Republika
Rabu, 01 Desember 2004

Ketika Keperawanan Dipertanyakan 
(Renungan Hari AIDS Sedunia) 
Yusuf Maulana
Bekerja pada Institut Analisis Propaganda (Insap) Yogyakarta

Kebetulan atau bukan, menjelang peringatan Hari AIDS Sedunia, pada 1 Desember, 
di bioskop di kota-kota besar telah diputar sebuah film yang isinya 
kontroversial: Virgin-Ketika Keperawanan Dipertanyakan (VKKD). Tema keperawanan 
memang sering mengundang keingintahuan kalangan remaja. Dalam penyuluhan 
mewaspadai bahaya AIDS bagi remaja, misalnya, pertanyaan seputar keperawanan 
lazim muncul. VKKD yang dibuat dengan menargetkan remaja sebagai penontonnya 
sepintas dari judulnya ingin memenuhi keingintahuan remaja.
Pemutaran awal film yang berdekatan dengan peringatan Hari AIDS bisa 
memunculkan kesan bahwa ada kaitan antara isi film tersebut dan isi pesan pada 
peringatan Hari AIDS. Bahaya AIDS memerlukan penjelasan dan contoh konkret agar 
mudah dipahami masyarakat, khususnya remaja. VKKD sengaja mengesankan diri 
sebagai contoh buruk pergaulan yang harus dihindari remaja jika tidak ingin 
terhindar dari AIDS. Dengan strategi ini VKKD mendapat tempat berlindung yang 
aman jika ada kecaman publik terhadap peredarannya.

Padahal isi filmnya sendiri jauh untuk bisa disebut media pembelajaran bagi 
keingintahuan remaja. Isinya bukanlah berisi pesan-pesan untuk mewaspadai 
bahaya AIDS, namun sebaliknya mengampanyekan secara vulgar pergaulan bebas dan 
hedonisme bagi remaja. Praktis tidak ada ada pesan yang berisi bahaya pergaulan 
bebas dan hedonisme bagi remaja. Alih-alih memberi pendidikan seks dengan 
benar, film tersebut mengkomodifikasi tema-tema seks yang biasanya ingin 
diketahui remaja. Dalam film itu, pertanyaan remaja tentang keperawanan bukan 
hanya untuk memenuhi rasa ingin tahu, tetapi juga untuk menikmati pengalaman 
baru dengan mempraktikkan langsung jawabannya. Masalahnya, jawaban yang 
diperoleh dari film tersebut berupa pengetahuan yang menyesatkan-jawaban yang 
dibuat adalah untuk mendukung motif mempertanyakan keperawanan, yakni pembenar 
hasrat menikmati pergaulan bebas. Pesan tersiratnya, untuk bisa menikmati 
pergaulan saat ini remaja tidak perlu mencemaskan keperawanan. Keperawanan, 
yang bagi masyarakat kita masih disakralkan, citra, dan maknanya hendak 
didekonstruksi.

Di sisi lain, mungkin karena belum beredar luas, belum terdengar reaksi 
masyarakat terhadap VKKD seperti dalam kasus Buruan Cium Gue (BCG). Dan yang 
mengherankan, film tersebut berhasil diputar di beberapa kota; berbeda dengan 
BCG yang akhirnya dihentikan peredarannya sebelum sempat diputar di bioskop. 
Padahal, dibandingkan BCG, VKKD lebih vulgar mempertontonkan atau mencontohkan 
pergaulan bebas dan hedonisme bagi remaja. Dalam salah satu adegan diceritakan 
aktivitas seks komersial yang secara sadar dipilih remaja (putri), sebagai 
bagian dari menikmati pengalaman mempertanyakan keperawanan.

Alih-alih mengajarkan pendidikan (seks), VKKD mengajarkan praktik seks bebas 
bagi remaja. Remaja dikenalkan dalam ruang hiperealitas, ruang pemainan citra 
yang sebetulnya berbeda-bahkan tidak ada-dalam kehidupan nyata. Fantasi dan 
permainan citra di film dikenalkan untuk memenuhi keingintahuan remaja tentang 
pengetahuan seks. Baik VKKD maupun BCG memahami betul perilaku remaja yang 
selanjutnya mengkomodifikasikannya ke dalam ruang hasrat-libido. Keduanya 
merupakan perpanjangan sekaligus penguat sosialisasi kebebasan gaya hidup atau 
hedonisme di televisi.

Sebagai tayangan hiburan, VKKD sendiri miskin estetika apalagi pesan 
pendidikan. Bukan karya bercitra seni jika VKKD lebih mendekati komodifikasi 
dan eksploitasi kepolosan perilaku remaja. Bukan sebagai ekspresi seni jika 
VKKD ternyata menghadirkan ruang simulasi seks bagi remaja. Saat yang sama VKKD 
juga mengabaikan nilai pendidikan. Jika memang dimaksudkan bermuatan 
pendidikan, tentu pengetahuan seks dalam adegan-adegannya tidak disampaikan 
secara vulgar dan provokatif, apalagi dengan contoh-contoh yang berlawanan 
dengan norma di masyarakat. Lewat visualisasi vulgar, VKKD memperlihatkan pamer 
tato di pinggul, tarian erotis di pesta ulang tahun, dan adegan video casting 
sabun mandi.

Komodifikasi tubuh yang mengarah kepada fetisisme (pemujaan) tubuh ini bukanlah 
pendidikan seks, melainkan eksploitasi dan manipulasi obyek seksual remaja. 
Adegan-adegan tersebut mengajak remaja untuk mengikuti komodifikasi tubuh dalam 
ruang simulasi hasrat-libido. Atas nama kemajuan, modernisasi, gaya hidup 
trendi, remaja dinarsiskan. Dalam kondisi seperti ini batasan norma bahkan 
agama pun dipandang tidak ada. Terhadap nilai atau norma yang disakralkan 
masyarakat (keperawanan misalnya), VKKD mengajak remaja untuk mengkritisnya.

Selain mengekspresikan fetisisme tubuh, VKKD sarat dengan upaya mendekonstruksi 
nilai atau norma yang ada di masyarakat. Nilai yang oleh masyarakat masih 
dianggap amoral, asusila, abnormal didekonstruksi menjadi nilai-nilai baru yang 
mengekspresikan kebebasan. Yang mempertahankan keperawanan berada pada posisi 
inferior-konservatif dan tradisional; yang melepas keperawanan, dengan 
eksperimen dan pengalaman seksnya, berarti mengikuti perkembangan zaman. Lebih 
dari sebagai hiburan, VKKD mempromosikan kehidupan alternatif atas nilai atau 
norma yang mapan di tengah masyarakat yang dianggapnya tradisional.

Dengan kenyatan di atas, apa yang bisa dilakukan masyarakat dalam membentengi 
moral remaja? Berkaca pada beberapa pengalaman sebelumnya, reaksi masyarakat 
menentang tayangan yang mengeksploitasi tubuh justru memperoleh penentangan 
balik. Tatkala Aa Gym menggalang dukungan untuk menghentikan peredaran BCG, dia 
justru diserang balik kalangan yang membela film ini. Kontroversi yang 
berkembang di publik justru turut melambungkan popularitas film dan menguatkan 
keingintahuan remaja. Bagaimana dengan VKKD, akankah dicegah dengan pendekatan 
sebagaiman pada BCG?

Keingintahuan remaja pada tema seks memang normal, sesuai dengan perkembangan 
psikologinya. Pelarangan melalui gerakan massa, apalagi reaktif, hasilnya bisa 
kontraproduktif. Ketika VKKD dilarang, remaja justru bisa tertarik untuk 
menontonnya. Saya belum tahu apakah belum bersuaranya masyarakat-termasuk 
Aa'Gym yang vokal ketika menentang BCG-karena mengubah strategi pendekatannya. 
Yang prioritas dalam jangka pendek ini menurut saya adalah membatasi peredaran 
VKKD. Meski kecolongan karena telah diputar di beberapa kota besar, namun masih 
lebih banyak lagi remaja di luar kota-kota besar ini yang belum mengetahui 
VKKD. Agar tidak memunculkan keingintahuan remaja lebih luas, saya setuju jika 
masyarakat menahan diri (baca: berhati-hati) dalam bereaksi menentang peredaran 
VKKD. Namun menahan dirinya ini harus disertai membangun jaringan lebih luas 
dengan pihak-pihak yang seaspirasi untuk menguatkan lobi.

Lobi pertama adalah kepada media massa. Media massa mampu mempublikasikan atau 
mempopulerkan tayangan sejenis VKKD, meskipun masyarakat menahan diri apalagi 
jika melakukan tindakan demonstratif. Media mampu membentuk opini yang 
berkebalikan dengan aspirasi mayoritas masyarakat-seperti pada kasus Aa Gym dan 
BCG. Untuk itu, yang pertama kali dilakukan adalah menekan media agar tidak 
mempublikasikannya. Inilah pentingnya jaringan yang kuat agar mampu 
mempengaruhi media. Kesolidan gerakan moral dari masyarakat dalam melobi dan 
membentuk opini di masyarakat (terlepas media mendukungnya ataupun tidak) 
merupakan pekerjaan jangka panjangnya.

Baik VKKD maupun BCG bukanlah kasus terakhir; akan tetap bermunculan film-film 
sejenis, disebabkan fenomena ini merupakan kelanjutan gaya hidup hedonisme yang 
masih melanda masyarakat kita. Selagi hedonisme belum berhenti, fetisisme tubuh 
akan tetap ada. Dan film yang menyajikan pergaulan bebas merupakan media untuk 
mengekspresikan hasrat-libido para fetisis.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke