Catatan Menyambut Matahari Pagi:
SURAT TENTANG SASTRA KEPADA ANAS AGE [12].
Kemudian pada alinea kedua suratnya Anas Age menulis:
"Dan kini perubahan dunia begitu cepat. Isu-isu feminisme yang diusung oleh
beberapa negara di Barat telah masuk ke Indonesia. Salah satunya adalah isu-isu
tentang tubuh perempuan. Tentang tubuh perempuan ini, Simon de Bevoir dengan
cermat menulis dalam Second Sex. Tema-tema tubuh perempuan inilah yang
dieksplorasi oleh penulis-penulis perempuan seperti Dinar Rahayu, Ayu Utami,
Jenar Maesa Ayu. Saya sepakat bila para penulis perempuan ini sebenarnya sedang
mengadakan "perlawanan" dengan tubuhnya sendiri terhadap gempuran kapitalisme,
atau melawan patriarki".
Dari alinea ini saya ingin mengangkat soal-soal berikut: [1]. Ide femininisme
Barat; [2]. Tubuh perempuan dan sastra; [3]. The Second Sex, Seks Ketiga dan
Seks Ke empat.
[4].Tentang "Seks Keempat":
Lahirnya periode "Seks Ketiga, barangkali bisa dipandang sebagai perkembangan
maju yang dicapai dalam masalah kesetaraan lelaki-perempuan serta perujudan
tatanan nilai dominan yang dirambah oleh periode "Seks Kedua".
Tuntutan akan kesetaraan ini kemudian berkembang lebih lanjut di kalangan para
homo dan lesbian. Golongan ini tidak kecil jumlahnya di Perancis dan tuntutan
mereka untuk mendapatkan pengakuan kesetaraan dan hak nikah resmi dari hari ke
hari kian menguat. Sekarang, di metro-metro [kereta api bawah tanah] kota
Paris, bukan lagi pemandangan asing jika kita melihat lelaki dengan lelaki atau
perempuan dengan perempuan saling berciuman, elus-elusan dan rangkul-rangkulan
sebagaimana layaknya sepasang kekasih. Demikian juga di jalan-jalan sering kita
saksikan sepasang homo mendorong kereta bermuatan anak pungutan mereka.
Gejala yang menarik bahwa tidak sedikit lelaki Indonesia yang jadi istri lelaki
Perancis. Teman-teman di Koperasi Restoran Indonesia Paris, menertawakan aku
ketika aku menggerundel sendiri. Masalahnya ketika aku bekerja di dapur,
Soejoso memintaku keluar sebentar. "Ada orang Dayak mencari, Bung", ujar Yoso.
Aku memandang Yoso sejenak karena kulihat ia sedang menahan senyum.
"Benar! Bung sedang ditunggu".
Dengan penuh tandatanya aku keluar dan Yoso memperkenalkan aku kepada orang
yang katanya mencariku itu.Sambil meneruskan pekerjaannya Yoso agaknya meliriku
diam-diam. Yang mencariku itu adalah seorang lelaki dan benar ia orang Dayak.
Dayak Kalimantan Timur [Kaltim]. Ketika kami salaman, kulihat di jari manisnya
ada cincin emas. Polos. Cincin kawin. Lelaki Dayak Kaltim itu memperkenalkan
lelaki Perancis berusia lebih lanjut yang duduk di kursi hadapannya. Melalui
pembicaraan beberapa menit, aku akhirnya menyadari bahwa mereka adalah
sepasang homo. Setelah menyadari keadaan demikian, aku pun meminta diri untuk
melanjutkan pekerjaan. Di dapur aku menggerundel sendiri:"Khoq ada orang Dayak
homo! Baru ini aku temui ada orang Dayak homo". Teman-teman yang mendengar
gerundelanku tidak bisa menahan gelak. Aku hanya geleng-geleng kepala
mengetahui betapa jauhnya aku ketinggalan perkembangan di Tanah Dayak terutama
di daerah di mana industri minyak berkembang.
"Karena itu jangan terlalu membangga-banggakan Dayak", celetuk seorang teman
sambil terus tertawa menyaksikan reaksiku.
Sebagai ilustrasi, masih ingin kututurkan betapa suatu kali aku terkecoh
melihat seorang perempuan berkulit sawomatang, rambut terjurai menutup
punggungnya. Cukup cantik. Dadanya memperlihatkan sepasang buahdada yang cukup
menonjol. Aku kembali dikagetkan ketika diberitahu oleh teman-teman yang cukup
mengenalnya bahwa orang yang kukira perempuan itu tadi sebenarnya seorang
lelaki Indonesia yang kawin dengan lelaki Perancis atas dasar peraturan yang
di sini PAC -- sejenis keputusan pemerintah yang mengakui kebersamaan pasangan
homo atau lesbian.
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa walikota Paris, Bertrand Delano� adalah
seorang homo juga. Dan Delano� tanpa kompleks samasekali tidak menutup-nutupi
hal ini. Masyarakat memandang hal begini adalah urusan dan pribadi
masing-masing.
Kejadian yang menggemparkan seluruh Perancis terjadi pada tahun 2004 ini ketika
walikota No�l Mam�re dari Partai Ekologis meresmikan pernikahan sepasang homo
[lelaki dengan lelaki]di Balai Kota yang ia pimpin. No�l Mam�re mendasarkan
tindakannya pada hak asasi manusia dan kesetaraan yang terdapat pada
nilai-nilai republiken anutan Republik Ke-V Perancis. Tapi Pengadilan Tinggi
Perancis menghukum No�l sebagai "telah melanggar konstitusi Perancis tentang
yang disebut perkawinan terbatas pada pernikahan resmi antara lelaki dan
perempuan. Akibat pelanggaran terhadap konstitusi ini, No�l diskors selama
sebulan. Tentu saja, hukuman ini tidak melenyapkan permasalahan dan tuntutan.
Permasalah dan tuntutan bukan makin mereda tapi makin menguat.
Tumbuhnya tuntutan kesetaraan dan pengakuan hak inilah yang kumaksudkan sebagai
"seks keempat".
Di dalam sastra Perancis hal begini memperoleh cerminannya dalam roman Cyril
yang juga seorang sutradara filem terkemuka. Jauh sebelumnya terungkap dalam
surat-menyurat antara penyair Verlaine dan Arthur Rimbaud. Kalau di Jepang
pernah ditulis oleh Yukio Mishima. Tapi karya-karya begini tidak menonjol dan
tidak menjadi suatu mode. Ia tidak dominan dan tidak pula diangkat-angkat.
Tidak nampak usaha mengeksploatasi atau atau mengeksploatasinya. Tuntutan
kesetaraan dan hak diperjuangkan melalui unjuk rasa, debat dan merebut pendapat
umum dan jalur-jalur demokratik yang disediakan oleh sistem masyarakat Perancis
yang tetap kapitalistis. Dengan kata lain masalah ini dijadikan sebagai bagian
dari permasalahan masyarakat secara umum. Tidak dengan eksplorasi dan
eksploatasi melalui karya sastra.
Jika eksplorasi "tubuh perempuan" menjadi mode kekinian dalam sastra kita , apa
inikah yang disebut mode perlawanan ala Indonesia walaupun atas nama kesetaraan
tapi memerosotkan martabat diri, atas nama perjuangan anti kapitalis tapi
menjadi bagian dari kapitalisme, atas nama pembebasan tapi memperkokoh dan
mempraktekkan penindasan. Hal ikhwal agaknya memang kesatuan dari unsur-unsur
yang paradoksal atau saling-bertentangan alias kontradiktif. Demikian pun
Indonesia sebagai hal-ikhwal. Proses perkembangan lebih lanjutlah yang membuat
satu hal-ikhwal pecah jadi dua.Hukum ini pun nampak dari lahirnya "Seks
Keempat".
Paris, Nopember 2004
-------------------------
JJ. Kusni.
[Bersambung.....]
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/