Memang sebagian besar pengusaha kecil adalah pribumi dan jeleknya lagi sebagian besar pengusaha pribumi ini tidak pernah bisa bertahan lama dalam bidang usahanya apa bila sudah mendapat pinjaman modal yang agak besar sering melenceng dari tujuan semula sebelum mengajukan kredit dsb, dsb. beberapa contoh telah saya perhatikan baik di kota saya tinggal maupun di kota yang sering saya kunjungi seperti jawa tengah, jawa timur maupun jawa barat, mereka (pengusaha pribumi) sering mengeluhkan tambahan modal usahanya tetapi begitu diberikan modal tambahan mereka bukannya memperbesar usahanya malahan membangun rumah, beli mobil, beli motor dsb, yang semuanya tidak menunjang keberhasilan usahanya secara langsung, maka dari itulah seringkali pengusaha pribumi gagal dalam membangun usahanya agar lebih maju, saya sendiri sering memberikan contoh-2 teknik usaha kecil dalam bidang peternakan ayam, puyuh, lele dsb. dan contoh yang saya berikan bukan sekedar teori melainkan saya terapkan sendiri berdasarkan pengelaman bisnis saya sendiri. saat ini saya masih menyisakan usaha peternakan perkutut yang saya bangun dari aset hanya dengan modal Rp. 500.000,- tahun 1999 sekarang jumlah aset saya baru mencapai sekitar Rp. 5 - 10 jutaan artinya dari hanya sepetak kandang dengan sepasang induk perkutut sekarang saya memiliki 29 pasang indukan & kandang produksi walaupun menurut saya ini belum merupakan prestasi yang istimewa karena target hasil produksi meraih juara nasional belum tercapai artinya saya masih perlu melakukan inovasi dalam bisnis perkutut saya ini. andaikan semua pengusaha pribumi memiliki semangat juang seperti yang saya miliki dan pasti dimiliki pengusaha keturunan apabila sedang menekuni suatu bisnis mungkin enggak perlu lagi harus adanya diskriminasi atau hak istimewa antara pribumi dan nonpri, inilah sulitnya memajukan pengusaha kecil khususnya pribumi agar mereka bergerak lebih maju & berkembang menjadi pengusaha sukses tanpa harus meminta hak istimewa sebagai pribumi dsb. dsb....... salammmmmmmmmm.
Kawans, Baru saja dilantik pagi tadi, SBY-JK sudah 'disentil' Gus Dur. Ia meminta SBY untuk memberi peringatan kepada JK agar tidak diskriminatif dalam memperlakukan pengusaha pribumi dan Tionghoa. Gus Dur menilai hal tersebut bisa melanggar UUD 45. Saat ditemui wartawan Sinar Harapan di kantornya beberapa waktu lalu, JK menyinggung Peristiwa Mei 1998. Menurut Kalla, peristiwa itu dipicu oleh kemarahan masyarakat terhadap jurang kaya-miskin yang terjadi di Indonesia. (Betulkah begitu kejadiannya? Murnikah peristiwa itu karena dipicu oleh kecemburuan sosial saja? Walahualam) Kalla pernah mengungkapkan pengalamannya berdialog dengan pengusaha keturunan Tionghoa. "Jangan disembunyikan masalah republik ini. Harus terbuka. Ini kepentingan Anda (pengusaha Tionghoa-red)," ujarnya. Yang bikin ketir-ketir para keturunan Tionghoa adalah pernyataannya berikut ini: "Kalau banyak orang miskin, banyak pengusaha kaki lima yang didorong-dorong kiri kanan, tahun depan siapa yang akan dia bakar? Anda yang akan dibakar. Suka mana? Suka diskriminasi atau suka kau dibakarin, diburu-buru. Anda enak bawa duit keluar negeri kalau terjadi apa-apa. Saya terbuka begitu. Saya tidak pernah tutup-tutupi." Diskriminasi No! Kesetiakawanan Yes! Bagaimana menurut Anda? Salam MediaCare! Radityo Djadjoeri ----------------------------------------------- ARTIKEL DARI DETIK COM: 19/10/2004 22:47 WIB Gus Dur Minta SBY Ingatkan Kalla Jangan Diskriminatif Baru saja dilantik, Jusuf Kalla sudah bikin ulah. Reporter: M. Rizal Maslan detikcom - Jakarta, Ketua Mutasyar PBNU KH Abdurrahman Wahid meminta SBY memperingatkan Jusuf Kalla agar tidak diskriminatif dalam memperlakukan pengusaha pribumi dan Tionghoa. Gus Dur menilai hal tersebut bisa melanggar UUD 1945. "Saya minta SBY untuk bicara ke Jusuf Kalla bahwa ini masalah yang sangat sensitif dan kenapa harus ditimbulkan. Kalau diskriminasi seperti itu, saya akan menentang." Demikian ungkap Gus Dur saat menerima pengaduan dari Perhimpunan Indonesia-Tionghoa di Kantor PBNU, Jl. Kramat Raya, Jakarta Pusat, Selasa (19/10/2004). Dalam pertemuan tersebut, sejumlah tokoh Tionghoa, antara lain Romo Benny dan Frans Hendra Winarta mengadukan Kalla atas pernyataan di sejumlah media massa yang akan membedakan perlakuan terhadap pengusaha berdasarkan kelompok usaha kecil, menengah dan besar. Apalagi, menurut mereka, Kalla juga mengatakan akan membela pengusaha pribumi untuk menghilangkan sentimen anti-Tionghoa, sehingga kaum Tionghoa tidak menjadi sasaran kemarahan masyarakat. "Kalau ada usaha yang keliru seperti konglomerat hitam, itu soal lain. Kita selesaikanlah melalui jalur hukum. Tidak bisa dengan diskriminasi terhadap suatu kelompok tertentu," tukas Gus Dur. Dia menganggap pernyataan Kalla tersebut sangat emosional. "Pernyataan Kalla itu sangat emosional dan tidak pakai akal yang sehat. Saya bersedia mati untuk itu, karena sejak dulu saya memperjuangkan hak anti-diskriminasi," ujarnya. Gus Dur mengaku heran mendengar pernyataan Kalla. "Semestinya semua warga negara berpegang pada UUD 1945, dan itu terasa tidak pantas dilakukan oleh Jusuf Kalla," kata mantan presiden ini. Dia berharap masyarakat Tionghoa untuk tetap bekerja seperti biasa. "Soal Jusuf Kalla nanti kita selesaikan belakangan, karena ini masalah politik yang tidak bisa diselesaikan satu dua hari. Tapi kalau sudah institusi TNI yang ngomong, itu baru kita khawatir," demikian Gus Dur. Sumber: detikcom --- http://www.sinarharapan.co.id/berita/0410/12/sh01.html Jusuf Kalla: Perlakuan ke Kelompok Pengusaha Akan Dibedakan Jakarta, Sinar Harapan Wakil Presiden terpilih Jusuf Kalla mengatakan, pihaknya akan membedakan perlakuan terhadap para pengusaha berdasarkan kelompok. Para pengusaha dari kelompok usaha kecil dan menengah (UKM) akan diperlakukan lebih baik dibanding pengusaha dari kelompok besar. Hal seperti ini pernah diatur dalam Keputusan Presiden No.16 Tahun 1994 tentang Pelaksanaan APBN. "Kalau Malaysia menerapkan ras, kita harus menerapkan berdasarkan kelompok," ujar Kalla dalam perbincangan dengan SH di ruang kerjanya, baru-baru ini. Tindakan ini diambil guna mengurangi jurang kaya dan miskin yang semakin lebar di Indonesia. Menurut Kalla, pemberian bunga untuk pengusaha kecil sebesar 30 persen dan untuk pengusaha besar sebesar 15 persen adalah tidak adil. Karena itu, pembedaan perlakuan pemerintah terhadap pengusaha berdasarkan kelompok harus segera direalisasikan. Misalkan, dalam penjelasan Pasal 21 ayat (5) Keppres No.16/1994 disebutkan, yang termasuk perusahaan golongan ekonomi lemah adalah perusahaan yang sebagian besar modalnya (50 persen ke atas) dimiliki oleh golongan ekonomi lemah. Menariknya, dalam penjelasan tersebut juga disebutkan bahwa sebagian besar golongan ekonomi lemah terdiri dari orang Indonesia asli. Disebutkan: "untuk sementara, pemberian kesempatan kepada golongan ekonomi lemah itu diberikan kepada orang Indonesia asli." Penjelasan ini membuat kebijakan yang akan diterapkan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla dikhawatirkan tergelincir pada sikap diskriminatif. Menanggapi hal ini, Kalla berkomentar, "Ya sebetulnya, tanpa disebut pun, 90 -95 persen pengusaha kecil itu pribumi." Kalla sendiri tidak khawatir dianggap diskriminatif dengan menerapkan kebijakan ini. Menurutnya, kebijakan ini justru menjadi solusi bagi pengusaha Tionghoa yang mayoritas memegang perusahaan besar, agar tidak menjadi sasaran kemarahan masyarakat akibat lebarnya jurang kaya-miskin di Indonesia. Menurut Kalla, menguatnya ekonomi dari kelompok UKM yang mayoritas pribumi justru akan menghilangkan sentimen anti-Tionghoa. Kalla menyebut peristiwa Mei 1998 dipicu oleh kemarahan masyarakat terhadap jurang kaya-miskin yang terjadi di Indonesia. "Jangan disembunyikan masalah republik ini. Harus terbuka. Ini kepentingan Anda (pengusaha Tionghoa-red), saya bilang. Kalau banyak orang miskin, banyak pengusaha kaki lima yang didorong-dorong kiri kanan. Tahun depan siapa yang akan dia bakar? Anda yang akan dibakar. Suka mana? Suka diskriminasi atau suka kau dibakarin, diburu-buru. Anda enak bawa duit keluar negeri kalau terjadi apa-apa. Saya terbuka begitu. Saya tidak pernah tutup-tutupi," kata Kalla menceritakan pengalamannya berdialog dengan pengusaha Tionghoa. Realokasi Dana Dalam kesempatan terpisah, mantan Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia, Sri-Edi Swasono, mengatakan bahwa pemerintah baru harus melakukan realokasi dana besar-besaran untuk menggerakkan usaha kecil. Karena dengan keberpihakan pada usaha kecil berarti juga membangun bangsa dan negara. Karena itu perlu ada upaya strategis, tidak cukup hanya keberpihakan. "Membangun ekonomi rakyat harus betul-betul substantif dan menggunakan sumber daya yang ada dan mampu menggerakkan produktivitas rakyat. Sangat keliru membangun usaha kecil dengan hanya memberikan residu," katanya. Sri-Edi menekankan, alokasi dana untuk usaha kecil sangat minim bahkan dalam penyalurannya juga tidak sampai pada sasaran. Dia mencontohkan, Kredit Usaha Tani (KUT) senilai Rp 8,6 triliun akhirnya penyalurannya lebih banyak menyimpang. Usaha kecil merupakan ekonomi rakyat. Upaya menggerakkan ekonomi rakyat ini harus berbasis akar rumput, sumber daya dan berorientasi pada orang. Sementara usaha menengah, menurut Sri-Edi, selama ini menjadi beban bagi usaha kecil dengan melakukan eksploitasi dan kadang-kadang berperan sebagai predator. Usaha menengah sebagian hanya menjadi brokrer atau distributor untuk usaha kecil. "Memang tidak semua usaha menengah demikian tetapi prioritas pemerintah harus usaha kecil karena usaha menengah jumlahnya juga sedikit," katanya. (san/emy/das/mis) ------------------------------------------------------- Hari ini launching menu baru, dari Waroeng Rakjat : Es Beye Jus Kalla Selamat menikmati --------------------------------------------------------- Mediacare: http://groups.yahoo.com/group/mediacare -- _______________________________________________ Find what you are looking for with the Lycos Yellow Pages http://r.lycos.com/r/yp_emailfooter/http://yellowpages.lycos.com/default.asp?SRC=lycos10 *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups SponsorADVERTISEMENT --------------------------------- Yahoo! Groups Links To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. --------------------------------- Do you Yahoo!? vote.yahoo.com - Register online to vote today! [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> $9.95 domain names from Yahoo!. Register anything. http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

