Media Indonesia
Jum'at, 03 Desember 2004
PENDIDIKAN
Pendidikan Agama Islam di Sekolah Salah Paradigma
JAKARTA (Media): Kegagalan pendidikan agama Islam di sekolah selama ini
akibat paradigma yang digunakan salah.
Guru Besar Pendidikan Islam Ahmad Tafsir mengatakan, kesalahan paradigma
ini menjadi berat. Sebab, paradigma menjadi induk dari semua pengembangan
pendidikan agama Islam di semua tingkatan di sekolah, baik di sekolah umum
maupun di madrasah.
Kesalahan paradigma itu, sambungnya, adalah pengejaran terhadap aspek
kognitif sebagai prioritas. Padahal, agama adalah akhlak yang berkaitan dengan
sikap, perkataan, dan perilaku keseharian.
''Jadi yang utama dalam pendidikan agama Islam adalah bagaimana ajaran
agama menjadi sikap keseharian siswa. Inilah inti pelajaran agama itu,''
katanya menjawab Media, kemarin.
Dia mengatakan, pendidikan agama Islam yang berorientasi pada kognitif,
karena kiblat yang dipakai 100% teori yang berasal dari dunia Barat. Kesalahan
paradigma ini disebabkan ahli pendidikan agama Islam mengedepankan psikologi
kognitif. ''Padahal, agama lebih menekankan afeksi dan psikomotorik,'' tambah
Ahmad Tafsir.
Mengenai materi pendidikan agama Islam, menurutnya, sudah sangat banyak.
Bahkan bisa dikatakan berlebih atau kelebihan. Berbagai materi agama semuanya
diberikan kepada peserta didik. Dengan begitu, sesungguhnya bukan materi yang
salah atau kurang, tetapi paradigmanya yang tidak benar.
Agama itu bukan hafalan yang ditunjukkan dengan angka kuantitatif. Mantan
Dekan Fakultas Tarbiah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Gunung Djati
Bandung ini menegaskan, keimanan adalah sikap. Cermin dari keimanan itu adalah
melakukan perbuatan baik atau dalam bahasa agamanya disebut ihsan. Jadi
pendidikan agama Islam yang berhasil baru pada tahap knowing belum menyentuh
doing dan being.
Oleh sebab itu, metode yang terbaik bagi pendidikan agama Islam ke depan
adalah internalisasi melalui teknik pembiasaan dan peneladanan. Melaksanakan
puasa, misalnya, tidak hanya dilakukan tetapi juga memberi implikasi dalam
kehidupan sehari-hari. Perilaku dari puasa ini bukan hanya diajarkan kepada
siswa, tetapi harus dicontohkan oleh guru yang mengajarkannya.
Persoalan keteladanan ini dalam pandangannya sangat berat, karena tidak
hanya berkaitan dengan guru agama dan kepala sekolah semata. Tetapi, berkaitan
dengan departemen yang mengelola pendidikan agama.
Mulai menteri, dirjen, kakanwil, dan seterusnya. Selama dari atas belum
memberi keteladanan kepada bawahannya sulit untuk mengharapkan perbaikan akhlak
peserta didik melalui pendekatan keteladanan. (Dud/B-5)
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/