http://www.sinarharapan.co.id/berita/0410/26/opi01.html

Menteri KP Kurang Memenuhi Syarat
Oleh Suhana

Pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Jusuf Kalla (JK) baru saja 
dilantik sebagai presiden dan wakil presiden RI. Besar harapan masyarakat 
terhadap pasangan SBY-JK dalam melakukan perubahan pembangunan ekonomi 
nasional ke depan, termasuk dalam bidang kelautan dan perikanan. Namun 
harapan masyarakat tersebut kini mulai "luntur" sebab para menteri kabinet 
yang telah dilantik oleh SBY-JK-khususnya Menteri Kelautan dan Perikanan- 
belum mencerminkan aspirasi masyarakat Indonesia.
Menteri Kelautan dan Perikanan yang diharapkan oleh masyarakat kelautan dan 
perikanan adalah seorang profesional yang memahami benar 
permasalahan-permasalahan kelautan dan perikanan nasional, regional dan 
internasional termasuk permasalahan kemiskinan nelayan. Menteri Kelautan dan 
Perikanan yang diharapkan oleh masyarakat kelautan dan perikanan adalah 
orang yang memiliki visi membangun kebijakan ekonomi kelautan dan perikanan 
yang komprehensif. Karena selama ini pembangunan kelautan dan perikanan 
hanya berjalan masing-masing sektor saja.
Permasalahan kelautan tidak hanya perizinan kapal ikan yang berbelit-belit 
seperti yang diungkapkan oleh Freddy Numberi-Menteri Kelautan dan Perikanan 
(Kompas, 21 Oktober 2004). Tetapi jauh lebih dari itu. Selain itu juga 
jangan sampai perizinan dipermudah tetapi berdampak terhadap terancamnya 
kelestarian sumber daya ikan nasional. Karena kondisi sumber daya ikan 
nasional saat ini terus mengalami penurunan. Penurunan sumber daya ikan 
tersebut terjadi tidak hanya di Indonesia. Di beberapa negara juga saat ini 
sudah mengalami penurunan sumber daya ikan, misalnya di negara-negara 
kawasan Eropa.
Penurunan sumber daya ikan di perairan Eropa akan memicu terjadinya krisis 
ikan dunia pada tahun 2005. Ini disebabkan karena saat ini pemerintah di 
kawasan itu telah mengeluarkan kebijakan pembatasan kuota penangkapan ikan 
bagi pengusaha perikanan termasuk para nelayan serta pembatasan jumlah 
armada kapal penangkapan ikan yang beroperasi di perairan sekitar Uni Eropa.
Di Eropa saat ini telah diterbitkan kebijakan yang menghentikan 
pengoperasian 7.680 unit (50 %) kapal ikan berkapasitas minimal 300 GT di 
kawasan tersebut (Kompas, 12 Maret 2003). Kebijakan tersebut dikeluarkan 
mengingat kondisi sumber daya perikanan di kawasan Uni Eropa telah mengalami 
kelebihan tangkap (overfishing). Para analis perikanan dunia memperkirakan 
dampak dari kebijakan Uni Eropa tersebut adalah mulai tahun 2005 mendatang 
akan terjadi kelangkaan ikan di pasar dunia yang mencapai 30 juta ton per 
tahun.

Dianggap Cuma Sektor Perikanan
Melihat begitu kompleksnya permasalahan kelautan dan perikanan nasional, 
maka seharusnya Menteri Kelautan dan Perikanan yang dipilih harus memahami 
benar permasalahan-permasalahan kelautan dan perikanan nasional. Selain itu 
juga sebaiknya Menteri Kelautan dan Perikanan tersebut berasal dari kalangan 
profesional yang memiliki kapabilitas dan tanggung jawab dalam membangun 
kelautan dan perikanan.
Beberapa alasan yang menjadi latar belakang mengapa departemen kelautan saat 
ini memerlukan seorang menteri yang profesional. Pertama, pemanfaatan sumber 
daya kelautan khususnya sumber daya ikan sampai saat ini belum dilakukan 
secara optimal. Sehingga sumber daya tersebut sampai saat ini belum 
memberikan manfaat yang optimal terhadap perekonomian nasional.
Padahal jika dibandingkan dengan potensi sumber daya tersebut, Indonesia 
merupakan salah satu negara yang memiliki potensi kelautan terbesar di 
dunia. Dengan demikian menteri kelautan dan perikanan tersebut harus 
memahami benar bagaimana mengembangkan kebijakan ekonomi kelautan (ocean 
policy) dalam mengoptimalkan pemanfaatkan sumber daya kelautan dan perikanan 
tersebut.
Kedua, Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) merupakan departemen yang 
relatif masih baru. Sehingga memerlukan suatu pemimpin (menteri) yang 
memahami benar permasalahan kelembagaan tersebut. Selain itu juga menteri 
tersebut harus memahami benar bagaimana mengembangkan kelembagaan tersebut 
secara optimal dan efisien. Dengan demikian, Menteri Kelautan dan Perikanan 
tersebut seharusnya orang yang memiliki pengalaman organisasi.
Ketiga, pembangunan kelautan dan perikanan saat ini masih berjalan sektoral. 
Padahal dalam membangun bidang kelautan dan perikanan diperlukan suatu 
sinergisme antarsektor. Selama ini bidang kelautan dan perikanan dianggap 
hanya sektor perikanan saja. Padahal bidang tersebut terdiri dari tujuh 
sektor unggulan, yaitu sektor perhubungan laut, perikanan, pariwisata 
bahari, industri kelautan, jasa lingkungan, pertambangan lepas pantai dan 
bangunan kelautan. Oleh sebab itu DKP sebaiknya dipimpin oleh seorang 
menteri yang memiliki pandangan dan kemampuan untuk menyinergikan 
sektor-sektor tersebut dalam pembangunan kelautan dan perikanan.
Dengan dipilihnya Menteri Kelautan dan Perikanan yang tidak sesuai dengan 
kebutuhan dalam pembangunan kelautan dan perikanan saat ini mencerminkan 
bahwa Kabinet Indonesia Bersatu tidak memiliki visi kelautan dan perikanan. 
Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan bidang kelautan dan perikanan sampai 
saat ini belum menjadi arus utama pembangunan ekonomi nasional.

Reposisi Menteri Kelautan dan Perikanan
Artinya bahwa para pemimpin bangsa saat ini belum menyadari benar bahwa 
negara Indonesia adalah negara kelautan terbesar di dunia. Dengan demikian 
penulis meragukan arah pembangunan kelautan dan perikanan nasional Kabinet 
Indonesia Bersatu tersebut. Oleh sebab itu mengkhawatirkan pembangunan 
kelautan dan perikanan yang sudah dirintis selama ini akan terancam mandek.
Kabinet Indonesia Bersatu saat ini sudah terlanjur dilantik oleh presiden. 
Oleh sebab itu kita harus dapat memberikan kesempatan kepada Menteri 
Kelautan dan Perikanan tersebut untuk bertugas. Tetapi apabila dalam 
perjalanannya-maksimal 100 hari-belum menunjukkan adanya perubahan 
pembangunan kelautan dan perikanan nasional, maka Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono harus dapat memberhentikannya sebagai menteri dan menggantinya 
dengan seorang yang lebih kapabel.
Pembangunan kelautan dan perikanan nasional saat ini memerlukan kepemimpinan 
yang memiliki kapabilitas dan tanggung jawab dalam membangun kelautan dan 
perikanan nasional. Oleh sebab itu masyarakat kelautan dan perikanan 
nasional saat ini harus memperhatikan benar kinerja menteri kelautan dan 
perikanan dalam 100 hari ke depan.

Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Ekonomi Sumberdaya Kelautan Tropika 
Pasca-Sarjana IPB.


Copyright � Sinar Harapan 2003 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke