 1945. "Saya minta SBY untuk bicara ke 
Jusuf Kalla bahwa ini masalah yang sangat sensitif dan kenapa harus 
ditimbulkan. Kalau diskriminasi seperti itu, saya akan menentang."
Demikian ungkap Gus Dur saat menerima pengaduan dari Perhimpunan 
Indonesia-Tionghoa di Kantor PBNU, Jl. Kramat Raya, Jakarta Pusat, 
Selasa (19/10/2004).

Dalam pertemuan tersebut, sejumlah tokoh Tionghoa, antara lain Romo 
Benny dan Frans Hendra Winarta mengadukan Kalla atas pernyataan di 
sejumlah media massa yang akan membedakan perlakuan terhadap pengusaha 
berdasarkan kelompok usaha kecil, menengah dan besar. Apalagi, menurut 
mereka, Kalla juga mengatakan akan membela pengusaha pribumi untuk 
menghilangkan sentimen anti-Tionghoa, sehingga kaum Tionghoa tidak 
menjadi sasaran kemarahan masyarakat. "Kalau ada usaha yang keliru 
seperti konglomerat hitam, itu soal lain. Kita selesaikanlah melalui 
jalur hukum. Tidak bisa dengan diskriminasi terhadap suatu kelompok 
tertentu," tukas Gus Dur. Dia menganggap pernyataan Kalla tersebut 
sangat emosional. "Pernyataan Kalla itu sangat emosional dan tidak 
pakai akal yang sehat. Saya bersedia mati untuk itu, karena sejak dulu 
saya memperjuangkan hak anti-diskriminasi," ujarnya.

Gus Dur mengaku heran mendengar pernyataan Kalla. "Semestinya semua 
warga negara berpegang pada UUD 1945, dan itu terasa tidak pantas 
dilakukan oleh Jusuf Kalla," kata mantan presiden ini. Dia berharap 
masyarakat Tionghoa untuk tetap bekerja seperti biasa. "Soal Jusuf 
Kalla nanti kita selesaikan belakangan, karena ini masalah politik 
yang tidak bisa diselesaikan satu dua hari. Tapi kalau sudah institusi
TNI yang ngomong, itu baru kita khawatir," demikian Gus Dur. 

Sumber: detikcom

---
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0410/12/sh01.html

Jusuf Kalla:
Perlakuan ke Kelompok Pengusaha Akan Dibedakan

Jakarta, Sinar Harapan
Wakil Presiden terpilih Jusuf Kalla mengatakan, pihaknya akan 
membedakan perlakuan terhadap para pengusaha berdasarkan kelompok. 
Para pengusaha dari kelompok usaha kecil dan menengah (UKM) akan 
diperlakukan lebih baik dibanding pengusaha dari kelompok besar. Hal 
seperti ini pernah diatur dalam Keputusan Presiden No.16 Tahun 1994 
tentang Pelaksanaan APBN.

"Kalau Malaysia menerapkan ras, kita harus menerapkan berdasarkan 
kelompok," ujar Kalla dalam perbincangan dengan SH di ruang 
kerjanya, baru-baru ini. Tindakan ini diambil guna mengurangi jurang 
kaya dan miskin yang semakin lebar di Indonesia. Menurut Kalla, 
pemberian bunga untuk pengusaha kecil sebesar 30 persen dan untuk 
pengusaha besar sebesar 15 persen adalah tidak adil. Karena itu, 
pembedaan perlakuan pemerintah terhadap pengusaha berdasarkan 
kelompok harus segera direalisasikan. 

Misalkan, dalam penjelasan Pasal 21 ayat (5) Keppres No.16/1994 
disebutkan, yang termasuk perusahaan golongan ekonomi lemah adalah 
perusahaan yang sebagian besar modalnya (50 persen ke atas) dimiliki 
oleh golongan ekonomi lemah. Menariknya, dalam penjelasan tersebut juga
disebutkan bahwa sebagian besar golongan ekonomi lemah terdiri dari 
orang Indonesia asli. Disebutkan: "untuk sementara, pemberian kesempatan kepada 
golongan 
ekonomi lemah itu diberikan kepada orang Indonesia asli."

Penjelasan ini membuat kebijakan yang akan diterapkan pemerintahan 
Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla dikhawatirkan tergelincir pada 
sikap diskriminatif. Menanggapi hal ini, Kalla berkomentar, "Ya sebetulnya, tanpa 
disebut 
pun, 90 -95 persen pengusaha kecil itu pribumi."

Kalla sendiri tidak khawatir dianggap diskriminatif dengan 
menerapkan kebijakan ini. Menurutnya, kebijakan ini justru menjadi 
solusi bagi pengusaha Tionghoa yang mayoritas memegang perusahaan 
besar, agar tidak menjadi sasaran kemarahan masyarakat akibat 
lebarnya jurang kaya-miskin di Indonesia. 

Menurut Kalla, menguatnya ekonomi dari kelompok UKM yang mayoritas 
pribumi justru akan menghilangkan sentimen anti-Tionghoa. 

Kalla menyebut peristiwa Mei 1998 dipicu oleh kemarahan masyarakat 
terhadap jurang kaya-miskin yang terjadi di Indonesia. "Jangan 
disembunyikan masalah republik ini. Harus terbuka. Ini kepentingan 
Anda (pengusaha Tionghoa-red), saya bilang. Kalau banyak orang 
miskin, banyak pengusaha kaki lima yang didorong-dorong kiri kanan. 
Tahun depan siapa yang akan dia bakar? Anda yang akan dibakar. Suka 
mana? Suka diskriminasi atau suka kau dibakarin, diburu-buru. Anda 
enak bawa duit keluar negeri kalau terjadi apa-apa. Saya terbuka 
begitu. Saya tidak pernah tutup-tutupi," kata Kalla menceritakan 
pengalamannya berdialog dengan pengusaha Tionghoa. 

Realokasi Dana 
Dalam kesempatan terpisah, mantan Ketua Umum Dewan Koperasi 
Indonesia, Sri-Edi Swasono, mengatakan bahwa pemerintah baru harus 
melakukan realokasi dana besar-besaran untuk menggerakkan usaha 
kecil. Karena dengan keberpihakan pada usaha kecil berarti juga 
membangun bangsa dan negara. Karena itu perlu ada upaya strategis, 
tidak cukup hanya keberpihakan. 

"Membangun ekonomi rakyat harus betul-betul substantif dan 
menggunakan sumber daya yang ada dan mampu menggerakkan 
produktivitas rakyat. Sangat keliru membangun usaha kecil dengan 
hanya memberikan residu," katanya. 

Sri-Edi menekankan, alokasi dana untuk usaha kecil sangat minim 
bahkan dalam penyalurannya juga tidak sampai pada sasaran. Dia 
mencontohkan, Kredit Usaha Tani (KUT) senilai Rp 8,6 triliun 
akhirnya penyalurannya lebih banyak menyimpang. Usaha kecil 
merupakan ekonomi rakyat. Upaya menggerakkan ekonomi rakyat ini 
harus berbasis akar rumput, sumber daya dan berorientasi pada orang.

Sementara usaha menengah, menurut Sri-Edi, selama ini menjadi beban 
bagi usaha kecil dengan melakukan eksploitasi dan kadang-kadang 
berperan sebagai predator. Usaha menengah sebagian hanya menjadi 
brokrer atau distributor untuk usaha kecil. "Memang tidak semua 
usaha menengah demikian tetapi prioritas pemerintah harus usaha 
kecil karena usaha menengah jumlahnya juga sedikit," katanya. 
(san/emy/das/mis) 

-------------------------------------------------------

Hari ini launching menu baru, dari Waroeng Rakjat :

Es Beye
Jus Kalla

Selamat menikmati

---------------------------------------------------------


Mediacare: http://groups.yahoo.com/group/mediacare



-- 
_______________________________________________
Find what you are looking for with the Lycos Yellow Pages
http://r.lycos.com/r/yp_emailfooter/http://yellowpages.lycos.com/default.asp?SRC=lycos10



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke