Dari Sebuah Percakapan: MORALITAS MACAM APA KITA
PUNYA?
Oleh Tangkisan Letug
Sarapan pagi ini ditemani kawan-kawan muda. Tersedia
telor matasapi di meja. Cukup untuk sarapan yang sehat
dengan ditemani teh atau susu. Aku lebih suka kali ini
mengambil teh hijau, untuk penyeimbang makanan
berlemak. Katanya, teh hijau bisa mengurangi lemak.
Seorang kawan muda membuka cerita tentang persoalan
moralitas. Katanya, "Agak aneh ya. Hidup moral orang
Indonesia sepertinya terjaga baik. Tetapi kalau
melihat wajah-wajah orang-orang di kota-kota,
sepertinya ada ketertekanan di raut mereka. Apakah
memang orang Indonesia itu tidak bisa menikmati
bahagia?"
Aku terhenyak mendengar komentar spontan kawan muda
itu. Pertanyaannya kubawa lebih jauh menjadi,
"Moralitas macam apakah yang sebenarnya sedang tumbuh
dan dihidupi orang Indonesia?" Kukira pertanyaan
semacam ini cukup mendasari reason d'etre mengapa kita
membentuk Republik ini. Yang aku khawatirkan,
pertanyaan semacam ini memang sudah tidak lazim lagi
di kalangan pemikir dan kaum elit negeri yang merasa
menjadi pejuang-pejuang bangsa ini.
Sungguh, dalam hati aku risau. Tiada kulihat titik
terang sebuah dasar moralitas kita yang masih berjiwa,
kecuali sebuah dasar rapuh yang bernama uang dan
kuasa. Bahkan agama-agama yang telah turun-temurun
dihidupi oleh nenek moyang kita, seperti semakin
tinggal hanya bangkai-bangkai yang bau tengik saja.
Agama-agama tak lebih hanya asesori bagi idol-idol
yang bernamaa uang dan kuasa. Semakin agamaa tampak
berkuasa di ruang publik, semakin ia menjadi lebih
tengik menampilkan dirinya.
Maafkan atas ungkapan ini. Tak lebih itu adalah kritik
diri sebagai warga negeri yang getir melihat realitas
terkini. Atas nama agama, moralitas yang dibangun tak
lebih daripada moralitas budak. Dalam moralitas budak,
kemerdekaan yang merupakan tumpuan
tumbuh-kembang-dewasanya suara hati tidak dimungkinkan
lagi. Moralitas budak yang telah melingkupi budaya
yang kita hirup setiap hari semakin dipelihara lewat
segala bentuk kekerasannya. Moralitas budak selalu
memakai sarana "pemaksaan" dalam menegakkan
nilai-nilai yang dianggap idealnya. Tak ada tempat
lagi bagi pertimbangaan budi. Apa kata ayat agama,
itulah pedoman selamanya.
Dengan demikian, pada dasarnya, moralitas manusia
Indonesia itu sangat rapuh dan primitif. Apa bedanya
segala bentuk aturan agama yang memaksakan itu dengan
aturan suku-suku di hutan belantara?
Aku bawa kembali kritik-diri itu ke bilik kamarku.
Hanya rasa kelu. Akan mampukah Republik-ku menjadi
rumaah bagi manusia-manusia pembaharu moralitas
bermutu?
8 November 2004
__________________________________
Do you Yahoo!?
Check out the new Yahoo! Front Page.
www.yahoo.com
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/