Dari Sebuah Percakapan: MATI RASA DALAM BERBANGSA
Oleh Tangkisan Letug
Dalam sebuah konteks konseling, seorang konselor
mestinya bisa menyadarkan klien akan keadaan dirinya
seperti apa. Menurut kawan yang adalah seorang ahli
konseling, banyak masalah kejiwaan berada pada tahap
disensitisasi (disensitization). Artinya, seorang
menjadi buta akan sesuatu karena kebiasaan. Misalnya,
seorang menjadi pecandu obat bius tidak bisa lagi
melihat bahayanya untuk terus menerus mengonsumsi obat
bius. Begitu juga dalam level psikologi sosial,
masyarakat bisa menjadi begitu buta terhadap berbagai
kekerasan karena sudah terbiasa melihatnya sebagai
berita atau tontonan.
Disentisasi telah menjalar ke dalam berbagai bidang
kehidupan kita. Juga terhadap bidang kehidupan
religius. Nilai-nilai moral dengan begitu gampang
dianggap tidak berharga dan berarti ketika segala
perilaku imoral dan kekerasan dalam berbagai bentuknya
menjadi hidangan media setiap harinya. Orang secara
sosial dengan mudah menjadi �mati rasa� (numb)
terhadap tuntutan moral.
Satu fenomen yang tampak semakin kasat mata adalah
�kematian rasa� kita terhadap berbagai kekerasan.
Bentuk kekerasan yang terjadi di tanah air kita telah
menunjukkan tingkat yang sungguh membahayakan. Bila di
jaman Orde Baru kita sudah terbiasa dengan berbagai
pembunuhan dan kekerasan, baik yang atas nama negara
atau atas nama komplotan penjahat, kita bisa melihat
para pelakunya memanglah orang-orang yang sangat dekat
dengan kultur kekerasan, seperti tentara dan preman.
Korbannya pun biasanya warga sipil, aktivis, atau
bahkan para pemimpin agama. Kita ingat para korban
dari aktivis pro-demokrasi yang hilang dan mati secara
misterius. Kita ingat juga pembantaian kyai di
Situbondo. Ditilik dari para pelakunya, pada umumnya
masih terkait dengan kelompok penguasa. Oleh karena
itu, sampai sekarang hampir tidak ada kasus kekerasan
politik yang tuntas. Kita bisa ingat kasus kekersan
yang relatif �kecil� seperti kasus Sum Kuning, kasus
Udin, kasus Marsinah. Kasus-kasus itu seperti menguap
dan hilang dari perbincangan para penegak hukum.
Tetapi di masa reformasi kini, kekerasan telah melanda
juga di kalangan kaum agama. Para pemimpin agama, atau
katakanlah orang-orang yang diharapkan menjadi benteng
moral agama, telah terseret ke dalam pelakunya. Kita
bisa merujuk ke konflik di Maluku, di Poso, di mana
tidak sedikit kaum agamawan mempersenjatai diri dengan
senjata perang. Bahkan baru-baru ini diberitakan
seorang gadis diperkosa oleh beberapa orang termasuk
di antaranya santri dari Pondok Pesantren. Dan hal itu
terjadi selama masa lebaran. Kemudian di Poso bom
kembali meletus dan seorang kepala desa dipenggal
kepalanya. Lalu, ada permintaan dari para kepala desa
supaya diberi senjata untuk mempertahankan diri. Di
kalangan keluarga-keluarga, terjadi juga kekerasan
yang semakin menggila. Suami membunuh isteri, isteri
membunuh suami. Anak membunuh ayahnya, ayahnya
membunuh anaknya. Anak perempuan diperkosa ayahnya,
ayahnya dibunuh anak perempuannya.
Inilah kiranya sebuah tahap mengerikan sebuah
masyarakat yang bernegara. Baik masyarakat maupun
aparatur negara seperti sedang mengalami �mati rasa�
terhadap tuntutan moral.
Tetapi apakah dengan demikian tidak ada jalan keluar
bagi kita?
Sebagaimana sebuah krisis psikis, perlulah ada orang
yang menghentak kesadaran baik di tingkat elit maupun
di tingkat masyarakat, bahwa kita sedang mengalami
disensitisasi budaya!
Sebagaimana sebuah penyakit yang kritis, perlulah
sebuah sentuhan jitu atas titik-titik kunci penyakit
kita. Memang akan menyakitkan bagi kesembuhan bangsa
dan negara, dan bagi yang terkena butuh pengurbanan
sakit yang tak terkira. Tetapi hanya itulah cara kita
mampu bangkit dari �kemaitan rasa� sebagai sebuah
bangsa dan negara. Bila tidak dilakukan langkah
segera, hanya penyebaran penyakit sajalah yang
terjadi. Dan itu berarti tubuh bangsa ini akan terus
menerus menanggung derita sampai kesudahannya.
Apakah titik kritis yang perlu disembuhkan segera bagi
kita? Titik kritis itu adalah impunity yang masih
dianggap ruang aman bagi para pelaku durjana. Sakit
memang menyentuhnya. Penuh resiko, tentu saja. Tetapi,
membiarkannya hanya berarti membuat penyakit semakin
merajalela menggerogoti seluruh tubuh bangsa.
17 November 2004
__________________________________
Do you Yahoo!?
The all-new My Yahoo! - Get yours free!
http://my.yahoo.com
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/