Saya betul-betul heran. Bukankah tahun lalu kasus seperti ini sudah menghilangkan
nyawa manusia? Sebenarnya seperti apa sih perhatian pemerintah pada HAM? Apa belum
cukup nyawa satu orang? Butuh lebih banyak lagi nyawa?
Meski belum ada konfirmasi dari pihak STPDN dalam berita ini, tapi sungguh, saya
sangat menyayangkan kalau STPDN tidak pernah belajar dari kesalahannya. Bahkan keledai
saja tidak terjerembab di lubang yang sama. Tapi kenapa kasus seperti ini masih saja
terdengar?
Marah, kecewa, gemas, dan sebagainya. Agak sulit menggambarkan perasaan saya membaca
berita seperti ini. Kebodohan demi kebodohan perilaku anak bangsa ini sungguh di luar
akal sehat. Nyaris tepat ungkapan Putu Wijaya, bahwa bangsa ini memang sudah absurd.
Kalau di luar negeri teater absud mementaskan cerita-cerita absurd, maka kita
mementaskan kisah-kisah absurd dalam dunia nyata.
STPDN, namanya juga sekolah calon pamong praja. Mereka bakal jadi pemimpin rakyat,
yang harus mengerti makna demokratisasi. Seperti juga paradigma Good Governance. Kalau
perilaku seperti ini diteruskan, mau jadi apa mereka? Tukang pajak yang kerjanya
meras? Debt collector?
Sungguh luar biasa!
Rahadian P. Paramita
Senin, 25 Oktober 2004
Kini Dirawat di RS Al Islam dan Menderita Trauma
Calon Praja STPDN Dianiaya Seniornya
BANDUNG, (PR).-
Aksi kekerasan tampaknya masih menjadi bagian yang sulit dihilangkan dari kampus
Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN). Jika tahun lalu aksi kekerasan oleh
praja senior di kampus tersebut merenggut nyawa Wahyu Hidayat, praja tingkat II, kali
ini aksi serupa kembali terulang dan memakan korban.
Seorang calon praja asal Nanggroe Aceh Darussalam, Ichsan S. (19), terpaksa
harus dirawat di Rumah Sakit Al Islam, menyusul tindakan kekerasan dan penganiayaan
oleh para seniornya yang dilakukan Sabtu (16/10) pekan lalu. Ichsan, bukan saja
terpaksa tidak dapat menjalankan ibadah puasa karena masih harus diinfus, lebih
berbahaya lagi ia masih mengalami trauma berat.
Menurut pengakuan Ichsan sebagaimana dituturkan kepada Galamedia, Minggu
(24/10), peristiwa yang menimpa dirinya terjadi pada Sabtu (16/10) sekira pukul 1.00
WIB. Ketika itu Ichsan masih tertidur di baraknya bersama rekan-rekan calon praja
lainnya. Barak tersebut memang disediakan oleh pihak STPDN untuk para calon praja
cadangan yang tengah menunggu hasil pengumuman penyeleksian tahap akhir (pantohir)
yang akan dilaksanakan pada Selasa (19/10).
Tiba-tiba dirinya ditarik oleh beberapa orang praja untuk pergi ke barak para
praja yang jaraknya sekira 100 m dari barak para calon praja. Tanpa memberikan alasan
yang jelas, para praja memasukkan Ichsan ke sebuah ruangan di barak para praja. Saat
Ichsan masuk ruangan, penerangan sudah dimatikan.
Di saat itulah, Ichsan menerima perlakuan yang kurang pantas dari lima orang
seniornya yang berasal sama dengan Ichsan. Ichsan dipukul pada bagian kepala, dada,
dan perut secara bertubi-tubi. "Kepala dipukul beberapa kali. Setelah di kepala, lalu
di perut dan dada. Paling sakit ketika dipukul di kepala," ujar Ichsan dengan wajah
tampak menahan rasa sakit.
Usai dipukul di kepala, perut, dan dada, Ichsan pun ditanya oleh para seniornya
dengan nada mengancam.
"Kamu tidak kenal saya kan?" ujar Ichsan menirukan para seniornya seraya
mengatakan, tindakan itu untuk persiapan mengikuti latihan dasar. Ancaman itu
ditujukan kepada Ichsan agar ia tidak bercerita atau memberitahukan peristiwa tersebut
kepada orang lain.
Setelah menerima pukulan bertubi-tubi, kondisi fisik Ichsan dalam keadaan
setengah sadar dan tidak dapat berdiri. Bahkan ketika disuruh kembali ke baraknya,
Ichsan pun harus merangkak. Baru beberapa meter mendekati baraknya, ada seseorang yang
menolongnya. "Saya pun tidak ingat siapa yang menolong saya," tutur putra ketiga dari
Kapten Inf. Hanafiah.
Sebelum peristiwa tersebut, sekira pukul 22.00 WIB, ia dan beberapa teman
sebaraknya memang sempat dipanggil oleh para praja. Namun panggilan itu tidak
dipenuhinya karena takut dipelonco oleh para praja. Meski mendapat perlakuan fisik
yang menyebabkan badan sakit, Ichsan masih mencoba meyakinkan dirinya bahwa besok ia
akan dapat bugar kembali. Namun, nyatanya ia hanya dapat tergeletak di tempat tidur.
Untung ayahnya, Hanafiah menelefon ke Ichsan pada Sabtu (16/10) pagi melalui
telefon selular. Seperti orang tua umumnya, Hanafiah menayakan kabar tentang anaknya.
Namun saat menjawab pertanyaan Hanafiah, suara Ichsan terdengar seperti yang
menahan rasa sakit. "Saya tidak apa-apa, hanya sedikit sakit," ujar Hanafiah menirukan
Ichsan.
Setelah sedikit dipaksa, Ichsan akhirnya mengaku terus terang kepada ayahnya
bahwa kondisinya sudah tidak kuat lagi. "Saya sudah tidak kuat lagi, Pak," ujar
Hanafiah kembali menirukan anaknya.
Hanafiah pun berusaha menghubungi kenalannya di STPDN untuk dapat mengetahui
kondisi Ichsan sesungguhnya. Namun karena birokrasi yang begitu ketat, Hanafiah
kesulitan mengetahui kondisi anaknya. Ia pun meminta kepada temannya untuk secara
sembunyi-sembunyi mendatangi barak tempat Ichsan tinggal.
"Ternyata, di barak Ichsan sudah tidak dapat berbuat apa-apa. Kondisinya sudah
cukup parah. Melihat kondisi seperti itu, teman saya langsung membawa Ichsan ke klinik
yang ada di STPDN. Namun klinik tidak dapat menanganinya. Akhirnya dengan ambulans,
Ichsan langsung dibawa ke RS Al-Isalam," tutur Komandan Koramil Langsa Barat ini.
Hanafiah mengatakan, hingga Minggu (24/10), belum ada satu pun dari pihak STPDN
yang datang untuk menjenguk dan menanyakan kondisi anaknya itu. Keterlibatan pihak
STPDN hanya mengantarkan Ichsan ke RS AL-Islam saja. Biaya pengobatan pun harus
ditanggung dari koceknya sendiri.
"Biaya pengobatan sebesar Rp 5 juta lebih kami tanggung sendiri. Kami pun tidak
ingin lama-lama berada di rumah sakit, tetapi dokter mengatakan Ichsan perlu waktu
yang cukup lama untuk sembuh," kata ayah dari dua putra dan dua putri ini.
Menurut rencana, hari Senin (25/10) ini Hanafiah baru akan melaporkan peristiwa
tersebut ke pihak STPDN. Selain melaporkan, ia pun akan meminta klarifikasi tentang
kejadian tersebut ke pihak STPDN.
Sementara itu, salah seorang petugas medis RS Al-Islam mengatakan, berdasarkan
hasil CT Scan, kondisi kepala Ichsan tidak mengalami kerusakan yang serius dan hanya
mengalami trauma. "Dalam waktu beberapa hari, Ichsan juga sudah dapat pulang ke
rumah," ujarnya yang enggan disebutkan namanya.
Belum ada laporan
Sementara itu, Koordinator Humas STPDN, Drs. Udjud Usdia mengatakan, sampai
Minggu (25/10) malam, pihaknya belum mendapatkan laporan tentang calon praja (capra)
capra STPDN asal Aceh, Ichsan yang 'disiksa' seniornya. Pasalnya, semua capra saat ini
tengah melakukan latihan dasar mental pejuang di Pusdik Cimahi.
"Belum, belum ada laporan soal itu, emangnya Anda sudah mengecek? Saat ini para
capra kan sedang melakukan latihan dasar mental pejuang di Pusdik Cimahi. Jadi, mana
mungkin ada capra yang di luar," kata Udju saat dikonfirmasi "GM" Minggu (24/10)
malam. (B.96/B.98)***
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/