Media Indonesia
Jum'at, 03 Desember 2004

PENDIDIKAN

Pemerintah tidak Peduli soal Budaya
Sejak Masa Kemerdekaan Awal

JAKARTA (Media): Sejak Republik Indonesia Merdeka, 17 Agustus 1945 sampai 
sekarang, pemerintah tidak peduli terhadap masalah kebudayaan. Kondisi itu 
menyebabkan sendi-sendi kehidupan bangsa rapuh dan mudah tergoyahkan.
Demikian diungkapkan budayawan Ajip Rosidi kepada Media, usai menerima 
penghargaan Profesor Teeuw di Pusat Kebudayaan Belanda, Erasmus Huis, Rabu 
(1/12) malam. Ajip sendiri menerima selembar surat penghargaan dari Duta 
Besar Belanda, Ruud Treffers.
Dalam kesempatan itu, ia mengungkapkan, sampai saat ini, pemerintah tidak 
pernah membuat program yang jelas tentang kebudayaan. Termasuk pemerintahan 
baru di bawah pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. "Buktinya, 
kebudayaan masih bergabung di pariwisata. Itu kan menunjukkan bahwa 
pemerintah menganggap kebudayaan adalah semata barang jualan saja. Negara 
kita ini memang parah, apa-apa dijual habis," ujar Ajip
Karena itu, dirinya mengaku merasa pesimis kondisi bangsa Indonesia akan 
membaik. "Jika belum ada perhatian serius terhadap dunia
kebudayaan, yah susah," tandasnya.
"Saya beranggapan bahwa bangsa dan negara Indonesia dibangun atas suku-suku 
bangsa yang masing-masing telah memiliki sejarah serta kebudayaan sendiri 
yang sebenarnya merupakan kekayaan bangsa, budaya dan negara Indonesia. 
Kekayaan budaya yang telah tersedia seharusnya menjadi modal utama dalam 
mengupayakan diciptakannya budaya nasional Indonesia," tegas pria yang 
sering kesal ketika membaca artikel mengenai sejarah Sunda yang disusun 
tanpa penelitian mendalam.
Di kesempatan terpisah kepada Media, budayawan WS Rendra mengeluhkan 
persoalan serupa. Rendra mengatakan kebudayaan dan kesenian bisa menghidupi 
dirinya. Sebelum ada dunia pariwisata antarnegara, kebudayaan dan kesenian 
di nusantara sudah hidup dan menghidupi masyarakat. Sebagai contoh, kesenian 
di Bali telah hidup dan tetap akan hidup sekalipun tidak ada pariwisata.
''Yang menghidupi kesenian di Bali itu lembaga pura (rumah ibadat agama 
hindu), bukan pariwisata,'' tegas penyair yang pernah dipenjarakan rezim 
Orde Baru pada 1978-1979 itu.
Rendra membenarkan bahwa industri pariwisata bisa mendatangkan uang. Tetapi, 
tambahnya, semua industri bisa mendatangkan uang bila dikelola dengan benar. 
Namun, hal yang kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah adalah industri 
yang bisa menghidupkan perekonomian antardaerah. Pemerintah juga kurang 
memerhatikan usaha kecil dan menengah (UKM) yang bisa menjadi penyangga 
perekonomian bangsa.
Kontribusi Kebudayaan
Penghargaan untuk Ajip sendiri, menurut Ketua Komisi Seleksi Profesor Teeuw, 
Koesnadi Hardjasoemantri, didasarkan pada kontribusi budayawan itu terhadap 
perkembangan kebudayaan Indonesia, khususnya budaya Sunda. "Dia dari waktu 
ke waktu memiliki peran besar dalam mengumpulkan dan mendokumentasikan 
kebudayaan Sunda, bak lewat penerbitan, tulisan, atau pengajaran," ujar 
Koesnadi yang didampingi budayawan Toeti Heraty sebagai anggota komite 
seleksi.
Sebelum Ajip, orang yang pernah menerima penghargaan Profesor Teeuw, pakar 
sastra dan budaya Indonesia asal Belanda, adalah guru tari, FX Suhardi 
Djojoprasetyo, budayawan YB Mangunwijaya, sastrawan Goenawan Mohamad dan 
jurnalis sekaligus antropolog, Mulyawan Karim,
Malam itu, Ajip sendiri memberikan sambutan. Uniknya, ia tidak menggunakan 
bahasa Indonesia, Inggris, atau Belanda, melainkan bahasa Sunda.
Mengenai alasan kenapa dia menggunakan bahasa Sunda, Ajip yang ketika masih 
menjadi pelajar di SMP sudah menjadi redaktur majalah Suluh Pelajar, 
mengungkapkan kembali kegelisahan lamanya menyaksikan minimnya penghargaan 
negara dan masyarakat pada bahasa daerah. Menurutnya, bahasa, sastra, dan 
budaya daerah, sesungguhnya merupakan kekayaan warisan nenek moyang yang 
bisa menjadi modal untuk membangun bangsa dan kebudayaan Indonesia yang 
kukuh.
Ia pun bercerita, dulu ia sempat mempertanyakan tulisan Sutan Takdir 
Alisjahbana dan Chairil Anwar yang cenderung merendahkan budaya daerah. 
"Tetapi, saya tidak menolak pendapat mereka, hal itu justru membuat saya 
lebih kritis," ujar Ajip yang hanya berijazah SMP, tetapi mampu menjadi Guru 
Besar Tamu di Universitas Bahasa Asing Osaka Jepang itu.
Dalam pidatonya Ajip menyatakan, menjadi manusia Indonesia tidak berarti 
harus melepaskan diri dari tradisi budaya nenek moyangnya. "Saya adalah 
orang Sunda yang berada di lingkungan republik dan bangsa Indonesia, 
sehingga untuk menjadi orang Indonesia, saya tidak harus berhenti menjadi 
orang Sunda," ujar peraih hadiah Sastra Nasional untuk puisi 1955-1956 dan 
hadiah Sastra Nasional untuk prosa 1957-1958.
Dalam acara itu, tampak penyair Taufiq Ismail, wartawan senior Rosihan 
Anwar, Wakil Ketua KPK Erry Riyana Hardjapamekas, Guru Besar Sejarah 
Universitas Padjajaran, Edy S Ekadjati, dan sejumlah sastrawan muda lainnya. 
"Saya salut atas perjuangan Pak Ajip dalam melestarikan kebudayaan 
Indonesia, khususnya Sunda. Dia memang pantas mendapatkan penghargaan ini," 
ujar Taufiq Ismail. (Eri/Daf/B-4)
 Cetak 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke