Republika
Kamis, 21 Oktober 2004
Presiden Sebagai Bintang untuk Menarik Investor
Bagian Pertama dari Dua Tulisan
Oleh : Udin Saefudin Noer
''It's money that makes the world go around.'' Begitulah
ungkapan Philip Kotler, Hermawan Kertajaya, dan S David Young, dalam buku
mereka, Attracting Investors, yang diterbitkan John Wiley & Sons, Inc, di
New Jersey, AS, tahun 2004 baru-baru ini.
Tidak mungkin dimungkiri bahwa setiap bisnis dan
perusahaan membutuhkan uang. Dari hal-hal sederhana, seperti modal, gaji
pegawai, pembelian alat-alat, dan biaya-biaya lain sebelum diperoleh
penerimaan dari usaha yang dibentuk. Begitu pun negara, memerlukan sejumlah
uang untuk menggerakkan roda ekonomi dan pembangunan, seperti investasi pada
infrastruktur, pengembangan industri, dan usaha-usaha produktif lain yang
akan menyediakan lapangan kerja, meningkatan pendapatan masyarakat,
meningkatkan daya beli, pajak, meningkatkan tabungan masyarakat, yang pada
gilirannya membantu meningkatkan investasi domestik dan menggerakkan
pendapatan negara.
Jika dulu upaya memperoleh permodalan hanya bergerak dalam
fungsi-fungsi keuangan (finance), kini berubah menjadi bagian yang tak
mungkin dipisahkan dari kegiatan marketing. Teori-teori pemasaran dan
kegiatan pemasaran secara praktik memiliki kemampuan untuk
mengidentifikasikan sumber keuangan terbaik dan meyakinkan para investor
untuk memberikan modal dan sejumlah dana bagi investasi yang menarik dan
menguntungkan, di samping sejumlah risiko yang mereka hadapi.
Saat ini, upaya memperoleh sumber pembiayaan dan
permodalan internasional semakin sulit dan kompetitif. Bagi Indonesia, yang
dipersepsikan sebagai negara dengan tingkat korupsi yang buruk,
infrastruktur yang kurang memadai, keamanan yang belum terjamin, dan
rendahnya kepastian hukum bagi investor, upaya memperoleh financing sources
dari pasar modal maupun pasar keuangan internasional relatif sulit,
dibanding pinjaman antarnegara atau lembaga-lembaga internasional.
Kondisi ini setidaknya mencerminkan dua hal, yaitu
reputasi pemerintahan yang kurang baik dan performance dunia usaha yang
tidak menarik. Pada sisi lain, sumber-sumber pembiayaan yang didasarkan
bantuan atau pinjaman lembaga-lembaga multilateral dan kelompok negara
pemberi pinjaman, dalam jangka panjang akan terus membebani negara dan
rakyat melalui pajak yang semakin memberatkan. Sementara, pihak pengusaha
tidak sepenuhnya mampu mengubah dirinya untuk lebih marketable dan
kompetitif di pasar finansial maupun pasar modal global.
Mencermati kondisi ini, di tengah pengaruh pencitraan
beragam media global, baik cetak, elektronik, jaringan website maupun
berbagai forum bisnis internasional, diperlukan langkah-langkah menciptakan
persepsi positif atas Indonesia. Dalam bahasanya Hermawan Kertajaya,
diperlukan positioning dan differentiation agar Indonesia sebagai brand
masuk kembali ke pasar keuangan dan pasar modal internasional dalam kekuatan
yang baru. Positioning bertujuan untuk memperkuat citra baru Indonesia
sebagai brand. Kemampuan marketing, public relations maupun aktivitas
periklanan aparat dan lembaga-lembaga pemerintah harus ditingkatkan. Begitu
pula kampanye periklanan, kegiatan kehumasan, dan marketing usaha swasta
Indonesia yang menginginkan modal internasional harus semakin atraktif.
Begitu pun dengan iklan-iklan yang dapat membangun reputasi Indonesia
sebagai brand yang hebat, unggul dan menarik, harus mulai mengisi media
elektronik, jaringan televisi dan website global, di samping berbagai
pameran dan expose investment policy yang dapat menarik minat investor.
Menjadi tanggung jawab pemerintah untuk memperbaiki Badan
Koordinasi Pasar Modal (BKPM) agar diisi oleh orang-orang yang memiliki
market assessment dan networking yang luas, selain melengkapi lembaga
tersebut dengan salah satu fungsi promosi internasional yang lebih dari
sekadar juru bicara pemerintah. Perlu dilakukan langkah-langkah yang lebih
inovatif dan kreatif dalam menarik minat investor. Salah satu yang paling
unik dan karenanya berbeda adalah menjadikan presiden Republik Indonesia
sebagai real public relations dan marketer dalam forum-forum global
investment maupun dalam berbagai diplomatic events.
Apa yang kami lihat dalam berbagai kesempatan, di berbagai
forum internasional, antara lain dilakukan Tun Dr Mahathir Mohamad, saat
menjabat perdana menteri Malaysia, dan dilanjutkan oleh Dato Seri Abdullah
Ahmad Badawi, melalui Langkawi International Dialogue (LID), bersama para
raja, presiden, perdana menteri dari negara-negara Afrika anggota
Commonwealth Countries. Perdana menteri dan para raja maupun kepala
pemerintahan yang hadir secara bergiliran menempatkan dirinya sebagai
moderator dan presenter langsung dalam dialog yang cair, terbuka dan cerdas.
Model ini patut menjadi model bagi para pemimpin Indonesia.
Hal seperti ini, juga dilakukan oleh para pemimpin Eropa,
termasuk para pemimpin negara-negara baru merdeka eks Uni Sovyet seperti
presiden Republik Tajikistan maupun presiden Uzbekistan dan perdana menteri
Uzbekistan, saat mereka menjadi tuan rumah dalam menyelenggarakan "IDB
Investment Conference" di kedua negara tersebut. Pola-pola seperti ini
sangat impresif dan mampu memikat peserta dan calon investor. Syaratnya
memang kemampuan berbahasa internasional dan penguasaan materi detail atas
kebijakan yang diambil. Namun Indonesia boleh optimistis mengingat presiden
terpilih memiliki kapasitas itu. Tugas para crew-nya untuk menyiapkan setiap
instrumen dan kebijakan yang patut disampaikan kepada pasar, yaitu investor
dan pemerintah negara-negara yang tertarik untuk memasuki bisnis di
Indonesia.
Dengan kemampuan bahasa Inggris presiden Indonesia yang
baik, latar belakang akademis dan gelar doktor yang diperolehnya, serta
penampilan fisik yang prima dan mempesona, Susilo Bambang Yudhoyono
merupakan presiden RI yang memiliki aura bagi kegiatan marketing dan public
relations dalam menarik Invesor internasional maupun menarik dukungan
politik dari kalangan yang lebih luas dalam berbagai lembaga internasional,
termasuk meningkatkan jumlah vote power dalam persidangan Perserikatan
Bangsa-bangsa.
Pekerjaan rumahnya adalah bagaimana para pengusaha
nasional bersama para birokrat dan protokoler kepresidenan, merancang fora
investasi yang lebih cair dalam bentuk forum investasi internasional, dalam
suasana lebih casual yang memungkinkan moderator dan presenternya langsung
adalah presiden Republik Indonesia. Metode ini akan lebih memberi keyakinan
kepada para investor global, karena mereka berkesempatan langsung mendengar
dan bertanya kepada presiden Republik Indonesia secara langsung dan terbuka.
Usaha-usaha ini akan lebih terdukung bila semua gubernur,
wali kota, dan bupati memiliki peta investasi, zona industri, dan
sektor-sektor yang layak disampaikan kepada pasar modal, pasar uang, dan
lingkungan investor domestik maupun global. Bila belum, maka 100 hari
pertama pemerintahan baru adalah memanggil para gubernur, para bupati, para
wali kota untuk menyiapkan semuanya, dan mengurangi aturan-aturan tumpang
tindih yang mengganggu kelancara investasi. Pada sisi lain, adalah
mengundang dan memanggil pulang semua duta besar dan pejabat senior
diplomatik untuk dibekali kembali oleh marketing tools yang memadai agar
menjadi public relations, marketing agent dan sales persons bagi kemajuan
Indonesia, tetapi bukan menjual kepemilikan atas Indonesia. ''Indonesia is
not for sale!''.
Di sinilah langkah-langkah mendefinisikan kembali posisi
Indonesia di pasar global diperlukan. Perlu repositioning dan aktivitas
marketing yang lebih baik. Mengutip Al Ries dan Jack Trout, ''Marketing is a
war, and the battleground is the mind of customers and prospect.'' Dalam hal
ini, the battleground is the mind of investor. Karena itu perlu
diferensiasi, perlu berbeda cara menarik investor zaman dulu dan ke depan.
Menjadikan presiden sebagai moderator dan presenter langsung dalam casual
style, sebagai public relations dan marketer bukanlah hal yang salah. Itu
dapat menjadi new attractiveness dalam meningkatkan reputasi Indonesia.
Direktur Eksekutif Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah (PKES)
dan Mahasiswa Pascasarjana UI
. Mantan Direktur Akui Kejahatannya
. PBB Tolak Permintaan Melatih Hakim untuk Sidang Saddam
. Dunia Usaha di Kanada Sambut Baik Tim Ekonomi di Kabinet RI
. Universitas Terbuka Memperoleh Bantuan dari Jepang
. Menteri Pertanian Enggan Gunakan Volvo
. Pengajaran Belum Menjadi Perhatian LPTK
. AS Tantang Pemerintahan Yudhoyono untuk Lakukan Reformasi
. Calon Jemaah Haji Harus Divaksin Demam Kuning
. Gabungan 13 Ornop Pesimis Terhadap Kabinet Indonesia Bersatu
. Indonesia Serukan Kerjasama Hukum PBB-Asia Afrika
Bagian Pertama dari Dua Tulisan
Oleh : Udin Saefudin Noer
''It's money that makes the world go around.'' Begitulah ungkapan Philip
Kotler, Hermawan Kertajaya, dan S David Young, dalam buku mereka, Attracting
Investors, yang diterbitkan John Wiley & Sons, Inc, di New Jersey, AS, tahun
2004 baru-baru ini.
Tidak mungkin dimungkiri bahwa setiap bisnis dan perusahaan membutuhkan
uang. Dari hal-hal sederhana, seperti modal, gaji pegawai, pembelian
alat-alat, dan biaya-biaya lain sebelum diperoleh penerimaan dari usaha yang
dibentuk. Begitu pun negara, memerlukan sejumlah uang untuk menggerakkan
roda ekonomi dan pembangunan, seperti investasi pada infrastruktur,
pengembangan industri, dan usaha-usaha produktif lain yang akan menyediakan
lapangan kerja, meningkatan pendapatan masyarakat, meningkatkan daya beli,
pajak, meningkatkan tabungan masyarakat, yang pada gilirannya membantu
meningkatkan investasi domestik dan menggerakkan pendapatan negara.
Jika dulu upaya memperoleh permodalan hanya bergerak dalam fungsi-fungsi
keuangan (finance), kini berubah menjadi bagian yang tak mungkin dipisahkan
dari kegiatan marketing. Teori-teori pemasaran dan kegiatan pemasaran secara
praktik memiliki kemampuan untuk mengidentifikasikan sumber keuangan terbaik
dan meyakinkan para investor untuk memberikan modal dan sejumlah dana bagi
investasi yang menarik dan menguntungkan, di samping sejumlah risiko yang
mereka hadapi.
Saat ini, upaya memperoleh sumber pembiayaan dan permodalan internasional
semakin sulit dan kompetitif. Bagi Indonesia, yang dipersepsikan sebagai
negara dengan tingkat korupsi yang buruk, infrastruktur yang kurang memadai,
keamanan yang belum terjamin, dan rendahnya kepastian hukum bagi investor,
upaya memperoleh financing sources dari pasar modal maupun pasar keuangan
internasional relatif sulit, dibanding pinjaman antarnegara atau
lembaga-lembaga internasional.
Kondisi ini setidaknya mencerminkan dua hal, yaitu reputasi pemerintahan
yang kurang baik dan performance dunia usaha yang tidak menarik. Pada sisi
lain, sumber-sumber pembiayaan yang didasarkan bantuan atau pinjaman
lembaga-lembaga multilateral dan kelompok negara pemberi pinjaman, dalam
jangka panjang akan terus membebani negara dan rakyat melalui pajak yang
semakin memberatkan. Sementara, pihak pengusaha tidak sepenuhnya mampu
mengubah dirinya untuk lebih marketable dan kompetitif di pasar finansial
maupun pasar modal global.
Mencermati kondisi ini, di tengah pengaruh pencitraan beragam media global,
baik cetak, elektronik, jaringan website maupun berbagai forum bisnis
internasional, diperlukan langkah-langkah menciptakan persepsi positif atas
Indonesia. Dalam bahasanya Hermawan Kertajaya, diperlukan positioning dan
differentiation agar Indonesia sebagai brand masuk kembali ke pasar keuangan
dan pasar modal internasional dalam kekuatan yang baru. Positioning
bertujuan untuk memperkuat citra baru Indonesia sebagai brand. Kemampuan
marketing, public relations maupun aktivitas periklanan aparat dan
lembaga-lembaga pemerintah harus ditingkatkan. Begitu pula kampanye
periklanan, kegiatan kehumasan, dan marketing usaha swasta Indonesia yang
menginginkan modal internasional harus semakin atraktif. Begitu pun dengan
iklan-iklan yang dapat membangun reputasi Indonesia sebagai brand yang
hebat, unggul dan menarik, harus mulai mengisi media elektronik, jaringan
televisi dan website global, di samping berbagai pameran dan expose
investment policy yang dapat menarik minat investor.
Menjadi tanggung jawab pemerintah untuk memperbaiki Badan Koordinasi Pasar
Modal (BKPM) agar diisi oleh orang-orang yang memiliki market assessment dan
networking yang luas, selain melengkapi lembaga tersebut dengan salah satu
fungsi promosi internasional yang lebih dari sekadar juru bicara pemerintah.
Perlu dilakukan langkah-langkah yang lebih inovatif dan kreatif dalam
menarik minat investor. Salah satu yang paling unik dan karenanya berbeda
adalah menjadikan presiden Republik Indonesia sebagai real public relations
dan marketer dalam forum-forum global investment maupun dalam berbagai
diplomatic events.
Apa yang kami lihat dalam berbagai kesempatan, di berbagai forum
internasional, antara lain dilakukan Tun Dr Mahathir Mohamad, saat menjabat
perdana menteri Malaysia, dan dilanjutkan oleh Dato Seri Abdullah Ahmad
Badawi, melalui Langkawi International Dialogue (LID), bersama para raja,
presiden, perdana menteri dari negara-negara Afrika anggota Commonwealth
Countries. Perdana menteri dan para raja maupun kepala pemerintahan yang
hadir secara bergiliran menempatkan dirinya sebagai moderator dan presenter
langsung dalam dialog yang cair, terbuka dan cerdas. Model ini patut menjadi
model bagi para pemimpin Indonesia.
Hal seperti ini, juga dilakukan oleh para pemimpin Eropa, termasuk para
pemimpin negara-negara baru merdeka eks Uni Sovyet seperti presiden Republik
Tajikistan maupun presiden Uzbekistan dan perdana menteri Uzbekistan, saat
mereka menjadi tuan rumah dalam menyelenggarakan "IDB Investment Conference"
di kedua negara tersebut. Pola-pola seperti ini sangat impresif dan mampu
memikat peserta dan calon investor. Syaratnya memang kemampuan berbahasa
internasional dan penguasaan materi detail atas kebijakan yang diambil.
Namun Indonesia boleh optimistis mengingat presiden terpilih memiliki
kapasitas itu. Tugas para crew-nya untuk menyiapkan setiap instrumen dan
kebijakan yang patut disampaikan kepada pasar, yaitu investor dan pemerintah
negara-negara yang tertarik untuk memasuki bisnis di Indonesia.
Dengan kemampuan bahasa Inggris presiden Indonesia yang baik, latar belakang
akademis dan gelar doktor yang diperolehnya, serta penampilan fisik yang
prima dan mempesona, Susilo Bambang Yudhoyono merupakan presiden RI yang
memiliki aura bagi kegiatan marketing dan public relations dalam menarik
Invesor internasional maupun menarik dukungan politik dari kalangan yang
lebih luas dalam berbagai lembaga internasional, termasuk meningkatkan
jumlah vote power dalam persidangan Perserikatan Bangsa-bangsa.
Pekerjaan rumahnya adalah bagaimana para pengusaha nasional bersama para
birokrat dan protokoler kepresidenan, merancang fora investasi yang lebih
cair dalam bentuk forum investasi internasional, dalam suasana lebih casual
yang memungkinkan moderator dan presenternya langsung adalah presiden
Republik Indonesia. Metode ini akan lebih memberi keyakinan kepada para
investor global, karena mereka berkesempatan langsung mendengar dan bertanya
kepada presiden Republik Indonesia secara langsung dan terbuka.
Usaha-usaha ini akan lebih terdukung bila semua gubernur, wali kota, dan
bupati memiliki peta investasi, zona industri, dan sektor-sektor yang layak
disampaikan kepada pasar modal, pasar uang, dan lingkungan investor domestik
maupun global. Bila belum, maka 100 hari pertama pemerintahan baru adalah
memanggil para gubernur, para bupati, para wali kota untuk menyiapkan
semuanya, dan mengurangi aturan-aturan tumpang tindih yang mengganggu
kelancara investasi. Pada sisi lain, adalah mengundang dan memanggil pulang
semua duta besar dan pejabat senior diplomatik untuk dibekali kembali oleh
marketing tools yang memadai agar menjadi public relations, marketing agent
dan sales persons bagi kemajuan Indonesia, tetapi bukan menjual kepemilikan
atas Indonesia. ''Indonesia is not for sale!''.
Di sinilah langkah-langkah mendefinisikan kembali posisi Indonesia di pasar
global diperlukan. Perlu repositioning dan aktivitas marketing yang lebih
baik. Mengutip Al Ries dan Jack Trout, ''Marketing is a war, and the
battleground is the mind of customers and prospect.'' Dalam hal ini, the
battleground is the mind of investor. Karena itu perlu diferensiasi, perlu
berbeda cara menarik investor zaman dulu dan ke depan. Menjadikan presiden
sebagai moderator dan presenter langsung dalam casual style, sebagai public
relations dan marketer bukanlah hal yang salah. Itu dapat menjadi new
attractiveness dalam meningkatkan reputasi Indonesia.
Direktur Eksekutif Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah (PKES)
dan Mahasiswa Pascasarjana UI
. Mantan Direktur Akui Kejahatannya
. PBB Tolak Permintaan Melatih Hakim untuk Sidang Saddam
. Dunia Usaha di Kanada Sambut Baik Tim Ekonomi di Kabinet RI
. Universitas Terbuka Memperoleh Bantuan dari Jepang
. Menteri Pertanian Enggan Gunakan Volvo
. Pengajaran Belum Menjadi Perhatian LPTK
. AS Tantang Pemerintahan Yudhoyono untuk Lakukan Reformasi
. Calon Jemaah Haji Harus Divaksin Demam Kuning
. Gabungan 13 Ornop Pesimis Terhadap Kabinet Indonesia Bersatu
. Indonesia Serukan Kerjasama Hukum PBB-Asia Afrika
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/