SURAT KEMBANG KEMUNING:


"HARI SASTRA INDONESIA" PERTAMA DI PARIS [10].



Seperti telah kusebutkan di atas, Reinier Salverda telah menjadikan hubungan 
tradisional triangulaire ini sebagai obyek sentral penelitiannya sejak tahun 1990. 
Berdasarkan penelitian Reinier sampai sekarang, ternyata hubungan tradisional 
triangulaire ini mendapat ruang besar [vaste] dalam di dunia kesusastraan, lebih-lebih 
yang berbicara tentang hubungan antara Indonesia dan Negeri Belanda dalam konteks 
hubungan kolonialis. Artinya karya-karya sastra bisa dijadikan salah satu sumber 
penelitian sejarah. 


Dalam kajian ini, Reinier selain menerapkan metode perbandingan dan sudut pandang 
internasional, ia juga  menggunakan pendekatan sejarah dan kritik. Reinier Salverda 
mengambil sebagai misal, kasus E.du Perron,pengarang Indo-Belanda tapi juga dipandang 
oleh pihak Perancis sebagai sastrawan Perancis dan  yang biografinya ditulis oleh 
pengarang Belanda, Kees Snoek dan akan terbit di musim gugur 2004 ini. Edward du 
Perron tidak lain dari sahabat akrab pengarang Perancis Andr� Malraux, menteri 
kebudayaan pemerintah Charles de Gaulle dan menjadi salah seorang sastrawan yang 
disemayamkan di makam putera-puteri terbaik Perancis, Pantheon, bersama-sama dengan 
A.Dumas, Balzac, Victor Hugo, pejuang anti fasis beraliran Trotskisme, kental akan 
tradisi hubungan orientalis. Karya penting Andr� Malraux,  La Condition Humaine, 
sebuah roman berlatarsejarah masakre pemerintah Kuo Min Tang Chiang Kaishek  pada 
tahun 1926, justru didedikasikan oleh Andr� kepada sobatnya E.du Perron. E. du Perron 
juga merupakan sahabat dekat Sutan Sjahrir dan pernah melakukan debat politik-sastra 
dengan Sjahrir. Melalui kajian tentang hubungan tradisional triangulaire begini, ujar 
Reinier, kita akan mendapatkan hal-hal menarik. Dan aku pribadi melihat melalui studi 
begini,kita juga akan melihat betapa hubungan antara bangsa dan negeri itu saling 
bertautan dan saling pengaruh-mempengaruhi. Kemudian menyaksikan betapa planet kecil 
kita ini memang milik bersama semua anak manusia lalu mempertanyakan tidakah etnik, 
nasion dan  negeri hanyalah perbatasan  semua bagi kemanusiaan tapi karena ia 
dilahirkan oleh kondisi dan tuntutan sejarah tertentu, ia patut dipertimbangkan. 
Barangkali melalui penelitian ala Reinier kita pun akan sampai pada titik bahwa 
sejarah dunia sekarang terlalu Euro-sentris dan sejarah Indonesia terlalu Jawa-sentris 
sehingga semuanya perlu ditulis ulang.Universalisme kukira justru dalam artian bahwa 
kita penghuni bersama planet yang menjadi milik bersama pula. Universalisme tidak 
berarti berada di luar engagement [keberpihakan]. Engagement adalah sikap berpihak 
pada kemanusiaan dan usaha pemanusiawiaan. Kolonialisme lama dan baru , militerisme 
dengan segala variannya bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan 
pemanusiawiaan. Universalisme bukanlah tanpa engagement seperti dimaknakan di 
Indonesia. Barangkali di sini pulalah arti penting secara ide dan nilai, keputusan 
Konfernas Palembang Lekra yang menuntut debat dengan pengikut Manikebuis, dan menolak 
pelarangan administratif terhadap Manikebu. Jika debat ini berlangsung terus bukan 
tidak mungkin setelah memahami arti universalisme, antara para seniman dan pekerja 
kebudayaan bisa dicapai suatu kesepakatan tentang makna universalisme. Apakah tentang 
soal hakiki ini para sastrawan-seniman Indonesia sudah memperoleh kejelasan? Apakah 
kebencian pada Lekra yang menyungsum pada sementara orang diakibatkan oleh kerancuan 
makna sebuah kata? Jika penglihatanku benar, maka kita sebenarnya, jika berkata secara 
umum, tidak lain dari anak negeri yang bangga pada kesesatan dan sanggup mandi darah 
di jalan sesat anti kemanusiaan. Fanatisme, ujud dari kemalasan bertanya alias 
berpikir ada  di mana-mana di negeri kita dalam berbagai bentuk. Mengisi pojok-pojok 
kehidupan pulau. Kemalasan berpikir dan budakisme sangat pula erat taut-menautnya. 
Budakisme tidak pernah menghargai jati diri dan ingin tahu apa itu jati diri, tidak 
bisa menghargai diri sendiri. Celakanya tidak sedikit yang bangga menjadi manusia 
budak. Padahal konsep Republik dan Indonesia tidak bakal bisa dibangun dengan 
budakisme dan manusia budak. Republik Indonesia, sebagai republik politik tidak 
mungkin ada di hadapan kita jika para pendahulu kita yang mandi darah adalah 
manusia-manusia budak. Model penelitian yang dilakukan Reinier, kukira menunjukkan 
bentuk penelitian pencerahan. 


Ketika Reinier  berbicara tentang E. du Perron, aku jadi teringat akan sikap bangsa, 
terutama pemegang kekuasaan politik serta kritisi sastra kita terhadap orang-orang 
berjasa terhadap Indonesia dan kemanusiaan serta usaha pemanusiawiaan, termasuk 
sastrawan-seniman. Ingatan ini mengentengahkan pertanyaan: Sudah padankah penghargaan 
kita pada mereka? Ktut Tantri, seorang Amerika asal Irlandia,penulis "Revolt in 
Paradise", yang pernah ditangkap Jepang dan jadi penyiar radio membela Republik 
Indonesia ketika berjuang melawan militerisme Jepang, di masa tuanya ingin mati di 
Indonesia yang ia anggap tanahairnya, tetapi menurut berita yang kudapatkan keinginan 
ini tidak mulus ia dapati. Bisakah akhirnya keinginan penghabisan ini terkabul? Aku 
jadi kehilangan jejak. Tapi dari keadaan tidak mulusnya Ktut Tantri mendapatkan yang 
ia ingini -- keinginan manusiawi dan emosional barangkali -- aku melihat bahwa kita  
-- dalam hal ini, kita berarti pemegang kekuasaan politik -- belum berpandangan luas 
dan belum terlalu mampu menghargai orang-orang berjasa. Negeri Belanda yang pernah 
menjajah Indonesia, sikapnya dalam soal ini jauh lebih baik. Orang-orang Indonesia 
yang pernah berjuang bahu-membahu seperti alm.Abdul Madjid SH.-- punya hubungan 
keluarga dengan R.A.Kartini -- dalam perjuangan melawan fasis Hitler ketika menduduki 
Negeri Belanda, mendapat penghargaan dan perlakuan terhormat ketika beliau kembali ke 
Negeri Belanda sebagai orang eksil akibat ketidaksetujuannya terhadap Orba. Bagaimana 
sikap kritikus sastra dan kekuasaan politik negeri ini [cq. Menteri Kebudayaan] 
terhadap E.du Perron dan Multatuli, E. du Perron misalnya? Jika mengambil contoh hari 
ini, pelarangan terhadap karya-karya Pramoedya A.Toer apakah bukannya ujud dari bisa 
tidaknya kita menghargai seorang sastrawan yang berjasa. Pram mendapat "Legion 
d'Honneur" dari pemerintah Perancis dan sederetan penghargaan lainnya. Pemerintah 
Indonesia masih berkutat dengan pelarangan yang tidak juga dicabut-cabut. Orang asing 
lebih bisa menghargai Pram dan Joesoef Isak, daripada Indonesia sendiri. Agaknya kita 
masih jauh dari menjadi seorang republiken dan Indonesia. Dari segi nilai dan wawasan, 
pola pikir dan mentalitas, sampai hari ini Indonesia barangkali tidak lain dari sebuah 
sel penjara sempit. 




Paris, Oktober 2004.
-------------------
JJ.KUSNI


[Bersambung...]



Catatan:

Foto terlampir: Joesoef Isak dan Fran�ois Raillon,  Indonesianis Perancis dan peneliti 
di CNRS,  di "Hari Sastra Indonesia" Pertama di Paris, 9 Oktober 2004 yang berlangsung 
di l'Institut N�erlandais. Fra�ois Raillon seperti halnya dengan Monique 
Zaini-Lajoubert, Henri-Chambert Loir termasuk seorang Indonesianis Perancis angkatan 
sekarang yang meneruskan hubungan tradisional triangulaire seperti yang disebutkan 
oleh Reinier Salverda.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke