Pada dasarnya sangat setuju dengan paparan anda. 

Kita mabil contoh sederhana saja. Ada toko yang meng-iming2i anak 
kita agar beli barang2, yang sebenarnya tak dibutuhkan, dan..mahal. 
Ketika, anak itu katakan, tak dapat uang dari ortu, si pemilik toko 
katakan, tak apa, kau bisa cicil...

Saya juga percaya, bahwa dari titik pandang si pemberi hutang, 
kebanyakan adalah kepentingan sendiri, yakni, bagaimana dapat 
membiayai export ke LN. Tetapi, ini juga tergantung dari kemantapan 
si penerima hutang.

Malaysia, misalnya, tak mudah menerima pinjaman untuk membiayai 
export dari negara industri ke Malaysia. Juga RRT. Juga India. India 
sangat ketat membatasi quota pinjaman dari LN.

Pada masa jayanya orde baru (sangat berlawanan dengan policy bung 
Karno), amat sangat mudah pengusaha2 Indonesia, juga perusahaan2 
negara, menerima pinjaman, untuk membiayai proyek2 mereka. yang 
finally digelembungkan..

Dalam sebuah rapat Credit Committtee diperusahaan kami, dalam 
membahas beberapa pinjaman macet, saya sempat katakan, mengapa kita 
secara buta tuli mensupport exportir dari sisni, untuk men-supply ke 
Indonesia, walau kondisi sudah sulit? Tidakkah ini tak memperdulikan 
kondisi Indonesia? lalu bingung ketika Indonesia kesulitan membayar 
kembali?

Ketika saya dinas di Indonesia diawal 70an, saya lihat pinjaman ber-
juta2 untuk memasukkan kendaran Mercedes benz, termasuk bus2 dan 
trucks. Untuk Europa saja produk ini termasuk barang mahal, apalagi 
untuk Indonesia. Tetapi, rasanya devisa di-hambur2kan seolah tak 
terbatas.

Siapa musuh kita? Ya kepentingan2 yang berhadapan dengan kepentingan 
bangsa kita. Apakah itu pejabat, pengusaha kita sendiri, ataupun 
mitra2 mereka dari luar.

Kalau kita lihat, di Jakarta saya temui lebih banyak mobil2 luxus 
papan atas, tak usah sebut merk, daripada dikota Vienna, ibukota 
salah satu negara pemberi kredit pada Indonesia, maka timbul 
pertanyaan: apakah kita sudah demikian kaya?

Wakil2 rakyat kita memakai kendaraan2 yang di Europapun jarang yang 
mampu beli. Hhmmm siapakah musuh kita? Hanya orang luar? Orang kita 
sendiri?



Salam

RM D Hadinoto




--- In [EMAIL PROTECTED], "Kusfiardi" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> rm_danardono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> rmd:
> > Apa yang terjadi dimasa orde baru ini adalah sebuah
> > tragedi 
> > nasional. Proyek2 dibangun secara besar2an, dibiayai
> > oleh pinjaman 
> > LN (negara dan private banks), dibangun oleh
> > pengusaha2 mitra 
> > pemerintah/pejabat, dengan jumlah investasi yang
> > digelembungkan.
> 
> > ...delete...
> 
> > Kalau tak salah, memang ada keterangan dari pejabat
> > IMF, bahwa ada 
> > pejabat IMF yang menerima uang suap.
> 
> 
> RD:
> berdasarkan bentuknya utang luar negeri ada dua, yaitu:
> 
> 1. utang proyek yang diterima dalam bentuk barang dan jasa dari  
kreditor (baik bilateral maupun multilateral). dengan kondisi ini 
tengah terjadi transaksi barang dan jasa dari pihak kreditor kepada 
Indonesia. dalam transaksi ini, fungsi kontrol sangat lemah, sehingga 
peluang terjadi praktik mark up atau tindakan korup lainnya sangat 
besar. termasuk praktik suap yang melibatkan pihak yang menyalurkan 
utang, seperti WB dan ADB misalnya.
> secara ekonomis utang ini memberikan manfaat akumulatif bagi 
perekonomian negara kreditor.
> 
> 2. utang program yang diberikan dalam bentuk dana cash tetapi 
dengan persyaratan yang memngikat. biasanya utang program ini sejalan 
dengan agenda struktural adjustment program (SAP) yang pada intinya 
adalah pelaksanaan agenda washington concencus, liberalisasi 
perdagangan & keuangan, anggaran ketat & penghapusan subsidi, 
kemudian swastanisasi melalui program privatisasi dan divestasi 
perusahaan milik negara. utang program dengan sendirinya praktis 
mencampuri urusan politik dalam negeri Indonesia sebagai negara yang 
berdaulat. tindakan ini sudah melanggar prinsip transaksi utang, baik 
dari pihak kreditor maupun pemerintah Indonesia sendiri.
> 
> Selama ini, transaksi utang sudah menjadi praktik yang 
menguntungkan pihak yang berkuasa dan pihak pemilik modal. Bukan hal 
aneh kiranya bila Indonesia masih dan akan tetap terjebak dalam 
kondisi dan struktur masalah sosial ekonomi yang buruk. Indikatornya 
adalah, tingginya angka kemiskinan, pengangguran dan pemutusan 
hubungan kerja. Kemudian mahalnya biaya untuk memperoleh pelayanan 
kesehatan dan pendidikan. Bahkan termasuk sulitnya memenuhi hak dasar 
yang sudah menjadi konvensi dunia internasional "Ecosoc Right".
> 
> Dengan karakter utang yang sudah dijelaskan tersebut maka  
sesungguhnya bisa dikatakan bahwa utang luar negeri Indonesia selama 
ini adalah utang yang tidak sah (illegitimate debt). Untuk itu maka 
tuntutan yang relevan adalah penghapusan utang, bukan pengampunan 
atau pemotongan utang.
> 
> rmd:
> > Meminta write-off secara tekhnis mungkin, namun
> > sulit sekali, dan 
> > kita akan masuk black list, dan dihindari para
> > investor. Lebih 
> > daripada itu, hal ini akan sangat memperburuk
> > country risk 
> > Indonesia, yang berpengaruh pada bunga pinjaman
> > (risk premium, X + 
> > LIBOR).
> 
> RD:
> Kesulitan untuk meminta penghapusan utang, lebih banyak disebabkan 
oleh mitos yang didengungkan oleh para kaki tangan kreditor (IMF, WB 
dan ADB) ditubuh pemerintahan Indonesia dan propaganda pihak kreditor 
sendiri. Tugas beratnya justru menghancurkan mitos yang menyesatkan 
ini.
> 
> Kalau saja pemerintahan negara RI mau menggunakan basis hak 
konstitusi dan label negara korup yang diberikan oleh lembaga 
internasional kepada Indonesia, maka persoalannya menjadi lain.
> 
> Hak konstitusi itu sejalan dengan konvensi internasional "Ecosoc 
Right" dan persoalan korupsi sudah menjadi komitmen duniaa 
internasional. Dengan demikian apabila pemeirntahan yang memiliki 
redibilitas dan akuntabilitas berani bersikap bahwa utang indonesia 
adalah utang yang tidak sah, maka peluang untuk terbebas dari jerat 
utang bisa diwujudkan.
> 
> rmd:
> > Pinjaman dari Austria yang dijamin negara Austria,
> > dan jebol, 
> > diambil alih negara melalui agency pemerintah
> > (Kontrollbank, di 
> > Jerman HERMES), lalu pemerintah Austria menagihnya
> > pada Indonesia 
> > melalui sebuah konsortium (Paris Round), sedangkan
> > yang berasal dari 
> > bank2 privat, harus kami tagih juga melalui
> > konsortium pemberi 
> > pinjaman (London Round).
> > 
> > Pinjaman untuk Indonesia ada yang diberikan pada
> > pemerintah melalui 
> > kementrian keuangan RI , namun tak sedikit yang
> > diberikan pada 
> > perusahaan2 privat. Mereka kebanyakan mengalami
> > kesulitan membayar 
> > kembali ketika timbul monetary crisis.
> 
> RD:
> Contoh diatas sudah sangat bisa menggambarkan betapa utang luar 
negeri tidak bertujuan untuk meningkatkan perekonomian sebuah bangsa, 
bahkan sangat sarat dengan indikasi KKN. 
> 
> rmd:
> > Malaysia, menunda dan meng-cansel banyak sekali
> > proyek2 mereka pada 
> > awal crisis. Termasuk proyek raksasa pembangunan
> > dam. Thailand dan 
> > Korea selatan berhasil mengembalikan sebagian besar
> > pinjaman, 
> > sebagian lain masih berjalan, namun tak ada yang
> > macet,
> > 
> > Singapura tak meminta pinjaman samasekali.
> > 
> > Yang menyedihkan, adalah, tapi kami tak mungkin
> > berbuat apa2 disini, 
> > kami tahu, bahwa hampir setiap proyek digelembungkan
> > (marked up) 
> > untuk di-bagi2 antara pejabat dan pengusaha. Juga,
> > tiap proyek yang 
> > dibiayai pinjaman (dikembalikan oleh rakyat melalui
> > pajak), langsung 
> > memperkaya eli yang memiliki perusahaan dan mitranya
> > dikementrian 
> > yang memberikan izin2.
> > 
> > Seperti anda katakan, memperbesar gap antara sikaya
> > dan simiskin.
> > 
> > Salam
> > 
> > RM D Hadinoto
> 
> RD:
> Sebenarnya yang kita butuhkan adalah pemerintahan yang berpihak 
pada kedaulatan rakyat, dengan indikator bekerja untuk memenuhi hak 
konstitusi rakyat yang disebutkan dalam UUD 1945.
> 
> Pemerintahan seperti ini hanya bisa lahir bila kita tidak mau lagi 
dibodohi dengan demokratisasi semu yang mengelabui kita dengan 
pergantian aktor didalam pemerintahan. Karena bagaiamanapun, 
ternayata sejauh ini pergantian aktor pemerintahan tidak pernah 
menghambat bahkan menghentikan agenda "Washington Concencus" yang 
dibawa melalui IMF, WB, ADB dan CGI.
> 
> Sekarang tinggal merumuskan dengan jelas, musuh bersama dan agenda 
perlawanan untuk mengusir musuh bersama itu.
> 
> Menurut sidang milis sekalian, siapakah sebenarnya musuh bersama 
kita itu?
> 
> salam
> aRDi
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]








------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke