http://www.kompas.com/kompas-cetak/0411/25/opini/1399292.htm
Kamis, 25 November 2004

Tantangan Ekonomi Dunia dan Terorisme
Oleh Ahmad Rosadi Harahap

MENGAPA AS terus mendesakkan isu terorisme dalam setiap pertemuan 
multinasional yang membahas liberalisasi ekonomi dunia seperti WTO di 
Meksiko tahun lalu dan APEC di Cile pekan lalu? Adakah hubungan signifikan 
antara kerja sama internasional dalam pemberantasan terorisme dan upaya 
peningkatan liberalisasi ekonomi dunia?
Pertanyaan ini penting dijawab mengingat beberapa hal. Pertama, isu 
terorisme tampaknya mulai berhasil dipersepsikan sebagai bagian tak 
terpisahkan dari proses liberalisasi perekonomian dunia. Ini dapat dilihat 
misalnya pada pertemuan APEC lalu. Isu terorisme tidak lagi hanya diserukan 
oleh AS. Presiden RI pun dijadikan pembicara utama dalam APEC CEO Summit 
dengan tema "Tantangan Keamanan dalam Ekonomi Dunia".
Kedua, pasca-Peristiwa 11 September, makna terorisme mengalami eufemisme 
menjadi "keamanan dunia" oleh berbagai fora liberalisasi ekonomi dunia. Pada 
Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Swiss Januari lalu misalnya, Securing Global 
Economic Growth menjadi tema utamanya. Sementara dalam pelaksanaannya, makna 
terorisme hanya sebatas penggunaan kekerasan militer (perang) seperti 
terjadi di Irak dan Afganistan.
Terakhir, liberalisasi ekonomi dunia kelihatan kian kehilangan arah, dari 
globalisasi menjadi glokalisasi lewat instrumen free trade agreement (FTA) 
yang hanya mengubah paradigma pengambilan kebijakan ekonomi internasional 
dari level nasional ke bilateral atau regional belaka. Sebaliknya, 
resistensi terhadapnya justru kian mengglobal. Tiap kali dilangsungkan forum 
liberalisasi ekonomi dunia, muncul forum seperti Forum Sosial Dunia (WSF) 
sebagai tandingan WEF dan Forum Sosial Cile sebagai tandingan Pertemuan APEC 
kemarin.
PADA kondisi demikian, wajar jika dimunculkan suatu hipotesis, jangan-jangan 
isu terorisme digunakan kaum neo-liberalis sebagai strategi pemecah 
kebuntuan proses liberalisasi ekonomi dunia. Hipotesis ini misalnya dapat 
ditarik dari perkembangan yang berbalik di antara kedua isu itu. Yang 
pertama, cenderung mengalami proses hegemonisasi dalam arti Gramscian. 
Sedangkan yang kedua, cenderung mengalami proses dialektik dalam artian 
Hegelian.
Mengenai yang pertama, kecenderungan hegemonisasi isu terorisme tanpa 
kejelasan identifikasi siapa musuh dan lawan justru menjadi ancaman bagi 
keamanan dunia sendiri. Hal ini misalnya terjadi, selain Perang Irak, ketika 
AS secara sepihak menuding Iran dan Korea Utara sebagai "Poros Setan". Upaya 
pemberantasannya melalui pendekatan keamanan malah membuat keamanan dunia 
menjadi tegang. Ketegangan ini lalu dimanfaatkan bagi mobilisasi opini 
publik dalam berbagai fora liberalisasi ekonomi dunia. Pidato Presiden RI di 
APEC lalu dapat dikategorikan sebagai keberhasilan negara kapitalis-pusat 
menghegemoni negara kapitalis-periferal.
Perlu disadari, dalam kapitalisme global yang diakibatkan new international 
division of labour (NIDL), selamanya negara kapitalis-periferal tidak akan 
pernah diuntungkan (Froeber et al, 1983). Seperti isu nasionalisme 
(1939-1950), Perang Dingin (1950-1980), dan HAM (1980-1990), isu terorisme 
bisa jadi hanya strategi negara kapitalis-pusat terhadap negara 
kapitalis-periferal dalam redistribusi kekuasaan bagi bekerjanya sistem 
kapitalisme keseluruhan. Isu-isu itu efektif memecah-belah solidaritas buruh 
khususnya dan solidaritas umat manusia umumnya, di atas solidaritas negara 
sebagai kendaraan utama kapitalisme.
Mengenai yang kedua, globalisasi ternyata tidak hanya membuat Uni Soviet 
punah, tetapi mengancam hegemoni AS. Uni Eropa muncul sebagai kekuatan baru 
di kancah politik, dan China bangkit sebagai free rider liberalisasi ekonomi 
dunia. Dollar terus mengalami rivalisasi oleh euro, dan defisit perekonomian 
AS dipermalukan oleh pertumbuhan ekonomi China yang mengesankan. Dunia pun 
diyakinkan, melemahnya dollar dan membengkaknya defisit AS dapat menyebabkan 
ketidakseimbangan perekonomian global dan menjadi tanggung jawab dunia untuk 
bersama-sama memecahkannya.
Terlihat, perekonomian dunia diidentikkan dengan perekonomian AS. Mengapa 
kerancuan ini diterima masyarakat global? Jawabnya karena bagaimanapun 
kapitalisme selalu membutuhkan market leader demi tersedianya kepastian, 
agar transaction costs dapat lebih mudah diprediksi, karena pasar inheren 
dengan ketidakpastian (externalities) (Coase, 1937,1960). Dari sini dapat 
dilihat mengapa globalisasi perekonomian dunia belum dapat keluar dari 
kerangka negara-bangsa, baru sebatas evolusi melalui regionalisme FTA 
(Vellinga, 2000). Sebabnya, negara-bangsa masih merupakan satuan penakar 
(firm, istilah Coase) transaction costs yang paling efektif dalam 
menyediakan relasi kontraktual sistem kapitalisme.
LALU di mana letak signifikansi isu terorisme sebagai pemecah kebuntuan 
proses globalisasi ekonomi dunia?
Berbeda dengan hipotesis Huntington (1996) yang memprediksi konflik 
peradaban di masa depan bakal bermotif agama, Brawley (1993) percaya 
liberalisasi perdagangan dunia sebagai penyebab perang dunia (trade 
liberalization as a catalyst). Berbeda dengan teori siklus hegemoni yang 
umum dianut pakar (Goldstein, 1988), Brawley melihat, perang terjadi bukan 
semata-mata karena melemahnya suatu hegemoni, tetapi lebih disebabkan 
perhitungan untung-rugi suatu negara terhadap liberalisasi perdagangan 
internasional.
Pendapat itu dikuatkan hasil penelitian Snooks (1996) yang menyimpulkan, 
perang lebih cepat menghasilkan pertumbuhan ekonomi dunia (conquest-led 
growth), dibanding commerce-led growth maupun technological-led growth. 
Perang tidak hanya akan melahirkan market leader, tetapi juga akan mendorong 
(demi memenangkan perang) inovasi teknologi dan persaingan usaha di antara 
kelompok-kelompok yang berperang, yang selanjutnya akan meningkatkan 
pertumbuhan ekonomi dunia keseluruhan di masa damai. Schumpeter (1950) 
menyebutnya sebagai kekuatan creative destruction dari sistem kapitalisme.
Pendapat itu bukan analitis semata, namun didasarkan segudang penelitian 
empirik-historis. Surplus kapitalisme merkantilisme memunculkan perang 
antara Kerajaan Belanda dengan aliansi Inggris-Perancis dalam merebut 
monopoli jalur perdagangan dunia (1648-1713). Perang ini berlanjut hingga 
periode yang disebut sebagai sistem rival mercantilism di antara 
negara-negara Eropa (1713- 1815), yang lalu melahirkan kapitalisme 
imperialisme dan kolonialisme (1815- 1918), hingga memuncak pada pecahnya 
Perang Dunia (PD) I (1914-1919) dan PD II (1939-1945) dengan AS sebagai 
pemenangnya (1945-sekarang). Perang ini melahirkan sistem kapitalisme 
nasional.
Pasca-PD II, trauma perang melahirkan apa yang disebut Fukuyama (2000) 
sebagai social capital. Populisme menguat dan demokrasi populer mengubah 
tabiat negara dari perang (warfare-state) menjadi negara korporatis 
(welfare-state). Di akhir 1970-an, korporatisme ini menimbulkan masalah 
overloaded government akibat komitmen yang begitu tinggi yang diberikan 
negara kepada publik (Crouch (ed), 1979). Karena itu, pada 1980-an faham 
neo-liberalisme Reaganomic dan Thatcherisme menawarkan alternatif deregulasi 
peraturan, debirokratisasi administrasi dan privatisasi sektor publik guna 
mengatasi beban publik tersebut.
Melalui propaganda IMF dan IBRD, alternatif ini terus menguat dan menemukan 
bentuknya dengan apa yang kini dikenal sebagai The Washington Consensus. 
Mimpi terwujudnya suatu kapitalisme global mendekati kenyataan. Buku The End 
of History and the Last Man karya Fukuyama (1992) dapat mewakili kepercayaan 
akan kemenangan kapitalisme dan demokrasi liberal.
Namun, optimisme itu dipertanyakan pasca-Peristiwa 11 September. Peristiwa 
ini berhasil menyampaikan pesan ketidakadilan dunia ke pusat kapitalisme, 
yakni AS. Tetapi pesan itu tampaknya tidak terbaca oleh AS. Sebaliknya, AS 
menjadikan Peristiwa 11 September sebagai alasan penggunaan war-led growth 
untuk menyegarkan kapitalisme global. Strategi klasik kapitalisme itu 
sepertinya perlu dikedepankan mengingat kerangka negara-bangsa kelihatan 
semakin renta (exhausted) dalam menopang economies of scale kapitalisme 
nasional.
BELAJAR dari sejarah itu, selayaknya masyarakat global lebih proporsional 
dalam menyikapi isu terorisme sebagai simbol ketidakadilan 
globalisasi-memberantas terorisme lewat penataan ekonomi dunia yang lebih 
merata dan adil, bukan sebaliknya.
Sebagai negara yang kerap menjadi sasaran terorisme, Indonesia memiliki 
legitimasi internasional yang memadai untuk didengar masyarakat dunia dalam 
menyikapi isu terorisme sebagai wujud pelaksanaan politik bebas-aktif. 
Karena itu, kita perlu lebih hati-hati dalam memahami, memaknai, dan 
menyikapi dinamika global yang sedang berlangsung.
Ahmad Rosadi Harahap Pengamat Masalah Globalisasi, Alumnus London School of 
Economics
Search :







Berita Lainnya :
�TAJUK RENCANA
�REDAKSI YTH
�Presiden dan Musibah Jagorawi
�Protap Polisi
�Tantangan Ekonomi Dunia dan Terorisme
�POJOK 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke