http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2004/10/20/o2.htm

Mahatma Gandhi, tokoh pergerakan India yang melandasi perjuangannya pada 
nilai-nilai Hindu mengatakan, ''Jangan tukar kebebasanmu dengan apa pun.'' 
Artinya, Gandhi sangat mengusung kebebasan sebagai nilai yang tertinggi. 
Sebab, Hinduisme sebenarnya juga mengusung kebebasan (Moksha) sebagai nilai 
yang tertinggi. Tradisi, upacara, keluarga, adat dan ikatan-ikatan lainnya 
dapat ditinggalkan. Kalau pada kehidupan ini tidak bisa meninggalkan itu, 
kematian akan memaksa manusia untuk meninggalkannya. Tetapi, semangat untuk 
mencapai pembebasan (Moksha) hendaklah tidak pernah ditinggalkan dalam 
setiap kelahiran dan kematian.
-----------------------------

Pilkada Langsung Ancaman bagi Institusi Lokal?
Oleh I Gede Sutarya

MEKANISME pemilihan kepala daerah (pilkada) langsung menjadikan partai 
politik sebagai satu-satunya jalur dalam rekruitmen kepemimpinan daerah, 
tanpa melibatkan institusi lainnya. Tetapi, partai politik ternyata tidak 
bisa hanya mengandalkan instrumen partainya untuk memenangkan pilihan 
rakyat. Pemilihan presiden langsung membuktikan bahwa mereka tidak memiliki 
massa loyal secara langsung, tetapi hanya berbasiskan massa mengambang. Pada 
kondisi seperti itu, institusi lokal seperti desa pakraman, dadya (kelompok 
klan) dan peguyuban lainnya yang bermassa loyal bisa menjadi lirikan para 
politisi untuk memenangkan calonnya. Tidakkah ini menjadi ancaman bagi 
institusi lokal ini? Mungkinkah secara sosial kultural, institusi ini 
menjadi alat politik dalam pilkada nanti?
------------------------------
Partai-partai politik di Indonesia lahir dari sebuah pergerakan nasional 
pada masa kolonial. Pada pergerakan nasional itu tidak ada kelas sosial atau 
ideologi yang dipertentangkan. Sebab, semua rakyat Indonesia ketika itu 
berada pada satu kelas, yaitu kelas rakyat yang terjajah. Jadi, semangat 
yang dibangun adalah semangat nasionalisme (kebangsaan) untuk melawan 
penjajahan. Karena itu, ideologi pergerakan nasional ini hanyalah satu, 
yaitu nasionalisme. Demikian juga kelas yang diperjuangkan cuma satu, yaitu 
kelas kaum terjajah.
Akan tetapi, dalam perjalanannya, pergerakan nasional ini terdiri atas 
berbagai sayap perjuangan. Ada yang berbasiskan nasionalisme religius dan 
nasionalisme sekuler. Sayap-sayap pergerakan nasional inilah yang berkembang 
menjadi partai politik di Indonesia sampai saat ini. Sehingga, memang tidak 
ada partai politik yang berbasiskan kelas atau ideologi, seperti misalnya 
kelas buruh dan kelas pemodal. Bahkan, secara ideologi, partai-partai 
politik yang ada, menjadi sangat mirip. Corak partai politik seperti ini 
mirip dengan corak partai politik di Amerika karena memiliki latar belakang 
yang sama, yaitu partai politik yang lahir dari pergerakan nasional melawan 
Inggris.
Kesamaan ideologi ini akhirnya mendorong partai-partai politik hanya 
berbasiskan kepada massa mengambang. Partai-partai politik seperti ini tentu 
mesti bisa ''bermain isu'' untuk memenangkan pilihan rakyat.
''Permainan isu'' ini terkadang bisa memanfaatkan sentimen-sentimen kelompok 
agama, etnis dan yang lainnya. Pengalaman partai-partai politik di India 
yang juga memiliki latar belakang yang sama dengan Indonesia, menunjukkan 
hal itu. Kemenangan Bharatya Janata Party (BJP) tidak akan bisa dilepaskan 
dari isu Ayodya yang merupakan isu agama yang telah berlangsung 
berabad-abad. Partai-partai politik di Indonesia, bukan tidak mungkin akan 
terjebak pada permainan isu-isu seperti itu. Apalagi, Indonesia belumlah 
secara jelas memisahkan ranah politik dan agama sebagai sesuatu yang 
terpisah. India yang telah tuntas dalam melakukan sekulerisasi politik 
terkadang juga terseret dalam isu-isu seperti itu. Sehingga, kondisi 
Indonesia yang belum tegas untuk melakukan sekulerisasi politik, lebih 
berpotensi untuk terseret dalam isu-isu agama dan etnis dalam perhelatan 
politik.
Potensi Keretakan
Posisi Indonesia yang secara umum seperti itu, akan berpengaruh sampai ke 
daerah-daerah. Sehingga, pada konteks Bali, isu-isu sub-etnis (klan) bukan 
tidak mungkin dimainkan dalam rangka memperebutkan jabatan kepala daerah. 
Pengalaman di India menunjukkan bahwa ada satu partai yang berani memainkan 
isu persentase pengangkatan pegawai negeri untuk golongan masyarakat 
tertentu. Sebab, isu-isu yang memanfaatkan sentimen etnis, agama dan 
golongan tradisional lainnya ini ternyata memang efektif untuk mengangkat 
salah satu partai politik ke permukaan menjadi wacana publik. Dalam masalah 
ini, institusi lokal bisa menjelma menjadi kekuatan politik nonformal (di 
luar partai politik) untuk menyokong kekuatan politik dari partai tertentu.
Pengalaman masyarakat Bali menunjukkan bahwa kondisi seperti itu kerap 
menimbulkan keretakan pada institusi lokal. Sebab, institusi lokal masih 
berpola kebersamaan. Belum adanya kedewasaan dalam mengelola perbedaan 
mengakibatkan, ketika terjadi perbedaan, mereka biasanya memanfaatkan 
kekuasaan tradisional, seperti pengucilan dan sejenisnya, untuk memaksa 
anggotanya. Pendekatan seperti ini bisa melemahkan institusi lokal tersebut. 
Bahkan, pendekatan ini bisa memecah kekuatan institusi lokal tersebut ke 
dalam berbagai kelompok kepentingan. Karena itu, keretakan-keretakan pada 
institusi lokal akan semakin mengejala. Dapatkah institusi lokal ini keluar 
dari masalah seperti itu?
Secara teks, institusi lokal ini memang tergambar bisa mengatasi masalah 
seperti ini. Sebab, mereka lahir dalam suatu masa untuk mengelola berbagai 
perbedaan di tengah masyarakat. Seperti pakraman yang lahir dari konflik 
berbagai keyakinan dan subak yang lahir dari konflik distribusi sumber daya 
air di Bali. Tetapi kenyataannya, mereka seringkali terjebak pada 
pragmatisme kepentingan institusi lokal tersebut. Seperti dalam kerangka 
membangun pura, balai banjar, upacara dan sejenisnya. Pragmatisme ini memang 
bisa menyelesaikan sebagian masalah di permukaan, seperti masalah keuangan. 
Tetapi, mereka menyisakan masalah masa depan yang sangat besar, yaitu tidak 
terbangunnya kemandirian masyarakat. Padahal, kemandirian inilah yang 
menjadi kekuatan institusi lokal tersebut. Dari kemandirian inilah, 
institusi lokal sebenarnya telah melahirkan berbagai kreativitas budaya yang 
mengagumkan, baik secara bersama maupun secara individual. Karena itu, 
pragmatisme yang terkadang terjadi ini merupakan pragmatisme yang 
destruktif -- bukan pragmatisme konstruktif -- dari institusi-institusi 
lokal tersebut. Sebab, pragmatisme ini telah menjadi kekuatan pembelenggu 
proses kreativitas di tengah masyarakat.
Mahatma Gandhi, tokoh pergerakan India yang melandasi perjuangannya pada 
nilai-nilai Hindu mengatakan, ''Jangan tukar kebebasanmu dengan apa pun.'' 
Artinya, Gandhi sangat mengusung kebebasan sebagai nilai yang tertinggi. 
Sebab, Hinduisme sebenarnya juga mengusung kebebasan (Moksha) sebagai nilai 
yang tertinggi. Tradisi, upacara, keluarga, adat dan ikatan-ikatan lainnya 
dapat ditinggalkan. Kalau pada kehidupan ini tidak bisa meninggalkan itu, 
kematian akan memaksa manusia untuk meninggalkannya. Tetapi, semangat untuk 
mencapai pembebasan (Moksha) hendaklah tidak pernah ditinggalkan dalam 
setiap kelahiran dan kematian. Demikianlah Weda-weda menempatkan pembebasan 
sebagai tujuan tertinggi (Paramartha). Institusi lokal Bali yang berbasiskan 
nilai seperti ini sebenarnya juga memiliki tujuan tertinggi tersebut. Karena 
itu, institusi ini mesti Ambek Paramartha, artinya berperilaku sebagai 
institusi dalam rangka untuk mencapai tujuan tertinggi.
Mencapai Pembebasan
Institusi lokal di Bali, dapat diibaratkan seperti sebuah perguruan. Mereka 
mengangkat derajat para anggotanya setahap demi setahap untuk mencapai 
pembebasan. Kelompok dadya misalnya, pada masa terakhirnya berkaitan erat 
dengan kajang yang digunakan pada saat kematian. Isi daripada kajang 
tersebut adalah aksara-aksara pembebasan yang merupakan intisari dari 
filsafat kehidupan di dalam Hinduisme. Aksara-aksara ini merupakan 
penjabaran dari filsafat Samkya yang menerangkan sejarah kelahiran manusia 
sampai mencapai pembebasan. Jadi, inti pembebasan ini hendaknya tidak 
dimaknai pada saat kematian saja, tetapi juga pada saat kehidupan ini. 
Sehingga, kelompok ini haruslah menjadi kekuatan pendorong bagi kebebasan 
anggotanya untuk berkreativitas di dunia ini.
Desa pakraman dan subak sebenarnya juga intitusi yang meletakkan tujuan 
akhirnya pada sebuah keharmonisan. Keharmonisan adalah proses peleburan 
(nyomya). Peleburan ini adalah proses penghilangan identitas keduniawian 
menuju sebuah keadaan spiritual yang tanpa identitas. Keadaan tanpa 
identitas adalah sebuah keadaan yang secara filosofis digambarkan sebagai 
keadaan pembebasan. Sebab, roh yang mencapai keadaan ini akan terbebas dari 
berbagai bentuk dan identitas. Mereka akan melebur pada kenyataan yang 
abadi. Jadi, desa pakraman dan subak juga meletakkan cita-citanya pada 
pembebasan. Karena itu, tentulah akan sangat bertentangan jika mereka 
menjadi sebuah lembaga yang membelenggu kebebasan warganya.
Pada konteks pembangunan demokrasi sekarang ini, jelas institusi-institusi 
lokal ini mesti berada pada titik untuk mendukung sebuah demokratisasi yang 
lebih hakiki. Yaitu terbangunnya kebebasan masyarakat dari semua 
belenggu --bukan sebaliknya menjadi kekuatan/kekuasaan baru yang membelenggu 
warganya. Sehingga, nantinya akan lahir suatu kreativitas yang abadi.
Penulis, Ketua Aliansi Pemuda Adat Bali, tinggal di Bangli 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke