Mewaspadai Propaganda Kebebasan
Buletin Edisi 1 1
Paling tidak, ada dua fenomena sosial dan keagamaan mutakhir, yang sejatinya
mengusik rasa keberagamaan kita sebagai Muslim. Pertama, yang terkait dengan
kebebasan berekspresi, yakni munculnya film Virgin (Ketika Keperawanan
Dipertanyakan). Film ini menggambarkan fenomena sebagian anak-anak "abege" di
Jakarta yang berani melakukan hal-hal yang tidak pantas, yang melanggar norma
budaya, bahkan agama sekalipun, hanya sekadar untuk mengumpulkan uang untuk
memenuhi kebutuhan konsumtifnya dalam bergaul. Di film Virgin banyak
adegan-adegan atau ucapan-ucapan yang tak pantas dilakukan oleh para remaja
yang masih berstatus pelajar SMU. Masalahnya, gambaran itu dipertontonkan
secara vulgar; entah lewat bahasa visual maupun verbal, seperti adegan Ketie
(salah seorang tokoh utama dalam film ini) yang ingin melepas keperawanannya
dengan seorang om-om di sebuah toilet mal. Parahnya, Ketie pun gembira setelah
melepas keperawanannya. (www.kafegaul.com, 10/11/2004).
Itu hanya salah satu contoh. Masih banyak adegan vulgar dan memuakkan lainnya
yang ditampilkan dalam film ini. Meski menurut produser dan sutradaranya film
tersebut sekadar ingin memotret realitas sosial yang terjadi di kalangan
remaja, yang pasti, propaganda kebebasan berekspresi dan berperilaku tampak
menonjol dalam film ini; tidak jauh berbeda dengan kebanyakan film-flm atau
sinetron-sinetron yang beredar di tengah-tengah masyarakat saat ini.
Kedua, yang terkait dengan kebebasan beragama, yakni munculnya kembali desakan
dari sejumlah tokoh non-Muslim, khususnya kalangan Kristiani, kepada Pemerintah
untuk mencabut Surat Keputusan Bersama (SKB) Dua Menteri, yakni Menteri Agama
dan Menteri Dalam Negeri, Nomor 01/BER/mdn-mag/1969 mengenai aturan pembangunan
rumah ibadah. Pasalnya, selama ini SKB tersebut dianggap telah melanggar HAM
dan menghambat kebebasan beragama. Hal ini antara lain disampaikan Komite
Perjuangan Rakyat (KPR) kepada pers, Jumat (26/11), oleh Habiburokhman
(Koordinator KPR) dan Pdt. Stephard Supit (Sekretaris KPR). (www.kompas.com,
29/11/2004).
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Sekretaris Hubungan Agama dan Kepercayaan,
Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), Benny Susetyo kepada Sinar Harapan,
Kamis (18/11) di Jakarta.
Kebebasan Berekspresi: Serangan Budaya
Jika kita cermati, fenomena kebebasan berekspresi, yang antara lain
dipropagandakan lewat film-film seperti Virgin, Buruan Cium Gue, Ada Apa Dengan
Cinta?, Eiffel� I�m in Love, Asyiknya Pacaran, dan yang sejenisnya sebetulnya
tidak lebih merupakan serangan budaya Barat terhadap kaum Muslim. Memang, dalam
konteks film-film tersebut, Barat bukanlah pelakunya secara langsung, tetapi
sebagai "inspirator". Sebab, kebebasan berekspresi, yang antara lain
dipropaganda lewat film-film itu, tidak lain merupakan buah dari demokrasi,
sedangkan demokrasi sendiri bersumber dari ideologi sekularisme yang dianut
sekaligus dipropagandakan masyarakat Barat. Hanya saja, Barat lalu memanfaatkan
agen-agen mereka dari kalangan Islam, baik yang sadar ataupun yang tidak sadar,
untuk melancarkan serangannya itu.
Serangan budaya Barat terhadap kaum Muslim saat ini antara lain berwujud
kebebasan seksual (free sex), pergaulan bebas, pamer aurat di depan umum,
hedonisme, permissivisme, dan segudang budaya sesat lainnya. Semua itu antara
lain diprogandakan lewat film-film di layar lebar maupun di layar kaca (tv).
Serangan budaya Barat ini, disadari atau tidak, bertujuan untuk
menghancurkan�secara sistematis�kepribadian kaum Muslim. Mula-mula, hukum-hukum
Islam yang terkait dengan kehormatan kaum Muslim disimpangkan. Misal, jilbab
dianggap budaya Arab, bukan tuntutan syariat. Lalu Muslimah yang berkerudung
dan berjilbab dianggap kuno dan kolot. Setelah itu, kebebasan berbusana yang
memamerkan aurat dianggap modern dan maju. Selanjutnya digulirkanlah ide
kebebasan berekspresi. Seks bebas dan pergaulan bebas adalah salah satu
hasilnya.
Walhasil, serangan budaya Barat pada awalnya sebatas ide, tetapi pada tahap
selanjutnya sudah dalam bentuk aksi, baik secara pasif maupun aktif. Secara
pasif, misalnya, melalui penyebaran buku-buku, majalah-majalah, dan film-film
porno maupun yang "setengah" porno. Singkatnya, masyarakat secara vulgar
diberikan pemandangan dan tuntunan yang merusak.
Sedangkan secara aktif, kita menyaksikan banyak public figure secara tidak
langsung mengajak masyarakat untuk berbuat dosa. Mereka berpakaian dan
berperilaku tidak islami bukan hanya di sinetron atau di film, namun juga dalam
kehidupan sehari-hari. Akibatnya, masyarakat kita tidak hanya disuguhi
pornografi, tetapi juga pornoaksi; bukan hanya di panggung-panggung hiburan,
tetapi juga di mal-mal, di pasar-pasar, bahkan di kampus-kampus.
Jika kondisi ini dibiarkan secara terus-menerus maka bisa dipastikan akan
terjadi kerusakan iman, kebejatan moral, dan meningkatnya tindakan kriminalitas
di kalangan kaum Muslim. Kita bisa menyaksikan betapa banyak seorang bapak
memperkosa anaknya, seorang anak memperkosa ibunya, maraknya aborsi akibat
hamil di luar nikah, suburnya perselingkuhan, dan fenomena menyimpang lainnya.
Semua itu disebabkan masyarakat disuguhi pornografi dan pornoaksi secara
terus-menerus, yang mengakibatkan mereka lepas kendali. Sungguh, ini adalah
tragedi kemanusiaan yang luar biasa, yang tidak hanya menimpa kaum Muslim saja,
tetapi juga seluruh umat manusia.
Mengapa semua ini terjadi? Minimal ada tiga unsur yang mempengaruhi fenomena di
atas. Pertama, dari sisi pelaku. Baik artis, sutradara, maupun para pelaku film
lainnya telah termasuki paham sesat Barat berupa kebebasan berekspresi yang
bersumber dari demokrasi. Mereka beranggapan, apa yang telah mereka lakukan
tidak melanggar HAM, karena tidak ada yang dirugikan secara material. Mereka
juga beranggapan, bahwa semua itu adalah seni. Selain itu adalah alasan ekonomi
(bisnis). Mereka melakukan semua itu demi uang, tanpa peduli apakah yang
dilakukannya itu halal ataukah haram; apakah berakibat baik atau buruk bagi
masyarakat.
Selain itu, mereka juga beralasan bahwa mereka sekadar memotret realitas sosial
yang ada di masyarakat. Free sex, pergaulan bebas, dan budaya hewani lainnya
menurut mereka�diakui ataupun tidak�adalah fenomena yang terjadi di masyarakat.
Padahal sebenarnya, meski fenomena itu ada, itu bukanlah gejala umum di
masyarakat. Itu semua adalah penyimpangan yang dilakukan oleh sebagian
masyarakat di lapisan tertentu masyarakat saja. Artinya, semua itu adalah
realitas yang jauh dari masyarakat; ia hanyalah penyakit sosial. Sayangnya,
penyakit sosial itulah yang justru ingin disebarkan oleh mereka melalui
pornografi dan pornoaksi kepada kaum Muslim.
Kedua, diamnya masyarakat. Para penggagas ide kebebasan berekspresi dan
berperilaku biasanya berlindung di balik jargon demokrasi. Ketika mereka
menyuguhkan pornografi atau pornoaksi, mereka cukup berkata, "Biarlah
masyarakat yang menilai, karena masyarakat sekarang sudah dewasa."
Celakanya, meski sebagian besar masyarakat tidak setuju terhadap fenomena di
atas, mereka diam. Jangankan melakukan aksi menentang keberadaan fenomena di
atas, sekadar berkomentar dengan nada sinis saja tidak bisa. Sikap diam
masyarakat ini akhirnya dijadikan pembenaran oleh penggagas ide sesat di atas
sebagai �tanda setuju� terhadap apa yang mereka lakukan, karena tidak ada
protes apalagi pemboikotan.
Ketiga, dukungan pemerintah. Pemerintah, secara sadar atau tidak, justru
menjadi pendorong utama bagi tumbuh-suburnya penyimpangan sosial di atas.
Betapa tidak? Pemerintah telah mengadopsi demokrasi dan HAM sebagai mainstream
(arus utama) dalam menata negeri ini. Sebagaimana kita ketahui, yang menjadi
alasan utama para penggagas dan pelaku penyimpangan sosial di atas adalah
demokrasi dan HAM. Dari sinilah kita bisa mengerti mengapa pemerintah tidak
bisa melarang bahkan menghapus praktik-praktik sesat di atas.
Kebebasan Beragama: Serangan Akidah
Kebebasan beragama sesungguhnya adalah serangan Barat terhadap
kaum Muslim dari sisi akidah. Melalui ide kebebasan beragama, setiap orang
bukan saja dibiarkan untuk memilih agama, tetapi juga untuk tidak beragama.
Melalui ide ini, seorang Muslim tidak boleh dihalangi-halangi untuk murtad dan
memeluk agama lain. Melalui ide ini pula, orang-orang non-Muslim, seperti
Kristiani, tidak boleh dihalang-halangi untuk membangun rumah peribadatan di
tengah-tengah masyarakat yang mayoritas Muslim. Karena itu, bagi para penganut
kekebasan beragama, SKB Dua Menteri di atas dianggap melanggar HAM dan
demokrasi, diskriminatif, dan menghambat kebebasan beragama.
Dari fenomena di atas, ide kebebasan beragama ini jelas sangat
berbahaya bagi kaum Muslim. Melalui ide ini, tidak mustahil, akan banyak kaum
Muslim yang murtad; akan banyak gereja dibangun berdampingan dengan masjid;
akan banyak kaum Muslim melakukan doa bersama, merayakan Natalan bersama; dll.
Semua ini jelas mengancam akidah kaum Muslim sehingga mengakibatkan semakin
lunturnya keimanan mereka. Justru, fenomena seperti inilah yang diharapkan oleh
Barat. Ketika keimanan kaum Muslim semakin luntur karena tercerabut dari
akarnya, mereka tidak akan lagi berpegang teguh dengan syariat mereka, syariat
Islam. Ketika mereka tidak lagi berpegang teguh dengan syariat Islam, akan
semakin mudah bagi Barat untuk menguasai mereka, bahkan menghancurkan mereka.
Sebaliknya, dengan itu semua, akan semakin sulit kaum Muslim untuk bangkit
dalam upaya mereka meraih kembali posisi sebagai khair ummah (umat terbaik).
Inilah yang sebetulnya dikehendaki Barat.
Seruan
Wahai kaum Muslim,
Marilah kita bersama-sama menghadapi serangan Barat yang berupaya untuk
menghancurkan Islam. Kita tidak boleh berdiam diri. Sebab, jika demikian, kita
akan dianggap menyetujui mereka walau kita sebenarnya menolak. Bukankah Rasul
saw. telah bersabda:
����� ����� �������� ��������� ��������������� �������� ������ ���� ����������
������������� ������ ���� ���������� ������������ �������� �������� ������������
Siapa saja yang melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya; jika tidak
mampu, dengan lisannya; jika masih tidak mampu, dengan kalbunya. Itu adalah
selemah-lemahnya iman. (HR Muslim).
Oleh karena itu, hal pertama yang harus kita lakukan adalah mengubur gagasan
dan sistem demokrasi yang dianut oleh negara dan sebagian masyarakat, sekaligus
menggantinya dengan sistem Islam. Marilah kita menata hidup kita berlandaskan
syariat Islam yang bersumber dari Pencipta kita, Allah SWT, bukan dari hawa
nafsu manusia.
Wahai para ulama,
Sungguh, Anda adalah para pewaris nabi; pewaris bagi upaya tegaknya syariat
Islam. Bukankah Rasul saw. dan para nabi yang lain mencurahkan segenap hidupnya
bagi tegaknya syariat Islam? Persoalan umat bukanlah hanya seputar masalah
ibadah ritual semata. Sungguh, persoalan di atas tidak kalah penting dengan
masalah ibadah ritual. Untuk itu, sudah selayaknyalah Anda senantiasa lantang
menyerukan syariat Islam. Sebab, syariat Islam adalah solusi bagi kehidupan.
Hanya dengan syariat Islamlah semua persoalan kita akan dapat diatasi.
Wahai para penguasa,
Sungguh, menjaga akidah umat, menerapkan syariat Islam, dan menciptakan nuansa
kehidupan Islam adalah tugas dan tanggung jawab Anda. Untuk itu, sudah
sepatutnya, dengan kekuatan yang ada di tangan Anda, Anda segera menegakkan
sistem Islam dengan cara menerapkan syariat Islam secara total dalam seluruh
aspek kehidupan, bukan malah terus mempertahankan sistem sekular yang bersumber
dari Barat, yang sudah terbukti banyak menimbulkan kerusakan.
Untuk itu, marilah kita semua kembali pada aturan-aturan Allah, bukan malah
terus berpaling darinya. Sebab, Allah SWT telah berfirman:
[������ �������� ���� ������� ������� ���� ��������� ������� ������������
������ ������������ �������]
Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, sesungguhnya baginya penghidupan
yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan
buta. (QS Thaha [20]: 124).
Wall�hu a�lam bi ash-Shaw�b. []
KOMENTAR:
Harga BBM Naik 40 Persen Awal 2005 (www.eramuslim.com, 30/11/2004)
Satu lagi bukti, sekadar pergantian penguasa, tak akan ada perubahan berarti.
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Meet the all-new My Yahoo! � Try it today!
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/