http://www.suaramerdeka.com/harian/0411/04/opi3.htm

Kamis, 04 Nopember 2004                                 WACANA

Potret Buruk Demokrasi Pemerintahan
Oleh: Novel Ali

PROSES berbagi kekuasaan pemerintahan, antara presiden dan parlemen, 
belakangan ini tidak berlangsung smooth. Pembagian kekuasaan antara kedua 
lembaga negara itu, tidak dilandasi semangat kebersamaan yang arif, karena 
desakan kepentingan anggota fraksi pendukung presiden (Koalisi Kerakyatan) 
di satu sisi, bertentangan dengan kepentingan fraksi-fraksi oposisi (Koalisi 
Kebangsaan) di parlemen.
Salah satu muara penyebabnya, adalah keinginan calon presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono untuk membentuk koalisi terbatas, bila dirinya terpilih sebagai 
presiden. Ia berharap parpol yang tidak tertampung di kabinet, untuk 
membentuk koalisi oposisi.
Sebetulnya, keinginan politik tersebut wajar, logis dan tidak bertentangan 
dengan substansi serta esensi demokrasi. Oposisi di parlemen, bukan barang 
haram dalam sebuah negara yang menganut sistem demokrasi.
Keberadaan kekuatan oposisi di parlemen, akan menjadi kontroler tetap bagi 
berlangsungnya pemerintahan negara di bawah kendali presiden. Kontrol itu 
bisa memperkuat fungsi Parlemen, terutama guna mencegah terjadinya 
penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power) Presiden/Wakil Presiden terpilih 
dan Kabinetnya.
Belakangan ini, olah kekuatan koalisi terbatas yang menyandang sebutan 
Koalisi Kerakyatan dan koalisi oposisi (Koalisi Kebangsaan), seakan sedang 
berhadap-hadapan (vis a vis), di samping berkesan bersiap bertarung demi 
mewujudkan kepentingan masing-masing.
Kekuatan oposisi di parlemen, mulai menunjukkan penampakan. Khususnya ketika 
fraksi-fraksi di DPR yang bergabung dalam Koalisi Kerakyatan menganggap 
fraksi-fraksi lain yang bergabung dalam Koalisi Kebangsaan, melakukan 
pengkhianatan terhadap kesepakatan di antara mereka.
Akibatnya, saat paripurna DPR RI (27/10) mengesahkan alat kelengkapan Dewan, 
seluruh anggota DPR dari kelima fraksi tergabung dalam Koalisi Kerakyatan, 
tidak hadir. Pemboikotan Fraksi Kerakyatan ini, merupakan bentuk protes 
terhadap pimpinan DPR dan Fraksi Koalisi Kebangsaan, yang tidak konsisten 
dengan kesepakatan memilih pimpinan komisi yang dilakukan secara 
proporsional.
Dengan sistem tersebut, Koalisi Kerakyatan yakin pimpinan Komisi di DPR RI 
tidak akan sepenuhnya dipegang anggota DPR dari Fraksi Kebangsaan, 
sebagaimana akhirnya terbukti dari hasil sidang paripurna DPR (28/10). 
Pemilihan secara proporsional, diyakini memungkinkan terbukanya jatah kursi 
ketua dan wakil ketua komisi dari fraksi Koalisi Kerakyatan.
Goresan Politik
Belakangan, fraksi-fraksi Koalisi Kebangsaan plus F-KB, mengubah kesepakatan 
terdahulu. Mereka memilih sistem voting dalam pemilihan pimpinan komisi.
Menjelang sistem voting diketuk di sidang paripurna tersebut, lima fraksi 
Koalisi Kerakyatan memboikot. Setelah diskors beberapa kali, dan sidang 
paripurna itu sendiri tidak mencapai qourum, keputusan tetap diambil dengan 
memaksakan penetapan sistem voting dalam pemilihan-pemilihan pimpinan komisi 
DPR RI.
Hasil sidang DPR (28/10) itu, Koalisi Kebangsaan mendomiasi posisi Ketua 
Komisi DPR. F-PG meraih 5 ketua dan 8 wakil ketua. FPDI-P mendapat 4 ketua 
dan 8 wakil ketua. F-KB meraih 1 ketua dan 9 wakil ketua. Sedang F-PDS serta 
F-PAN, masing-masing memperoleh 2 kursi wakil ketua.
Koalisi Kerakyatan menilai, kasus itu sebagai pelanggaran tata tertib DPR. 
Karenanya, mereka meminta hasil putusan dimaksud batal demi hukum. Tetapi, 
pimpinan DPR RI tampaknya tidak akan mementahkan hasil sidang paripurna 
(walau tidak mencapai qourum) tersebut.
Kasus bagi-bagi kekuasaan di parlemen sebagai produk penetapan ketua dan 
wakil ketua alat kelengkapan Dewan yang bernama komisi, dimana satu sisi 
menghendaki secara proporsional, sedang sisi lain pakai sistem voting, 
memberi goresan politik tersendiri pada potret demokrasi pemerintahan kita. 
Ini disebabkan karena landasan konflik dimaksud, adalah penggunaan persepsi 
yang berlainan di antara kedua pendukung Koalisi yang tengah berseteru. 
Padahal, sesungguhnya dan seharusnya, persepsi aktor publik di Koalisi 
Kerakyatan, juga di Koalisi Kebangsaan, tidak boleh diposisikan, atau 
di-set, sebagai tujuan politik itu sendiri.
Namun, demikianlah faktanya. Potret demokrasi pemerintahan kita menjadi 
buruk, lantaran kebiasaan memosisikan atau membangun persepsi politik, 
sebagai tujuan politik yang bersangkutan. Akibatnya, acapkali para aktor 
politik tidak bisa membedakan, mana yang berfungsi persepsi dalam bentuk 
landasan penerbangan, dan mana pula tujuan (akan didatangi oleh pesawat 
terbang yang akan take off dari landasan penerbangan dimaksud.
Tidak Perlu Interpelasi
Kasus pertama diuraikan di atas, membentuk keyakinan kita atas kemungkinan 
rapat paripurna DPR menolak pencabutan surat persetujuan presiden terpilih 
(SBY) atas surat persetujuan presiden sebelumnya (Megawati), berkaitan 
dengan permohonan pengunduran diri Panglima TNI Jenderal Endriartono 
Sutarto.
Surat resmi Presiden SBY itu, dibacakan dalam rapat paripurna DPR yang hanya 
dihadiri anggota DPR dari Koalisi Kebangsaan. Begitu surat tersebut 
dibacakan, semua peserta rapat bereaksi keras atasnya. Ketidakhadiran 
fraksi-fraksi yang tergabung dalam Koalisi Kerakyatan, menguntungkan Koalisi 
Kebangsaan untuk bersuara menentang surat Presiden SBY dimaksud (SM, 28/10).
Mau tidak mau, Presiden SBY pun harus bersiap menghadapi kemungkinan DPR 
mengajukan interpelasi berkaitan dengan pencabutan surat persetujuan 
presiden sebelumnya (Megawati) sehubungan pengunduran diri Panglima TNI 
Jenderal Endriartono Sutarto.
Menghadapi kasus ini, sebetulnya DPR tidak perlu berepot-repot mengajukan 
interpelasi. Ini disebabkan pengganti Jenderal TNI Endriartono Sutarto 
sebagai Panglima TNI (yang diajukan presiden sebelumnya) yaitu KSAD Jenderal 
Ryamizard Ryacudu, telah menegaskan "sampai sekarang atasannya adalah 
panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto."
"Panglima dan atasan saya adalah Jenderal Endriartono Sutarto. Dalam masa 
konsolidasi ini, biarlah TNI seperti apa adanya sekarang," kata KSAD 
Jenderal Ryamziard Ryacudu.
Ketika ditanya wartawan berapa lama jangka waktu untuk konsolidasi itu, KSAD 
Ryamizard menyebutkan, "itu sepenuhnya ada di tangan Presiden SBY. Terserah 
beliau saja," tegasnya (SM, 29/10).
Sikap tegas KSAD dimaksud, perlu dipertimbangkan masak-masak oleh seluruh 
unsur pimpinan dan segenap anggota DPR RI. Kalau tidak, bukan mustahil 
interpelasi DPR atas presiden tersebut dapat mengakses konflik terbuka, atau 
terselubung, di antara kedua lembaga dimaksud. Yaitu antara parlemen 
(khususnya Koalisi Kebangsaan) dengan TNI, walau TNI sendiri tidak akan 
mencampuri wilayah politik, sesuai dinyatakan KSAD Ryamziard Ryacudu pada 
waktu bersamaan.
Dua Kemungkinan
Sehubungan kedua kasus dan uraian terdahulu, mutlak diperlukan kanalisasi 
kepentingan politik antara kubu kepentingan Presiden dengan kubu kepentingan 
oposisi di parlemen. Jika kanalisasi dimaksud tidak berhasil diwujudkan, 
bukan mustahil akan terbentuk sedikitnya dua kemungkinan politik praktis.
Kedua kemungkinan itu, sama-sama tidak menguntungkan bagi keseluruhan 
kepentingan nasional kita.
Kemungkinan pertama, terbentuknya kesadaran bersama di pihak presiden dan 
DPR (khususnya fraksi-fraksi yang tergabung dalam Koalisi Kebangsaan), untuk 
bersama-sama membangun kompromi guna mencegah semakin memburuknya potret 
demokrasi pemerintahan RI 2004-2009.
Dengan kompromi dimaksud, diharapkan kedua belah pihak dapat menemukan 
solusi masalah negara dan bangsa secara menyeluruh.
Kemungkinan kedua, konflik Presiden SBY dengan parlemen, akan semakin 
menajam. Presiden memperoleh back up moral dan politis dari fraksi-fraksi 
Koalisi Kerakyatan, semakin ketat berhadapan dengan poliitk kritis dan 
politik cari-cari kesalahan dari fraksi-fraksi Koalisi Kebangsaan di DPR.
Kecenderungan demikian, bisa membentuk "lubang tikus" menuju akses impeach 
parlemen atas presiden. Namun, realita dimaksud tidak mudah , karena ekstra 
kuatnya dukungan rakyat terhadap presiden terpilih. (18)
- Novel Ali, Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas 
Diponegoro Semarang 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke