Setiap bulan, kantor saya biasanya secara rutin mengadakan diskusi dengan pakar. Pakar 
yang diundang biasanya ekonom, eksekutif papan atas, maupun tokoh pengusaha. Namun 
tadi pagi yang diundang lain dari biasanya. Dia adalah penyair TAUFIQ ISMAIL. Sebagai 
Penyair tentu saja dia lebih banyak membacakan puisi dari pada memberi ceramah. 
Berikut saya share-kan puisi beliau yang mencerminkan kerinduannya dengan seorang 
Negarawan seperti Bung Hatta. Seorang yang jujur, hemat, sederhana. Seorang pensiunan 
wakil presiden yang tak merasa mampu membeli sepasang sepatu bally sampai pada akhir 
hayatnya.
   

RINDU PADA STELAN JAS PUTIH 
DAN PENTALON PUTIH 
BUNG HATTA 

by: TAUFIQ ISMAIL

Di awal abad 21. pada suatu subuh pagi aku berjalan di Bukittinggi,

 

Hampir tak ada kabut tercantum di leher Singgalang dan Merapi, yang belum dilangkahi 
matahari,

 

Lalu lintas kota kecil ini dapat dikatakan masih begitu sunyi,

 

Menurun aku di Janjang Ampek Puluah, melangkah ke Aue Tajungkang, berhenti aku di 
depan rumah kelahiran Bung Hatta,

 

Di rumah beratap seng nomor 37 itulah, awal abad 20, lahir seorang bayi laki-laki yng 
kelak akan menuliskan alfabet cita-cita bangsa di langit pemikirannya dan merancang 
peta negara di atas prahara sejarah manusianya,

 

Dia tidak suka berhutang. Sahabat karibnya, Bung Karno, kepada gergasi-gergasi dunia 
itu bahkan berteriak, "Masuklah kalian ke neraka dengan uang yang kalian samarkan 
dengan bantuan, yang pada hakekatnya hutang itu!"

 

Suara lantang 39 tahun silam itu terapung di Ngarai Sianok, hanyut di Kali Barantas, 
menyelam di Laut Banda, melintas di Selat Makassar, hilang di arus Sungai Mahakam, 
kemudian tersangkut di tenggorokan 200 juta manusia,

 

Dua ratus juta manusia itu, terbelenggu rantai hutang di tangan dan kaki, di abad 
kini. Petinggi negeri di lobi kantor Pusat Pegadaian Dunia duduk antri, membawa kaleng 
kosong bekas cat minta sekedar diisi. Setiap mereka pulang, hutang menggelombang, 
setiap bayi lahir langsung dua puluh juta rupiah berkalung hutang, baru akan lunas dua 
generasi mendatang.

 

Jalan kaki pagi-pagi di Bukittinggi, aku merenung di depan rumah beratap seng di Aue 
Tajungkang nonor 37 ini, yang awal abad 20 lalu tampat lahir seorang bayi laki-laki,

 

Aku mengenang negarawan jenius ini dengan rasa penuh hormat karena rangkaian panjang 
mutiara sifat: tepat waktu, tunai jani, ringkas bicara, lurus jujur, hemat serta 
bersahaja,

 

Angku Hatta, adakah garam sifat-sifat ini masuk  ke dalam sup kehidupanku? Kucatat 
dalam puisiku, Angku lebih suka garam dan tak gemar gincu.

 

Tujuh windu sudah berlalu, aku menyusun sebuah senarai perasaan rindu,

 

Rindu pada sejumlah sifat dan nilai, yang kini kita rasakan hancur bercerai-berai,

 

Kesatuan sebagai bangsa, rasa bersama sebagai manusia Indonesia, ikatan sejarah dengan 
pengalaman derita dan suka, inilah kerinduan yang luput dari sekitar kita,

 

Kita rindu pada penampakan dan isi jiwa bersahaja, lurus yang tabung, waktu yang tepat 
berdentang, janji yang tunai, kalimat yang ringkas padat, tata hidup yang hemat,

 

Tiba-tiba kita rindu pada Bung Hatta, pada stelan jas putih dan pantalon putihnya, 
simbol perlawanan pada disain hedonisme dunia, tidak sudi berhutang, kesederhanaa yang 
berkilau gemilang,

 

Kesederhanaan. Ternta aku tidak bisa hidup bersahaja. Terperangkap dalam krangkeng 
baja materealisme, boros dan jauh dari hemat, agenda serba-bendaku ditentukan oleh 
merek 1000 produk impor, iklan televisi dan gaya hidup imitasi,

 

Bicara ringkas. Susah benar aku melisankan fikiran secara padat. Agaknya genetika 
Minag dalam rangkaian kromosomku mendiktekan sifat bicaraku yang berpanjang-panjang. 
Angku Hatta, bagaimana Angku dapat bicara ringkas dan padat? Teratur dan apik? Aku 
mengintip Angku pada suatu makan siang di Jalan Diponegoro, yang begitu tertib dan 
resik,

 

Tepat waktu.  Bung Hatta adalah teladan tepat waktu untuk sebuah bangsa yang selalu 
terlambat. Dari seribu rapat, sembilan ratus biasanya telat. Kegiatanku yang tepat 
waktu satu-satunya ialah ketika berbuka puasa.

 

Kelurusan dan Kejujuran. Pertahanan apa yang mesti dibagun di dalam sebuah pribadi 
supaya orang bisa selalu jujur? Jujur dalam masalah rezeki, jujur kepada isteri, jujur 
kepada suami, jujur kepada diri sendiri, jujur kepada orang banyak, yang bernama 
rakyat? Rakyat yang ditipu terus menerus itu.

 

Ketika kita rindu bersangatan kepada sepasang jas putih dan pantalon putih itu, kita 
mohonkan kepada Tuhan, semoga nilai-nilai dan sifat-sifat luhur yang telah hancur 
berantakan, kepada kita utuh dikembalikan.



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke