DISKUSI LINTAS MILIS <TEORI EVOLUSI VS ADAM & HAWA> SARTONO MUKADIS: BUKALAH 'BUKU ALAM' SELUAS-LUASNYA Pengantar Kawans, Beragam opini terus saja mengalir dalam diskusi lintas milis bertajuk "Teori Evolusi vs Adam & Hawa" ini. Pada posting kali ini, saya coba rangkum beberapa opini dari Anda. 'Roh' dari opini rekan Sartono Mukadis di Jakarta sengaja saya jadikan sebagai judul subyek kali ini. Seperti biasanya, tiap issue akan dipilah-pilah berdasarkan pokok bahasan yang senada agar tak simpang siur dan saling bertubrukan. Berikut daftar topik yang pernah diposting sebelumnya: 01. Heboh penemuan Homo floresiensis 02. Mereka yang anti Teori Darwin bersuara 03. Harun Yahya: Evolusi adalah suatu kebohongan yang terbungkus rapi 04. Meluruskan yang bengkok 05. Menjawab fosil semut 06. Hawa ternyata lebih perkasa dibandingkan Martina Navratilova 07. Homo floresiensis: Teuku Jacob gugat 08. Adam & Hawa: Antara ada dan tiada 09. Bila Kreasionis 'melabrak' Evolusionis 10. Firdaus ada di planet Bumi, bukan di Akhirat 11. Planet Bumi telah berusia 4,5 milyar tahun 12. Charles Darwin, siapa dia? Tak lupa saya ucapkan selamat berlebaran buat yang merayakan. Mohon maaf lahir dan batin. Apabila Anda ingin menyampaikan opini, silakan kirim via email: [EMAIL PROTECTED] Salam Pencerahan!
Radityo Djadjoeri <[EMAIL PROTECTED]> -------------------------------------------------------------- Bukalah 'buku alam' seluas-luasnya Rekan Sartono Mukadis <[EMAIL PROTECTED]> di Jakarta memaparkan opini yang intinya bahwa umat manusia diberi peluang dan kebebasan oleh Tuhan untuk bertanya apa saja tentang segala kejadian dan keajaiban alam ini, kecuali satu hal yang mutlak kebenarannya yaitu ke-Esa-an Allah. "Dalam keyakinan saya yang mungkin tidak terlalu tepat, Yang Maha Esa mempersilakan kita membuka 'buku alam' ini seluas-luasnya," ucap Sartono. "Atas dasar keyakinan itu, bagi saya sah-sah saja segala upaya untuk 'surfing web' Illahi ini. Bahkan dalam banyak hal, inilah cara kita untuk membuktikan sekaligus lebih mendekatkan diri kepada Illahi, bukan sekadar dogmatis belaka," tambah Sartono. Sartono lalu berkisah tentang pengalamannya bercakap-cakap singkat dengan pakar neurologi. "Dia katakan bahwa otak manusia terdiri dari setidaknya 10 milyard 'chip', namun chip tersebut memang tidak bisa membelah diri lagi seperti sel lainnya. Tetapi ia bisa dan memang harus diasah terus menerus karena hanya dengan demikian otak mampu membuat jaringan (network). Dan itulah yang membedakan satu indvidu dari individu lainnya - lebih atau kurang pandai (smart vs dumb). Atau ketika kecil kita diingatkan bahwa setiap perbuatan - baik maupun buruk - akan dicatat oleh Malaikat untuk diadili kelak. Sekarang dengan chip yang masih tahap awal dalam perkembangannya saja sudah menunjukkan penampilan yang mengagumkan, apalagi kelak kalau ukuran nanometer sudah digunakan manusia dalam kehidupan sehari-hari." "Singkatnya, saya tergolong orang yang sangat yakin bahwa ilmu pengetahuan dan agama sama sekali tidak ada yang bertentangan. Sekarang tergantung dari kita sendiri dalam menyikapi keduanya. Ketika kita 'menemukan' sesuatu yang tampaknya 'luar biasa', kita sudah berteriak: 'Aku sudah tahu semua...' Layaknya anak Indian di tengah Amazon yang mencuri-curi biduk ayahnya berlayar 1 km ke hulu 1 km ke hilir. Waktu kembali, ia berteriak girang: 'Ayah! Aku sudah melihat dunia...' Sebaliknya, ada sebagian orang yang beranggapan, upaya mengungkap rahasia alam sebagai dosa karena mengingkari kebesaran Illahi." "Padahal kalau boleh diumpamakan - mohon maaf - ke-Maha Besar-an Illahi yang 'berhasil' kita ungkap itu ibarat keahlian memasukkan gula cair ke dalam 'kue kelepon' yang konon dikagumi profesor Jepang. Rahasia dan kebesaran Allah jauh-jauh-jauh lebih besar dari seluruh otak manusia yang pernah hidup dihimpun jadi satu. Bayangkan!" "Mohon maaf kalau saya keliru. Tapi itulah dasar pikiran saya. Oleh sebab itu pula saya enteng saja membaca asupan manapun tanpa - Insya Allah - terguncang keimanan saya. Astagfirullah, mohon ampun ya Allah." Duluan mana: "Ayam atau telur?" Rekan Budiman Sugiharto <[EMAIL PROTECTED]> di Jakarta menilai, alur diskusi ini cukup bagus, namun tak bakalan ada habisnya untuk dibahas. Sama seperti pertanyaan: "Duluan mana, telur atau ayam?" Menurutnya, masih banyak misteri kehidupan yang belum terungkap. "Biarlah para ahli terus mengembangkan penelitiannya," demikian saran Budiman. Tentang asal usul manusia, ia memberikan masukan: "Sepengetahuan saya, hanya kitab suci Islam dan Kristen yang menceritakan asal usul manusia, sedangkan agama Budha dan Hindu tak membahasnya." Menurut rekan Aminta Ginting <[EMAIL PROTECTED]> di Jakarta, diskusi tentang asal usul manusia mau tidak mau akan selalu bersinggungan dengan agama dan sains. "Hambatannya, agama adalah sesuatu yang tak bisa diganggu gugat. Ilmu pengetahuan sendiri tak mampu menjawab semua pertanyaan, misalnya saja soal pertanyaan ayam dan telur. Kalau dari sisi keilmuan, jawabannya tidak jelas. Tapi kalau dari segi agama, jawabannya ya duluan ayam. Karena menurut agama, makhluk itu diciptakan dalam kondisi 'dewasa', lalu berkembang biak dan seterusnya," kilah Aminta. Ilmuwan dan Agamawan sama-sama khusuk dan takjub Rekan Lodovikus Sintus <[EMAIL PROTECTED]> di Australia punya pendapat pribadi. Menurutnya, kitab suci dan buku-buku tulisan evolusionis sama-sama enak dibaca. "Duduk di dalam rumah ibadah sama takjubnya dengan duduk sendirian di tepi pantai menonton ikan lumba-lumba (dolphin) dan ikan paus (whale) berenang. Disana kita dapat merasakan kebesaran Tuhan. Hal tersebut hanya dapat kita rasakan apabila kita telah membaca tulisan-tulisan evolusionis," ujarnya. "Menurut evolusionis, ikan lumba-lumba dan ikan paus adalah bukti nyata dari perjalanan evolusi bahwa kedua binatang ini pernah hidup di darat. Sampai hari ini keduanya masih bernapas melalui hidung dan menggunakan paru-paru. Kalau kita jeli melihat gerakan tulang belakang dari keduanya ketika berenang, maka akan tampak persis seperti gerakan tulang belakang binatang di darat, seperti kerbau, anjing, kuda, babi dan lain-lain, dimana ketika berlari tulang belakang mereka bergerak ke atas dan ke bawah." "Sebaliknya, binatang darat yang pernah hidup di laut seperti cicak, buaya, biawak, ular dan lainnya, gerakan mereka persis seperti ikan berenang, dimana tulang belakang bergerak ke samping. Mengenai penemuan fosil di Flores? Entahlah. Yang jelas kebanyakan penduduk asli Flores pada umumnya, dan sekitar Liang Bua pada khususnya itu bertubuh kecil." "Di balik itu semua, saya kira evolusionis dan agamawan sama-sama percaya akan 'bigger being' - sesuatu yang lebih besar dan lebih ampuh. Beberapa dekade terakhir, para ahli disibukkan dengan 'unknown matter' yang terkenal dengan sebutan 'black hole' di jagad nun jauh di sana. Konon wilayah ini berkekuatan dasyat, dapat menyedot dan menelan planet sebesar apapun, termasuk dapat menyedot dan menelan bintang seperti matahari kita. Wow.....ngeriiiiiiiiii.." "Dengan pengetahuan yang dimilikinya, evolusionis mendapatkan kekhusukan dan ketakjuban seperti yang didapatkan oleh agamawan ketika mereka berdoa, dimana dalam doa kita harapkan ridho Tuhan yang dinyatakan dalam bentuk 'menemui diri sendiri'. Who am I? Kalau agamawan dan evolusionis sampai pada tingkat ini maka bumi akan lebih aman. Nah, siapa yang benar dan siapa yang paling benar? Itu tergantung 'who you are'. Dibutuhkan orang yang 'wise man' dan banyak 'makan asam garam'. Good luck for your research job, Sir". Bagaimana semua di alam semesta ini tercipta? "Alam semesta ini terlalu kecil bila hanya manusia di Bumi saja yang menempatinya," itulah cuplikan dari film 'Contact' - dibintangi Jodie Foster - yang masih terngiang di benak rekan Hargo Angun <[EMAIL PROTECTED]>. Menurut Hargo, mencermati proses evolusi itu tak bakal selesai oleh seseorang kecuali orang tersebut ber'evolusi' menjadi mati. Dalam proses evolusi sepertinya kita asyik membandingkan ilmu pengetahuan (science) dengan kitab suci. Padahal kita tahu keduanya berbeda. Dalam kasus kitab suci, kita didoktrin untuk percaya. Untuk percaya jelas menggunakan hati, bukan akal pikiran. Jadi kalau ada hal yang tidak masuk akal di kitab suci kita harus tetap mempercayainya. Percayalah!" Lalu bagaimana akal pikiran kita harus menanggapi hal tersebut? "Berusahalah, berpikirlah, bekerja keraslah membuka tabir alam semesta ini termasuk apakah alam semesta ini berevolusi. Menciptakan suatu teori termasuk teori evolusi harus berdasarkan metode ilmiah, ada proses pengambilan sampel, hipotesis, analisis, kesimpulan. Di matematika ada yang namanya metode analitik dan metode empiris. Mencampurkan metode ini dengan ayat-ayat yang ada di kitab suci jelas tidak dapat diterima - alias tidak 'nyambung'." "Metode kitab suci adalah melangit - vertikal - dari atas ke bawah. Sedangkan metode science adalah membumi, dari bawah untuk ke atas. Apakah kelak kedua metode itu akan bertemu? Itu adalah tugas umat manusia untuk berpikir dan tentu saja bekerja keras. Jadi sah-sah saja bila manusia membuktikan bahwa penciptaan manusia itu berdasarkan evolusi karena menurut metode science itu dapat dibuktikan dan mendekati kebenaran. Sedangkan yang berdasar Adam-Hawa adalah kewajiban umat beragama tersebut untuk menerima dan percaya!" Rekan Hargo Angun menyikapi kedua metode tersebut dengan memposisikan dirinya sebagai mahluk Theis: "Saya akan berdoa. Ya Tuhan, saya percaya bahwa Engkau menciptakan Adam sebagai khalifah/manusia pertama di bumi. Tapi kemampuan berpikir manusia tetap memunculkan rasa ingin tahu. Bagaimana semua di alam semesta ini tercipta?" Batasan sains bukanlah kebenaran mutlak Rekan Ary Unggul aka Ultraman <[EMAIL PROTECTED]> berpendapat bahwa batasan kebenaran versi sains bukanlah kebenaran mutlak. Sains hanya mengungkapkan sisi yang belum dijelaskan secara empirik ilmiah berdasarkan jangkauan ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir. Penemuan sains berikutnya terdapat 2 opsi: 1. Menggugurkan kebenaran versi sains yang terdahulu; 2. Mengokohkan kebenaran versi sains yang terdahulu. Tidak ada nilai absolut dalam pengungkapan 'science vs faith'. Pendapat Ary Unggul disanggah oleh Trytobenice <[EMAIL PROTECTED]>: "Kalau begitu, bukankah disitu letak keunggulan sains? Kebenarannya bisa fleksibel dan sifatnya dinamis, tanpa harus menumpahkan darah. Anda bahkan berani mengatakan tidak ada nilai absolut dalam sains. Coba Anda katakan hal yang sama dalam agama." Rekan Zchoema <[EMAIL PROTECTED]> menanggapi pernyataan Ary Unggul: "Batasan kebenaran versi agama juga bukan kebenaran mutlak. Agama justru terkesan mematikan daya pikir manusia dengan menelan secara mentah-mentah tanpa ada pembuktian empiris. Orang menganut suatu agama juga dihadapkan pada 2 opsi: mengugurkan kebenaran agama versi terdahulu, atau mengokohkan kebenaran agama versi terdahulu. Tidak ada nilai absolutnya kan?" Kitab suci bermuatan pesan-pesan metafisik Lalu Ary Unggul melanjutkan opininya, "Kitab suci yang berasal dari Tuhan tentulah bermuatan pesan-pesan metafisik yang saat ini belum bisa dijangkau akal manusia. Ada saatnya pemberitaan gaib tersebut akan tersingkap rahasianya seiring dengan jangkauan teknologi dan perkembangan sains itu sendiri." Trytobenice menanggapi opini Ary Unggul dengan ketus: "Kalau begitu, ngapain musti belajar science kalau jawabannya sudah ada di agama? Ngapain kita capek-capek mencari pembuktian kebenaran agama kalau Anda bilang itu sudah pasti benar? Marilah kita lupakan sains, kalau ternyata nggak ada gunanya." Rekan Zchoema <[EMAIL PROTECTED]> menanggapi pernyataan Ary Unggul: "Kalau Anda menganggap suatu kitab suci itu bermuatan metafisik yang belum dijangkau umat manusia, itu hanyalah salah satu option. Anda melupakan option lain yang mengatakan kalau penjelasan metafisik itu memang tahyul dan tidak logis. Karena tidak logis itulah maka tidak bisa dijelaskan secara logis dan empiris." Rekan Jamal Senjaya <[EMAIL PROTECTED]> juga memberi tanggapan atas opini Ary Unggul: "Bung Ary, kita harus mau membuka kesempatan lebar-lebar akan kemungkinan itu. Kita juga harus mau memikirkan kembali konsep Tuhan yang mungkin akan jauh berbeda dengan konsep Tuhan pada kitab-kitab suci manusia saat ini. Mungkin saja Tuhan itu tidak sesempurna yang manusia bayangkan dan inginkan. Tuhan bukan pencipta jagad raya dan isinya ini. Ia juga lahir, dan berevolusi dalam jagad ini yang sudah ada ini. Ia lalu menciptakan stereotipe mahluk hidup seperti virus, dan RNA-nya yang akhirnya berevolusi sendiri menjadi manusia. Ia tidak sepenuhnya menciptakan manusia. Ia juga tidak seperti pesulap yang menciptakan ini dan itu dan langsung jadi. Ia juga perlu bereksperimen lama sebelum akhirnya bisa menciptakan manusia." "Tuhan mungkin malu melihat manusia yang terlalu mengagung-agungkanNya dan memujiNya dengan segala Maha yang manusia sebutkan itu. Sehingga ia tidak mau lagi terang-terangan muncul diantara manusia, takut ditolak dan manusia tidak mau menyembahnya lagi. Dan jangan kecewa jika akhirnya terbukti bahwa Tuhan tidak se-Maha yang tertulis dalam kitab-kitab suci manusia itu." "Atau mungkin juga Tuhan memang tidak ada. Yang ada adalah dewa-dewi sembahan nenek moyang kita dulu. Dewa-dewi itu muncul dan berevolusi lebih dulu dan lebih sempurna dari manusia. Manusia bisa memohon pertolongannya namun jangan terlalu berharap banyak terhadap mereka. Dewa-dewi itu tidak semuanya baik, ada juga yang suka mengganggu manusia. Seperti manusia sendiri yang berevolusi lebih baik dari hewan-hewan sering menolong hewan-hewan yang lebih lemah itu, namun juga sering menyiksa mereka." "Ada pandangan yang lebih radikal lagi, bahwa Tuhan memang sangat hebat, sesuai dengan segala maha yang manusia sebutkan itu. Namun saat ia menciptakan manusia, ia sudah terlalu tua. Dan ia sekarang sudah berhenti untuk beristirahat, tidak mau lagi berurusan dengan manusia. Entah mana yang benar, kita manusia jangan membatasi pandangan kita tentang Tuhan, harus maha ini dan itu. Dan jangan kecewa jika Tuhan tidak seperti itu. Kita harus mau menerima kenyataan. 'The Truth is hurt, and many person can�t receive that'. Ajaran agama yang kontradiktif dengan fakta sains Rekan Ary Unggul masih membeberkan opininya: "Kalau ada ajaran agama - yang katanya bersumber dari God's revelation-- yang ternyata kontradiktif dengan fakta sains maka sudah sewajarnya ajaran agama tersebut ditinggalkan dan beralih kepada ajaran yang rasional humanis realistis. Misalnya di era Medieval, ada doktrin agama tertentu yang mengatakan bumi itu datar persegi empat dengan ujung-ujungnya dipegang oleh malaikat ataupun dogma lainnya bahwa bumi adalah pusat tata surya (geosentris). Tersebutlah maestro sains, Galileo Galilei dan Nicolaus Copernicus yang menentang dua teori tak ilmiah faktual itu. Ternyata dua ilmuwan tersebut diancam akan diinkuisisi." Trytobenice bertanya kepada Ary: "Doktrin agama apakah itu?" Komentar Zchoema: "Bukankah agama-agama formal yang ada sekarang ini memang semuanya jauh dari pandangan rasional humanis realistis? Heran, kenapa juga masih banyak orang yang menganutnya?" Pemberitaan gaib yang turun 14 abad lalu Ary Unggul melanjutkan opininya, "Nah, ada juga agama yang membawa pesan Tuhan. Di kitabnya ada diterangkan mekanisme terjadinya hujan, fenomena 7 lapis atmosfer, fungsi atmosfer, fungsi gunung dalam kajian geologi, kandungan isi pusat bumi, konstelasi benda-benda langit, mekanisme penciptaan manusia dalam rahim ibu, mekanisme penciptaan alam semesta, gelombang mikro, sel dan mikroorganisme, dan lainnya. Ternyata pemberitaan gaib yang turun 14 abad yang lalu dapat dibuktikan secara scientific, ilmiah, rasional dan empirik. Sama sekali tidak bertentangan dengan logika sains dan akal manusia. Well, apakah ada yang mau bilang bagaimana manusia- manusia gurun yang hidup di zaman onta punya teknologi yang bisa mengeksplore alam dengan segala mistikus rahasianya yang eksotik?" Trytobenice berkomentar: "Ini menarik. Anda bisa buktikan?" Komentar Zchoema: "Nah, inilah salah satu kejelekan orang yang dibutakan oleh agama, selalu menganggap ajarannya yang paling benar. Saya kasih tahu ya mas, sains itu terus berkembang. Apalagi dalam proses pencarian asal-usul kehidupan dalam wilayah makro, seperti astronomi, kosmologi, dan fisika teoritis. Jangan terburu-buru mengklaim apa yang ada di ajaran agama Anda itu sesuai dengan sains yang sekarang karena bisa bahaya. Kalau sewaktu-waktu ternyata penjelasan ilmiah yang sesuai dengan apa yang Anda percayai di kitab Anda itu terbukti salah dan digugurkan oleh teori dan penjelasan ilmiah serta bukti empiris yang baru, gimana coba? Apa Anda masih mau 'ngeyel' apa yang dikatakan agama itu benar? Malu dong. Kalaupun memang benar semua ilmu pengetahuan di atas itu diturunkan pada orang-orang gurun zaman onta, sungguh tragis sekali nasib mereka. Kontribusi sains macam apa yang bisa diberikan mereka sekarang? Apakah ada pemenang Nobel dari negara- negara onta? Apakah ada astronom atau ilmuwan fisika ternama dari negara-negara onta itu? Benar-benar bangsa yang menyedihkan. Saya rasa kalau mereka masih 'ngeyel' nenek moyang mereka yang mendapatkan ilmu tersebut dari Tuhan, sementara mereka sendiri tidak bisa memberikan kontribusi positif buat sains." Di akhir emailnya, Ary berpesan: "Buat yang tidak percaya sama Tuhan, kacian deh loe!" Trytobenice berkomentar pendek: "Kalimat seperti itu pula yang dikatakan masyarakat pendukung teori bumi datar kala itu. Merasa dirinya paling benar." Penutup Nah, kawan-kawan semua, pada sebuah diskusi, munculnya pro dan kontra adalah hal yang wajar - anggap saja itu biasa. Di lain waktu akan saya beberkan issue-issue baru dari hasil pemikiran dan sumbang saran peserta diskusi lintas milis ini - yang diharapkan analisisnya kian menajam, dengan ulasan yang lebih mendalam. Semoga hasil diskusi ini kian menambah wawasan kita: 'telanlah yang menurut kata hati Anda itu benar, muntahkanlah bila tak memberi manfaat, apalagi itu racun mematikan'. Apabila Anda ingin melemparkan opini, silakan kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Dirangkum dan disunting seperlunya oleh Radityo Djadjoeri <[EMAIL PROTECTED]> __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> $9.95 domain names from Yahoo!. Register anything. http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

