Gatra, 30 Oktober 2004
Kolom Halaman 40-41

Wawancara, Wartawan, dan Ratu Kecantikan
Oleh Andreas Harsono dan Esti Wahyuni *

JAKARTA -- Kalau Anda mengenal David Candow, seorang pelatih wartawan dari
Canadian Broadcasting Corporation, Anda akan tahu bahwa seorang wartawan
yang baik, kalau melakukan wawancara, bekerja dengan mewakili rasa ingin
tahu audiens. Ia harus sopan. Ia harus siap dengan pemahaman bahan. Ia harus
menggali informasi sebanyak mungkin. Ia tak bernada menghakimi. Ia tak
menunjukkan kesan sudah tahu. Bukan sok pamer. Bukan sok pintar.

Ini penting karena wawancara adalah bagian penting dari reportase. Dan
reportase adalah bagian penting dari jurnalisme. Wawancara yang baik akan
menghasilkan banyak informasi. Wawancara yang buruk akan menghasilkan banyak
bantahan.

Sumber yang menerima pertanyaan-pertanyaan yang buruk akan memakai waktu
wawancara untuk memahami pikiran si wartawan, dan tak jarang, membantah
asumsi-asumsi si wartawan. Atau lebih jelek lagi, meninggalkan si wartawan,
tak menanggapi isi wawancara.

Anda boleh bertanya pada Candow, "Berapa jumlah kata ideal untuk sebuah
pertanyaan?"

Candow biasanya menjawab, "Satu kata saja. Dan kata itu adalah mengapa?"

Namun, tentu saja, tak setiap pertanyaan bisa disarikan jadi satu kata.
Prinsipnya, makin panjang suatu kalimat tanya, makin menurun kemampuan si
sumber mencerna pertanyaan itu. Sebaliknya, makin pendek pertanyaan, makin
mudah si sumber memahami si wartawan. Candow memberikan pedoman 16 kata.
Lebih banyak dari 16 kata, lebih menurun juga daya tangkap si sumber. Dan
kalimat harus dibuat dengan pertanyaan terbuka dengan kata tanya "5W 1H"
yang artinya what, when, who, where, when, how.

Pertanyaan tertutup menghasilkan jawaban yang kurang memuaskan. Maksudnya,
pertanyaan tertutup teoritis bisa dijawab dengan jawaban "ya" atau "tidak."
Kami sering menyaksikan wartawan-wartawan Jakarta, baik televisi, radio,
maupun cetak, belum menyadari teori dasar wawancara ini. Mungkin menarik
untuk tahu bagaimana kesalahan-kesalahan itu dibuat dengan memperhatikan
pertunjukan seleksi wartawan SCTV dalam acara Menuju Layar Liputan 6. Acara
ini diadakan sejak 1997 di kampus-kampus. Namun tahun ini diselenggarakan
lewat siaran langsung. Finalnya 3 Oktober lalu.

Acaranya diadakan layaknya, pemilihan penyanyi "Indonesian Idol" atau
"Akademi Fantasi Indosiar." Ada acara cat walk. Peserta berputar-putar di
panggung. Pakaian kelas disainer. Nyanyian. Hiburan. Lawakan. Pertanyaan
disajikan oleh MC Tantowi Yahya. Lalu ada juri-juri: Okky Asokawati (model),
Pia Alisjahbana (pengusaha Femina Group), Tengku Malinda (TVRI), Karni Ilyas
(SCTV) dan Darwis Triadi (fotografer). Pokoknya, kesannya wangi, jauh dari
kesan kerja keras mengejar berita yang jadi citra wartawan.

Seorang peserta dari Padang, Dora Multa Sari, tampil cantik dengan busana
hijau pupus. Tantowi Yahya pun bertanya apa pendapat Dora soal korupsi di
kalangan anggota parlemen. Dora menjawab bla bla bla.

TANTOWI: All right, wow, tepuk tangan tanda setuju membahana di studio malam
ini. Eeeh ... Dora ini seorang yang penuh prestasi. Di samping sebagai
presenter, Dora ini pernah berprestasi di bidang apa?

DORA: Saya pernah masuk 10 besar Puteri Indonesia.

Maka tepuk tangan pun membahana di studio. Dora tersenyum manis dan
melenggak-lenggok meninggalkan panggung. Cantiknya, jangan ditanya. Singkat
kata, dari 13 finalis, juri memilih lima orang "grand finalist."
Masing-masing diminta mewawancarai seorang nara sumber selama 2,5 menit,
dipilih berdasarkan undian, dan nara sumber sengaja dipilih dari orang-orang
yang biasa diwawancarai SCTV: Eep Saefulloh Fatah (komentator isu politik),
Alan Budi Kusuma (pemain bulu tangkis), Ulfa Dwiyanti (pelawak dan
penghibur), Baby Jim Aditya (aktivis HIV/AIDS), dan Brigadir Jenderal
Pranowo Dahlan (komandan kesatuan polisi anti teror).

NAMA               JUMLAH KATA  TANYA        SUMBER
                           RATA-RATA    BUKA TUTUP
Grace N. Louisa     31.2                  1        6         Pranowo Dahlan
M. Achir                25.8                   3        3        Baby Aditya
Linda P. Mada       18.2                   1        6        Alan Kusuma
Dora M. Sari         15.5                   4        4        Ulfa Dwiyanti
Wahyu R.              19.6                   3        5        Eep S. Fatah

Dari lima orang ini, semuanya bertanya dengan panjang-panjang dan tertutup.
Hanya Dora yang bertanya dengan singkat karena ia harus balik menjawab
pertanyaan Ulfa Dwiyanti. Dora rata-rata hanya melontarkan 15.5 kata per
kalimat tanya. Namun dari delapan pertanyaan itu, lima merupakan pertanyaan
tertutup. Kira-kira begini tanya jawab antara Dora dan Ulfa:

DORA: Mbak Ulfa, saat banyak sekali talent show-talent show yang melahirkan
bintang-bintang baru dalam waktu singkat, seperti mereka di karantina dalam
waktu dua bulan, tiga bulan, kira-kira mereka menjadi bintang yang memiliki
banyak sekali pengemar. Bagaimana Anda melihat talent show-talent show
seperti ini?

ULFA: Maksudnya talent instant gitu roger?

DORA: Talent show Mbak.

ULFA: Kalau menurut saya itu masalah faktor. Faktor keberuntungan, beruntung
bisa masuk dalam waktu singkat. Seperti kamu misalnya. Gitu lho.

DORA: Tapi Mbak Ulfa, apakah menurut Mbak Ulfa mereka itu sudah cukup siap
atau bagaimana?

ULFA: Itu yang saya khawatirin. Apakah kalau kamu menang apakah cukup siap
di lapangan?

DORA: Ya. Baik, Mbak Ulfa itu merintis karir dari awal?

ULFA: Sepuluh tahun lebih.

DORA: Sepuluh tahun lebih?

ULFA: Mbak berapa minggu?

DORA: Terima kasih Mbak Ulfa, jika nanti saya jadi bintang nantinya. Mbak
Ulfa meniti karir lama sekali. Apakah Mbak Ulfa merasa ada ketidakadilan
antara yang lama meniti karir dengan saat ini?

ULFA: Bukan ketidakadilan. Nasib beruntung. Itu dia.

Dora tampaknya memang beruntung. Malam itu juri memenangkan Dora. Namun dari
perhitungan kami, para peserta rata-rata menggunakan 22 kata per pertanyaan,
atau lima kata lebih banyak dari batas David Candow. Model bertanya mereka
panjang-panjang dan tertutup. Ulfa Dwiyanti sendiri mempertanyakan kualitas
Dora. Hanya keberuntungan saja. Tanpa kerja keras. Mereka hanya menang
tampang tapi miskin pengalaman.

Tidak heran kalau banyak nara sumber yang bertanya ulang. Misalnya, Wahyu
Rahmawati dari Malang, dalam segenap kegugupannya, bertanya pada Eep
Saefullah Fatah, "Langsung saja. Sekarang perpolitikan setelah pemilihan
presiden kedua telah dibuktikan bahwa SBY menang. Pada saat ini banyak
sekali nama-nama yang dicantumkan, baik itu di SCTV sendiri maupun di
suratkabar, tentang calon-calon kabinet. Menurut Anda, bagaimanakah
persentase pemberian nama pemunculan nama itu terhadap kabinet nanti?"

Eep tampaknya tak mengerti pertanyaan versi 44-kata Wahyu. Eep bertanya,
"Maksudnya?"

WAHYU: Maksudnya, seberapa kredibelkah orang-orang yang dicantumkan di
televisi dalam kabinet nanti?

EEP: Sebetulnya belum ada satu pun konfirmasi dari SBY-Kalla tentang
nama-nama yang beredar. Jadi saya kira, kita tidak bisa menilai seberapa
kredibel mereka sebelum ada konfirmasi (Perhatikan Eep membantah asumsi
Wahyu).

WAHYU: Tapi mengapa nama-nama itu harus dimunculkan. Apakah ini testing the
weather dari SBY atau Anda optimis terhadap testing the weather dari SBY?

EEP: Sebetulnya ada kebutuhan memang untuk memunculkan nama sebelum
pelantikan 20 Oktober dikarenakan masyarakat perlu tahu siapa yang akan
menjadi pejabat publik. Tapi persoalannya, nama-nama yang muncul sekarang
ini adalah nama-nama yang sebetulnya beredar begitu saja, tanpa ada
konfirmasi. Itu yang jadi persoalan.

WAHYU: Kok bisa tanpa ada konfirmasi terlebih dahulu, kenapa harus
memunculkan?

EEP: Siapa yang memunculkan?

WAHYU: Kata Pak Eep tadi bahwa tidak ada konfirmasi terhadap pemunculan
nama-nama tersebut.

EEP: Sampai sekarang SBY dan Kalla belum mengkonfirmasikan satu pun nama.

WAHYU: Dan siapakah yang memunculkan adanya nama-nama di televisi tersebut?

EEP: Media massa.

WAHYU: Media massa? Jadi tidak ada konfirmasi lebih lanjut dari SBY maupun
Kalla.

EEP: Belum ada sampai sekarang. Termasuk ketika kemarin SBY mengadakan ujian
doktor. Ada sejumlah nama yang ikut serta hadir dan SBY mengatakan bahwa
mereka bukanlah calon-calon menteri.

WAHYU: Menurut Anda sendiri Pak Eep, bagaimana kredibel yang dicantumkan?
Maksud saya, nama-nama yang dicantumkan ini, menurut Pak Eep, bagaimana
posisinya dalam kabinet nanti? Apakah mereka cukup mampu dalam memimpin
negara kita esoknya?

EEP: Belum ada nama masalahnya. Jadi kalau misalnya Anda menanyakan
kredibilitas mereka, siapa mereka kita tidak tahu. Jadi ada ketidakjelasan
di sini. Siapa yang Anda maksudkan?

Tanya jawab ini menghabiskan waktu 2.5 menit karena Wahyu memakai asumsi
yang salah. Tapi ini bukan monopoli Wahyu. Wahyu dan kawan-kawannya semua
menunjukkan kesan sok pintar, agresif, serta tak mampu mewakili audiens
dalam wawancara. Grace Natalie Louisa dan Linda Puteri Mada bertanya enam
pertanyaan dan hanya satu yang terbuka. Mohammad Achir bahkan bertanya 62
kata. Kesan belum tentu sama dengan esensi. Bisa saja Dora, Wahyu dan
sebagainya sebenarnya rendah hati.

Karni Ilyas, direktur pemberitaan SCTV, tak setuju dengan argumentasi kami.
Karni mengatakan bahwa kelima orang ini memang bukan wartawan. Mereka hanya
calon wartawan. "Ketika mereka jadi juara, mereka baru jadi calon wartawan.
Masa percobaan lagi. Begini saja, yang namanya Bayu Setiyono, pantas jadi
wartawan atau nggak? Bayu itu juara kami 1997. Sekarang jadi pantas setelah
enam tahun. Ketika jadi juara, boleh saja Anda bicara belum pantas."
Atmakusumah Astraatmadja, mantan ketua Dewan Pers dan pemenang Hadiah
Magsaysay, mengatakan pada kami bahwa ia tak setuju seleksi wartawan
dilakukan secara komersial (Dora mendapat hadiah Daihatsu Xenia) dan
memanfaatkan frekuensi publik untuk keperluan internal SCTV. Beberapa
wartawan lain juga tak setuju karena kuatir citra wartawan diasosiasikan
dengan kinerja Dora dan kawan-kawan.

Kami juga belum melakukan analisis kemampuan Bayu Setiyono. Tapi kami ingat
Bayu pernah diperlakukan sama macam gaya Ulfa ketika Bayu mewawancarai Kwik
Kian Gie dari PDI Perjuangan. Kwik menyebut Bayu "jongkok." Tapi menarik
juga kalau mulai sekarang Anda memakai prinsip David Candow untuk menghitung
jumlah kata pertanyaan-pertanyaan Bayu. Atau seberapa tertutup atau terbuka
pertanyaannya? Dan tentu saja, bukan hanya Bayu, tapi kalau perlu semua
wartawan televisi Jakarta. Jangan-jangan Anda akan menemukan kesimpulan
bahwa kualitas mereka tak jauh lebih baik dari Dora atau Wahyu?


* Bekerja untuk Yayasan Pantau. Harsono sedang mengerjakan buku berjudul
"Indonesian Political Journey." Transkrip lengkap acara SCTV ini bisa
diminta lewat [EMAIL PROTECTED] atau klik www.gatra.com.



Transkrip grand final "Menuju Layar Liputan 6" SCTV pada 3 Oktober 2004


Wawancara Grace Natalie Louisa dengan Brigadir Jenderal Pranowo Dahlan

Grace: "Selamat malam Pak Pranowo."

Pranowo: "Malam Grace."

Grace: "Yang akan saya tanyakan adalah kejadian pemboman di Indonesia ini
sudah berulang-ulang kali terjadi sejak tahun 2000 hingga sekarang.
Sebenarnya sesulit apakah pengejaran pelaku pemboman ini hingga sampai
sekarang belum berhasil di tangkap."

Pranowo: "Terima kasih pertanyaan bagus. Sebenarnya tidak sulit di tangkap
karena semua sudah terungkap dan tertangkap. Hanya beberapa yang belum."

Grace: "Oh...begitu. Lalu kemudian bagaimana dengan orang-orang yang belum
tertangkap ini, apakah Anda sendiri tidak punya target pribadi agar
orang-orang yang belum tertangkap namun sudah terungkap ini bisa segera
tertangkap."

Pranowo: "Ini tergantung daripada Mbak Grace sendiri, karena ini ada di
tengah masyarakat. Mungkin ada pendapat silakan."

Grace: "Baik, mungkin saya sebagai warga masyarakat. Saya tentunya ingin
merasa aman. Apakah yang dapat bapak berikan supaya saya dan warga
masyarakat lainnya merasa aman. Karena sekarang ketika menjelang juga hari
raya lebaran, natal dan tahun baru yang mendatang, kami tentunya merasa
khawatir bagaimana. Apakah mungkin terjadi pemboman. Bagaimana bapak sebagai
abdi masyarakat membuat kami merasa aman, nyaman tentram."

Pranowo: "Untuk membuat rasa aman itu berdiri, tergantung dari diri sendiri,
ya kan. Selama berbuat amal baik, berbuat baik ya, berbuat jujur bertindak
baik pasti akan merasa aman."

Grace: "Baik, Bapak bolehkan saya bertanya bagaimana emm, maksud saya
sekarang ini apakah Nurdin M Top dan Dr Azhari ada di Indonesia?"

Pranowo: "Kira-kira seperti itu."

Grace: "Kira-kira seperti itu. Dapatkah Anda lebih memberikan kepastian, di
Indonesia atau di luar Indonesia, hanya dua."

Pranowo: "Di Indonesia Mbak Grace"

Grace: "Di Indonesia, dengan demikian bukankah lebih mudah untuk
menangkapnya jika mereka ada di Indonesia."

Pranowo: "Baik, memang lebih mudah di Indonesia apalagi kalau di luar. Di
luar lebih mudah lagi. Seandainya mereka lari ke Malaysia, Malaysia ada
aturan yang lebih ketat malah lebih mudah di tangkapnya. Di Indonesia sangat
mudah eh sangat sulit karena apa. Masyarakatnya demikian kondusif menerima
mereka terima kasih."

Grace: "Begitu, baik jadi bagaimana langkahnya karena Anda mengatakan sudah
begitu mudah ada di Indonesia tapi mengapa sampai sekarang belum tertangkap
juga. Kami mendapat informasi bahwa beberapa kali terjadi penangkapan,
hendak di tangkap namun hanya beda-beda tipis beda sedikit namun berhasil
lolos juga. Bagaimana ini Pak?"

Pranowo: "Nah itu lah hebatnya di Indonesia itu ya itu."

Tantowi Yahya: "Bapak ibu sekalian, ini sungguh bukan rekayasa. Artinya
nasib merekalah yang menentukan siapakah nara sumber yang diambil. Tidak
semua nara sumber itu mudah, tidak semua nara sumber itu murah dengan
informasi. Kalo saya yang di wawancarai, kamu ngomong dua patah kata saya
jawab 10. Cuma Pak Pranowo ini adalah seorang nara sumber yang cukup jahil.
Baik kita lanjutkan dengan grand finalis kita dari Bandung. Muhamad Akhir
dari Bandung."


Wawancara Mohammad Achir dengan Baby Jim Aditya, aktivis sosial dari
HIV/AIDS

Muhammad Akhir: "Selamat malam saudara yang ada di studio dan juga pemirsa
di rumah. Kita akan segera berbincang bersama dengan seorang aktivis dari
HIV/ AIDS Baby Jim Adtya, selamat malam Mbak Baby."

Baby Jim Aditya: "Selamat malam."

Muhammad Akhir: "Bagaimana kabar Anda malam ini."

Baby Jim Aditya: "Baik terima kasih."

Muhammad Akhir: "Baik, menurut data di tahun 2003 ini telah tercatat lebih
dari 3000 kasus HIV/AIDS yang ada atau yang sudah terkena HIV/AIDS. Anda
sudah bertahun-tahun juga berada di bidang ini. Menurut Anda apakah
pemerintah dan masyarakat memang peduli dengan HIV/AIDS ini."

Baby Jim Aditya: "Ya sebenarnya saya ingin mengkoreksi angka yang Anda
sebutkan itu adalah angka yang dilaporkan Departemen Kesehatan."

Muhammad Akhir: "Betul."

Baby Jim Aditya: "Dan angka sampai bulan Juni 2004 itu sekitar 3600 kasus
yang di laporkan sejak 1997 untuk seluruh Indonesia. Tapi sebenarnya
prediksi nasional Indonesia itu antara 90.000 sampai 13.000 kasus. Dan pada
2003 saja untuk DKI Jakarta saja angka yang belum terlaporkan adalah 2056
kasus, untuk DKI Jakarta saja."

Muhammad Akhir: "Baik, Anda ingin mengatakan bahwa ini adalah efek seperti
gunung es yang hanya sedikit di atas terlihat dan sebetulnya masih banyak di
bawah. Tapi Anda belum menjawab apakah pihak pemerintah dan masyarakat
peduli mengenai hal tersebut mengingat masih terus bertambah."

Baby Jim Aditya: "Ya, saya setuju itu memang fenomena gunung es dan saya
kira masyarakat Indonesia lebih cenderung untuk tidak rileks menerima
kenyataan bahwa HIV ada di Indonesia."

Muhamad Akhir: "Maksud Anda tidak rileks seperti apa."

Baby Jim Aditya: "Ya rasanya seperti terhukum karena kita harus menerima
kenyataan pahit bahwa angka HIV di Indonesia cukup besar di Asia Tenggara
dan saya kira kita masih belum juga serius menangapi hal ini karena ini
menimbulkan banyak dampak ya. Dampak terhadap tanggung jawab kita untuk
mengenali informasi kesehatan, dampak untuk menggubah perilaku dari risiko
tinggi menjadi kurang berisiko, dampak untuk memberikan pendidikan kesehatan
reproduksi, pendidikan seks, pendidikan gender dan lain-lain."

Muhammad Akhir: "Anda tadi menyebutkan bahwa masyarakat tampaknya masih
belum peduli, saya simpulkan seperti itu. Bisa di katakan bahwa mereka tidak
sadar bahwa ini masalah yang sudah sangat dekat dengan dalam keadaan sehari,
sehari-hari maksud saya. Dampak negatif dengan info kesehatan yang harus
seperti apakah di informasikan kepada masyarakat agar timbul suatu
percepatan kesadaran di masyarakat akan pentingnya penekanan penyebaran
HIV/AIDS ini."

Baby Jim Aditya: "Ya, menurut saya memang seharusnya sejak kecil anak-anak
kita sudah di beri pendidikan yang memadai tentang pendidikan seks."

Muhammad Akhir: "Sejak.... atau...."

Baby Jim Aditya: "Yahh.... sebelum TK sudah harus ada pendidikan seks
menurut jenjang umurnya. Anda jangan takut dulu saya tidak meminta Anda
untuk mempromosikan pendidikan senggama."

Tantowi Yahya: "Cukup banyak tadi dalam waktu 2,5 menit informasi yang di
gali oleh Muhammad Akhir. Ok berikutnya grand finalis Linda Tuti Mada dari
Denpasar. Silakan mengambil satu nama. Siapakah....Alan Budi Kusuma. Olah
ragawan dan mantan atlit. Anda punya waktu yang sama, Linda 2,5 menit Linda
harus mencari informasi sebanyak mungkin dalam keterbatasan waktu tersebut.



Wawancara Linda Puteri Mada dengan pemain bulu tangkis Alan Budi Kusuma

Linda: "Selamat Mas Alan."

Alan: "Selamat malam Mbak Linda."

Linda: "Ya ini, perubahan pengurus dan pelatih di PBSI saat ini apakah
meningkatkan prestasi dan kualitas atlit bulu tangkis Indonesia?"

Alan: "Saya yakin dengan adanya kepengurusan baru ini akan lebih baik karena
dari materi yang di pilih oleh pengurus-pengurus baru ini adalah mantan
sejumlah banyak sekali mantan pemain. Jadi saya berharap dengan adanya
pembaharuan ini bisa lebih maju."

Linda: "Jadi dengan kata lain, pengurus dan juga pelatih sebelumnya tidak
baik."

Alan: "Bukan tidak baik, tapi kita berusaha untuk meningkatkan karena
mungkin Linda tahu sendiri, bahwa prestasi olah raga terutama bulu tangkis
sedang menurun. Jadi dengan kepengurusan baru ini saya berharap kita bisa
lebih baik dan bisa menjadi nomor satu."

Linda: "Jadi program apa sih yang bisa meningkatkan atlit bulu tangkis
Indonesia untuk lebih berprestasi."

Alan: "Ya saya rasa itu merupakan satu kesinambungan antara pengurus,
pelatih dan atlit sendiri karena tanpa ada mereka bekerja sama dengan baik
ya saya rasa sulit untuk mencapai satu prestasi yang maksimal."

Linda: "Oke, Mas Alan tadi bilang kalo memang membutuhkan perubahan di dalam
tubuh PBSI. Selama ini memang ...nggak sih."

Alan: "Saya rasa yang terutama adalah mungkin masalah komunikasi ya. Jadi
mungkin di antara para pengurus sibuk jadi saya berharap dengan kepengurusan
baru ini bisa lebih baik dan saya berharap bulu tangkis jadi yang terbaik di
dunia."

Linda: "Baik, ini ada hadiah yang demikian luar biasanya pada saat seorang
atlit memenangkan medali emas, menurut Mas Alan apakah hadiah ini, hadiah
ini apakah pengaruhnya besar terhadap prestasi atlit bulu tangkis
Indonesia."

Alan: "Saya rasa besar ya, karena kita tidak munafik, bahwa itu adalah salah
satu yang bisa memacu kita karena selama ini sesudah kita berhenti bulu
tangkis bahwa untuk sampai dengan hari ini belum ada jaminan dari
pemerintah. Jadi dengan adanya rangsangan seperti itu akan banyak sekali
bibit-bibit yang akan menjadi pemain bulu tangkis."

Linda: "Apakah sebelumnya ada hadiah-hadiah seperti itu sehingga prestasi
pebulu tangkis pada zaman dulu tidak bisa meningkat seperti sekarang?"

Alan: "Saya rasa ada, jadi saya rasa dengan adanya peningkatan yang sekarang
seperti yang di terima oleh Taufik, jadi saya harap ke depan kita bisa
bangkit seperti yang dulu."

Linda: "Baik, pengaruhnya besar mana sih antara hadiah dengan perubahan
pengurus dan pelatih atlit bulu tangkis."

Alan: "Jadi kita tidak melihatnya dari bawah dari hadiah ya, yang terpenting
adalah program dari pengurus dan program dari pelatih untuk meningkatkan
kemajuan dari atlit itu sendiri. Jadinya dengan sendirinya dia dapat
mendapat bonus"

Tantowi Yahya: "Terima kasih Alan, sebuah wawancara yang luar biasa yang
disaksikan sendiri oleh ketua umum pengurus PBSI, Bapak Sutiyoso. Selamat
malam Bapak Sutiyoso yang mengangguk-gangguk, aduh luar biasa sekali.
Sesungguhnya tidak mudah mengorek informasi dari Alan, saya tau pasti tapi
Anda telah melakukannya dengan baik. Sekarang Grand finalis dari Padang,
Dora Multa Sari. Tinggal dua nama saja, ada Mas Eep dan Ulfa Dwi Yanti."



Wawancara Dora Multa Sari denagn penghibur Ulfa Dwiyanti

Dora: "Mbak Ulfa, saat banyak sekali talent show-talent show yang melahirkan
bintang-bintang baru dalam waktu singkat seperti mereka di karantina dalam
waktu dua bulan tiga bulan, kira-kira mereka menjadi bintang yang memiliki
banyak sekali pengemar. Bagaimana Anda melihat talent show-talent show
seperti ini."

Ulfa: Maksudnya talent instan gitu rojer.

Dora: "Talent show mbak,"

Ulfa: "Kalo menurut saya, itu masalah faktor. Faktor keberuntungan,
beruntung bisa masuk dalam waktu singkat. Seperti kamu misalnya, gitu lho."

Dora: "Tapi Mbak Ulfa, apakah menurut Mbak Ulfa mereka itu sudah cukup siap
atau bagaimana?"

Ulfa: "Itu yang saya khawatirin, apakah kalo kamu menang apakah cukup siap
di lapangan.

Dora: "Ya, baik. Mbak Ulfa itu merintis karir dari awal."

Ulfa: "Sepuluh tahun lebih."

Dora: "Sepuluh tahun lebih, "

Ulfa: "Mbak berapa minggu?"

Dora: "Terima kasih Mbak Ulfa jika nanti saya jadi bintang nantinya. Mbak
Ulfa meniti karir lama sekali, apakah Mbak Ulfa merasa ada ketidak adilan
antara yang lama meniti karir dengan saat ini."

Ulfa: "Bukan ketidak adilan, kenasib beruntungan. Itu dia."

Dora: "Berarti di sini Mbak Ulfa kurang beruntung ya Mbak ya."

Ulfa: "Kurang beruntung?..."

Dora: "Ya, baik mbak. Menurut Mbak Ulfa apa perbedaan antara bintang yang
muncul secara mendadak dengan yang meniti karir seperti mbak. Bisa mbak
jelaskan?"

Ulfa: "Itu tadi faktor keberuntungan. Sementara saya ataupun Tantowi itu
sampe sepuluh tahun lebih."

Dora: "Tapi dampaknya seperti pada pers gitu."

Ulfa: "Dampaknya seneng. Saya sudah 5 kali di timpuk dengan mineral water.
Mbak belum pernah kan. Selamat merasakan."

Dora: "Ya, Mbak ulfa mendapatkan 3 kali SCTV Award sebagai presenter Ngetop.
Bagaimana Mbak Ulfa mempertahankan prestasi tersebut, sedangkan
presenter-presenter baru akan muncul nantinya yang akan menjadi pesaing Mbak
Ulfa nantinya. Bagaimana kiat-kiatnya."

Ulfa: "Yang penting pertama pengalaman, kedua kualitas dan ketiga tanda
tangan lancar."

Dora: "Hmm ya baik."

Ulfa: 'Saya juga baik mbak."

Dora: "Mbak Ulfa jawabannya uhhh enak sekali dengernya."

Ulfa: "Uhh saya juga."

Dora: "Jadi Mbak Ulfa melihat artis-artis yang bermunculan sekarang kurang
berkualitas. Singkat saja."

Tantowi Yahya: "Waktunya habis dora, thanks you. Terima kasih, Ulfa menjawab
sederhana tapi begitu penuh rasa dendam Ok baik, saya rasa tidak usah di
undi untuk Wahyu ya, memang sesuai dengan nomor urut tempat duduk. Eep
Saefullah Fatah."


Wawancara Wahyu Rahmawati dengan Eep Saefulloh Fatah

Wahyu: "Selamat Malam Bung Eep"

Eep: "Malam."

Wahyu: "Langung saja, sekarang perpolitikan setelah pilihan presiden ke dua
telah di buktikan bahwa SBY menang. Pada saat ini banyak sekali nama-nama
yang di cantumkan baik itu di SCTV sendiri maupun di suratkabar tentang
calon-calon kabinet. Menurut Anda bagaimanakah presentese pemberian nama
pemunculan nama itu terhadap kabinet nanti."

Eep: "Maksudnya."

Wahyu: "Maksudnya seberapa kredibelkah orang-orang yang dicantumkan di
televisi dalam kabinet nanti."

Eep: "Sebetulnya belum ada satupun konfirmasi dari SBY-Kalla tentang
nama-nama yang beredar yang sering kita dengar justru bantahan. Jadi saya
kira kita tidak bisa lagi menilai seberapa kredibel mereka sebelum ada
konfirmasi. Karena itu yang sedang di timbang oleh SBY-Kalla."

Wahyu: "Tapi mengapa nama-nama itu harus di munculkan. Apakah ini karena
testing the water(bener ga ini?) dari SBY atau Anda optimis terhadap testing
the Water dari SBY?"

Eep: "Sebetulnya ada kebutuhan memang untuk memunculkan nama sebelum
pelantikan 20 Oktober di karenakan masyarakat perlu tahu siapa yang akan
menjadi pejabat publik. Yang akan mengemban amanat kita.. Tapi persoalannya
adalah nama-nama yang muncul sekarang ini adalah nama-nama yang sebetulnya
beredar begitu saja tanpa ada, tanpa ada konfirmasi itu. Itu yang jadi
persoalan."

Wahyu: "Kok bisa tanpa ada konfirmasi terlebih dahulu, kenapa harus
memunculkan?"

Eep: "Siapa yang memunculkan?."

Wahyu: "Kata Pak Eep tadi bertanya bahwa tidak ada konfirmasi terhadap
pemunculan nama-nama tersebut."

Eep: "Sampai sekarang SBY dan Kalla belum mengkonfirmasikan satupun nama."

Wahyu: "Dan siapakah yang memunculkan adanya nama-nama di televisi
tersebut."

Eep: "Media massa."

Wahyu: "Media massa, jadi tidak ada konfirmasi lebih lanjut dari SBY maupun
Kalla."

Eep: "Belum ada sampai sekarang. Termasuk ketika kemarin SBY mengadakan
ujian doktor, ada sejumlah nama yang ikut serta hadir dan SBY mengatakan
bahwa mereka bukanlah calon-calon menteri."

Wahyu: "Menurut Anda sendiri Pak Eep, bagaimana kredibel yang di cantumkan
maksud saya nama-nama yang di cantumkan ini menurut Pak Eep bagaimana
posisinya dalam kabinet nanti apakah mereka cukup mampu dalam memimpin
negara kita esoknya."

Eep: "Belum ada nama masalahnya, jadi kalo misalnya Anda menanyakan
kredibilitas mereka, siapa mereka kita tidak tahu. Jadi apa namanya ada
ketidak jelasan di sini siapa yang Anda maksudkan, tapi yang jelas bahwa
nama itu banyak sekali beredar dan kita tidak bisa menilai."




Tantowi Yahya: "Baiklah saudara baru saja kita saksikan ke lima finalis ini
mewawancarai kelima panelis ini yang belum mereka ketahui apalagi sampai
mereka harus mengetahui apa isi pertanyaannya. Untuk mengetahui siapa yang
menjadi presenter terbaik kita akan mengetahuinya setelah pesan-pesan
berikut ini."

Hadirin sekalian, news presenter terbaik Dora Multa Sari dari Padang.

-------
Yayasan Pantau adalah sebuah organisasi nirlaba yang bertujuan meningkatkan mutu 
jurnalisme di Indonesia. 

===============================

Our Services:
Media Center - Media Monitoring - News Clipping Service - Publishing

Mailing list: http://groups.yahoo.com/group/mediacare



-- 
_______________________________________________
Find what you are looking for with the Lycos Yellow Pages
http://r.lycos.com/r/yp_emailfooter/http://yellowpages.lycos.com/default.asp?SRC=lycos10



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke