Media Indonesia

      Selasa, 09 November 2004

      RAMADAN

      Ekstremisme dalam Islam
     
      SEJAK peristiwa peledakan Gedung World Trade Center (WTC) dan Pentagon 
Amerika Serikat (AS), 11 September 2001, perdebatan soal teologi Islam hingga 
sekarang terus menarik diperbincangkan. Terlebih saat bulan Ramadan yang 
sebentar lagi usai dan Idul Fitri menjelang.

      Perdebatan itu berkisar pada apakah Islam mendukung tindakan teroris dan 
ekstremis, atau Islam justru mengajarkan nilai dan tata hidup yang penuh 
toleransi dan perdamaian. Terlebih lagi, peristiwa itu terus diikuti oleh 
tragedi serupa, semisal bom Bali 2002, bom di JW Marritot 2003, serta bom 
Kuningan dan bom di kedutaan Indonesia di Prancis baru-baru ini.

      Fenomena kecenderungan kuat munculnya ekstremisme dalam Islam itu, tentu 
saja mendatangkan persoalan baru. Sebab, dengan begitu negara-negara Barat 
dengan kebijakan standar gandanya memperoleh dalih pembenaran terhadap 
penyerangannya ke Afghanistan, Irak, serta negara yang dianggap sebagai sarang 
teroris dan Islam ekstremis. Selain itu, wajah Islam dan eksistensi umat Islam 
yang hidup bersama bangsa dan agama yang lain, mau tidak mau ikut tercoreng dan 
merasakan kecurigaan. Padahal, tidak semua umat muslim berpandangan ekstrem dan 
ajaran Islam pun pada dasarnya juga sangat mengutuk dan mencegah tindakan 
ekstrem dan kekerasan yang jauh dari nilai kemanusiaan.

      Ekstremisme

      Bila kita lacak lebih jauh terhadap semangat ekstrem yang dilakukan oleh 
beberapa orang Islam itu, sangat berhubungan dengan paham ekstremis yang ada di 
sebagian masyarakat Islam. Dalam keberagamaan ekstremis ini, mereka akan 
senantiasa reaktif terhadap semua gejala dan paham lain yang dianggap 
mendiskreditkan Islam. Ketika mengetahui bahwa Barat sangat bertindak tidak 
adil terhadap beberapa negara Islam, maka mereka juga akan melakukan kekerasan 
terhadap Barat. Mereka menganggap, bahwa sikap inilah yang betul-betul sesuai 
dengan petunjuk Allah untuk menegakkan nilai dan agama Islam di muka bumi 
secara total (kaffah).

      Akan tetapi, ekstremisme yang menghalalkan kekerasan, pada dasarnya tidak 
sesuai dengan nilai-nilai universal kemanusiaan yang menghargai pluralisme, 
kesetaraan, demokrasi, serta hak-hak asasi manusia. Kaum ekstremis Islam, 
memang banyak menampilkan ketertutupan yang tidak toleran dan sikap bermusuhan 
terhadap yang lain. Soalnya, menurut teologi mereka, pemahaman Islam yang 
dimilikinya adalah satu-satunya jalan keselamatan yang harus diperjuangkan 
tanpa mempertimbangkan pengaruhnya terhadap hak-hak dan kesejahteraan kelompok 
lain (Khaled Abou el-Fadl, 2002).

      Dengan paham teologi yang merasa superior dan paling memiliki otoritas 
ini, maka semua paham Islam atau agama lain akan dianggap kafir, murtad, 
munafik, ataupun fasik. Mereka menganggap bahwa dengan penciptaan kategorisasi 
kita (we) dan yang lain (the other) itu. Melalui cara ini, pendefinisian antara 
kaum yang terbimbing dan tersesat akan mudah dilakukan. Karena merasa sebagai 
kaum yang terbimbing oleh hukum Tuhan, maka mereka membayangkan bahwa 
kesempurnaan dan kekekalan akan dapat tercipta di muka bumi ini dengan 
penciptaan tata nilai kehidupan yang mencerminkan nilai Ketuhanan (berdasarkan 
syariat Islam). Dengan dalih ini, mereka mengklaim bahwa supremasi kebenaran 
ada di tangan mereka dan mereka akan berusaha secara agresif melemahkan yang 
lain.

      Sebetulnya, bila dipahami secara kontekstual dengan mempertimbangkan 
kondisi sosiologis, turunnya ayat, serta konteks masyarakat pada waktu ayat 
Alquran turun, ajaran Islam banyak sekali mendorong pada terciptanya masyarakat 
yang toleran dan damai. Pemahaman ayat pun, mestinya juga disesuaikan dengan 
kondisi zaman yang berubah.

      Pengakuan dan sikap toleransi terhadap agama lain, misalnya dengan jelas 
ditunjukkan dalam Alquran, surah al-Ma'idah ayat 48 dan 69 serta surah 
Al-Baqarah ayat 62. Di sana dijelaskan, bahwa Allah menghendaki terciptanya 
umat yang beragam dan tidak berkeinginan untuk menciptakan satu umat saja. Hal 
itu bertujuan agar semuanya bisa saling bekerja sama dan berlomba dalam 
kebaikan. Melalui ayat itu juga, Allah menegaskan bahwa orang Mukmin, Yahudi, 
Shabi'in, dan Nasrani yang benar-benar beriman pada Allah, hari kemudian, dan 
beramal saleh akan mendapatkan keselamatan juga.

      Untuk mencegah kemunculan Islam ekstremis yang tidak mau bersikap terbuka 
dan toleran itu, upaya pembacaan ajaran Islam secara benar harus dilakukan. 
Selain itu, memang kemunculan Islam ekstremis tidak bisa dipisahkan dari 
fenomena imperialisme dan kolonialisasi Barat yang sering bersikap tidak adil 
terhadap Islam. Sikap standar ganda Barat yang seperti tampak pada kebijakannya 
terhadap konflik Israel-Palestina, Bosnia-Serbia, ataupun Afghanistan dan Irak, 
harus diakhiri dan dihadang secara bersama. Perubahan cara pembacaan teologis 
terhadap ajaran Islam dan reformasi kehidupan sosial-politik-ekonomi yang 
berkeadilan, adalah dua hal yang mesti berjalan beriringan dalam membangun 
peradaban Islam yang toleran dan terbuka. Wallahualam

      Ahmad Fuad Fanani, Ketua Program Kajian Jaringan Intelektual Muda 
Muhammadiyah (JIMM)
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke