http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=139076

Kamis, 04 Nov 2004,
Untuk Mencerdaskan, Bukan Beban
Oleh Winda Herdyaning P.*

Para orang tua murid tidak akan lagi dipusingkan biaya pembelian buku yang tinggi dan 
beragam. Pasalnya, buku pelajaran SD, SMP, dan SMA akan berlaku lima tahun sejak tahun 
ajaran 2005/2006. Kebijakan itu ditempuh Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan 
Rakyat (Menko Kesra) Alwi Shihab dari hasil rapat kabinet kesra sebagai bagian terapi 
kejut 100 hari pemerintahan SBY-Kalla. 

Seperti yang dinyatakan Menko Kesra, kebijakan penertiban buku tersebut merupakan 
kebijakan yang proorang tua. Selama ini, para orang tua murid memang merasa berat jika 
tiap tahun ajaran baru pasti ada ganti buku pelajaran. Dengan kebijakan penertiban 
buku tiap lima tahun itu, para orang tua akan diuntungkan. Setidaknya, para orang tua 
tidak lagi dipusingkan biaya pembelian buku yang beraneka ragam tersebut setiap tahun.

Kebijakan tersebut dilahirkan tidak sekadar berupaya memihak kepentingan orang tua, 
sebagai penanggung jawab pembiayaan setiap siswa pada umumnya. Kebijakan itu, pada 
konteks tertentu, juga melihat sisi rasionalisasi. Selama ini, pengadaan buku-buku 
pelajaran, mulai yang berbentuk buku paket hingga lembar kegiatan siswa, lebih 
terkesan menjadikan siswa-siswa tersebut pasar penjualan buku, dibandingkan dengan 
konsumen yang layak membutuhkan buku-buku tersebut.

Dalam konteks kepentingan konsumen, semestinya, peredaran buku-buku itu telah 
melanggar hak-hak konsumen. Distribusi buku-buku itu lebih banyak dimainkan 
penerbit-penerbit buku khusus sekolah yang diakui atau tidak juga menjalin kerja sama 
dengan pihak dalam sekolah, guru atau oknum yang lain di sekolah tersebut. Akibatnya, 
sering terjadi tumpang tindih antara buku yang satu dengan yang lain.

Tidak jarang, substansi buku-buku yang diterima murid hampir tiap tahun tidak 
mengalami perubahan yang signifikan. Bagaimanapun, itu adalah praktik komersialisasi 
dunia pendidikan kita. Kebijakan untuk memberlakukan buku pendidikan menjadi tiap lima 
tahun memang memunculkan banyak pihak yang pro dan kontra. Yang pro lebih melihat 
efektifitas fungsi buku bagi pengembangan kurikulum pendidikan. Sementara itu, pihak 
yang kontra mengkhawatirkan bahwa lima tahun terlalu lama, karena setiap hari 
berkembangan dunia sangat cepat dan progresif. 

Dalam tarik-menarik seperti itu, penulis melihat kebijakan pergantian buku tiap tahun 
semestinya dikorelasikan dengan kemampuan orang tua si murid. Diakui atau tidak, 
pergantian buku dengan periode satu tahun relatif singkat untuk pengembangan isi dan 
substansi buku di kelas yang sama. Menurut hemat penulis, kebijakan penggunaan buku 
semestinya tetap diletakkan dalam konteks peran buku tersebut bagi pengembangan 
intelektual si murid, bukan lama tidaknya buku tersebut diproduksi.

Kebijakan pergantian buku pelajaran tiap lima tahun sebenarnya merupakan jalan tengah 
dua kepentingan yang sama-sama diperhitungkan. Itu adalah kepentingan daya ekonomis 
orang tua yang semestinya tidak dieksploitasi dan kepentingan kontekstualisasi 
perkembangan ilmu bagi murid dalam isi buku. Coba bayangkan jika tiap tahun terjadi 
pergantian buku bagi keluarga yang mempunyai empat anak yang duduk di kelas yang 
berbeda satu tingkat. Berapa biaya yang harus dipikul orang tua untuk membeli buku?

Pergantian buku tiap lima tahun bukan berarti tidak berdampak. Lamanya pergantian buku 
berpotensi ketinggalan zaman, mengingat perkembangan dunia global amat cepat. Apa yang 
dapat kita lihat jika lima tahun baru diadakan pencetakan baru? Bukan tidak mungkin, 
banyak pabrik atau usaha percetakan tutup, penulis dan pengarang buku terancam 
bangkrut, pabrik tinta, kertas, penjilidan kolaps. Kekhawatiran itu semestinya juga 
harus diperhitungkan pemerintah secara cermat.

Bagaimanapun, buku yang usang akan menjadikan murid tidak memiliki perkembangan 
pengetahuan yang up to date. Kebijakan subsidi pendidikan disetiap sekolah, tapi buku 
ganti per tahun dengan tujuan percetakan publikasi akan tetap jalan dan buku tetap up 
to date, dapat menjadi alternatif untuk mempertemukan dua kepentingan tersebut. 

Pemerintah semestinya sudah siap menerima imbas jika kebijakan tersebut diberlakukan. 
Tidak hanya imbas yang menyangkut kualitas pendidikan, tapi jika di sektor ekonomi 
bisnis perbukuan yang mau tidak mau terkena imbas kebijakan itu.

Akhirnya, kebijakan apa pun tentang buku semestinya tidak mereduksi fungsi dan peran 
buku dalam mendukung proses membangun kualitas pendidikan yang lebih baik. Jangan 
sampai kebijakan tersebut lahir secara reaktif sebagai upaya populis pemerintah 
menarik simpati para orang tua murid, tapi mengorbankan hak murid untuk mendapatkan 
perkembangan ilmu yang cukup dinamis. Namun, sebaliknya, jangan sampai kemudian 
kebijakan itu melahirkan satu persepsi bahwa buku hanya sebagai barang komoditas 
ekonomi semata dan ongkos sosial yang harus dihindari. Sampai kapan pun, buku untuk 
mencerdaskan, bukan untuk menjadi beban!


* Winda Herdyaning P., mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke