http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2004/11/4/o1.htm


Ada Bibit Disharmoni di Kabinet SBY
JAUH dari patokan 100 hari, Kabinet Indonesia Bersatu SBY-Kalla mulai dimasuki bibit 
disharmoni. Adalah pernyataan Mensekneg Yusril Ihza Mahendra sebagai penyulutnya. 
Keterangan Yusril bahwa SBY melarang para menterinya menghadiri rapat dengan DPR, 
langsung dibantah SBY sendiri. 

Kedatangan SBY ke gedung DPR, Selsaa (2/11) lalu memang tidak sekadar kunjungan 
balasan, setelah Ketua DPR Agung Laksono ke istana beberapa waktu lalu. Pada 
kesempatan itu, selain membantah keterangan Yusril, SBY juga mengatakan bahwa pihaknya 
tidak akan turut campur urusan internal DPR. Selain itu, SBY mengakui kabinetnya 
memerlukan pengawasan dari DPR agar kebijakan publik pemerintah bisa tepat sasaran 
sesuai harapan rakyat. 

Dari kejadian ini ada beberapa hal penting yang bisa ditarik. Pertama, tentu saja 
tidak sinkronnya pendapat antara pemimpin dan anak buah. Antara SBY dan Yusril. Dengan 
kejadian ini, masyarakat akan bertanya-tanya tentang efektivitas koordinasi yang 
dibangun SBY sendiri dengan jajaran kabinetnya. Logika sederhananya, membangun 
komunikasi selaras dengan anak buahnya sendiri saja bisa melenceng begitu, bagaimana 
berkomunikasi dengan lembaga yang lain? 

Pertanyaan yang agak apriori ini tampaknya cukup layak mengemuka. Selain itu, di sisi 
lain, bisa juga hal ini dipandang sebagai suatu ''kecelakaan'' yang tidak disengaja. 
Tidak bisa disalahkan kalau kemudian muncul berbagai praduga dan tanda tanya, ada apa 
di balik semua ini. Ada yang menduga bibit disharmoni memasuki kabinet, ada yang 
mencari muka serta yang lainnya. 

Kedua, adalah bagaimna kemudian SBY mengatasi hal ini dengan cepat, sehingga 
praduga-praduga semacam itu setidaknya bisa diredam, tidak dibiarkan semakin liar dan 
berkembang menjadi isu-isu yang kontraproduktif selama 100 hari pertama pembuktian 
pemerintahan SBY-Kalla. 

Kita bersyukur bahwa SBY secara cepat berkunjung ke DPR untuk mengklarifikasi masalah 
ini. Secara objektif, melarang menteri untuk menghadiri undangan DPR merupakan langkah 
yang keliru. Terlepas dari kisruh internal yang melanda lembaga legislatif ini, 
seyogianya anggota kabinet tidak secara transparan mengambil langkah konfrontatif 
dengan DPR. Kalau hal ini dilakukan, memang pada akhirnya rakyat yang jadi korban, 
namun yang jelas langkah ini sangat tidak menguntungkan posisi SBY. 

Ketika SBY-Kalla ingin membangun citra dan karya dalam masa pembuktian 100 hari ini, 
memang seyogianya pemerintah mengambil langkah aman. Menjauhkan diri dari konflik 
internal DPR dan harus tetap concern terhadap program-program pembangunan untuk 
memenuhi harapan masyarakat. 

Pun ketika akhirnya kabinet harus ''ikut'' dalam konflik internal ini, maka hal itu 
dilakukan semata-mata untuk menghormati DPR sebagai salah satu lembaga tinggi negara. 
Artinya, kalaupun kemudian para anggota kabinet menghadiri rapat kerja dengan kedua 
''faksi'' yang bertikai di DPR, antara Koalisi Kerakyatan dan Koalisi Kebangsaan, maka 
hal itu dilakukan semata-mata demi kepentingan rakyat. Sikap mengambil jarak yang aman 
dari area konflik memang langkah yang tepat. Selain itu, untuk menumbuhkembangkan 
spirit yang padu di antara kabinetnya, SBY memang perlu menanyakan lagi komitmen anak 
buahnya untuk dapat bekerja bersama-sama. Hal ini sangat penting, sehingga tidak 
terjadi lagi miskomunikasi semacam dengan Yusril itu. 

Di sisi lain, kita tentu berharap agar konflik internal di DPR segera diselesaikan. 
Hal ini tidak hanya sangat memalukan bagi lembaga terhormat itu, tetapi yang lebih 
penting bahwa rakyatlah yang akan terkena getahnya. Kedua faksi yang bertikai 
diharapkan segera menoleh sejenak kepada hakikat keberadaan mereka di lembaga 
legislatif. 

DPR adalah Dewan Perwakilan Rakyat. Bukan perwakilan parpol. Jadi, semoga dipahami 
benar bahwa ketika mereka menghuni rumah rakyat itu, maka kewajibannya untuk mengemban 
tugas partai sudah selesai. Berganti dengan kewajiban mengemban aspirasi rakyat. Kalau 
hal ini tidak dipahami, maka kejadian yang sangat memalukan itu akan terus terjadi. 



 http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2004/11/4/o4.htm

Buang-buang Waktu di DPR

PERKEMBANGAN politik yang terjadi di Indonesia saat ini cukup menarik diperhatikan. 
Jika sebelumnya diprediksi akan terjadi pertarungan antara lembaga kepresidenan dengan 
lembaga legislatif, setidaknya dalam satu minggu terakhir ini yang terjadi justru 
tarik-menarik kekuatan di antara komponen lembaga legislatif (DPR). 

Di lembaga ini terjadi pertarungan kepentingan untuk memperebutkan posisi ketua komisi 
dan badan-badan yang menjadi kelengkapan lembaga tersebut. Tetapi, sampai saat ini, 
hal itu masih belum bisa diselesaikan karena terjadinya aksi boikot yang dilakukan 
Koalisi Kerakyatan. Pada pihak lain, Koalisi Kebangsaan telah melakukan "bagi-bagi" 
ketua akibat pemboikotan itu. Inilah yang kemudian membuat kekisruhan tersebut 
terjadi. 

Presiden akhir minggu yang lalu terpaksa mengeluarkan perintah kepada anggota 
kabinetnya agar tidak bertemu dengan DPR selama konflik dua kubu ini masih meruncing. 
Namun, sikap Presiden ini justru kemudian memancing kecaman dari para anggota DPR dari 
kubu Koalisi Kebangsaan, dianggap bisa memperkeruh suasana. Jika dilihat sepintas, 
tindakan Presiden yang melarang anggota kabinetnya bertemu parlemen, bisa dikatakan 
keliru. Sebab, bagaimana pun dalam sistem ketatanegaraan Indonesia, kedua lembaga 
tersebut harus saling bekerja sama dalam membuat kebijakan publik. Apalagi dalam era 
semangat perbaikan kualitas masyarakat Indonesia saat ini, kerja sama ini amat 
diperlukan. 

Dengan semangat kebersamaan itu pula, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) 
bertandang ke DPR, Selasa (2/11) lalu. Kehadirannya atas inisiatif sendiri untuk 
memberi klarifikasi kepada pimpinan Dewan. Dalam klarifikasinya, SBY membantah 
pernyataan dirinya telah melarang menteri-menterinya hadir di rapat kerja komisi DPR, 
sebagaimana disampaikan lewat Mensekneg Yusril Ihza Mahendra. 


***
Kerja sama antardua lembaga tersebut akan berhasil baik jika dalam keadaan normal. 
Artinya, tidak terjadi situasi di luar kebiasaan dalam masing-masing lembaga tersebut. 
Terlepas dari adanya klarifikasi SBY kepada pimpinan DPR, si DPR saat ini bisa 
dikatakan terjadi kondisi di luar kebiasaan itu. Boleh dikatakan lembaga perwakilan 
rakyat Indonesia saat ini sedang terbelah. Secara politik sangatlah berbahaya jika 
misalnya pertemuan antara para menteri dengan DPR dalam situasi seperti itu. 

Lima fraksi yang menjadi anggota Koalisi Kerakyatan mempunyai anggota yang cukup 
signifikan di DPR, meski tetap lebih kecil dari anggota Koalisi Kebangsaan. Jika 
misalnya pertemuan antara menteri itu dengan DPR bertujuan membahas perkembangan 
sosial politik tertentu, diduga keputusannya akan timpang karena suara-suara kritis 
dari anggota. Koalisi Kerakyatan tidak ikut berdebat. Secara politik ini merugikan, 
apalagi jika dihubungkan dengan semangat perbaikan yang didengung-dengungkan oleh SBY. 

Keputusan yang saat ini diperlukan di DPR (antara DPR dengan eksekutif), bukanlah yang 
bersifat mayoritas, tetapi yang lebih mewakili terhadap problem yang terjadi di 
masyarakat. Bukan keputusan yang bersifat politis, tetapi keputusan yang bersifat 
populis, yang lebih bersentuhan dengan kenyataan real di masyarakat. Keputusan seperti 
ini harus dilakukan dengan lebih banyak orang yang mempunyai pandangan kritis. 

Jadi, dengan logika seperti itulah untuk sementara anggota kabinet tidak bertemu 
dengan lembaga DPR. Hal ini hanya terjadi selama konflik internal yang terjadi di 
lembaga legislatif itu masih meruncing, bukan seterusnya. 


***
Jika dilihat dari arah kebijakan yang hendak dirancang Presiden, SBY mempunyai poin 
utama untuk memberantas korupsi sebagai penyakit paling hebat di Indonesia. Konflik 
yang terjadi di DPR itu sebenarnya bisa berujung pada korupsi jika tidak cepat-cepat 
dicegah. Inti konflik di DPR adalah perebutan ketua-ketua komisi yang ada di lembaga 
tersebut. Di lembaga ini menurut beberapa sumber, memang ada komisi basah yang bisa 
memberikan sumbangan materi kepada mereka yang menguasainya (misalnya saja, salah 
satunya Komisi XI yang membawahi keuangan dan perbankan). Inilah biang keributan 
tersebut. Pelarangan para menteri untuk bertemu DPR tersebut, bisa dipandang sebagai 
sebuah peringatan bahwa sudah bukan zamannya lagi untuk memperebutkan komisi-komisi 
basah tersebut karena akan bisa mengganggu jalannya program pemerintah yang sudah 
didengung-dengungkan lama oleh SBY. 

Tetapi, sepertinya anggota DPR ini tidak mengerti dan tetap terpengaruh gaya lama. 
Konflik di DPR memang amat mengganggu, membuang-buang waktu. Padahal, waktu itu yang 
sesungguhnya sangat penting untuk saling berdebat demi memperbaiki kondisi masyarakat 
yang saat ini masih tertimpa kesulitan ekonomi. 

Jika terus-menerus terjadi konflik di DPR, hal yang paling ditakutkan adalah 
terulangnya peristiwa tahun 1959, di mana konstituante dibubarkan oleh Presiden 
Soekarno. Konstituante tidak mampu mengakhiri konfliknya yang membuat keadaan negara 
menjadi kritis. 

Sebaiknya memang konflik cepat berakhir dan lebih baik dengan cara kompromis. 

* GPB Suka Arjawa 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke